Amarah Sumatera dan Jawa
Radja Sinaga · 28 Desember 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Tak bisa lagi ni, kata Muksyah dengan dialek Melayu Deli saat malam itu kepada Sumitro. Sudah teruk dibuat aku di ladang, lanjut orang di samping Sumitro. Malam itu, Sumitro menghabiskan sisa-sisa energinya hanya untuk mendengar kemarahan Muksyah.
”Lalu apa nak kau buat?” tanya Sumitro dengan dialek Melayu Deli yang masih saja belum akrab di lidahnya sebagai orang Jawa Timur.
Muksyah pun memandang wajah Sumitro. Tentu itu langkah yang sia-sia, di tempat mereka saat ini beristirahat, pencahayaan hanya datang dari lampu petromaks dengan cahayanya yang hilang timbul sebab hembusan angin.
Angin-angin itu masuk begitu bebas ke dalam rumah meski sebenarnya tak layak disebut rumah untuk manusia. Bangunan itu didirikan dengan kemiskinan paling nyata, penyangganya dari kayu-kayu sisa yang ditemukan di area perkebunan, lantainya yang langsung menyentuh tanah, dan dindingnya dari tepas-tepas. Angin bisa masuk dari celah mana pun karena tak ada jendela di bangunan itu. Namun pemandangan ini tidak mengherankan untuk kaum-kaum kuli kontrak Deli.
”Mau kau bantu awak?”
Muksyah dan Sumitro sebenarnya memiliki sejarah yang berbeda. Satu asli Sumatera, satu lagi asli Jawa. Banyak perbedaan di antara mereka, tapi penderitaan sebagai kuli menghubungkan mereka berdua menjadi selayaknya dua bayi kembar yang kembali dipertemukan setelah berpuluh-puluh tahun lama terpisah.
Muksyah lahir dan besar di Deli, Sumatera Timur. Garis darahnya jelas tertulis sebagai kuli kontrak. Bapaknya kuli kontrak. Kakeknya kuli kontrak juga. Warisan itu diturunkan ke Muksyah. Sementara Sumitro datang jauh dari Pulau Jawa, dibawa Belanda untuk dipekerjakan di Perkebunan Senembah, tentu dengan paksa.
Alit Ambara
Mereka berdua berjumpa kali pertama di ladang tembakau, tengah menggasak tanah. Sumitro marah-marah saat itu dengan bahasa Jawa Timur yang totok. Muksyah yang tak jauh dengan Sumitro tertawa-tawa meski tangannya tetap telaten mencangkul tanah. Tentu selanjutnya ada rasa amarah yang makin memuncak.
Saat jam makan siang, mereka pun menghabiskan bekal, makanan kemarin malam yang dipanaskan kembali, dan apabila dibawa pulang kembali maka akan basi, bersama-sama. Mereka bercerita dan kena marah oleh opziener karena dituding malas-malasan. Dari sanalah kedekatan mereka tumbuh.
Pada hari-hari selanjutnya, Sumitro menerima tawaran Muksyah untuk membangun rumah yang berdekatan. Alasannya jelas: agar perjalanan yang ditempuh dari jam 4 pagi menuju kebun, yang jaraknya berkilo-kilo meter itu tidak membosankan.
Muksyah juga mengajarinya bahasa Melayu Deli dalam perjalanan pergi dan pulang ke kebun. ”Awak pengen sebenarnya ajarin bahasa Belanda, tapi tak bisa pulak,” kata Muksyah saat itu sambil tergelak-gelak.
Sumitro belajar siapa saja orang yang tampak seperti kulitnya tapi memiliki kedudukan yang berbeda. Muksyah dan Sumitro pada masa-masa itu tak jauh berbeda seperti ayah dengan anaknya. Susah dan senang, di atas penderitaan dan kemiskinan kuli kontrak yang digaji tak sampai setengah gulden.
Meski sama-sama melarat, kehidupan Muksyah sedikit lebih menyenangkan ketimbang Sumitro. Betapa tidak, Muksyah memiliki seorang istri, yang entah bagaimana bisa menjadi pasangannya. Banyak orang, termasuk para elite Belanda dan Deli, menuding Muksyah memakai guna-guna; wajahnya yang gelap, badannya yang kurus, rambutnya tak pernah benar potongannya, memiliki istri cantik. Bahkan tudingan-tudingan itu semakin besar ketika pernikahan mereka tidak menghasilkan buah hati. Kata orang-orang itu akibat bermain ilmu gelap.
Dari banyaknya kuli kontrak hingga para pejabat di Senembah, hanya satu orang yang selalu menyangkal. Orang itu sudah pasti Sumitro. Setiap cibiran itu sampai di telinganya, pasti akan berakhir dengan pertikaian. Karena itulah orang-orang pun menambahkan gosip lain: Sumitro sudah terkena guna-guna.
Muksyah berulang kali menasihati, orang Melayu memang lihai bersilat lidah. ”Cakap kami itu jangan ditanya.”
”Tak usah,” lanjut Muksyah, ”kau ambil hati. Yang penting awak bantu kau, kau bantu awak. Sudah. Takde masalah.”
Namun, ketenangan Muksyah yang selalu terpampang jelas di mata Sumitro seketika berubah. Itu terjadi ketika adanya perpindahan pejabat di tanah yang diolah mereka. Seorang schiemiels dari Belanda menculik istrinya.
”Enak kali schiemiels Belanda itu.”
”Awak dengar,” lanjut Muksyah, ”schiemiels Belanda itu tak bisa apa-apa. Teruk kali otaknya. Tapi dia orang kulit putih.”
Satu-satunya yang membuat Muksyah dan istrinya melarat karena kegemarannya bermain judi. Muksyah yang digaji tak sampai setengah gulden adalah sebuah kebohongan. Nyaris seluruh gajinya dihabiskan di meja judi. Itu juga terjadi kepada bapaknya dan kakeknya; itu yang membuat keturunannya tak pernah menjadi hopmandor meski sudah dua puluh tahun menjadi kuli kontrak. Tiap mereka kalah dan tak punya uang lagi, maka jalan keluar ada memperpanjang status menjadi kuli. Hidup bersama Muksyah sampai mampus tetap miskin juga. Itulah yang didengar Sumitro tentang bagaimana tuannya tersebut merebut istri Muksyah.
”Dan bangsatnya schiemiels Belanda itu digaji ratusan gulden.”
Berhari-hari Sumitro mendengar hal-hal tersebut secara berulang. Kadang dirinya menenangkan, kadang hanya mendengar saja. Bagaimanapun, Sumitro saat hanya mendengarkan kemarahan Muksyah turut bersedih sekaligus marah. Entah mengapa, dalam pikiran Sumitro, harus istri Muksyah yang diambil.
Tidak adakah orang kulit putih di Senembah sehingga harus merebut istri orang lain? Mengapa kasus-kasus seperti ini masih saja terjadi dan tak pernah diselesaikan meski sudah lama hidup di tengah-tengah Senembah? Seberuntung itukah tuannya yang disebut Muksyah sebagai schiemiels karena mengandalkan warna kulit dan kemampuan jilat-menjilat layaknya anjing? Sumitro seketika pusing. Dan karena kepergian istri Muksyah, mereka tinggal satu atap.
Pada pagi yang belum benar putih, uap-uap panas dari perairan Belawan naik ke langit, dihembuskan angin ke tengah kota, yang juga menutupi wilayah Senembah akhirnya, membikin nyaris seluruh langit di sana temaram karena awan berwarna kelabu, sebuah hari yang membikin susah para kuli kontrak, hari-hari yang basah karena telah memasuki musim hujan; sementara sejak pukul 4 pagi para kuli kontrak memunggungi rumahnya yang nyaris seperti kandang hewan perah, akan ada sebuah kabar yang meluluhlantakkan pertanyaan ke mana perginya Sumitro dan Muksyah dan misteri seorang tuan tanah yang ditemukan tak bernyawa, dengan luka sayatan membentang di leher, ditemukan tak jauh dari pemukiman pejabat-pejabat Senembah empat hari lalu.
Sebagaimana kabar bagi kalangan-kalangan kuli kontrak pasti disambung dari mulut ke mulut karena akses surat kabar yang payah didapatkan bahwa Sumitro dan Muksyah telah mangkat di sebuah tempat penghakiman seperti kaum-kaum pribumi lain yang berusaha merebut haknya kembali. Namun siapa yang menyangka, kabar itu melesat cepat bersamaan dengan semangat, kemarahan, dan kebebasan, dan berbulan-bulan kemudian, pemakaman-pemakaman orang-orang Belanda semakin banyak, ratusan orang Belanda kocar-kacir pulang ke tanah airnya sebab takut menjadi amukan orang Sumatera dan Jawa yang ditindas sejak lama.