Anekdot Yudi Pacet dan Perempuan Tua Pengemis
Adriansyah Subekti · 7 Mei 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
“Di akhirat kelak, para pengemis itu akan muncul dengan wajah tanpa daging sebagai hukuman atas perbuatan mereka di dunia.”
Mendadak potongan ceramah Kiai Jarwo terngiang-ngiang di sepasang kuping Yudi Pacet kala dirinya sedang memandangi perempuan tua pengemis dengan seorang bayi mungil di gendongannya. Perempuan tua pengemis yang saban harinya mangkal di seberang toko sembako Sukamiskin, tempat Yudi Pacet bekerja sebagai karyawan toko. Dan setiap kali toko sembako Sukamiskin sedang sepi pembeli, sorot mata Yudi Pacet tidak pernah tidak mengamati perempuan tua pengemis itu.
Hari itu, tatkala sorot matanya memandangi perempuan tua pengemis yang berada di seberang toko sembako Sukamiskin, entah kenapa satu-satunya hal yang mampir di ingatan Yudi Pacet adalah potongan ceramah Kiai Jarwo tentang pengemis.
Kali pertama Yudi Pacet mendengar ceramah Kiai Jarwo tentang pengemis itu tatkala dirinya masih menjadi santri di sebuah pondok pesantren yang telah lama tutup lantaran kekurangan santri. Dan tak lama setelah pondok pesantren itu ditutup, Kiai Jarwo, selaku mantan pemilik pesantren tersebut, dikabarkan pindah ke luar desa dan menikah dengan seorang perempuan muda. Itu terjadi sekitar tiga tahun yang lalu. Ya, tiga tahun yang lalu.
Kini Yudi Pacet sudah tak peduli dengan segala cerita mengenai sosok Kiai Jarwo. Toh, segala pengalaman hidupnya yang bersinggungan dengan Kiai Jarwo itu sudah lewat tiga tahun lamanya. Toh, dirinya sudah bukan lagi seorang santri dari Kiai Jarwo sejak pondok pesantren itu resmi ditutup. Toh, dirinya bisa menjadi santri itu juga lantaran dipaksa oleh orang tuanya. Sebab, dalam diri Yudi Pacet, tak pernah ada secuil pun keinginan untuk menjadi santri. Dan sisanya adalah pilihan hidupnya sendiri.
Kendati demikian, ingatan Yudi Pacet tentang momen-momen saat dirinya menjadi santri Kiai Jarwo tak sepenuhnya luntur. Itu terbukti ketika Yudi Pacet melihat sosok perempuan tua pengemis di seberang toko sembako tempatnya mencari pundi-pundi rupiah, dan ingatan pertama yang mampir di kepalanya adalah potongan ceramah Kiai Jarwo tiga tahun yang lalu. Entah kenapa.
Di pandangan Yudi Pacet, perempuan tua pengemis yang selalu mangkal di seberang tokonya itu selalu terlihat menggendong bayinya dengan jarit lusuh, berpakaian compang-camping, bertubuh kurus dan terlihat layu, tanpa alas kaki, wajahnya keriput dan memelas, sesekali mulutnya terlihat mengucap sepatah kata yang tak mampu didengar oleh Yudi Pacet.
Setiap hari, debu jalanan dan asap knalpot menyelimuti tubuh perempuan tua pengemis itu, juga seorang bayi di gendongannya. Sementara Yudi Pacet belum pernah melihat wajah si bayi lantaran jarit lusuh itu selalu nyaris menutupi tubuh mungilnya.
Orang-orang yang melewati perempuan tua pengemis itu kebanyakan tak mengindahkannya. Membuat si pengemis sering kali memasang wajah merengut dan memonyongkan mulutnya kepada orang-orang yang tak memasukkan uang receh ke dalam gelas plastik yang disediakan perempuan tua pengemis itu. Barangkali di saat itulah ia selalu menyumpahi orang-orang yang melewatinya dan berharap nasib buruk menimpa mereka.
Di seberang trotoar tempat perempuan tua pengemis itu berada, Yudi Pacet masih senantiasa mengamati perempuan tua pengemis itu tiap kali toko sedang sepi pembeli. Ia benar-benar rela membuang waktunya hanya untuk mengamati perempuan tua pengemis itu di seberang sana.
Sesekali, sembari mengamati perempuan tua pengemis itu dari kejauhan, Yudi Pacet membatin, “Apa benar di akhirat nanti pengemis akan muncul dengan wajah tanpa daging, seperti yang pernah diucapkan Kiai Jarwo?”
Yudi Pacet tak percaya ucapan ceramah yang dilontarkan Kiai Jarwo tentang pengemis. Baginya, Tuhan menurut agama yang dianutnya tak mungkin sekejam itu terhadap orang-orang yang tak mampu semasa hidupnya. Orang-orang miskin. Yudi Pacet percaya bahwa Tuhan itu Maha Penyayang. Mana mungkin ucapan Kiai Jarwo itu benar?
Siang itu terik sekali dan Yudi Pacet masih bekerja seperti biasa di toko sembako Sukamiskin. Pekerjaan Yudi Pacet adalah melayani para pembeli yang memborong maupun mengecer bahan-bahan sembako. Setiap kali sedang menjalankan pekerjaannya di toko sembako Sukamiskin, tak jarang Yudi Pacet menerima banyak keluhan dari para pembeli tentang kenaikan harga sembako di tokonya yang meroket drastis.
Dan setiap kali Yudi Pacet mendapati keluhan para pembeli, ia hanya bisa diam dan mengembuskan napas berat di hadapan para pembeli. Sesekali, batinnya berkata, “Kalau ndak cocok sama harga di toko ini, cari saja toko lain, bangsat!”
Yudi Pacet tidak (atau belum) punya cukup keberanian untuk menanggapi keluhan para pembeli secara langsung. Ia takut gajinya kena potong, atau bahkan sampai dipecat oleh bosnya, seperti Sobari, mantan koleganya yang dipecat tiga hari lalu hanya karena salah memberikan uang kembalian.
Biasanya toko sembako Sukamiskin baru sepi pembeli ketika menjelang sore hari. Di saat-saat itulah Yudi Pacet khusyuk mengamati perempuan tua pengemis di seberang sana dengan tatapan nyaris melamun. Seperti hari itu. Dan tentu saja, ucapan ceramah Kiai Jarwo mengenai pengemis masih terpatri di batok kepala Yudi Pacet. Mendadak dirinya merasa iba kepada perempuan tua pengemis di seberang sana.
Berangkat dari rasa iba itulah yang membuat Yudi Pacet akhirnya memiliki keinginan untuk memberikan sedikit duit hasil kerjanya kepada perempuan tua pengemis yang dilihatnya setiap hari. Toh, kebetulan hari itu adalah hari cairnya gaji bulanan Yudi Pacet. Nanti, setelah jam kerjanya usai dan menerima uang gaji, Yudi Pacet berencana untuk menghampiri perempuan tua pengemis itu dan memberikan sedikit duit gajinya yang tidak seberapa kepada si pengemis. Sebab, sekali lagi, Yudi Pacet merasa iba belaka.
Pikir Yudi Pacet, tak ada salahnya memberikan sedikit duitnya kepada pengemis sekalipun kebutuhan untuk bertahan hidup selama sebulan juga sering kali masih pontang-panting.
Entahlah. Yudi Pacet entah belajar dari mana untuk peduli kepada orang lain di samping keadaan hidupnya pun masih jauh dari cukup. Entahlah.
“Ini gajimu untuk bulan ini, Yudi,” ucap bosnya. “Kau kena potongan tiga ratus ribu karena sering terlambat datang ke toko.”
“Asu!” Yudi Pacet membatin seraya tersenyum kecut dan mengangguk kaku di hadapan bosnya, lantas menerima uang gaji bulanannya.
Paling tidak hari itu ia merasa lega menerima duit gajinya sendiri. Hasil kerja kerasnya sendiri. Namun, tetap saja, Yudi Pacet merasa dirinya hanyalah robot yang hari-harinya bekerja demi majikan sepuluh jam lamanya, dan mendapat upah yang jauh dari layak. Nahas. Tetapi tak ada pilihan. Yudi Pacet sadar bahwa orang seperti dirinya yang tak tamat SMK sangat sulit mendapat pekerjaan yang mendingan di negaranya sendiri. Ibarat mencari sebatang jarum di tumpukkan jerami basah. Dan sisanya, jangan tanyakan apa yang telah pemerintah berikan kepada orang-orang seperti Yudi Pacet. Sia-sia belaka.
Cahaya senja berwarna kekuningan mulai memancar dari arah barat. Pertanda sore hari kian tampak. Jalanan penuh orang-orang berkendara, seperti barisan semut yang berjalan di dinding toko sembako Sukamiskin. Di saat itu juga Yudi Pacet bersiap untuk berkemas meninggalkan toko, setelah mengantongi duit gaji bulanannya yang asu alias kena potong. Dan sebelum pulang, sesuai rencananya, Yudi Pacet ingin menemui perempuan tua pengemis itu yang biasa mangkal di seberang toko. Sesekali, sorot matanya memandang ke arah seberang, untuk sekadar memastikan bahwa pengemis malang itu masih ada di tempat biasanya.
Namun sesaat, tampaknya pengemis itu pun hendak pergi, atau pulang, entahlah. Yang jelas, Yudi Pacet melihat bahwa perempuan tua pengemis itu kini berdiri di pinggir jalan seraya memandangi arah jalan, seakan sedang menunggu sesuatu datang kepadanya, sembari mengayun-ayunkan perlahan bayi di gendongannya. Yudi Pacet berpikir bahwa pengemis itu mungkin juga akan pulang sebentar lagi, atau malah justru berpindah tempat mengemis.
Dan benar. Sebuah mobil angkutan kota mandek tiba-tiba di hadapan perempuan tua pengemis itu. Lalu tak lama kemudian angkot itu melaju, mengangkut perempuan tua pengemis itu ke tujuannya entah di mana. Menyadari kepergian perempuan tua pengemis itu, Yudi Pacet tak mau ketinggalan jejak, entah kenapa. Ia lantas bergegas untuk menyusul angkot itu sampai di sebuah tempat di mana perempuan tua pengemis itu turun dari mobil angkot. Begitulah rencana spontan Yudi Pacet, demi mencapai rencana lainnya; yakni memberikan sedikit duit kepada perempuan tua pengemis yang menggendong bayinya itu. Murni lantaran iba.
Di akhirat kelak, para pengemis itu akan muncul dengan wajah tanpa daging sebagai hukuman atas perbuatan mereka di dunia.
Lagi-lagi, ketika sedang mengendarai motor matiknya untuk menyusul si pengemis yang berada di dalam angkot, Yudi Pacet mengingat potongan ceramah Kiai Jarwo tiga tahun yang lalu. Entah kenapa. Lagi dan lagi.
Setelah melewati banyak lintasan lampu merah dan pekik klakson kendaraan yang terjebak macet, angkot yang dibuntuti Yudi Pacet akhirnya menurunkan perempuan tua pengemis itu di sebuah mulut gang kecil nan pesing. Tatkala perempuan tua pengemis itu baru saja turun dari angkot, mendadak bayi di gendongannya menangis keras. Dengan cepat perempuan tua pengemis itu melangkah masuk gang seraya mengayun-ayunkan bayinya dengan harapan tangisannya segera mandek.
Hanya beberapa meter dari mulut gang, Yudi Pacet diam-diam masih mengamati si pengemis itu dan bayinya yang menangis keras. Entah kenapa bayi itu menangis. Barangkali mabuk kendaraan. Atau habis cepirit. Entahlah. Yudi Pacet terheran-heran.
Di dalam gang kecil nan pesing, suara tangisan si bayi semakin nyaring. Lantas melangkahlah Yudi Pacet ke mulut gang untuk mengamati perempuan tua pengemis itu. Ia ragu jika harus menemui langsung perempuan tua pengemis itu dalam keadaan si bayi sedang menangis. Maka yang bisa ia lakukan adalah mengamatinya dari jarak aman, diam-diam, sembari menunggu momen yang tepat.
Niat baik adalah niat baik, pikir Yudi Pacet.
Di dalam gang kecil nan pesing itu, Yudi Pacet bisa melihat pemukiman rumah-rumah kecil beratapkan seng berdempetan. Kutang dan sempak menggantung di tali jemuran. Seekor anjing kurus kerontang menjilati tubuhnya yang penuh kurap. Bak sampah yang luber. Sampah-sampah berceceran nyaris di sepanjang ruas jalan setapak.
Dan perempuan tua pengemis itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah. Masih mengayun-ayunkan bayi di gendongannya. Si bayi masih menangis. Sesaat, dilihatnya seorang lelaki berumur 50 tahunan keluar dari rumah itu, menemui si perempuan tua.
Si perempuan tua dan si lelaki itu terlihat bercakap-cakap sebentar. Percakapan yang tak mampu didengar oleh Yudi Pacet dari kejauhan. Lalu diserahkannya bayi itu kepada si lelaki. Dan diserahkan pula beberapa lembar duit yang diambil dari dompet perempuan tua itu kepada si lelaki, sebelum perempuan tua itu pergi meninggalkan si lelaki lalu lenyap dari pandangan Yudi Pacet.
Melihat kejadian itu, Yudi Pacet tercengang. Sebab, ia baru saja melihat sosok lelaki yang pernah menceramahinya tiga tahun yang lalu. Sosok lelaki yang ceramahnya tentang pengemis terngiang-ngiang di kepalanya. Sosok lelaki yang pernah mengatakan, “Di akhirat kelak, para pengemis itu akan muncul dengan wajah tanpa daging sebagai hukuman atas perbuatan mereka di dunia.”
Sejak hari itu, akhirnya Yudi Pacet percaya terhadap potongan ceramah itu.