Bagaimana Saya Bertemu Orang yang Telah Saya Eksekusi
Era Ari Astanto · 8 November 2025
Sumber: Tempo · tautan sumber
SELAMA delapan belas tahun bekerja sebagai eksekutor negara, saya sudah mengeksekusi sembilan belas orang. Rata-rata satu orang per tahun. Kadang lebih kalau menjelang pergantian pemerintahan. Ada yang ditembak, ada yang digantung, tergantung pasal dan selera negara saat itu.
Nama saya Samarkan, baik di paspor, kartu kependudukan, maupun kartu keanggotaan klub senapan. Tapi di unit tugas, saya dipanggil “Petugas”. Samarkan pun bukan nama asli saya. Bahkan di dokumen resmi pun saya hanya disebut Petugas Tertutup Divisi Eksekusi Khusus atau Perdie. Nama ini terdengar seperti badan amal untuk orang disabilitas, padahal pekerjaannya justru membuat orang tergeletak diam untuk selamanya.
Saya menjalani tugas seperti halnya tukang pos mengantar surat. Datang, sampaikan, lalu pulang. Saya tidak memikirkan apakah orang itu bersalah atau tidak. Kalau mulai berpikir begitu, tangan saya bisa gemetar saat menarik pelatuk.
Saya bekerja sebagai eksekutor negara. Bagian dari unit penegakan akhir, atau kalau mau jujur, bagian dari mesin penyelesaian masalah yang gagal diselesaikan dengan hukum. Atau memang begitulah keputusan hakim. Tugas saya sederhana: datang ke lapas, mengenakan jaket hitam, topeng kain, dan sepatu kedap suara, lalu… dor! Protokolnya steril. Pelatuknya ringan.
Saya tidak pernah bertanya mengapa seseorang divonis mati. Sudah ada jaksa dan hakim untuk itu. Pekerjaan saya seperti juru masak terakhir, yaitu menyajikan hidangan terakhir sebelum mematikannya dengan suguhan utama: timah panas.
Dua tahun lalu, saya mengeksekusi dua pria.
Yang pertama bernama Bijukan. Ia bekas aparat. Ia terlibat rekayasa penyelundupan narkoba, menyuruh anak buahnya menghilangkan barang bukti, lalu membunuh mereka agar tak bisa bersaksi. Kasusnya viral, tapi ia baru dijatuhi hukuman mati setelah satu dekade. Isu di internal institusinya: “Terlalu berisik. Lebih baik dikubur hidup-hidup pakai peluru.”
Yang kedua bernama Sitifu, bandar besar. Jaringan Malaysia—Medan—Papua hingga Eropa dan Amerika. Jenis orang yang bisa tertawa sambil menyiram air keras ke mulut musuh. Saat diinterogasi, ia berkata, “Negara juga dagang narkoba, bedanya saya tidak minta tanda tangan.”
Kedua orang itu saya tembak dalam minggu yang sama di ruangan putih, dengan tiga saksi, satu rohaniwan, dan satu fotografer dari kejaksaan yang selalu mengarahkan saya seperti sedang syuting sinetron:
“Oke, Bung. Bidiknya sedikit ke kiri. Nah, begitu. Sip. Lanjut.”
Setelahnya, saya kembali jadi orang sipil. Kadang saya ke luar negeri pakai uang lembur yang tak pernah tercatat. Saya tidak punya banyak teman. Dan saya sudah lama tidak bisa tidur nyenyak.
Tahun lalu, saya ke Istanbul. Liburan. Ingin tahu seperti apa kota yang katanya menyatukan dua benua, tapi memisahkan dua dunia: iman dan sejarah.
Saya masuk ke sebuah warung kopi di Karaköy. Di sana, di meja pojok, saya melihat dua lelaki sedang tertawa-tawa sambil main remi. Salah satunya mengenakan kaus dengan tulisan “Bad Boy Still Alive” yang agak konyol.
Waktu saya mendekat ke meja bartender di pojok warung itu, saya sempat melirik ke samping, nyaris tanpa niat. Tapi jantung saya serasa membeku. Setengah detik. Seperti tubuh saya sendiri menolak sinyal visual itu.
Itu Bijukan dan Sitifu.
Mereka duduk santai. Tertawa kecil. Menyeruput minuman seperti dua orang yang baru saja menyelesaikan rapat bisnis, bukan dua mayat yang saya bantu hasilkan beberapa tahun lalu. Wajah mereka tidak berubah. Kulit leher Sitifu yang pernah saya lihat mengeras setelah peluru menembusnya. Pelipis kanan Bijukan, yang saya hafal bukan karena foto di berkas, melainkan karena saya yang mengarahkan moncong senjata ke sana.
Tapi mereka tak mengenali saya. Wajar. Eksekutor selalu hadir sebagai hantu: pakai jaket, topeng, tak bersuara. Saya bukan siapa-siapa bagi mereka. Tapi, bagi saya, mereka seharusnya sudah tidak ada.
Saya mundur perlahan, tapi kaki saya tersandung keset. Tubuh saya menabrak meja mereka. Dua cangkir kopi tumpah. Mereka melihat saya.
“Maaf,” kata saya, terbata.
“Eh, sekampung halaman?” tanya si mantan aparat, si Bijukan.
Saya hanya mengangguk.
“Gabung, Bang! Biar kita adu nasib.”
Saya duduk. Kaki gemetar. Keringat dingin merayap di punggung. Saya mati-matian menenangkan degup jantung yang memburu.
“Kalian … tinggal di sini?” tanya saya, pura-pura santai.
Bijukan menjawab sambil terkekeh, “Enggaklah. Kita ini kayak rokok selundupan—ada, tapi enggak boleh dicari.”
Sitifu menimpali, “Kami ini orang-orang yang ‘secara resmi’ sudah tidak ada. Tapi kalau kau tahu jalurnya, hidup itu kayak disk drive—bisa di-boot ulang.”
Mereka tertawa.
Lalu siapa yang dulu saya tembak?
Saya ingin berteriak, tapi siapa yang akan percaya?
Tapi, bukan itu yang saya permasalahkan sekarang, melainkan bagaimana bisa mereka bicara blak-blakan seperti itu? Apakah karena saya orang senegara dengan mereka, atau justru mereka sudah tahu sayalah yang menembak mereka? Jika sudah tahu, apa yang akan mereka lakukan terhadap saya?
“Eh, Bung,” ujar Bijukan sambil menyeruput kopi. “Kau mirip orang yang aku kenal dulu. Dingin. Tatapannya kayak laci tahanan.”
Nah, kan? Saya mulai merasa tidak tenang. Tapi, saya segera tertawa, palsu.
“Mungkin saya pegawai arsip.”
“Kami juga mantan pegawai negeri,” katanya. “Cuma jalurnya beda. Aku bagian ‘pembersihan internal’, dia bagian ‘eksternalisasi distribusi zat psikoaktif’.”
Nah, jawaban ini lagi. Saya mengangguk santai, sebenarnya tak ingin membahas itu. “Kapan kalian sampai sini?”
“Setelah pemakaman,” jawab Sitifu sambil tertawa. “Kami sempat dapat peti. Tapi isinya bukan kami. Katanya, formalitas. Supaya berita TV cocok dengan keputusan.”
Saya menatap mereka, berharap ada sinyal bahwa ini semua cuma lelucon. Tapi mata mereka tak berdusta. Itu mata orang-orang yang pernah melihat kematian, lalu ditolak oleh kubur. Atau dibangkitkan oleh orang yang ingin mengubur mereka hidup-hidup?
“Kalian … tahu siapa yang menembak kalian?” tanya saya.
Mereka mengangkat bahu.
Bijukan berkata, “Pakai topeng. Senyap. Kayak hantu.”
Sitifu melirik, “Tapi kalau ketemu, aku ingin traktir dia kopi. Dia ngelakuin tugasnya rapi. Enggak sakit. Enggak drama.”
Jantung saya mau meledak.
“Kalian yakin … kalian sudah mati?”
Mereka tertawa lagi.
“Secara administratif, iya. Secara eksistensial, belum jelas. Mungkin kami cuma backup file dari sistem yang rusak.”
Saya berdiri, permisi ke toilet, dan muntah di wastafel. Saya memandangi wajah saya sendiri di cermin. Mata saya tak punya warna.
Malam itu, saya tidak bisa tidur. Esoknya, saya kembali ke kafe itu. Mereka sudah tidak ada. Pelayan bilang mereka cuma mampir semalam.
Saya pulang ke hotel, membuka arsip lama. Tertulis jelas: Bijukan dan Sitifu telah dieksekusi, disaksikan jaksa dan tim dokumentasi. Peti dikirim. Surat kematian diteken.
Saya yang menembak.
Saya yang menandatangani surat permintaan peluru mereka.
Lalu siapa yang dulu saya bunuh?
Tiga bulan kemudian, saya pensiun dini. Saya tidak sanggup lagi memegang senjata.
Saya pindah ke pegunungan kecil di Balkan. Di sana tak ada internet, tak ada berita, hanya angin dan satu pertanyaan yang berputar setiap malam:
Apakah negara menipu saya, atau saya yang menipu kematian?
Lalu suatu pagi, saya menerima paket. Tidak ada pengirim. Di dalamnya terdapat dua cangkir kopi Turki, satu kaus bertulisan “Still Alive”, dan selembar kertas dengan tulisan tangan:
“Terima kasih sudah melakukannya dengan bersih. Dunia ini terlalu berisik untuk orang jujur. Sampai jumpa di perbatasan antara hidup dan arsip. —Teman Main Domino.”
Saya membakar surat itu, tapi baunya seperti terus melekat di lubang hidung saya.
Kadang, kalau malam, saya bermimpi sedang menarik pelatuk, tapi yang jatuh bukan orang-orang, melainkan bayangan saya sendiri.