Setelah ibuku terpilih menjadi kepala desa lima tahun lalu, hal pertama yang dilakukannya adalah menjahit bendera Merah Putih untuk ia bagikan secara gratis ke semua rumah di desa kami. Ia mewajibkan warga memasang bendera di pagar rumah atau di mana pun yang tinggi dan terlihat di depan rumah selama bulan Agustus. Pertama kali ibu melakukannya, ia dengan bangga mengirimkan kepadaku video bendera yang berkibar di kawasan desa kami.
Lima tahun kemudian, ibu meninggal dunia menjelang peringatan hari kemerdekaan RI. Aku langsung mencari penerbangan ke Indonesia saat mendapat kabar itu. Aku sedang berada di Singapura sehingga tidak terlalu jauh untuk pulang. Biasanya, aku berwisata ke berbagai negara.
Saat tiba, aku tidak menyangka rumahku akan penuh dengan warga. Ibuku memang kepala desa, tapi aku tidak membayangkan akan banyak sekali warga yang hadir untuk berdoa. Aku menyimpan koper di kamarku, lalu langsung berbaur dengan ibu-ibu yang sedang memasak di dapur. Aku belum melihat bapak. Kata tetangga, bapak sedang mengurus segala keperluan pemakaman. Rumah ini dan jenazah ibu, sepenuhnya diurus para tetangga. Para ibu gesit memasak di dapur, para bapak melantunkan doa-doa di ruang tamu sampai garasi, sedangkan jenazah ibuku yang tertutup kafan dan kain batik berada di ruang keluarga. Ibu- ibu menyarankan aku menemani jenazah ibuku, tapi aku lebih memilih memasak bersama mereka setelah melihat saudara ibuku datang.
Aku ingat lima tahun lalu ibu menyampaikan niatnya untuk mengikuti pemilihan kepala desa. Ibu bilang ia bosan karena aku sudah bekerja di luar negeri. Bapak sudah pensiun dan membuka usaha budi daya ikan lele dari uang pensiunnya. Ibu tidak begitu suka lele sehingga jarang menemani bapak saat sedang bekerja bersama karyawannya. Saat ia mencalonkan diri menjadi kepala desa, aku pikir ibu bercanda, tapi ternyata ibu seserius itu. Ia menang mutlak karena tidak pernah ada kepala desa perempuan di lingkungan kami, dan kehadiran ibu diharapkan bisa memberikan perubahan yang segar. Sejak kecil, ibu akrab dengan para perempuan di desa ini. Tidak sulit bagi ibuku untuk meminta para perempuan agar memilih dirinya.
Gunawan Bonaventura
Hari ini, ibu-ibu di dapur menceritakan kebaikan ibuku. Ada yang menceritakan pernah melahirkan di tengah malam dan ibuku yang mengurus semuanya, dari memanggil ambulans, menemani di ambulans, saat proses kelahiran, sampai setelah melahirkan. Ibuku ternyata mencari layanan ambulans gratis dari yayasan keagamaan. Ibuku juga yang membantu mengurus layanan BPJS. Semua warga desa ini terdaftar BPJS dan ibu memastikan semuanya bisa merasakan manfaat BPJS itu. Cerita lainnya, ibuku mengumpulkan sumbangan rutin dari warga untuk dimanfaatkan warga yang membutuhkan, seperti anak putus sekolah atau warga lansia yang sudah ditinggalkan keluarganya.
Ibuku membangun warung pecel lele sendiri, mengambil karyawan dari warga desa yang masih menganggur. Ibuku yang membuat resep sambalnya, lalu melatih warga untuk menjalankan usaha itu. Satu tenda, dua tenda, dalam lima tahun akhirnya ada tiga tenda dibangun di lokasi berbeda, semuanya memanfaatkan tenaga warga desa yang menganggur. Jika ada karyawan yang dapat pekerjaan lebih layak, ibu akan menggantinya dengan warga lain. Warung pecel lele ibuku menjadi semacam persinggahan bagi warga yang menganggur sampai mendapat pekerjaan yang diinginkan. Ada juga yang sudah nyaman dan terus bekerja bersama ibu.
Untuk bahan-bahan sambal, ibuku membeli dari petani sekitar desa kami. Lele langsung dari peternakan lele bapak, lalapan juga langsung dari kebun warga, membuat warung pecel lele ibuku terkenal selalu menyajikan masakan yang segar. Setelah punya tabungan, ibu membeli lahan untuk peternakan ayam agar ayam dan telur yang dijual di warung pecel lele ibu juga berasal dari peternakan sendiri. Semakin lama, semakin banyak warga yang mendapat pekerjaan dari ibu.
Sudah dipastikan warga akan memilih ibu kembali menjadi kepala desa di pemilihan selanjutnya. Tetapi, sayangnya, ibu keburu meninggal dunia. Itu sebabnya, banyak sekali warga yang datang ke rumah saat ibu dikabarkan meninggal. Mereka tidak menyangka ibu akan pergi secepat itu. Sepertinya mereka lebih kehilangan ibu daripada aku. Para ibu yang memasak di dapur pun membawa bahan makanan dari rumah mereka masing-masing. Mereka berdiskusi siapa yang membawa apa dan mereka akan memasak apa untuk acara tahlilan, bahkan mereka sudah merencanakan untuk tiga hari, tujuh hari, dan seratus hari kematian ibu. Bapak diminta untuk fokus pada pemakaman saja, dibantu bapak-bapak yang lain. Aku sudah mengirim uang ke bapak untuk semua ini, tapi malam hari bapak mengembalikan semua uang yang aku kirim. Sebab, kata bapak, semuanya sudah dibayar dan diurus oleh warga. Tangisku baru pecah setelah bapak menceritakan semua itu.
Lututku lemas, aku terduduk di samping jenazah ibu. Aku tidak menyangka semenjak kepergianku, ibu begitu aktif mengurusi warga, dan kini saat kematiannya, warga berbalik berusaha memberikan yang terbaik untuk ibu. Aku tidak pernah menyangka ibu seserius itu ingin menjadi kepala desa dan mengurusi warga. Aku pikir ibu hanya kesepian dan butuh kegiatan.
Malam itu, aku berencana tidur di samping jenazah ibu, tapi sulit sekali terlelap. Akhirnya bapak menghampiriku dengan membawa boks plastik berisi barang-barang pribadi ibu.
Betul, tapi ibu tidak mau cerita, takut kamu merasa tertekan.
”Niat bapak mau cerita besok, tapi karena kamu tidak bisa tidur, bapak cerita malam ini saja.”
Bapak menyerahkan foto ibu saat sekolah, mengenakan seragam paskibra. ”Impian ibu waktu sekolah dulu ingin menjadi pengibar bendera di Istana, tapi cuma lolos sampai tingkat kota atau kabupaten.”
”Pantesan, dulu aku disuruh ibu ikut seleksi paskibraka,” gumamku.
”Betul, tapi ibu tidak mau cerita, takut kamu merasa tertekan. Takut kamu merasa cuma jadi pelampiasan cita-cita ibu yang tidak tercapai.”
Aku memandangi foto ibu dalam seragam paskibra. Aku juga punya seragam yang serupa, tapi aku lolos seleksi sampai tingkat provinsi. Satu langkah lagi menuju Istana, tapi aku kalah di seleksi tingkat nasional. Akhirnya aku mengibarkan bendera di depan Gedung Sate, di hadapan Gubernur Jawa Barat.
”Kenapa ibu terobsesi jadi paskibraka?”
”Setahu bapak, dulu, ya, cuma karena keren-kerenan saja. Tapi, setelah ibu terpilih jadi paskibra Kota Bandung, ibu mengaku jadi lebih menghargai bendera dan jadi lebih cinta Tanah Air.”
Ya, aku pun menangis haru setelah berhasil mengibarkan bendera di depan Gedung Sate, tetapi nasionalismeku sepertinya tidak sebesar ibu. Aku meninggalkan Indonesia setelah kecewa terhadap pemerintah. Aku mencari cara agar bisa hidup di negara yang pemerintahnya betulan bekerja.
Dua minggu setelah pemakaman ibu, aku dan bapak menonton pengibaran bendera di Istana melalui Youtube karena sudah lama di rumah kami tidak lagi menonton televisi analog. Sebelum bekerja ke Singapura, aku mengganti televisi di rumah menjadi televisi pintar dan memasang internet agar ibu dan bapak bisa punya banyak pilihan tontonan, baik di televisi maupun ponsel, setelah mereka bekerja seharian.
Sepertinya bapak akan mencalonkan diri menjadi kepala desa untuk menggantikan ibu.
”Sejak menikah, setiap tahun bapak selalu menemani ibu menonton pengibaran bendera dari Istana.”
Aku mengangguk. Aku ingat ritual tahunan itu. Bapak selalu menemani ibu menonton, tapi aku tidak selalu bergabung bersama mereka.
”Bapak tahu, alasan ibu tiba- tiba mencalonkan diri jadi kepala desa waktu itu?” tanyaku setelah tayangan upacara selesai.
“Setelah jadi paskibra Kota Bandung, ibu berpikir ingin berkontribusi untuk bangsa ini dari lingkup yang terjangkau oleh tangan kecilnya.”
Aku tidak menyangka jawaban yang disampaikan ibu ke bapak akan seserius itu.
”Padahal, waktu jadi guru juga bisa berkontribusi untuk bangsa. Kenapa ibu mundur? Karena gajinya kecil?”
Bapak tertawa kecil. ”Betul. Apalagi karena kamu lahir. Menurut ibu, meninggalkan kamu di rumah tidak sepadan dengan gaji menjadi guru.”
”Tapi, ibu, kan, mendidik anak-anak lain.”
”Ya, pada saat itu, ibu mengutamakan kamu, anaknya sendiri. Setelah kamu semakin besar, lalu berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, baru ibu mencari apa yang bisa membuatnya merasa berguna bagi orang lain.”
Aku mengangguk tanda paham.
”Apa rencana Bapak setelah ini?”
”Ya, mempersiapkan tahlilan terakhir, seratus hari.”
”Maksudnya, setelah itu. Apa rencana Bapak setelah ibu enggak ada? Bapak mau tetap di desa ini? Soalnya aku harus kembali ke Singapura.”
”Enggak ada yang ngurus lele dan ayam-ayam.”
”Bisa kita atur kalau Bapak mau ikut aku ke Singapura.”
Bapak terdiam beberapa saat, seperti mengambil jeda untuk mengatakan sesuatu yang penting.
”Sepertinya bapak akan mencalonkan diri menjadi kepala desa untuk menggantikan ibu.”
”Aduh,” aku mengusap wajahku.
”Kamu enggak percaya kalau bapak bisa seperti ibu?”
”Bukan. Setahuku Bapak orangnya santai, tidak ambisius seperti ibu, tidak suka politik. Hidup datar-datar saja.”
”Ya, kita lihat saja nanti.”
Bendera Merah Putih di lapangan dekat masjid desa hanya dikibarkan setengah tiang. Kata bapak, warga yang meminta agar bendera dikibarkan setengah tiang, untuk menghormati ibu. Hari ini, bapak meminta warga kembali mengibarkan bendera penuh, sampai ujung tiang. Bapak juga meminta warga tetap mengadakan lomba 17-an yang sudah dipersiapkan ibu dan menjalani hari ini seperti yang sudah direncanakan. Sejak pukul dua siang, aku ikut menonton kemeriahan lomba-lomba di lapangan. Aku juga membantu bila dibutuhkan.
Jelang maghrib, tiba-tiba aku kangen ibu. Rasa kehilangannya kembali terasa menyesakkan justru setelah melihat warga desa berbahagia merayakan kemerdekaan. Saat berjalan pulang kembali ke rumah sendirian, aku baru menyadari keberadaan bendera di setiap rumah tetangga yang berkibar-kibar tertiup angin. Bendera yang dijahit ibu dengan rasa cinta dan dikibarkan oleh warga di depan rumah mereka setiap tahun.
Ibu mungkin gagal mengibarkan bendera di Istana, tetapi di sebuah desa kecil, ibu berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di setiap rumah di seluruh penjuru desa. Bendera-bendera itu berkibar setiap bulan Agustus, tanpa perlu aba-aba, bahkan hingga beberapa tahun setelah kematiannya.