Berdoa kepada yang tidak Ada
Rahmatia Ishlah Aprilia · 26 Mei 2024
Sumber: Media Indonesia · tautan sumber
BIASANYA, sebuah persembahan diambil dari sesuatu yang bersifat jarang, langka, atau setidaknya cukup istimewa bagi sebagian besar orang. Contohnya daging dan sayur bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau dan ikan serta aneka makanan laut bagi masyarakat hulu. Bagaimana makanan-makanan tersebut memiliki harga lebih mahal dibanding harga jual barang-barang pada umumnya.
Itulah yang terjadi kepada Mawar dan Biru. Dua insan yang tumbuh dalam dua budaya yang jauh berbeda dan tumbuh karena makanan yang berbeda pula. Mawar yang setiap hari melihat birunya laut, dan Biru yang bangun serta tidurnya ditemani berbagai aneka tumbuhan dan bunga di pegunungan. Hingga suatu hari keduanya dipertemukan oleh sebuah persembahan. Pertemuan yang terjadi karena pencarian sesuatu yang tidak ada di tempat mereka berasal. Pertemuan yang awalnya penuh gairah, tetapi mengantar mereka pada hari-hari penuh lelah.
Mawar atau Mawardi merupakan seorang pemuda yang lahir dan besar di sebuah pulau kecil. Jarak antara pulau tempat ia tumbuh dengan ibu kota memakan waktu nyaris 20 jam perjalanan menggunakan kapal tambang. Mawar tumbuh dengan jala dan ombak, ia didewasakan oleh terik sinar matahari yang bercampur garam laut.
Suatu hari, seorang warga pulau bernama Pak Bahrul menghilang setelah semalaman mencari cumi. Kematian di air memang hal yang biasa bagi masyarakat pulau, tetapi Pak Bahrul merupakan tokoh masyarakat dan bapak angkat dari banyak pemuda pulau. Ia merupakan seseorang yang sangat berpengaruh, rendah hati, dan mengorbankan banyak hal demi didirikannya sekolah di pulau mereka.
Maka pada petang hari itu, seluruh pemuda mengajak masyarakat pulau untuk berdiskusi bersama. Mereka sepakat, esok hari seluruh masyarakat akan datang ke pulau tua, sebuah bongkahan tanah yang konon katanya timbul terlebih dahulu sebelum pulau-pulau lain muncul ke permukaan air. Dipandu dukun laut, mereka bergerak membawa banyak persembahan. Ayam-ayam kampung yang mahal harganya dipotong, sayur-sayur segar yang dibawa nelayan dari ibu kota diikat dan dikemas, buah-buahan hasil panen warga pun diangkut pula. Mereka bersiap untuk berdoa dengan maksud bernegosiasi agar laut mau mengembalikan Pak Bahrul.
Kemudian berdoalah mereka di pulau tua bersama seserahan yang sudah diatur. Berjam-jam lamanya berdoa, perasaan mereka masih hampa. Rasa kehilangan sudah membuat mereka—setidaknya beberapa masyarakat—tidak yakin bahwa Pak Bahrul bisa kembali.
Hingga akhirnya, kepala desa berdiri dan berorasi, ia mengajak warga untuk memberikan seserahan yang lebih besar, lebih mewah, lebih mengagumkan.
“Masyarakat yang terhormat, alangkah baik jika kita memberikan sesuatu istimewa agar laut mau mengembalikan Pak Bahrul kepada kita.”
Beberapa masyarakat mengangguk.
“Kita akan memberikan persembahan, sesuatu yang tidak ada di sini.”
Kemudian para warga yang kaya bersepakat, Mereka siap patungan untuk membeli dan membawa 100 ekor sapi yang masih hidup ke pulau tua jika Pak Bahrul dikembalikan laut.
Bersoraklah mereka dengan ramai sambil menunjuk siapa yang akan menyebutkan sumpah tersebut sebagai tanda bukti bahwa ia mewakili dan bertanggung jawab atas sumpah masyarakat untuk laut. Dipanggilah Mawar, sebagai seorang pemuda yang sangat disukai warga karena ketekunan, ketangkasan, dan budi baiknya. Ia terpilih untuk mengucapkan sumpah kepada pulau tua.
“Saya... Mawar... maksudnya, Mawardi. Lahir dan tumbuh di pulau ini, akan bersumpah. Saya akan membawa 100 ekor sapi hidup dan menyembelihnya di pulau tua jika Bapak kami semua, Pak Bahrul, dikembalikan laut dalam keadaan hidup dan sehat. Dengan ini, saya bersumpah!”
Selepas sumpah itu, hujan turun deras tanpa henti selama 2 hari. Gelombang laut semakin tinggi membuat masyarakat berhenti melaut untuk sementara. Banyak masyarakat mulai cemas karena hal ini terjadi setelah penyebutan sumpah. Namun, pada sore harinya hujan reda bersamaan dengan datangnya sebuah kapal khas suku Bugis. Masyarakat tahu betul bahwa kapal tersebut berasal dari pulau yang jaraknya sekitar 12 jam dari pulau tersebut. Pulau yang mayoritas penghuninya berasal dari Makassar.
Alangkah terkejutnya mereka setelah melihat seorang bapak turun dari kapal itu, diantar beberapa awak kapal dengan sangat hati-hati. Pak Bahrul! Ia hidup, ia dikembalikan oleh laut! Seluruh warga bersorak. Para pemuda berlarian ke tanjung dermaga untuk menjemput bapak mereka, masyarakat tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Tuhan—dan kepada laut.
Tak jauh dari itu, masyarakat hulu mengalami kejadian yang cukup mengerikan. Nyaris setiap pengantin baru yang kemudian hamil harus keguguran di usia kehamilan mudanya. Bahkan, siswi-siswi SMA yang diam-diam mengandung terkena juga. Pada jam-jam istirahat mereka mengeluh sakit kemudian disusul aliran darah yang menetes-netes melalui kaki.
Didatangkanlah penceramah kondang dari ibu kota, dengan ceramah-ceramah peringatan untuk tobat agar kejadian ini berhenti terjadi. Namun, sudah satu tahun lamanya, tidak ada satu pun anak yang lahir di hulu. Para pengantin muda bersedih, ibu-ibu mereka menangis dan berdoa sepanjang malam, para tetua kampung tak henti mencarikan solusi ke berbagai tetua kampung lainnya, dan masyarakat lainnya yang ikut murung dan sedih memikirkan wabah ini—kecuali mungkin muda-mudi yang semakin senang bersembunyi di semak-semak gunung.
Maka suatu hari, Biruni kembali dari perantauannya di kota. Setelah berhasil menjadi bidan muda, ia memeriksa para perempuan desa untuk meneliti penyebab wabah keguguran yang menimpa kampungnya ini. Hasilnya, ia tidak menemukan penyakit apa pun. Sekeras apa pun ia berusaha dan berdiskusi dengan senior-seniornya di kampus, Biru tidak menemukan kejanggalan yang terjadi pada wanita-wanita desa hingga akhirnya ia mulai ikut percaya bahwa kampung ini kena kutukan.
Lalu tetua kampung memanggil dukun gunung, yang kemudian sampai pada perintah memberikan persembahan pada gunung tua. Konon katanya, setiap seribu tahun sekali gunung tersebut suka makan ikan laut. Tak tanggung-tanggung, dukun tersebut meminta masyarakat menyerahkan 10 ton ikan laut yang masih segar untuk menghadapi nafsu lapar dari gunung tua seribu tahun ke depan.
Maka masyarakat berbondong-bondong mengeluarkan ternak mereka, terutama sapi-sapi yang gemuk dan sehat. Masyarakat akan membawa mereka ke ibu kota untuk dijual atau ditukar dengan 10 ton ikan laut. Biru ikut turun menuju ibu kota, ia ingin mengambil bagian dari kembalinya kesuburan perempuan-perempuan desa.
Hari-hari ketika Mawar mulai menerjang ombak dengan ber ton-ton ikan ke ibu kota bersamaan dengan turunnya Biru dari pegunungan bersama para pemuda yang membawa sapi-sapi. Pertemuan mereka adalah sebuah takdir, buah manis dari malapetaka desa yang ingin mereka selesaikan.
Maka, pada suatu Senin setelah keduanya cukup istirahat di pondok-pondok ibu kota, keduanya bertemu di pasar rakyat. Sebagai seorang pemuda perwakilan desa, Mawar-lah yang maju untuk menjual berton-ton ikan dan menawar harga sapi. Bernasib sama, Biru sebagai gadis yang cantik nan pintar menjadi kartu as bagi warga desa agar sapi-sapi bisa dijual cepat dan bisa segera membeli banyak ikan lalu kembali ke hulu.
Pertemuan mereka kemudian mengantarkan keduanya kepada kesadaran bahwa 'keduanya saling membutuhkan'. Mawar butuh sapi sehingga harus menjual ikan-ikannya, sedangkan Biru sebaliknya. Tak perlu waktu lama, kesepakatan langsung dibuat. Secepatnya kapal-kapal tambang didatangkan untuk mengangkut sapi, bersamaan dengan itu truk-truk menyiapkan banyak balok es untuk membawa ber ton-ton ikan ke hulu.
Berhari-hari bernegosiasi dalam sebuah dermaga yang sepi, membuat keduanya cepat akrab. Mawar merasa harus segera mencium Biru. Gadis itu mau atau tidak, tetap saja esok hari ia harus segera kembali ke pulau dengan perjalanan yang melelahkan—membawa sapi-sapi yang pasti membuatnya ingat terus kepada gadis ini.
Tak sangka, ciuman itu mendapatkan balasan. Berujung pada sebuah malam panjang yang mengantar mereka kepada pemahaman bagaimana perasaan puas bisa bekerja.
Saat Mawar dan Biru tengah asyik bermesraan, penduduk dari dua desa sedang bersiap mengemasi barang bawaan dari desa mereka masing-masing. Perasaan mereka sangat riang, penuh harap, dan puas. Satu-satunya yang mereka tunggu hanyalah ketua rombongan. Mawardi sang pemuda pulau dan Biruni pemudi cerdas andalan masyarakat hulu. Berjam-jam lamanya mereka tunggu, hingga berujung pada satu malam yang terbuang sia-sia. Tidak ada satu pun yang tahu ke mana ketua rombongan dari kedua desa itu pergi. Tidak ada pula yang menyadari bahwa keduanya sama-sama hilang dan ada kemungkinan pergi bersama.
Lalu kejadian terkutuk pun terjadi. Di antara rombongan saling tuduh. Masyarakat pulau menuduh masyarakat hulu menculik Mawardi. Wabah lemahnya kandungan bisa jadi membuat masyarakat hulu bukan hanya memberikan persembahan ikan kepada gunung, tetapi juga membawa pemuda perkasa untuk mencoba menghamili gadis-gadisnya.
Pun masyarakat hulu berpikir bahwa masyarakat pulau menculik Biruni, seorang gadis cantik nan cerdas yang jelas bisa jadi diberikan untuk persembahan pulau tua, atau justru hadiah sebagai istri baru untuk Pak Bahrul si kampret itu!
Perseteruan yang berujung pada pertengkaran itu kemudian menjadi saling pukul, hingga sampai pada saling bakar. Kapal-kapal tambang dibakar, beberapa truk diledakkan. Dalam satu malam, sapi-sapi ikut terbakar—beberapa mengamuk dan loncat ke air, ikan-ikan berhamburan mati terbakar dan terinjak-injak, banyak juga orang mati, sisanya luka-luka serta cacat permanen. Mereka hancur dalam sebuah upaya persembahan.
Selang beberapa hari setelahnya, Mawar mendengar kabar bahwa Pak Bahrul mati karena mengigau berjalan ke laut dan tenggelam. Sedangkan Biru mengandung—meskipun ia merasakan perutnya akan pecah.