Burung-burung Itu Tak Berkata Lagi
Andriyana · 22 Agustus 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Di balik dinding-dinding bata yang tak sempat selesai dicat, Darma duduk sendirian di sudut sel penjara yang sudah tidak disebutkan namanya dalam arsip negara. Dia menghitung bunyi suara ranting patah di luar jendela besi, suara sepatu yang berlalu tanpa tujuan, suara burung-burung yang dulu pernah berkicau, tapi kini bungkam. Dia pernah percaya bahwa suara-suara itu adalah bahasa Tuhan. Namun di masa Orde Baru, Tuhan tak bicara, dan burung-burung itu memilih diam.
Darma bukan tahanan karena membunuh atau mencuri. Dia ditahan karena menyusun sajak. Tentu bukan sajak biasa. Sajak-sajaknya yang membuat pejabat tak bisa tidur, membuat rapat partai dibatalkan, membuat jalan-jalan disapu dengan bisikan. Di dinding selnya, dia menulis puisi dengan ujung tulang ayam: “Negara adalah sangkar, dan suara adalah dosa.”
Suatu malam, burung itu datang.
Ia bukan burung biasa. Bulunya tembus cahaya. Matanya menyimpan musim, dan setiap kali mengepakkan sayap, Darma mendengar suara ibunya yang dulu terbunuh dalam razia—suara yang belum pernah dia dengar sejak kecil. Burung itu tak berkata-kata. Ia membawa serpihan mimpi, potongan-potongan masa lalu, dan satu kalimat yang selalu berubah setiap malam: “Kau belum selesai.”
Selama bertahun-tahun, burung itu datang, duduk di ventilasi sel, diam, lalu terbang saat pagi datang. Tak pernah memberi nama, tak pernah menjelaskan apa yang ia bawa. Namun Darma tahu, itu bukan khayal. Dia mulai menulis sajak berdasarkan kunjungan itu. Sajak-sajak yang tidak bisa dia kirim, tidak bisa dia baca, hanya dia ukir di lantai semen dengan kuku-kukunya yang hampir patah. Sajak-sajak yang entah bagaimana, mulai mengubah udara. Penjaga mulai melamun. Rantai mulai berkarat. Dinding mulai mengingat.
Lalu rezim berganti. Surat kabar bicara tentang keterbukaan. Presiden baru bicara tentang demokrasi. Penjara itu kosong perlahan. Satu demi satu tahanan politik menghilang, bukan karena dibebaskan, melainkan karena dilupakan. Darma tidak pernah diadili, maka dia tidak pernah dibebaskan. Dia hanya tertinggal seperti lembaran arsip yang terlalu buram untuk dipindai.
Dan burung itu berhenti datang.
Kompas/Supriyanto
Saat burung itu berhenti datang, Darma mulai mendengar hal-hal yang tidak ada. Suara pintu dibuka, suara radio yang tak pernah diputar, bahkan kadang suara anak-anak bermain di halaman yang tak pernah dijaga. Darma mulai menulis puisi dengan darah dari ujung jari — kata-kata yang terasa seperti pesan yang gagal ditransmisikan. Dia tahu, absennya burung itu bukan sekadar keheningan. Itu adalah kematian bahasa.
Di balik ketiadaan itu, dia bertanya: apakah sebuah revolusi bisa sunyi? Apakah kebebasan bisa datang tanpa suara?
Di seberang kota, pemerintah memugar gedung-gedung lama. Termasuk penjara tempat Darma tinggal, yang akhirnya diputuskan menjadi museum rekonsiliasi. Namun tidak ada yang datang ke selnya. Tidak ada yang bertanya siapa yang tinggal di balik jeruji itu. Dia hanyalah artefak hidup yang tidak cocok dimuseumkan.
Suatu pagi, Darma mendapati lantai selnya dipenuhi bulu-bulu burung. Bukan satu, bukan dua, tapi ratusan—bulu halus yang memancarkan cahaya samar seperti kilasan mimpi. Dia mengumpulkannya, menjahit dengan serpihan benang dari kausnya yang sudah usang. Dia membuat jubah. Jubah burung yang tidak bisa terbang.
Dan saat dia mengenakannya, suara datang kembali. Namun bukan suara burung, melainkan suara-suara masa lalu: demonstran yang ditembak di Tanjung Priok, siswa-siswa yang menghilang di tahun 1998, ibu-ibu yang mencari anaknya di halaman kantor militer dengan foto yang nyaris luntur. Semua suara itu menyatu, bergema dalam tubuhnya, menyanyikan lagu tanpa nada. Lagu yang tak bisa dibukukan.
“Kau harus bicara,” kata mereka. “Kalau bukan kau, siapa?”
Pada suatu malam, Darma bermimpi. Dalam mimpi itu, dia berada di tengah lapangan luas, dikelilingi oleh burung-burung besar yang seluruh tubuhnya terbuat dari arsip negara: potongan koran, dokumen rahasia, memo pengintaian. Burung-burung itu membuka paruh mereka dan dari dalamnya terdengar suara anak-anak yang dulu dia ajari puisi di bawah meja sekolah yang rusak.
“Kau harus bicara,” kata mereka. “Kalau bukan kau, siapa?”
Saat dia terbangun, Darma tahu bahwa puisi tak lagi cukup. Dia harus ke luar; harus menjadi suara di tengah lanskap yang sudah jenuh dengan bisikan. Maka, dia berdiri. Dia melangkah. Dia membuka pintu yang seharusnya terkunci. Dan tidak ada yang menghentikannya.
Kota di luar telah berubah. Namun perubahan itu kosmetik. Gedung tinggi berdiri di atas tanah yang dulu penuh darah. Kafe-kafe menjual kopi dengan nama-nama pahlawan yang tak pernah diakui. Di trotoar, orang-orang berjalan cepat tanpa pernah mendongak. Namun Darma berjalan pelan, mengenakan jubah bulu seperti nabi yang hilang dalam teks suci yang tidak pernah dicetak.
Darma mulai membacakan puisi di ruang-ruang terbuka. Di halte, di taman, di depan kantor pos. Puisi-puisinya tidak indah—ia tahu itu. Namun puisi-puisi itu memiliki sesuatu yang langka: keberanian untuk tidak memaafkan.
Pada suatu hari, seorang anak muda menghampirinya. Dia mengenakan seragam sekolah, membawa ponsel dan wajah yang belum ternoda oleh sejarah.
“Pak, itu tadi puisi siapa?”
Darma menjawab: “Itu milik burung yang tak berkata lagi.”
Anak itu tertawa kecil lalu merekamnya. Dia mengunggahnya ke media sosial, memberikan caption: “Kakek puisi yang magis.”
Darma tidak tahu bahwa video itu akan viral. Dia tidak tahu bahwa jubahnya akan dijadikan simbol. Dia tidak tahu bahwa suaranya, yang selama puluhan tahun terpenjara, akan menjadi gema baru untuk generasi yang lupa bertanya. Namun semua itu terjadi. Dan burung-burung, entah dari mana, mulai kembali.
Mereka datang bukan untuk bicara, melainkan untuk mendengarkan. Di tiang listrik, di pepohonan kota, di balkon apartemen, burung-burung duduk diam saat Darma membacakan puisi. Dan malam itu, saat dia pulang ke rumah barunya—sebuah kamar sempit di gang belakang yang penuh mural revolusi—dia mendengar satu kalimat di udara: “Kini kau tidak sendiri.”
Angin musim hujan mulai menggesek dinding-dinding kota. Di bawah rintik yang menumpuk di aspal, Darma berdiri di pelataran stasiun tua. Orang-orang berlarian mengejar jadwal, menyusuri rel kehidupan yang dipetakan tanpa kompas nurani. Namun di antara riuh itu, seseorang berhenti.
“Pak Darma?”
Suara itu muda, gugup, dan terbelah antara kekaguman dan ketidakpercayaan. Seorang perempuan mengenakan jaket biru dan tas ransel bergambar logo kampus mendekat.
“Saya dosen sastra. Saya—saya membaca puisi Bapak di koran kecil itu. ‘Negara adalah sangkar, dan suara adalah dosa.’ Saya mengajarkannya minggu lalu.”
Darma memandangi perempuan itu seperti menatap masa depan yang tak pernah dijanjikan. Senyum kecil merekah di bibirnya yang telah lama membisu dalam duka.
“Lalu, murid-muridmu bertanya?”
“Mereka menangis, Pak.”
Diam. Hujan menjadi saksi.
Perempuan itu menggenggam kertas lusuh dari tasnya.
“Bolehkah saya minta Bapak membacakan ini? Puisi yang Bapak ukir di lantai sel .... Kami mencoba menyalin dari foto arsip, tapi tintanya tak lagi hidup.”
Darma menyentuh kertas itu pelan seperti membelai luka lama. Dia membacanya. Suaranya retak namun nyaring: “Jika kau mendengar sesuatu, jangan percaya. Suara bisa dibungkam, tapi gema tak bisa dibunuh. Kami bukan abu. Kami adalah angin yang tahu arah pulang.”
Beberapa orang yang tadinya berjalan cepat kini berhenti, membentuk lingkaran kecil di tengah kota. Seorang petugas keamanan menatap, tetapi tidak bergerak. Seorang ibu menggendong anak sambil merekam diam-diam. Diam. Namun diam yang mendengarkan.
Suara Darma melayang seperti doa yang tak dilafalkan. Puisi itu bukan lagi miliknya. Puisi itu menjelma menjadi milik siapa pun yang pernah merasa dikhianati oleh sejarah.
Malam harinya, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Darma,” suara lelaki tua dari luar berseru. “Aku Raka. Dulu kita satu sel, ingat?”
Pintu dibuka. Raka berdiri dengan tubuh lebih ringkih, tapi matanya masih menyimpan bara. Di tangannya, ada map biru dengan label: “Komisi Kebenaran dan Keberanian”.
“Aku butuh kau bicara, di forum itu. Di depan pejabat, wartawan, dan mereka yang dulu diam.”
Darma termenung. “Aku bukan orator. Aku hanya mendengar suara-suara yang tak ingin dilupakan.”
“Itu cukup,” kata Raka, dengan suara yang bergetar. “Bukan untuk membalas, tapi untuk menyebut nama yang mereka sembunyikan.”
Forum itu digelar di auditorium sebuah kampus swasta. Ada banner besar bertuliskan: “Rekonsiliasi tanpa Penghapusan.”
Saat Darma naik ke panggung, langkahnya seperti melawan gravitasi sejarah. Aula hening. Kamera-kamera diarahkan padanya, tetapi tak mengganggu. Dia mengenakan jubah bulu. Burung-burung tak hadir fisik, tapi dia tahu mereka mengintip dari celah langit-langit.
Darma membuka lembaran kosong. Tidak ada teks.
“Saya akan menyebut nama-nama.”
Da mulai: “Rudi—yang dipukul karena membawa buku Pramoedya.”
“Yuli—yang dihilangkan dalam demo air bersih.”
“Lastri—yang pernah menulis surat cinta di balik koran merah, dan tak pernah menerima balasan.”
Setiap nama adalah luka yang belum dijahit. Namun juga doa yang tak bisa dibungkam. Aula itu menangis. Bukan karena sedih, melainkan karena mereka ingat bahwa mereka pernah lupa.
Di tengah pidatonya, seorang pria berdiri dari baris belakang.
“Bapak ..., apakah tidak ada nama untuk pelaku? Untuk orang-orang yang memutuskan kami bisu?”
Darma menatapnya lama. Lalu berkata:
“Aku tidak membawa dendam. Aku membawa suara. Dan suara tidak punya musuh—hanya pendengar dan penyangkal.”
Pria itu duduk. Darma menutup pidatonya dengan kalimat:
“Yang perlu kita tulis hari ini bukan sejarah baru, tapi hak untuk mendengar sejarah lama tanpa rasa takut.”
Malam itu, burung datang kembali. Namun bukan satu, bukan dua. Ratusan. Ribuan. Mereka bukan burung cahaya. Mereka burung nyata: pipit, kutilang, merpati kota, camar yang tersesat. Mereka duduk di kabel listrik, di pohon waru, di atap rumah. Diam, tapi penuh. Diam, tapi mengabarkan.
Darma membuka jendela. Angin menerpa wajahnya, dan dia tahu: revolusi tidak pernah sunyi. Dia hanya menunggu seseorang untuk menyebut namanya.