Istriku berulang tahun hari ini jadi aku pulang lebih awal. Sebelum sampai ke rumah, aku sudah mengirim pesan teks ke ponselnya.
”Mau makan malam di mana, Sayang?” Pesanku itu tak terbaca, mungkin saja dia sedang beres-beres rumah.
Saat aku tiba di rumah baru dia sampaikan, ”Maaf sayang, pesannya baru dibaca. Kita ke Plaza saja, mau lihat-lihat baju murah di sana sekalian kita ngopi di sana.”
Sudah pasti aku turuti kemauannya. Kami berangkat sebelum maghrib. Plaza yang berada di tengah Kota Kupang memang selalu ramai. Beberapa kedai makan dan gerai minum kopi di sana pun tak pernah sepi peminat. Istriku memang gemar minum kopi bila sudah lelah berburu diskon baju atau sepatu di Plaza.
Aku tidak begitu suka masuk ke gerai-gerai kopi di sana. Harga kopinya mahal-mahal. Sajian kopinya pun bagiku hanya mementingkan unsur estetika saja dengan ditaburi krim berwarna dan mengandung banyak gula.
Aku lebih suka warung kopi murah di pinggir jalan di mana kopi pahit bisa dinikmati sambil mendengar rintihan hati pemilik warung kopi. Aku biasa duduk berjam-jam hanya menghabiskan segelas kopi pahit seharga lima ribu rupiah di warung milik Opa Agus di Jalan Thamrin. Harganya memang murah, tetapi percakapan-percakapan dengan Opa Agus dan istrinya cukup berharga. Sebagai jurnalis lapangan, informasi-informasi di warung pinggir jalan sering kali memberikan referensi.
Istriku punya selera yang berbeda dan tentu di hari bahagianya aku tak bisa menolak ajakannya.
Kami masuk ke dalam gerai kopi yang ada di dekat pintu masuk Plaza. Ruangannya terasa sejuk. Suasananya adem. Sinar lampunya elok. Aku membayangkan gerai kopi semacam ini pasti dirancang oleh arsitek ternama. Empat kursi kayu mengilap ditata melingkari satu meja kecil. Tetapi, ada juga dua kursi sofa empuk dan satu meja rendah yang aku bayangkan dikhususkan untuk pelanggan yang datang berpasangan seperti aku dan istriku. Kursi besi dengan dudukan yang lebih tinggi menghadap meja bar ada di sisi lainnya.
Di warung kopi Opa Agus, hanya ada satu bohlam lampu berwarna putih yang tergantung di atas meja pelanggan. Segelas kopi panas dan pisang goreng hangat yang akan menghanyutkan suasana.
Kami memilih duduk berdua di kursi sofa. Istriku bergegas memesan minuman dan camilan. Aku bahkan tak bisa mengenali jenis minuman dan makanan macam apa yang terpampang di daftar menu. Semuanya dinamai dengan campuran bahasa Inggris-Italia, seperti espresso, americano, capuccino, latte, caramel macchiato, Green Tea Latte, dan Salted Caramel Latte.
”Tidak ada kopi hitam pahit?” sahutku saat istriku memalingkan muka. Aku bisa melihat gadis muda di meja kasir tersenyum. Tidak ada sajian khusus kopi hitam pahit dalam daftar menu. Istriku memesan segelas teh tawar untukku. Proses pembayaran langsung dilakukan dengan mesin-mesin pembayaran elektronik. Bisa membayar tunai dan nontunai. Istriku menerima struk pembayaran dan uang kembalian. Dia membayar tunai rupanya.
Kami duduk berhadap-hadapan. Beberapa orang pelanggan sedang asyik bercengkerama di meja sebelah. Tak lama kemudian, seorang pelayan memberi kode kalau pesanan kami sudah tersedia. Istriku segera beranjak dan mengambilnya sendiri di dekat meja kasir. Aku sempat protes kepada istriku.
”Kenapa tidak ada pelayan yang mengantarnya ke sini? Kan sudah dibayar?”
Di warung kopi Opa Agus, kopi dan pisang goreng dipesan dan Opa Agus atau istrinya yang akan mengantarnya sampai di tangan pelanggan. Proses pembayaran hanya dilakukan secara tunai saat pelanggan hendak beranjak pulang. Percakapan-percakapan mengalir begitu saja di warung kopi. Begitu alamiah.
Percakapan-percakapan mengalir begitu saja di warung kopi. Begitu alamiah.
Aku menikmati teh tawar panas dan istriku menyeruput segelas capuccino. Tersedia juga sepiring kentang goreng berpadu dengan saus spesial dan sekotak roti manis Chocolate Mousse Danish. Aku sempat mengintip pada struk pembayaran yang diletakkan istriku di atas meja. Total pembayaran: Rp 315.000. Aku tak terkejut karena ini hari istimewanya.
Kami sedang berbincang mengenai pekerjaan saat keributan di meja kasir mulai merusak suasana. Seorang perempuan tua sedang memarahi salah satu pelayan. Perempuan tua itu mulai lepas kendali dan berteriak keras. Dia menuduh pelayan tersebut sudah mengusir suaminya yang duduk di gerai tersebut tanpa memesan minuman atau makanan.
”Kenapa kau usir bapak yang tadi duduk di sana? Hah! Kau kira kami tidak bisa bayar semua makanan dan minuman di sini? Hah! Kami biar dari kampung tapi kami bisa bayar semua makanan di sini! Hah!”
Perhatian semua pelanggan terusik oleh umpatan si perempuan tua.
Pelayan itu, seorang gadis muda belia berparas manis, berdiri mematung di balik meja menerima hujatan-hujatan yang terlontar. Dia bahkan tidak diberi kesempatan sama sekali untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
”Kau kurang ajar sekali! Kau pikir dia siapa? Dia sedang sakit. Kau pikir dia tidak punya uang? Hah!”
Kemarahannya sudah tak bisa dibendung. Telunjuknya terus diarahkan ke arah si pelayan saat mengumpat.
Seorang petugas keamanan berseragam datang untuk menenangkan. Suami perempuan tua itu berdiri kesal terbakar amarah di pintu masuk.
Gadis itu menahan rasa sesak di dada. Air matanya tak terbendung. Aku mendekat mencoba mencari tahu akar permasalahan. Saat mulut perempuan tua itu mengatup beberapa detik, gadis itu pun bersuara.
”Kami tidak usir suami ibu. Kami hanya sampaikan baik-baik bahwa yang boleh duduk di ruangan ini hanya pelanggan yang sudah memesan makanan dan minuman di sini.”
Perempuan tua itu memelototinya dan menghardik balik. ”Yaa, kami memang ingin pesan minuman di sini, tetapi saya masih pergi ke toko pakaian di lantai atas, jadi suami saya menunggu di sini sampai saya datang.”
Tak sedikit pun perempuan tua itu mengalah. Nada suaranya masih belum diturunkan. ”Kau pikir kami tidak punya uang? Hah!”
”Aturannya seperti itu, Ibu.” Gadis itu, meski dengan air mata yang menetes, mampu menjaga ketenangan. ”Kalau tidak kami yang ditegur. Kinerja kami dipantau CCTV.”
Petugas keamanan juga berusaha menjelaskan aturan main di gerai kopi tersebut, tetapi sepertinya perempuan tua itu menganggap harga diri keluarganya sudah dicabik-cabik.
”Kalau para pelayan ini tidak menjalankan aturan ini, mereka juga akan ditegur karena semua yang terjadi di sini dipantau CCTV,” sambung petugas keamanan.
”Siapa yang bertanggung jawab di sini,” teriaknya lagi. Semuanya terdiam. Aku bisa melihat perempuan itu menelan ludah. ”Siapa yang bertanggung jawab?”
Seorang pelayan lain terlihat sedang berkomunikasi melalui telepon. Suasananya masih tegang. Tiba-tiba pria berkacamata yang mengenakan kemeja berwarna biru masuk dari arah depan. Para pelayan terlihat memberi hormat kepadanya sehingga tanpa perlu diperkenalkan lagi perempuan tua itu bisa mengetahui kalau orang yang dia cari sudah ada di depan mata.
”Anda manajer di sini kan? Anda yang bertanggung jawab kan? Lain kali ajar pelayan-pelayan ini supaya bisa bersikap hormat kepada pelanggan!”
Manajer sudah tahu apa yang terjadi dan dia menyampaikan permintaan maaf langsung kepada sepasang suami istri itu.
Beberapa pelanggan yang duduk di sebelah kami keluar meninggalkan ruangan. Istriku masih duduk di kursi sofa menghabiskan segelas capuccino sambil memijit layar ponselnya.
”Pecat saja dia!” umpat si perempuan tua, mengacungkan jari telunjuknya ke arah gadis pelayan yang belum beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
”Kami punya aturan di sini, Ibu. Apa yang dia lakukan sudah sesuai dengan tugas dan fungsi sebenarnya,” jawab manajer.
Tidak bisa, Ibu. Pekerjaan saya juga dipantau langsung oleh CCTV.
Kemarahan membuat dia sulit mencerna penjelasan tentang aturan di dalam gerai tersebut.
”Kalian harus belajar sopan santun,” nasihat si perempuan tua.
Manajer tetap bersikeras bahwa apa yang dilakukan stafnya sudah sesuai aturan yang diterapkan.
”Sebagai manajer di sini, Anda juga sebaiknya jangan hanya duduk di dalam ruangan dan hanya memperhatikan CCTV dari sana saja.” Kali ini perempuan itu mengarahkan tuduhan kepada manajer.
”Tidak bisa, Ibu. Pekerjaan saya juga dipantau langsung oleh CCTV,” sahut manajer.
Perempuan tua itu semakin heran. Berulang kali dia mendengar kata CCTV. Keheranan yang sama juga sempat terlintas di benakku. Pelanggan dipantau CCTV, pelayan dipantau CCTV. Manajer dipantau CCTV. Lalu siapa yang memantau CCTV?
”Kalau kalian saya tuntut, lalu siapa yang bertanggung jawab?”
”Kami semua dipantau CCTV,” kata manajer.
Akhirnya perempuan tua itu mengalah. Dia sepertinya mulai sadar perdebatan itu sia-sia. Energinya tentu akan habis bila meminta CCTV atau kamera pengawas yang bertanggung jawab. Dia berbalik arah dan mengajak suaminya keluar dari dalam gerai.
Sebelum kembali ke tempat duduk, aku masih bertanya kepada manajer, siapa lagi yang memantaunya bekerja melalui CCTV, namun dia tak menjawab.
Kami beranjak pergi dari dalam gerai kopi tersebut mengikuti langkah para pelanggan lainnya. Istriku mengeluhkan suasana yang kacau di dalam sana sehingga pada akhirnya kami tidak bisa berbagi cerita di hari ulang tahunnya.
Kini sudah waktunya makan malam. Kami meninggalkan Plaza dan mencari tempat yang tenang, damai dan sedikit romantis.
Tiga puluh menit kemudian, makanan dihidangkan di hadapan kami: nasi, ikan bakar, kuah asam, sayur kangkung dan sambal jeruk nipis.
”Hari ini kami siapkan hidangan spesial khusus untuk kalian,” ujar Opa Agus tersenyum.
Kami melahap makanan yang tersedia sampai habis dan kemudian melanjutkan obrolan dengan Opa Agus dan istrinya. Pisang goreng panas dan kopi hitam pahit menemani percakapan tentang hidup berumah tangga.
Kami menikmati suasana malam yang semakin larut. Aku memeluk istriku dan mencium keningnya.
”Di sini tidak ada CCTV,” aku berbisik.
Dia kelihatan bahagia dan mulai suka dengan warung kopi Opa Agus.