CERITANYA begini. Pagi itu, ia membuat saya jengkel dan saya sudah mengepalkan tangan untuk memukul mukanya. Bayangkan saja, saya tak pernah bertemu dengannya. Saya tak pernah melihat wajahnya. Saya tak pernah tahu dirinya. Tapi, tanpa fafifu, ia memasuki halaman dan menghampiri saya di teras rumah. Lalu, ketika saya tanyakan namanya, malah begini jawabnya: Ikan Sarden nama saya, tokoh dalam novel Anda.
Kopi buatan istri saya mendadak terasa seperti oli. Tenggorokan saya menutup diri, menolaknya masuk. Mulut saya ingin menyembur wajahnya dengan campuran kopi + air + gula + air liur saya yang belum sikat gigi. Untung saja nalar saya masih bekerja. Saya mampu menahan diri. Tenggorokan saya mau berkompromi meski dengan setengah hati.
Saya meletakkan gelas, mengamatinya, menangkap kesan bahwa ia begitu girangnya bertemu saya. Seakan-akan, pertemuan ini sangat diidam-idamkannya. Tapi, tentu saya mengabaikannya. Saya belum pikun. Saya yakin betul baru kali ini bertemu dengannya meski ia berkata: Anda sepertinya tak percaya bahwa saya benar-benar mengenal Anda. Baiklah, saya akan buktikan. Nama Anda Kayu Jati. Anda seorang penulis dan kerap menggunakan nama pena Jati Belanda.
Yang ia katakan tepat seluruhnya. Tapi, itu semua tak ada artinya. Siapa pun bisa tahu nama saya. Banyak sekali cara melakukannya. Ia jelas penipu yang buruk. Seumpama ia meminta sumbangan atau apalah dan langsung mengutarakan niatnya, barangkali saya akan mempertimbangkannya.
Mengaku-ngaku sebagai tokoh cerita saya adalah cara yang kelewat tolol untuk mengelabui saya. Cerita adalah cerita dan kehidupan saya berbeda darinya. Tersenyum kecil, saya berniat membongkar kebohongannya. Tapi, mulutnya mendahului saya. Katanya: Agaknya Anda masih mengira-ngira bagaimana harus bersikap pada saya. Baiklah, biar saya sampaikan lebih banyak lagi agar Anda percaya.
“Tak perlu repot-repot. Pintu gerbang ada di sana,” potong saya.
Tunggu. Tidak bisa begitu. Saya sudah kadung kemari, meninggalkan dunia cerita yang Anda buat untuk saya, lengkap dengan nasib buruk di dalamnya. Andalah pencipta saya. Dan sebuah kehormatan bagi tokoh macam saya dapat bertemu penciptanya. Anda harus mendengar dulu cerita saya.
“Saya yakin,” sergah saya, “di dunia cerita, atau di mana pun itu, terserah Anda, kesabaran ada batasnya.”
Rencana Minggu pagi saya berantakan. Naskah novel yang harus saya rampungkan terabaikan. Saya kembali mencoba mengusirnya. Tapi, telinganya seperti tersumbat tutup botol Kopi Golda dan malah lanjut berkata:
Ikan Sarden nama saya. Pengusaha profesi saya semula. Duda status saya. Bangkrut penyebabnya. Kesepian mendalam permasalahan saya. Tak dimengerti orang lain memperburuknya. Tidak tahu diri, begitu kata mereka. Bunuh diri dalam pikiran kerap menggoda, tapi saya bertahan karena tak ingin mati dan dilupakan begitu saja. Ya, saya adalah tokoh cerita Anda. Anda menciptakan saya.
Tangan saya yang tadinya sudah mengepal jadi mengendur. Mata saya membulat. Saya tercengang. Tak ada yang tahu—bahkan istri saya sekalipun—bahwa tokoh seperti itulah yang sedang saya garap dalam naskah novel yang sedang saya tulis. Sayalah satu-satunya orang yang pernah bersinggungan dengan naskah yang ingin saya rampungkan hari ini. Tak ada yang lain.
Saya memandanginya, tak percaya. Matanya mengarah kepada saya. Tatapannya jadi seperti saya kenali. Pikiran saya tak keruan, bertanya-tanya entah tentang apa. Tapi, sebelum sempat saya berkata-kata, daun telinga saya dipelintir istri saya dengan dahsyatnya.
Tergeragap, saya menoleh ke arahnya.
CERITANYA begini. Pagi itu, saya seperti hendak dipukulnya, entah karena apa. Saya sama sekali tidak berniat buruk. Sebaliknya, saya membawa kabar baik. Amat sangat baik malah. Dan itu menyangkut masa depan gemilang novel yang sedang digarapnya. Itu kenapa saya tergesa-gesa menuju teras rumahnya dan langsung menjawab begini ketika ditanya saya siapa: Ikan Sarden nama saya, tokoh dalam novel Anda.
Tapi, alih-alih menanggapi, ia justru tersedak. Kopi yang diseruputnya tampak berhenti di mulutnya, agak lama, sebelum akhirnya mengaliri kerongkongannya. Ia mengamat-amati saya, menelusuri wajah saya, seperti memastikan sesuatu. Saya semula mengira itu salah satu aktingnya saja. Tapi, caranya meletakkan gelas betul-betul memperlihatkan bahwa saya adalah orang asing baginya.
Jujur, saya tak mengira akan ditanggapi begini rupa. Saya tak menyana bahwa ia akan tak mengenali saya. Semula, saya menyangka ia akan langsung tahu siapa saya. Tapi, mitos di dunia cerita agaknya benar adanya: pengarang-pengarang di dunia manusia tak akan mengenali tokoh ciptaannya. Dunia yang ditinggali pengarang dan tokohnya sudah serba berbeda.
Memikirkan itu, saya cepat memperkenalkan diri: Anda sepertinya tak percaya bahwa saya benar-benar mengenal Anda. Baiklah, saya akan buktikan. Nama Anda Kayu Jati. Anda seorang penulis dan kerap menggunakan nama pena Jati Belanda.
Saya berhenti sejenak, berharap perkenalan itu sudah cukup membuatnya percaya kepada saya. Tapi, ia masih waspada seakan menghadapi orang yang hendak menipunya. Saya jadi mengerti kenapa di tempat saya tinggal, mendapat izin resmi mengunjungi dunia manusia begini sangat sulit sekali. Manusia sangat mudah melupakan karena itu menghindarkannya dari pertanggungjawaban. Padahal, mereka banyak menciptakan cerita-cerita, menciptakan tokoh-tokoh celaka seperti saya.
Ketika melihatnya tersenyum kecil, saya cepat berkata: Agaknya Anda masih mengira-ngira bagaimana harus bersikap pada saya. Baiklah, biar saya sampaikan lebih banyak lagi agar Anda percaya.
“Tak perlu repot-repot,” potongnya. “Pintu gerbang ada di sana.”
Ucapannya itu membuat saya kian yakin bahwa manusia memang berpasangan dengan lupa. Meski begitu, saya tak mau kehilangan kesempatan. Setiap detail penjelasan bisa mengubah segalanya. Sekali lagi, saya mencoba menjelaskan: Tunggu. Tidak bisa begitu. Saya sudah kadung kemari, meninggalkan dunia cerita yang Anda buat untuk saya, lengkap dengan nasib buruk di dalamnya. Andalah pencipta saya. Dan sebuah kehormatan bagi tokoh macam saya dapat bertemu penciptanya. Anda harus mendengar dulu cerita saya.
“Saya yakin,” lagi-lagi ia memotong cepat, “di dunia cerita, atau di mana pun itu, terserah Anda, kesabaran ada batasnya.”
Saya mulai kehilangan harapan, terlebih ketika ia kembali mengusir saya. Tapi, sebagai usaha terakhir seorang tokoh yang hampir kalah, saya menyela: Ikan Sarden nama saya. Pengusaha profesi saya semula. Duda status saya. Bangkrut penyebabnya. Kesepian mendalam permasalahan saya. Tak dimengerti orang lain memperburuknya. Tidak tahu diri, begitu kata mereka. Bunuh diri dalam pikiran kerap menggoda, tapi saya bertahan karena tak ingin mati dan dilupakan begitu saja. Ya, saya adalah tokoh cerita Anda. Anda menciptakan saya.
Saya sudah menganggap ucapan itu sia-sia dan akan berbalik pergi seumpama tak melihat kepalan tangannya mengendur. Saya memandanginya yang juga sedang menatap saya. Entah kenapa, semacam kehangatan memancar dari sana. Harapan bahwa ia mulai memercayai saya kembali mekar. Dada saya berdebaran. Ia seperti akan mengatakan sesuatu. Tapi, sebelum sempat mulutnya mengucap kata, tiba-tiba istrinya tiba dan tanpa ampun memuntir telinganya.
Ia menengok ke arahnya. Harapan saya sirna.
CERITANYA begini. Pagi itu, suami saya berdiri di teras rumah, menyeruput kopi yang saya buatkan untuknya kemarin sore. Saya keringatan dan ngos-ngosan. Sejak subuh, saya sudah pergi ke pasar dan memasak dan mencuci dan menyiapkan sarapan dan mendiamkannya yang ngacir ke teras rumah dan memenuhi permintaan gilanya: menjerang air untuk ia mandi.
Dulu, saya mengira bahwa menikahi seorang pengarang merupakan kesalahan besar hanyalah gurauan. Saya tak pernah menganggap serius selentingan bahwa seorang pengarang punya sifat aneh dan gila. Ketika itu, saya yakin, manusia memiliki jalan hidup masing-masing, dan saya tak perlu terlalu risau pada kenyataan bahwa laki-laki yang akan saya nikahi adalah seorang pengarang.
Tapi, semua keyakinan saya itu kini tidak terbukti. Di tahun kelima pernikahan tanpa dikaruniai keturunan, kegilaan suami saya semakin nyata. Tahun lalu, ia tak mau lagi mencoba membikin anak dengan saya. Sembilan bulan lalu, ia begitu saja keluar dari kantor tempatnya bekerja tanpa membicarakannya dengan saya. Ketika ditanya apa alasan ia melakukan itu semua, dengan entengnya ia berkata: Aku ingin menyelesaikan novel pertamaku.
Mulanya, saya jelas mengamuk. Tapi, setelah lelah sendiri bertengkar dengannya, saya memilih memakluminya. Lagi pula, persoalan finansial tak memberati pikiran saya. Bayaran dari pekerjaannya terlalu mungil dibanding gaji saya. Jadilah saya biarkan ia masyuk dengan tulisannya. Tapi, sejak tujuh bulan lalu, gejala yang diidapnya kian mengkhawatirkan saya. Ia mengurung diri. Ia tak mau mandi. Makannya sedikit sekali. Omongannya melantur ke sana-kemari. Dan itu semua semakin memburuk seiring berjalannya hari.
Akhir bulan lalu, saya berpikir untuk membawanya ke psikiatri, tapi saya mengurungkannya karena suami saya berkata bahwa bulan ini novelnya akan selesai. Sekesal apa pun, saya tak mampu menahan keinginan untuk membaca tulisan yang ia kerjakan mati-matian dan ia simpan rapat-rapat bahkan dari saya.
Semalam, saya bernapas lega karena suami saya berkata bahwa hari ini ia akan benar-benar merampungkan ceritanya itu. Itu kenapa Minggu pagi ini saya seperti memiliki tenaga ekstra menghadapi tingkahnya yang sangat menyebalkan. Tapi, ketika segalanya telah saya siapkan, saya melihat pemandangan yang mengguncangkan nalar saya. Dengan mata kepala sendiri, saya melihat suami saya berdiri di teras berbicara dengan sosok yang tak ada wujudnya. Saya tak tahan melihatnya. Saya datangi ia. Saya pelintir telinganya sekuat tenaga.
Wajah bingungnya menatap saya, dan saya seperti tak lagi mengenalinya.