Ia masih belum mati. Ia mengutuk keadaan. Waktu azan subuh berkumandang, ia terbangun dan kedua matanya masih membuka. Ia berharap, seperti pagi-pagi sebelumnya, ketika bangun dari lelap tidurnya, ia ingin dijemput kematian. Kematian yang tenang, tanpa teriakan histeris. Padahal ia terus berharap, kematian menjemputnya dengan cara yang paling lembut. Kenyataannya, ia masih hidup.
Ia bangun dengan malas, melakukan rutinitas yang seolah seperti muslim yang taat. Mengambil wudu, memakai kemeja putih, dan bersongkok hitam. Ia meminyaki dengan wangi misik, parfum non alkohol yang sering ditemui di konter pulsa, atau pedagang eceran di saat salat Jumat. Tak ada tanda ayam berkokok sebagaimana yang terjadi di kampung halamannya, sebagai tanda pagi telah datang. Deru kendaraan bermotor, dan mobil-mobil berlalu lalang menyambutnya ketika ia melangkahkan kaki ke jalan menuju masjid.
Ardisha Lestari untuk Kompas
Ia berjalan menuju masjid dengan hati yang diliputi kegusaran. Ia berusaha beristigfar, supaya kegusaran itu berhenti berkelayap. Semakin ia tenggelam dalam gumaman permohonan ampun itu, ia semakin dilanda kegelisahan. Pantaskah ia yang selalu memohon kematian di setiap harinya, memohon ampun? Ia tak menyukai bunuh diri, ia ingin mati secara alami. Pergolakan batin yang meriuhi kalbunya, tak ingin diceritakan kepada siapa pun.
Semakin berpikir lebih dalam, ia semakin berharap kematian datang kepadanya dalam keadaan sujud dalam salatnya.
Dalam langkahnya, batinnya tak pernah berhenti berpikir. Untuk siapakah langkah kakinya yang melangkah ke masjid itu? Untuk siapakah berdandan serapi itu, dengan harum semerbak misik, apakah benar itu persembahannya kepada Tuhan? Atau jangan-jangan ia melakukannya supaya ia ingin dikatakan orang alim dan saleh oleh para tetangganya? Ia menjumpai beberapa tetangganya yang juga ikut melangkah ke masjid. Mereka bertegur sapa dengan seuntai senyuman dan jabat tangan. Tak ada basa-basi percakapan. Masing-masing sibuk menyelami perasaan mereka sendiri.
Seberapa besar ia menerima keputusan Tuhan, dan berapa lama dia akan hidup dalam kepura-puraan? Semakin berpikir lebih dalam, ia semakin berharap kematian datang kepadanya dalam keadaan sujud dalam salatnya. Kata orang-orang mereka yang meninggal dalam keadaan bersujud, meninggal dalam keadaan tersenyum, atau menoleh ke kanan, mereka meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Namun, benarkah itu? Ia tak tahu, ada ragu yang datang mengendap-endap perlahan ke dalam sanubarinya.
Ia sering mendengar percakapan di antara ibu-ibu yang pulang dari masjid, meski setengah berbisik, ia tak bisa melupakan percakapan yang tanpa sengaja didengarnya. Beberapa dari mereka seolah mempermasalahkan mukena yang dipakai oleh salah satu jamaah perepempuan. Mukena yang dipakai oleh ibu tersebut awalnya berwarna putih, tetapi sudah berubah menjadi agak kuning kecokelatan. Belum lagi ditambah dengan beberapa tambalan jahitan di beberapa bagian menggunakan warna yang tak selaras, sehingga memperlihatkan warna mencolok yang tak harmoni. Mereka mendiamkannya, tetapi di belakangnya, mereka berbisik-bisik dengan nada bicara yang tak suka.
Ia bercermin pada dirinya sendiri setelah mendengar peristiwa itu. Seberapa sering ia membatin yang tidak-tidak terhadap salah satu jamaah salat di masjid yang diikutinya. Tak jarang hatinya membatin suatu hal yang buruk. Sering muncul pertanyaan yang tak disengaja, akankah Tuhan menerima ibadah seseorang dengan memakai pakaian yang seadanya, dan pula beberapa dari mereka memiliki bau badan yang sungguh tak sedap untuk dihirup. Namun kejanggalan-kejanggalan semacam itu tak pernah ia utarakan pada siapa pun, ia merasa tak enak, sambil terus memiliki prasangka yang bukan-bukan.
Tentang ibadah salat yang dilakukannya, seberapa sering ia menghadirkan Tuhan dalam salat-salatnya? Seolah ia lebih sering melakukan yang hanya mirip sekedar ritual, rukuk, sujud, dan salam tanpa memiliki efek apa-apa di dalam hidupnya. Ia mengerjakannya sambil lalu, hanya sebagai penggugur kewajiban, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Salat adalah tiang agama, kata mereka. Salat adalah solusi dari setiap masalah. Akhir-akhir ini entah apa yang membuat segala perasaannya sangat rumit. Ia mulai mempertanyakan banyak hal. Ia tak juga mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan batinnya.
Ia juga sering bertamu ke rumah sahabat-sahabatnya, beberapa dari mereka membiarkan kitab suci Alqurannya berada di tempat paling tinggi, dikunci, dan seolah tak seorang pun diijinkan untuk menjamahnya. Selain itu, beberapa sahabatnya yang lain, ia dapati kitab suci tersebut dalam keadaan berdebu, lusuh, dan nyaris tampak kalau tak pernah disentuh. Ia mulai mempertanyakan, muslimkah mereka? Setelah itu, muncul pertanyaan buat dirinya sendiri, apakah ia merasa sebagai mahluk paling bersih? Sehingga berhak menghakimi, seseorang yang bahkan belum tahu kesehariannya seperti apa.
Satu kata itu jika diketahui semua orang di kantornya, tentu akan menggembarkan pribadinya yang di mata orang-orang tampak santun. Ia tak pernah mau diajak pergi ke klub malam, dugem, atau hal lain yang dibenci orang alim sepertinya. Perlahan sahabat-sahabat di kantornya mengerti, kalau ia tampak seperti muslim yang taat.
Benarkah ia muslim yang taat? Mereka hanya menilai dari hal-hal yang tampak, dan dia pun ingin tetap dinilai seperti itu oleh sahabat-sahabat atau rekan-rekan kerjanya.
Ia ingin berhenti, tetapi pikirannya senantiasa dibelenggu oleh perempuan itu. Ia selalu merindukannya.
Tidak ada yang tahu, sepekan sekali, ia mendatangi seorang yang mungkin dikatakan kekasih gelap. Ia tidur dengannya, dengan perasaan bersalah setiap percumbuan itu selesai. Namun perempuan itu lihai mempermainkan gejolak di dalam dirinya. Perempuan itu berhasil membuat lelaki itu datang lagi dan datang lagi. Meski kadang, di sela-sela percumbuan mereka, ia mandi wajib untuk menunaikan salat. Selepas salat mereka bercumbu kembali, dengan percumbuan yang lebih bergairah.
Ia ingin berhenti, tetapi pikirannya senantiasa dibelenggu oleh perempuan itu. Ia selalu merindukannya. Setiap kali ia tak membalas pesan dari sang perempuan, maka perempuan itu akan mengirimkan pesan beruntun. Mas kamu dimana? Mas, aku kangen. Mas, aku sendirian di Jakarta, masa tega ninggalin aku sih?
Ia juga melakukan salat taubat yang tidak ada habisnya. Setiap pulang dari rumah perempuan itu, ia beristigfar sebanyak-banyaknya, dengan gelinang air mata penyesalan, seolah berharap tak ingin melakukan kemaksiatan itu lagi, dan lagi. Namun ia datang lagi dan datang lagi kepada perempuan itu. Ia tak kuat berlama-lama menahan rindunya yang membuncah.
Kalau sedang tak bersama perempuan itu, ia salat taubat dengan salat seseorang yang seakan-akan hendak menghadapi kematian. Khusyuk, dan khidmat sekali. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya, berharap taubatnya diterima, dan malaikat Izrail datang kepadanya dan mencabut nyawanya penuh kelembutan. Ia berharap kematian setiap harinya, dengan harapan Tuhan telah menerima tobatnya.
Namun, saat bersama perempuan itu, ia berharap malaikat maut jangan datang, sebelum ia melakukan salat taubatnya. Ia menyimpan rapat-rapat rahasia itu. Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Kalau mungkin ada yang tahu nanti, kenapa ia tak menikah dengan perempuan itu? Perempuan itu beragama Kristen, dan menurut keyakinannya, mereka tak bisa hidup sebagai suami istri.
Ia telah sampai di masjid. Ia bertakbiratul ikhram dengan khidmat—dengan harapan maut menjemputnya saat sujud. Ia tak mau lagi, dihantui kehidupan karena memakai topeng sebagai orang alim tak bercacat.