Gardenia dan Suaranya
Asqo L. Fatir · 20 September 2025
Sumber: Tempo · tautan sumber
Kuncilah pintu dan jendela, Gardenia. Mereka mengincarmu.
BERSAMA dengannya adalah kehangatan bersambut yang tiada meredup. Hujan belum juga reda di sisi sebuah kedai kopi. Musik jaz dan kebisingan lain telah menuju kelak-keluk segala batin. Aku masih menunggu senandung perempuan bermata biru itu. Namun, bila rengekan trompet sumbang dari musik jaz di sudut kedai membuat gadis berambut gelombang itu tersesat, kebahagiaanku yang baru menikahinya tetap menjadi lampu paling cerlang yang berpijar di kota ini.
Aku melihat pipinya berubah serupa daging Apel Surprize. Dan aku terpesona. Perempuan yang biasa menyelipkan bunga mawar di sela telinga itu tampak malu menyadari aku yang tak henti memandangnya.
Malam ini ia tampak anggun dan indah. Bukan cuma aku, pemandangan itu juga mengikat mata lain yang turut berbahagia.
Kini nyanyiannya mulai terdengar seperti embun yang jatuh perlahan menyentuh daun-daun dengan lembut. Suaranya membawa kesejukan yang menyegarkan jiwa. Setiap nada seperti aliran sungai yang tenang, mengisi hati siapa pun yang berlubang. Tak ada yang tidak terpana dengan peristiwa itu. Mereka semua diam sampai sesuatu seperti mengendalikan dirinya.
“Suara dari langit…,” kata salah seorang dari kerumunan.
“Aku seperti melihat surga begitu dekat.”
“Dan aku seperti mendengar malaikat datang menurunkan wahyu.”
Lalu improvisasi muncul serupa gerak angin di antara pepohonan, berbincang dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh perasaan yang larut. Perasaan getir yang penuh kekosongan.
Seorang lelaki tua di kedai tampak kaget. Matanya keruh, tangannya gemetar saat menyentuh pinggiran cangkir kopi yang sudah dingin. "Ini…," bisiknya hampir tak terdengar.
Aku menoleh sekilas, coba mengabaikan. Namun, ia melanjutkan, kini terdengar lebih jelas, seakan-akan berbicara langsung kepadaku.
"Mereka tidak seperti kita. Suara mereka bukan sekadar nyanyian—itu adalah panggilan. Mereka bisa membangkitkan apa yang sudah lama tertidur."
Ia berhenti sejenak, “Mereka sudah mencium aromanya,” bisik lelaki tua itu lagi, matanya kosong menatap jendela. “Mereka yang lama tidur di antara kabut dan bayang-bayang.”
Aku nyaris bertanya, tetapi lelaki tua itu langsung membisu. Ia menggenggam dadanya, seolah-olah menahan sesuatu yang hendak keluar dari dalam tubuhnya.
Aku melihat bagaimana raut wajah Gardenia. Ada getaran dalam suaranya yang terasa terlalu sempurna. Aku seharusnya cuma terpikat seperti yang lain, tetapi ada sesuatu yang mengusik naluriku. Nada suaranya seperti mengiris udara, mengisi setiap celah di ruangan itu, seakan-akan menuntut dunia untuk diam dan mendengarkan.
Kemudian orang-orang di sekelilingku saling mengguncangkan tubuh satu sama lain. Saling coba mengingat-ingat kenangan yang tak tertilik sebelumnya. Saling percaya bahwa Tuhan sedang berbicara kepada mereka melalui Gardenia. Sehingga malam itu berubah menjadi perayaan yang tak terbayangkan. Tetamu yang datang di pernikahan kami, kini mengalami mabuk massal yang sama.
Mereka menari, memukul-mukul orang sambil tertawa-tawa seperti orang sinting. Ada juga yang menangis tersedu-sedu kemudian membanting gelas. Bahkan ada yang marah-marah dan menyakiti diri sendiri.
Gardenia masih berdiri di podium itu. Ia berkeringat, membuat gaun putihnya basah. Wajahnya tampak bingung. Saat itulah aku berdiri, mendekat pada Gardenia dan menariknya pergi.
KAMI berteduh di depan etalase toko yang gelap. Kemilau lampu jalanan yang basah, papan reklame, dan sorot kendaraan menjadi kilau yang mengiris udara dingin di sekujur kota. Orang-orang dalam kedai mulai berhamburan keluar. Aku khawatir sekaligus bingung dengan apa yang terjadi. Kami mulai berjalan cepat beriringan setelah payung dibuka. Aku berpikir dalam diam. Sebenarnya apa yang terjadi?
Kami bergegas naik mobil sedan yang masih berhias bunga mawar dan melati. Sebagian orang yang mabuk di sekitar, melihat kami dan mengejar, meski akhirnya mereka menyerah terhadap kecepatan mobil. Polisi yang kupanggil akhirnya datang sebelum orang-orang itu mulai melakukan hal-hal berbahaya. Mereka tampak kewalahan menertibkan.
Begitu kacau, begitu menegangkan, begitu ajaib.
Kini di dalam mobil, Gardenia hanya memandang jalanan yang basah, dari wajahnya masih terpancar rasa takut. Entah apa yang dipikirkannya.
“Kau sangat suka membuat orang khawatir,” aku mengusap rambut istriku itu. Coba menenangkan. Kali ini ia memandangku dengan mata berkaca-kaca.
“Maafin aku.”
Aku mengangguk, mengerti dengan apa yang dirasakan Gardenia. Aku tahu saat ini dia pasti bingung. “Jangan sedih,” aku mengelus rambutnya yang sebatas punggung itu. “Aku cuma mau lihat kamu bahagia. Jangan pikirin mereka. Kita cuma punya malam ini.”
“Aku tidak tahu kalau kalian tak suka bernyanyi.”
“Sudahlah, lupakan peristiwa tadi. Mungkin mereka keracunan sesuatu, mungkin ada masalah dengan kopi yang mereka minum atau makanan yang kita pesan untuk mereka.”
"Seandainya kau tahu.” Suara Gardenia pecah di antara deras hujan, “Suara kami disebut anugerah. Tapi, ketika dunia takut, kami diburu. Kini, hanya nyanyian itu yang membuat dunia mengingat keberadaan kami."
Aku menggenggam setir lebih erat. Dari sudut pikiranku, kilasan itu datang—perempuan-perempuan bermata biru yang diburu di hutan, diseret ke dalam rumah pohon yang gelap. Jerit yang membekas di udara basah.
Tiba-tiba, seekor anjing liar melintas di jalan. Aku menginjak rem sekuat tenaga. Ban menggesek aspal, suara berdecit meraung, mobil hampir terpental. Gardenia terhuyung di kursinya, matanya membelalak ketakutan.
Jantungku memburu. Untuk sejenak aku melihat bayangan lain—bayangan tubuh-tubuh besar berjubah hitam berdiri di tengah jalan, hanya untuk menghilang di balik hujan.
Aku menoleh cepat ke Gardenia. Ia menggenggam lengan bajuku, begitu erat hingga kukunya meninggalkan bekas merah.
"Mereka sudah dekat," bisiknya dengan suara yang nyaris bukan miliknya sendiri.
Aku kembali menginjak gas. Mobil melesat menembus jalanan basah, seakan kami dikejar oleh kegelapan itu sendiri.
Dan dalam hatiku, aku tahu—ini bukan tentang menyelamatkan Gardenia lagi. Ini tentang menyelamatkan diriku sendiri dari sesuatu yang lebih gelap.
AKU melirik Gardenia saat mobil terus melaju menembus hujan. Matanya masih menerawang. Aku ingin mengatakan sesuatu, apa pun yang bisa menenangkan perasaannya. Tapi bagaimana mungkin, jika aku sendiri merasa ada yang tak benar?
Aku menyentuh tangannya. Jemarinya terasa dingin dan kaku, seperti menyentuh sesuatu yang bukan lagi manusia. Aku menahan gemetar dalam dada, memaksa pikiranku untuk tetap waras, untuk tetap mencintainya seperti tadi pagi saat kami bersumpah setia. Tapi rasa takut itu, perlahan, menggerogoti pertahananku.
Ia menatapku dengan matanya yang tampak redup. Untuk sesaat, aku melihat gadis yang kuselamatkan di hutan itu—yang lari ketakutan, yang tubuhnya gemetar di bawah selimutku, yang bibirnya berdarah saat mencoba mengucapkan namanya.
Hari itu, saat aku melihatnya berlari ke arahku, dia tidak bersuara. Dia tidak menangis. Bahkan ketika kami mendengar teriakan teman-temannya yang dibakar, dia tidak mengeluarkan satu pun keluhan. Hanya napasnya yang memburu.
Seketika, rasa dingin menjalar di punggungku.
“Gardenia...,” Aku menarik napas, berusaha menghilangkan rasa takut yang perlahan mencengkeram dadaku. “Kenapa hanya kau yang selamat?”
Wajahnya menegang. Tangannya yang kugenggam perlahan terlepas.
"Aku tak mau mereka menemukan kita," bisik Gardenia, suaranya pecah di antara isakan kecil. "Aku tak mau kembali menjadi... kosong."
Aku menariknya ke dalam pelukanku, walau dalam hati aku bertanya: 'Siapa yang ia takutkan?' Tapi ia hanya memandang dengan sorot mata yang entah kenapa terasa lebih gelap dari biasanya.
Suara ponsel bergetar di dasbor, membuatku tersentak. Dengan tangan yang sedikit berkeringat, aku meraihnya dan membaca pesan yang baru masuk.
"Kau pikir bisa menyembunyikannya selamanya?"
Darahku berdesir. Aku membaca pesan itu sekali lagi, memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Lalu ponselku kembali bergetar.
"Kau tahu suara itu bukan miliknya sendiri, bukan?"
Aku merasakan tenggorokanku mengering. Aku menoleh ke samping, memperhatikan Gardenia yang masih menatap lurus ke luar.
Bukan miliknya sendiri? Kata-kata itu berputar-putar di kepalaku.
Aku mulai mengingat lelaki tua di kedai yang bergumam tentang perempuan yang memiliki suara yang bukan sekadar nyanyian. Tentang mereka yang bisa membangkitkan sesuatu yang tertidur.
Lalu ponselku bergetar lagi. Satu pesan terakhir.
"Kami akan mengambilnya kembali."
Saat itu, mata biru Gardenia sepenuhnya hitam.
Aku membeku. Dadaku sesak. Di depanku, Gardenia—atau sesuatu yang menyerupainya—tersenyum tipis, dengan mata sehitam malam tanpa bintang.
Aku tahu aku harus lari. Aku tahu aku harus takut. Tapi yang pertama terasa justru bukan ngeri, melainkan patah. Seperti ada jalinan benang dalam diriku yang mendadak putus satu per satu.
Perempuan yang kuselamatkan. Yang kucintai. Yang kucium pagi ini. Entah ke mana sekarang. Aku menahan isak yang ingin pecah.
"Gardenia...," panggilku lirih, berharap ada keajaiban seperti saat ia bernyanyi.
Ia hanya menatapku, hening, dengan mata yang tak lagi mengenaliku. Dan, dalam hening yang retak itu, langkah-langkah berat mendekat. Dalam hatiku, aku berdoa bukan untuk keselamatan, melainkan agar sekali saja, sekali saja, Gardenia kembali memandangku dengan mata yang dulu.
Dalam pantulan kaca mobil, aku melihat siluet tubuh-tubuh besar berjubah hitam mendekat. Sebelum aku sempat bergerak, Gardenia berbisik, suaranya bukan miliknya lagi—seperti gema dari tempat jauh yang tak pernah kudatangi, "Mereka datang... untukku... dan untukmu."
2025