Gugusan Mata Anjing
Adam Gottar Parra · 13 September 2025
Sumber: Tempo · tautan sumber
ANTARA Bakolo dan Balara, yang dihubungkan oleh kegelapan jalan setapak (karena aku tak pernah melihat tempat ini di siang hari), ibu mengajakku berhenti di bawah sebatang pohon yang mirip sketsa arang di tembok. Mataku tak bisa mengenali pohon canggung bersirip daun jarang itu, sehingga dari celah daunnya yang mirip tulang ikan aku bisa melihat dengan jelas beberapa butir bintang di atasnya. Tapi dari baunya yang agak apak, aku segera mengenali bahwa itu adalah batang pohon sagu yang masih muda.
Hidung orang gunung sedikit berbeda dengan hidung orang kota. Hidung orang gunung sangat akrab dengan bau binatang dan tumbuhan. Babi yang tersembunyi di semak-semak dalam jarak ratusan meter di hutan akan terhidu oleh hidung orang gunung. Jadi, wajar bila sering terdengar teriakan, “Babi babii…!” atau “Ular ulaar…!” untuk memberi tahu tetangganya agar segera keluar membawa tombak dan tulup, kendati di sekitarnya tidak tampak seekor pun binatang. Karena mereka mengetahui dari baunya yang terbawa angin.
Karena itu, bila suatu saat Anda berkunjung ke permukiman di tengah hutan, dan mendengar anak kecil berteriak menyebut-nyebut nama binatang tertentu, jangan sekali-kali berprasangka bahwa bocah itu bermaksud menghinamu. Seperti yang terjadi pada seorang pelancong dari seberang daratan beberapa waktu lalu, karena tersinggung, ia tiba-tiba menjambak rambut seorang anak perempuan di depan bapaknya. Si bapak yang tidak terima anaknya disakiti dan merasa perilaku kaum penjajah itu masih belum berubah sampai sekarang, langsung mengambil tombak dan menombak kepala si wisatawan hingga tewas di tempat.
Tetapi, itu dulu, sudah lama sekali, beberapa windu sebelum kami masuk Islam, tepatnya dipaksa berpindah agama secara massal oleh utusan pemerintah yang datang membawa bedil, pedang, sekop, dan segulung tambang. Kami dikumpulkan seperti kayu bakar di halaman rumah Kliang (1), dan ditawari—tepatnya diancam!—“Apakah mau masuk Islam atau tetap memeluk agama leluhur?”
Mendapat pertanyaan aneh itu, orang-orang merasa heran dan saling pandang dengan bingung; karena kurang memahami maksud pertanyaan Pejabat Urusan Agama itu.
Sebagai warga pedalaman yang tinggal di lereng gunung, kami tidak mengetahui bahwa di balik barisan puluhan gunung di bawah sana terdapat sebuah kota, dengan kehidupan yang lebih beradab, sehingga setiap ada helikopter terbang di atas kampung, kami akan mengejarnya dengan tombak. Di Bakolo, kami hanya mengenal seruas jalan tanah yang membelah bukit-bukit dan lereng gunung, yang ujungnya sampai ke Balara, di belakang Teluk Penyu. Kami tidak mengenal rumah ibadah, tempat memuja, dan nama Tuhan, apalagi institusi agama.
Meskipun kami sangat dekat dengan Alam, seakan batu, pohon dan hutan, beserta seluruh penghuninya, termasuk yang tidak tampak, seperti kumilit-kumalat (2), bisa berbicara dengan kami. Kalau ada anak-anak yang sakit atau ketemuq (3), ibunya akan segera menggendong si bayi ke bawah pohon seraya membawa kendi berisi air untuk memohon maaf pada Alam, barangkali ada yang pernah dimakannya secara berlebihan atau memakan yang bukan haknya, sehingga mencemari air susu yang menyebabkan si bayi sakit. Si ibu akan memohon maaf, lalu menyiramkan air ke pohon-pohon di sekitarnya.
“Apa itu Islam?” sergah Baloq Ganar, “Apakah itu nama alat bercocok tanam atau merek baju?” katanya, balik bertanya, dengan lugu, seraya menepuk dadanya yang telanjang. Karena, di kampung kami, jarang orang yang memiliki baju, kecuali anak-anak perempuan yang sudah akil baliq, untuk menutupi dadanya. Para lelaki yang bekerja di ladang juga menggunakan peralatan seadanya. Oleh sebab itu, waktu seorang petugas partai datang membawa sumbangan berupa alat-alat pertanian, seperti pacul, linggis, dan parang, serta berjanji membagikan tanah secara gratis kepada setiap kepala keluarga, mereka pun beramai-ramai membubuhkan cap jempol, yang kini dijadikan barang bukti untuk menekan mereka agar mau berpindah agama.
Jika sebelumnya orang-orang kampung yang bingung mendengar pertanyaan Pejabat Urusan Agama itu, kini giliran para utusan pemerintah itu yang bingung mendengar pertanyaan Baloq Ganar. Kendati yang ditanyakan Baloq Ganar itu perkara sepele, sesuatu yang memang mereka butuhkan untuk bertahan hidup di daerah pegunungan yang bergantung pada tadah hujan itu. Tapi, Pejabat Urusan Agama yang masih tampak letih setelah hampir dua hari berada di atas punggung kuda itu belum siap untuk menjawab pertanyaan Baloq Ganar, sehingga pria bersorban yang duduk di samping si pejabat mengambil peran sebagai juru bicara.
“Untuk berdoa!” jawabnya, singkat, sambil melotot pada Baloq Ganar, “Kalau menolak?”—Ia memalangkan pedang di lehernya, lalu—“Ini…!” katanya, sambil membuat gerakan seperti orang menyembelih, yang membuat orang-orang terkesiap dan segera menyadari bahwa laki-laki bersorban di depan mereka adalah Ustaz Badri, orang yang selama ini dikenal sebagai algojo. Wajah warga pun berubah jadi panik.
Pendek cerita, setelah berlangsung perundingan singkat antara utusan pemerintah dan para tetua kampung, akhirnya dengan raut muka tertekan para tetua terpaksa menerima pilihan pahit untuk pindah agama. Sebab, jika tidak: bedil, pedang, tambang, dan sekop telah menunggu mereka untuk digiring ke tempat pembantaian di celah bukit. Beberapa orang memang berhasil melarikan diri ke hutan karena takut dikhitan. Tapi, pelarian mereka berakhir beberapa bulan kemudian di kaki bukit, yang kini dipenuhi gugusan mata anjing.
“Alhamdulillah… Hidayah Allah telah turun di kampung ini,” kata si Pejabat, lega, sambil mengepulkan asap rokok, setelah meredakan hausnya dengan air kelapa muda.
Kemudian, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, kami pun bersyahadat secara massal di bawah bimbingan Pejabat Urusan Agama, yang dilanjutkan dengan acara khitanan massal sepekan kemudian. Oh ya, tidak sebatas mengganti keyakinan dan merelakan ujung kulup (4) disayat dengan pisau, tapi nama kami juga diganti dengan nama-nama baru, yang membuat kami merasa asing satu sama lain. Misalnya, Gupuk berubah jadi Abdul Gofur, atau Menok berubah jadi Munah atau Maimunah, sehingga kami sering lupa pada nama sendiri.
Bisa dibayangkan, betapa tertekannya kami saat itu. Keyakinan yang telah berurat-berakar selama berabad-abad harus diganti dengan keyakinan milik orang lain, yang berbeda geografis dan adat istiadat. Akibatnya, kami sering merasa hampa seperti kepompong. Walau, dalam kondisi tertekan itu, masih ada saja dari kami yang suka pergi ke menhir, untuk mengadu pada roh leluhur, yang bersemayam di batu-batu dan patung Burung Garuda, sebelum akhirnya benda megalitik itu dihancurkan oleh pemerintah, karena dianggap mengandung khurafat. Kendati gambarnya masih terpampang di lembaga-lembaga resmi, termasuk di tembok institusi negara yang menghancurkannya. Berbagai keganjilan itu tentu saja membingungkan kami. Dan, hal itu berlangsung cukup lama, hingga rasa tertindas itu perlahan menjadi bagian dari alam bawah sadar kami.
Beberapa waktu kemudian, satu-satunya yang kami ketahui tentang perbedaan menjadi muslim dan Sasak-Boda (5) adalah pada cara buang air kemih. Saat masih Sasak-Boda, kami bebas kencing berdiri di sembarang tempat, asalkan tidak dilihat oleh orang lain, terutama perempuan; sedangkan sekarang kami harus kencing sambil duduk, lalu membersihkan ujung kulup dengan batu kerikil. Disebabkan oleh adanya kendala transportasi dan medan yang sulit, seusai pengislaman massal itu, para ustaz tidak pernah lagi datang ke kampung kami, sehingga kami tak mengetahui banyak tentang ajaran Islam.
Kurang-lebih satu tahun setelah pengislaman massal itu, hampir setiap malam kami harus bolak-balik antara Bakolo dan Balara untuk belajar mengaji di rumah Guru Athar, penyuluh pertanian yang merangkap jadi guru ngaji. Saya akan diantar-jemput oleh ibu saya, yang sudah tua, dan berjalan memakai tongkat sambil memegang suluh dari gobok (6) untuk menerangi jalan setapak yang tertutup semak belukar. Sedangkan ayah, kendati sudah menjadi mualaf, belum bisa meninggalkan kebiasaan lamanya, minum tuak sampai larut malam, dan pulang dalam keadaan mabuk sambil merangkak seperti beruk.
Pada suatu malam bergerimis, sepulang dari tempat ngaji, angin yang mengembuskan bau busuk memadamkan api gobok di tangan ibu, berbarengan dengan terdengarnya lolongan puluhan ekor anjing yang seolah menyesaki udara. Sementara kami tidak membawa percek (7) untuk menyalakan gobok. Sembari menuntun tangan ibu yang berjalan memakai tongkat, saya melangkah sambil meraba-raba tanah dan pepohonan. Sesekali badan kami akan tergores duri kaktus.
Saat langkah kami tiba di bawah pohon sagu itulah, sudut mata kami menangkap semburat cahaya yang membuat saya dan ibu sontak menoleh ke bawah sana, pada kerumunan titik merah yang bergerak-gerak dalam gelap di kaki bukit, yang jaraknya cuma sepelemparan batu dari tempat kami berdiri di bawah pohon sagu. Saat mengedarkan pandang ke lembah, tampaklah gugusan titik merah yang tersebar di beberapa titik. Seolah mengetahui rasa ingin tahu saya, ibu pun menjelaskan sekilas bahwa titik-titik merah mirip bara itu adalah gugusan mata anjing yang sedang membongkar kuburan massal dari orang-orang yang dituduh sebagai komunis, termasuk kuburan orang-orang Bakolo yang melarikan diri ke gunung karena takut dikhitan.
Sudah berbulan-bulan kawanan anjing itu menggali puluhan gundukan tanah yang mengeluarkan bau busuk, tapi belum berhasil menyentuh tubuh jenazah yang ditumpuk seperti bangkai tikus di lubang-lubang itu. Karena serpihan-serpihan tanah itu akan jatuh lagi ke bawah menutupi mayat, sebelum anjing-anjing itu berhasil menancapkan giginya pada daging melepuh itu. Ujung taringnya yang runcing hanya bisa menggores-gores permukaan tulang yang tertutup tanah, yang membuat anjing-anjing itu tambah penasaran, sehingga enggan meninggalkan puluhan kuburan massal di tengah hamparan ilalang itu, meskipun tidak memperoleh secuil daging pun.
Bau busuk menyengat ribuan mayat yang meruap keluar melalui celah-celah tanah berkerikil itu membuat kawanan anjing itu bak kesurupan, ingin segera memangsa mayat-mayat di dalamnya, sehingga terus mencakar-cakar tanah secara bergiliran dalam gelap yang diterangi bintang-bintang yang mengantuk di atas pepohonan. Sesekali kawanan anjing itu akan melolong panjang atau menyalak ringan untuk menimpali anjing-anjing lain yang sedang bergerak mengendap-endap seperti siluman mencari sumber bau busuk.
Saat menjelang pagi, anjing-anjing itu pun akan bubar dengan masygul, meninggalkan kuburan massal, lalu akan kembali lagi di malam hari, dengan jumlah yang lebih banyak, hingga gugusan titik merah itu semakin membesar dan membesar dari hari ke hari….
.
Catatan Kosakata Bahasa Sasak, Lombok
(1) Kliang: Kepala Kampung.
(2) Kumilit-kumalat: Penghuni alam yang tidak kasatmata.
(3) Ketemuq: Diganggu makhluk halus atau roh orang mati.
(4) Kulup: Kulit kemaluan laki-laki.
(5) Sasak-Boda: Agama asli orang Sasak di Lombok.
(6) Gobok: Daun kelapa kering untuk suluh atau obor.
(7) Percek: Korek api terbuat dari serpihan batu bintang dan lempengan baja dengan sumbu kapas.