Hari-Hari Setelah Gertrud Berdansa
Baron Yudo Negoro · 20 Desember 2025
Sumber: Tempo · tautan sumber
KISAH ini kutulis bukan hanya dari apa yang kualami, tetapi juga dari yang disampaikan oleh Liesel dan Elias. Mungkin ini bentuk penghormatanku kepada Elias Kramer, atau mungkin bentuk penyesalan yang terlambat kupahami. Entahlah. Dulu aku merasa diriku sahabat yang baik, tetapi belakangan aku bertanya, apakah itu benar adanya? Ingatan ketika aku mengusir Elias pada kunjungan terakhirnya di perpustakaan ini terus menghantuiku, membuatku termenung lama di ambang pintu, memandangi hiruk-pikuk Kota Strasbourg.
Aku tak ikut campur dalam upayanya menyelamatkan Gertrud, putrinya. Sama sekali tidak. Tapi semenjak ia lenyap tanpa jejak, aku merasa mewarisi sisa hidupnya: Liesel cucunya, buku peninggalannya, dan keyakinan konyol bahwa tulisan dalam buku itu bisa menyelamatkan kota dari wabah. Meski begitu, aku masih bertanya-tanya, apakah Gertrud mati karena kelelahan, atau karena racun dari ramuan ayahnya—Elias.
Kali pertama menginjakkan kaki di Strasbourg, Elias Kramer muda membawa ilmu dari Schola Medica Salernitana yang jauh di Italia, dan memanggul keyakinan bahwa setiap penyakit memiliki sebab yang dapat dijelaskan. Ia lelaki tenang dan teliti, menulis resep-resep dengan huruf Latin. Aku mengenalnya di tempatku bekerja; di perpustakaan Kapitel St. Thomas yang terletak di dalam kompleks Gereja St. Thomas, tak jauh dari jembatan Sungai Ill. “Kita akan berteman baik, aku yakin itu,” katanya dulu.
Saat Margarethe, istrinya, terseret arus Sungai Ill, aku pun ikut mencari jasadnya pada pagi berkabut seusai badai. Dan sejak itu, Elias sendirian di rumahnya yang kemudian ia sihir menjadi tempat kerja: penuh debu, lembar-lembar catatan terserak, dan terdapat meja lapuk di dekat jendela, tempat di mana ia meletakkan mortir batu dan botol-botol kaca kusam. Jika melihatnya sendiri, kau mungkin mengira bahwa angin puyuh pernah singgah di sana. Sementara itu, Gertrud anaknya yang telah menjanda tinggal bersama anak gadisnya, Liesel, di sebuah rumah dekat pusat kota.
Mengenai wabah, ia bermula dari perempuan bernama Ny. Troffea. Tanpa iringan musik, perempuan itu tiba-tiba berdansa tak terkendali di jalan berbatu, dengan napas tersengal-sengal dan sorot mata ganjil, pada pagi di musim panas bulan Juli. Ia terus begitu berhari-hari. Orang-orang mulanya merasa iba, tetapi mereka malah bergabung seminggu kemudian, berdansa liar sampai kaki pegal dan berdarah, beberapa bahkan meregang nyawa karena keletihan.
Dalam sebulan, wabah itu bagai teror tak terhentikan. Kota di tepi Sungai Rhein yang dikuasai Kekaisaran Romawi ini menjadi gaduh oleh derap kaki ratusan orang yang berjingkrak-jingkrak seperti kerasukan, baik pagi, siang, maupun malam. Dan mereka yang sehat-sehat saja mulai menabur abu di kepala, menutup jendela rapat-rapat, dan menggantung salib di pintu.
Gereja menganggapnya sebagai murka Tuhan untuk mereka yang menolak berlutut kepada-Nya. Para frater berdoa siang dan malam di depan altar, memohon agar dosa-dosa kota itu diampuni, dan khotbah menjelma menjadi ancaman, dan lonceng-lonceng sering berdentang.
“Hari masih gelap saat aku terbangun,” kata Liesel yang duduk di bangku kayu dekat tungku yang hampir padam. Bayangan sisa api memantul di wajahnya, membuat matanya yang menyimpan rasa sedih berpendar-pendar. Kami telah serumah saat ia menceritakan ini. Semenjak Gertrud mati dan Elias menghilang, aku merawatnya. “Ya. Aku terbangun karena mendengar suara dari luar,” katanya lagi.
Katanya, ia mengendap-endap, membuka pintu kamar, dan melihat Gertrud, ibunya, melangkah di dekat temaram lampu minyak dan menggeliat aneh seperti cacing terpanggang terik.
“Dia melewati koridor, lalu menuju pintu rumah. Aku takut. Tapi aku tetap membuntutinya. Dan saat sampai di lorong yang gelap, di situlah dia, yang tadinya hanya bergerak-gerak aneh, mulai berdansa.”
Katanya, ia sempat menjerit-jerit minta pertolongan. Kemudian ia berlari dan mencengkeram lengan Gertrud ibunya, mengguncang-guncangnya sambil menangis.
“Tapi percuma,” katanya dengan kepala tertunduk.
Begitulah. Gertrud mengabaikannya dan terus berdansa sambil menengadah dengan mata terbuka lebar, seakan-akan dansa itu merupakan persembahan untuk sesuatu di langit sana. Orang-orang yang berpapasan memutar badan, kabur menghindar tanpa menoleh. Pintu-pintu rumah menggelegar karena ditutup kencang. Perempuan di jendela—Liesel melihatnya—menatapnya dengan iba sambil menandai badan dengan salib, sebelum akhirnya menutup jendela, menarik tirai, dan memadamkan lampu. Tinggallah Liesel sendiri bersama seorang ibu yang melangkah anggun di petak tanah yang itu-itu saja, dan memutar-mutar badan bagai pedansa mahir.
Liesel lalu meninggalkan ibunya malam itu, berlari jauh sampai-sampai menerobos kerumunan orang di gang sempit, yang berdansa tak henti-henti. Sampai di rumah Elias, kakeknya itu membentaknya karena membangunkan orang tidur demi sebuah cerita yang disampaikan dengan tersendat-sendat, tak jelas mana pangkal mana ujung.
“Aku masih ketakutan saat itu. Dan saat aku menyampaikannya dengan baik, kami langsung menghampiri Ibuku di lorong yang sama. Kakek menariknya paksa ke rumah kami, mendudukkannya di kursi, lalu mengikat kuat tangan dan kakinya. Dia meronta-ronta. Dia membuat gaduh dengan melompat-lompat. Dia tak berkutik setelah kakek mengikat erat kaki-kaki kursinya.”
Liesel menopang dagu dengan tangan. Sorot mata gadis kecil itu kosong, seperti mata patung Santa Odile di halaman Biara Rotensee, dan separuh wajahnya tertutup rambut yang sewarna jerami. Melihatnya sedih membuat dadaku seakan-akan disengat ribuan lebah.
“Lalu… apa yang Elias lakukan?” tanyaku saat itu.
Liesel menarik napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan cerita. Katanya, Elias saat itu juga mencari asal muasal penyakit yang menimpa Gertrud. Elias berkunjung ke rumah pada pagi, siang, dan malam hari, dengan napas terengah-engah dan mata kurang tidur. Ia datang untuk memastikan Gertrud mengkonsumsi sesuatu, entah itu makanan atau minuman. Namun mulut Gertrud terkatup rapat, dan menggeleng keras sambil mengerang kencang apabila dipaksa. Dan pada malam hari, kesabaran Elias habis. Piring di tangannya disundul oleh Gertrud sehingga bubur barley yang lengket berserakan di lantai tanah.
“Kakek lalu…” Liesel berhenti. Bibirnya gemetaran, air menggantung di pelupuk matanya. “... memotong tali yang terikat di kursi. Dia lalu menjatuhkan Ibuku, menahan kepala Ibuku dengan lutut dan mencengkeram mulutnya sehingga dia terpaksa menganga.”
Liesel mulai tersedu-sedu dan sesekali menyeka air matanya dengan tangan. Katanya, yang ia lakukan malam itu hanyalah menangis kencang karena tak tahan melihat Gertrud tersiksa. Lalu, kemarahan Elias semakin meledak-ledak.
“Kakek menarik tanganku dengan kasar, melemparku ke sudut sampai punggungku sakit karena membentur dinding. ‘Kau pikir aku mau ini? Kau pikir ini kemauanku? Jika ini tidak dilakukan, dia bisa mati!’ Begitu katanya.” Liesel menyilangkan dan membaringkan tangan di meja kayu, kemudian menangis terisak dengan napas megap-megap sambil membenamkan muka di tangannya itu.
Aku dapat memahami kesedihan Liesel. Ia 11 tahun, tumbuh hanya bersama seorang ibu. Namun, apa yang dilakukan Elias pun tidak keliru. Yang terjadi pada para pedansa, mereka mati kelelahan di hari ketiga atau keempat. Gertrud, dengan kondisi terikat dan perut kosong, tubuhnya kemungkinan akan menyerah di hari keenam atau ketujuh. Tapi saat bertemu Elias, tetap kukatakan bahwa apa yang ia lakukan akan sia-sia. Maksudku, obat macam apa yang bisa dibuat dalam waktu singkat?
Kami bertemu di hari selanjutnya, di perpustakaan. Elias datang dengan langkah tergesa-gesa. Merah matanya seperti baru dicuci dengan air asin, debu menempel di lipatan jubah. Melintasi lorong-lorong dingin, ia menyusuri rak-rak kayu tinggi beraroma kapur, lalu menarik satu buku dan membawanya ke meja. Cahaya lampu minyak menyepuh wajah cekungnya yang agak pucat.
Saat aku duduk di sampingnya, Elias bercerita panjang-lebar tentang apa yang menimpa Gertrud, dan bagaimana ia menjatuhkan dugaannya soal penyebab wabah, pada bercak ungu di biji-biji rye yang dipanen orang-orang, dipakai sebagai bahan baku roti untuk orang miskin.
“Kau tahu itu apa?” tanyanya.
Aku menghela napas sambil menatapnya. Aku menemukan kelelahan dalam sorot matanya yang agak merah.
“Kau tak punya waktu. Ini sia-sia, Kawanku,” kataku.
“Jadi kau tak tahu?”
Aku mencondongkan badan. “Gereja sudah menetapkan penyebabnya. Kau tahu bagaimana kota ini bekerja, bukan. Apa pun tak boleh tersebar tanpa persetujuan para imam.”
Elias memandang dinding di seberangnya. Sebuah salib menggantung kokoh, lebih besar ketimbang peta kota yang menempel di sampingnya. Ia menghela napas. Ia menaruh kedua siku di meja, menopang dagu pada jari-jemari yang telah ia tautkan.
“Pergilah kalau kau tak tahu apa-apa,” katanya.
Aku terdiam sebentar saat ia mengusirku. Terus terang, aku tersinggung dengan sikapnya. Namun, aku menahan diri dan berupaya memaklumi. Tentu aku tahu apa yang ia cari. Aku pernah membacanya. Bercak ungu yang dimaksud berasal dari cacing hitam, penyebab kejang dan halusinasi. Dan meskipun tersinggung, aku tetap sudi meringankan pencariannya. Aku menepuk bahunya dan beranjak dari bangku. “Yang kau cari adalah ergot,” kataku.
Menjelang siang, ia pamit dan berkata, “Kau benar. Aku akan menemui pihak Gereja.”
Saat itu aku berharap Gereja mau mendengarnya meski kecil sekali kemungkinan itu. Elias selalu yakin bahwa kebenaran bisa mengetuk pintu siapa pun, tapi sadarkah ia bahwa tidak semua pintu dibuat untuk dibuka? Selain itu, yang ia bawa sesungguhnya masih jauh dari benar; ia menghadap tanpa bekal apa pun, selain teori tak teruji.
Di hari yang sama, saat matahari di timur merayapi pucuk-pucuk pohon, Frater Jakob menghampiriku dengan jubah coklatnya. Ia perlahan menutup pintu dan menatapku. Kedatangannya tentu bukanlah kebetulan belaka.
“Kurasa kau tahu siapa yang datang ke kami pagi tadi,” katanya sambil merapikan tudungnya.
“Di saat seperti sekarang ini, orang-orang banyak datang ke gereja, bukan.” Aku melipat buku di hadapanku, lalu menyelipkannya ke dalam rak.
“Ya. Termasuk sahabatmu. Elias Krämer. Dia membawa sesuatu. Pendapatnya sendiri. Tentang wabah.”
“Dia gelisah karena putrinya jatuh sakit.” Aku memunggunginya, menghadap buku-buku di rak seakan-akan sedang mencari sebuah judul.
“Hati-hati. Dia menyebut namamu. Beberapa kali. Kau memberinya petunjuk,” katanya.
Aku terpejam sejenak, lalu memutar badan dan menatapnya. “Dia kebingungan. Orang bingung menyebut siapa saja yang pernah menolongnya.”
“Dengar. Kita sudah kenal lama. Aku datang untuk memastikan kau tidak terseret. Gereja memperhatikan gerak-geriknya. Dan siapa pun yang terlihat dekat dengannya mungkin saja ikut dipertanyakan.”
Frater Jacob kemudian pamit. Kepergiannya meninggalkan hawa dingin yang meremas tengkukku, dan pesan yang tak perlu diulang: jika Elias jatuh, siapa pun di dekatnya akan ikut terseret. Di kejauhan, lonceng berdentang-dentang, petanda bahwa hari telah gelap.
Lalu siang itu pun datang. Elias muncul dengan cara yang membuat jantungku bagai lompat. Ia mendorong pintu dengan kencang hingga engsel-engselnya merintih pedih. Matanya liar, napasnya tersengal, dan langkahnya berdebam. Sebuah buku kumal diremasnya, sampai lembarnya terlipat-lipat. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah botol berisi ramuan kecokelatan.
“Apa yang terjadi denganmu? Apa ini?” tanyaku saat ia menaruh botol dan buku itu di meja.
“Aku berhasil,” katanya di tengah napas megap-megap seperti baru saja memanjat menara. “Ini. Ini akan menyelamatkan kota!”
Ia bicara tentang ramuan itu, terbuat dari rebusan gentian root, minyak mugwort, dan serpihan kayu birch. Ia menceritakannya dengan penuh semangat, tetapi yang kulihat hanyalah lelaki 43 tahun yang putus asa dan terlalu lama tidak tidur.
“Lalu apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku.
“Mereka memburuku!” serunya.
Ia menjelaskan semuanya. Ia bercerita tentang Liesel yang ia minta berjaga di sekitar rumah, tentang Liesel yang muncul di pintu dan berseru bahwa orang-orang Gereja dalam perjalanan, tentang ia yang menuang ramuan ke botol, tentang penggerebekan orang-orang Gereja yang membuat rumahnya seperti diterjang gempa. Liesel yang disuruhnya melindungi ramuan itu. Dan saat Gereja tak menemukan apa pun di rumahnya, ia pergi ke rumah Gertrud untuk mengambil botol-botol itu kembali, dan meninggalkan satu di tangan Liesel, untuk diminum Gertrud yang telah lemas dan terikat di kursi.
Saat ia bercerita, aku tak mendengar semuanya. Yang kudengar adalah dua suara dalam benakku yang saling berbenturan. Jika kusembunyikan Elias, artinya aku menentang Gereja. Tapi penolakan artinya aku membiarkan seorang sahabat jatuh sendirian. Ini pilihan sulit. Tubuhku terasa panas. Saraf-saraf mataku tegang, dan kepalaku pening. Tapi aku tahu, apa pun pilihanku seseorang akan menyebutku pengkhianat.
“Aku tak bisa terlibat,” kataku.
Elias tertegun. Kelopak matanya berkedut-kedut seperti tak percaya dengan sikapku.
“Tidak. Jangan begitu. Atau begini. Kau tidak terlibat. Aku hanya sembunyi sebentar.”
“Kau tak mendengarku?” Suaraku meninggi, entah karena takut atau karena marah.
“Mereka bergerak ke sini. Aku tak punya waktu.” Ia mulai mondar-mandir. Mengacak-acak rambut.
“Elias,” panggilku.
Ia mendekati. Sambil mengangguk-angguk, ia lalu mengetuk-ngetuk dadaku dengan telunjuknya. “Aku akan membuktikannya. Ya. Setelah semua aman.” Matanya terlihat letih, seperti menahan kantuk. Ia lalu mondar-mandir lagi seperti dan mulai melantur, bergumam sendiri.
“Elias!” seruku lebih keras.
Seperti prajurit, ia seketika berhenti. Ia menatapku, sekujur badannya gemetar, dan kedua tangannya terkepal kuat. Aku ingin menolong, tetapi otakku menolak, dan ketakutan menjeratku kuat.
“Maaf,” kataku pelan.
Lalu terdengar suara pintu perpustakaan didorong dari luar.
Di ambang pintu, berdiri empat orang Gereja. Jubah wol cokelat mereka panjang semata kaki dan bergelayut berat. Tudung lebar menyelimuti hampir seluruh wajah; jubah khas Frater Ordo Fransiskan yang biasa disebut “jubah tobat”. Dan ruangan pun seakan-akan mengencang.
Seorang dari mereka, yang mengenakan kalung salib kayu, melangkah maju. Dari balik tudungnya tampak sebagian dagu yang keras. “Gereja meminta Anda ikut bersama kami.”
Elias menoleh ke arahku, menatapku dengan sorot mata berkilat, seakan-akan masih ada sisa api di sana. “Buku itu tanggung jawabmu,” katanya.