Sedari siang. Bahkan, sudah hampir pula petang. Karun mondar-mandir saja di beranda rumah. Wajahnya berkerut gelisah. Sebentar-sebentar ia duduk di bangku kayu. Mengusap-usap dan mengacak-acak rambut. Kadang ia berdiri dan menatap jauh ke arah rimba.
”Hati rusa, Uda. Yang saya ingin saat ini adalah hati rusa!”
Kalimat yang diucapkan istrinya tadi malam membuat pikirannya tidak tenang. Tidak biasa istrinya berkehendak seperti itu. Bahkan, dengan memelas, istrinya berulang-ulang menyampaikan permintaan tersebut. Semakin sering istrinya menyampaikan kian terasa oleh Karun, bahwa ia harus melakukan sesuatu.
Dalam gelimun kegalauan itu, tiba-tiba pikiran Karun menguak. Tabir gelisah lepas terurai. Mungkin karena istrinya sedang hamil, apalagi ini hamil pertama, maka ia berminta yang aneh-aneh. Mungkin ia tengah mengidam. Bukankah wanita yang sedang mengidam senantiasa berkehendak aneh kepada suaminya? Bahkan, sesuatu yang kadang teramat sulit untuk dipenuhi. Karun mereka-reka sendiri. Dan mengambil kesimpulan sendiri.
Karun berdiri. Dua anjing piaraannya menyalak keras. Si Lupak dan si Samuik yang berbengkalai tegap dan bermata nyala, adalah dua anjing patuh yang selalu diajaknya pergi berburu. Keduanya sangat tangkas, pantang menyerah, dan jarang merasa letih. Bagaimana tidak. Makannya selalu terjaga. Baik itu telur, susu, nasi, dan lain sebagainya. Pagi dan sore mereka selalu dibawa jalan oleh Karun berkeliling kampung untuk buang air maupun melenturkan tubuh setelah seharian hanya berdiam di dalam kandang besi.
Salak Lupak dan Samuik tak jua berhenti. Malah kian menjadi. Ia mencoba menenangkan. Tapi dua ekor anjing yang jinak dan setia itu melompat-lompat, ingin lepas dari talinya, seperti ingin berlari ke arah rimba, seolah-olah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Karun. Mereka kian menjadi. Kedua kakinya diangkat seperti kuda sedang meringkik. Kemudian anjing-anjing itu mulai berusaha untuk keluar dari kandang besinya.
Sepanjang Bukit Barisan, di sebuah nagari tempat ia bermukim, Karun terkenal sebagai pemburu yang sangat tangguh. Tidak ada rimba yang tidak ditempuhnya. Tidak ada jurang yang tidak dituruninya. Tidak ada bukit yang tidak didakinya. Ia disegani di dunia perburuan karena ia juga menguasai ilmu silat. Namun, Karun tidak menjadi angkuh dengan kelebihan-kelebihan yang ia miliki. Ia tetap menjadi seorang laki-laki yang tenang dan disegani banyak orang di nagari tersebut.
”Hati rusa, Uda. Carikan saya hati rusa!”
Kalimat itu kembali terngiang. Lalu Karun menemui teman-teman yang biasa mendampinginya setiap berburu. Pertama ia datang ke rumah Pulai yang berkulit pirang, berjalan agak pengka, dan bersungut jarang. Lalu ke rumah Malih yang tinggi besar dan hitam. Kemudian ke rumah Ujang Kirok yang berbadan kecil, tetapi kuat dan cekatan. Ia seorang pendekar yang menguasai ilmu silat seperti Karun. Terakhir ke rumah Limin yang berkumis tebal meski agak pendiam. Setiap berburu ia selalu membawa tombak. Mereka berkumpul. Karun menceritakan apa yang tengah dihadapinya. Kawannya mengangguk-angguk seolah-olah telah paham bahwa tiba saatnya mereka akan berangkat menembus rimba.
”Besok pagi kita berangkat ke Bukit Rondah. Kabarnya banyak rusa di sana,” kata Karun.
”Berapa lama kita berburu, Uda?” Tanya Ujang Kirok. Karena di antara mereka berlima Karun adalah yang lebih berumur, makanya dipanggil Uda.
”Iya, apa kita bawa bekal lebih dari biasanya?” sela Pulai, karena baginya makan tidak bisa kurang.
”Yang kau pikirkan selalu makan saja. Siapkan saja anjing dan senjata masing-masing. Soal bekal tidaklah perlu dibincangkan. Rimba adalah dunia kita,” kata Limin menimpali pertanyaan Pulai.
”Limin benar. Yang jelas kita berangkat besok pagi sebelum matahari terbit. Kita berkumpul di Lokuak Indak Balurah. Jangan sampai ada yang terlambat,” ucap Karun memangkas pembicaraan.
Selesai shalat subuh, sebelum muncul matahari, dari kawasan Lokuak Indak Balurah, mereka mulai bergerak menuju Bukit Rondah. Lupak dan Samuik terlihat bergairah sekali. Napasnya memburu. Lidahnya terjulur. Begitu juga Kapilo, Bolang, Kalabu Asok, Punco, anjing-anjing milik teman Karun. Seolah-olah ingin cepat sampai dan segera merebahkan binatang buruan. Merebahkan rusa yang diinginkan oleh Karun.
Dari Lokuak Indak Balurah, mereka menyisir sampai ke kaki Bukit Rondah, hingga sampai ke pinggangnya. Mulai dari jalan setapak hingga rimbun belantara. Mereka belum juga berhasil menemukan rusa yang dicari. Anjing-anjing mereka juga seolah tidak mengidu bau apa-apa. Sampai petang. Sampai senja.
”Sudah hampir malam, Uda. Tapi rusa yang dicari belum tampak juga puncak hidungnya,” kata Pulai sedikit mengeluh. Teman-temannya sudah tahu betul, jika Pulai sedah mengeluh, berarti perutnya sudah menggereok-gereok (keroncongan) minta makan
”Bagaimana kalau kita memutar ke arah lembah?” usul Ujang Kirok.
Malih dan Limin hanya diam.
”Kita bermalam di sini. Hati rusa harus terbawa,” kata Karun tegas. Semuanya menurut. Karena jarang sekali mereka gagal dalam berburu.
Mereka membuat perapian. Membuka bekal yang masih tersisa, dan membaginya dengan anjing-anjing mereka. Malam semakin larut. Dan mereka pun tertidur keletihan. Dalam tidurnya Karun bermimpi melihat seekor rusa besar tengah merumput di sebuah lembah.
”Usul Ujang Kirok benar adanya. Saya bermimpi ada rusa besar di sekitar lembah. Kita berangkat sekarang!” kata Karun ketika hari telah pagi.
Mereka pun mulai melanjutkan perjalanan. Kaki bukit, batu-batu, tebing, semak, kadang rawa, hingga mereka sampai di lembah tersebut. Karun ternganga melihat seekor rusa berbadan besar sedang makan rumput di tepi batang air. Perlahan-lahan, dengan sangat hati-hati agar rusa tidak mengetahui kehadiran mereka. Karun memberi isyarat kepada teman-temannya. Seakan-akan mengatur strategi yang sudah mereka pahami dalam perburuan.
MICHAEL BINUKO SRI HERAWAN-
Karun mengeluarkan busurnya. Mengisi anak panah. Menariknya dengan tenang. Kemudian melepasnya dengan tangkas. Wusshh…! Tapi sayang sekali bidikannya meleset. Anak panah melayang di atas kepala rusa. Rusa tersebut terkejut dan langsung berlari. Anjing-anjing dilepas. Suaranya melantun-lantun di tengah rimba. Karun memanah sekali lagi. Wusshh…! Lagi-lagi bidikannya meleset. Suasana semakin tegang. Pada panah ketiga, panah Karun tepat mengenai perut sang rusa. Tapi rusa tersebut tidak tersungkur, malah terus berlari dengan kencang.
”Ke bangkai, Lupak. Jangan berhenti sebelum sampai!”
”Giliranmu, Samuik. Gigit kakinya. Rebahkan itu rusa!”
Anjing-anjing yang lain bersicepat saling dulu untuk menaklukkan rusa yang sudah terluka, Karun dan teman-teman tertinggal jauh di belakang. Berusaha untuk ikut mengejar dengan napas terengah-engah.
”Kapilo. Cabik lehernya!”
”Lunyah sampai mati, Punco!”
”Ayo, Kalabu Asok!”
”Kisai terus, Bolang!”
Suara-suara itu berlantunan, bersipongang, membentuk irama yang lain di tengah rimba yang senyap. Sayup-sayup, dari kejauhan, juga terdengar salak anjing dan suara-suara orang berteriak. Barangkali banyak yang sedang melakukan perbaruan pada saat itu. Suara-suara tersebut seolah-olah saling bersahutan. Panggil-berpanggil.
Sampai di tempat sang rusa telah direbahkan oleh anjing-anjing mereka, Karun melihat para pemburu lain telah berkerumun. Dengan riang gembira mereka memotong dan membagi-bagikan daging rusa tersebut. Sebagian dari mereka telah pergi meninggalkan tempat itu.
Karun terperangah. Yang tersisa hanyalah serpih-serpih daging rusa yang melekat di antara tulang-tulang bengkalai. Hati rusa yang diinginkannya telah dibawa entah oleh siapa. Darahnya menggelegak. Amarahnya memuncak. Tapi rimba bukan miliknya, rimba adalah milik bersama. Sementara teman-teman Karun ada yang mencoba menghibur, sebagian hanya saling diam tak berkata-kata.
”Hati rusa, Uda. Yang saya ingin saat ini adalah hati rusa!”
Kalimat istrinya mengiang kembali. Karun tidak tahu harus berbuat apa.