Malam itu laut surut lebih jauh dari biasa. Langit pucat, keriput seperti kulit ikan dijemur tujuh hari. Angin mati. Pohon-pohon di tepi Teluk Ama membatu. Bulan Saure melahirkan tanpa suara, hanya gemetar di bibir, seperti merapal mantra penghabisan. Darah mengalir deras, membanjiri lantai bambu rumah panggung. Di luar, hujan mendadak turun, memecah sepi.
Seperti ibunya, anak itu lahir dalam diam. Matanya terbuka lebar. Ia dinamai Ari Lamo, karena hujan turun selama tiga hari sejak kelahirannya. Tanah dan laut seakan bertukar tempat. Bulan Saure wafat setelah melahirkan.
Dengan tangan gemetar, Nene Loha memotong ari-ari cucunya dengan pisau bambu. Ia membisik ke tubuh anaknya yang masih hangat, “Anakmu datang untuk mengingatkan sejarah yang dilupakan.”
Nene Loha, penjaga sasi terakhir di kampung, bisa membaca arus laut hanya dari bau udara. Setiap pagi ia menggendong Ari Lamo, menabur cengkeh ke laut, melantun nyanyian dalam bahasa purba. “Agar laut tetap ingat kita,” katanya, “dan kita tak lupa pada laut.”
Saat itu, Teluk Ama masih utuh. Karang hidup, padang lamun hijau. Ikan datang ke pantai saat bulan mati. Hiu kecil melahirkan di celah batu. Orang masih percaya, laut punya mata, tanah punya telinga. Keduanya tak bisa dipisahkan, seperti anak yang membawa separuh jiwa ibunya.
Ari Lamo dibesarkan dalam kepercayaan itu. Dalam gumam doa yang selalu ditiupkan Nene Loha ke ubun-ubunnya. Dalam tatapan laut yang tidak pernah benar-benar diam. Dalam ingatan tentang seorang ibu yang wafat dalam diam.
Ayahnya, Paitua Falo dulu seorang nelayan. Namun, setelah Bulan Saure meninggal, ia meninggalkan jaring dan kailnya. Ia mulai bekerja di darat, memikul kayu dan membangun jalan setapak menuju bukit, seolah sengaja menjauhi laut yang dulu menghidupinya. Ari Lamo kecil lebih sering melihat punggung ayahnya daripada wajahnya. Diamnya panjang, dan tatapannya selalu melewati siapa pun yang berbicara padanya.
Dan saat perusahaan tambang datang, orang-orang desa melihatnya sebagai berkah. Janji sekolah, atap seng, jalan beraspal. Truk-truk mulai melintas. Kebun pala, cengkeh, dan dusun sagu dibongkar, dibungkus surat jual beli. Paitua Falo salah satu yang pertama menandatangani.
“Biar anak-anak kita hidup lebih terang,” katanya, seolah kepada Bulan Saure. Tapi terang itu datang dari sorot mesin dan debu logam, bukan pelita.
Ari Lamo belajar bahwa “kemajuan” berarti kehilangan pada laut, pada hutan, pada pala dan cengkeh.
Rantai alat berat menggantikan suara mirip tabuhan burung mandar gendang. Udara terasa berat dan berdebu, malam tak lagi gelap. Pabrik menyala 24 jam, mengalahkan cahaya bintang-bintang yang dulu digunakan nelayan untuk membaca waktu dan arah. Bau solar gantikan cengkeh. Kuskus mata biru menghilang. Anak-anak berhenti menyelam. Laut keruh, karang mati, lamun membusuk, kima dan teripang menghilang. Warga mulai membeli air galon. Ladang ditinggalkan demi upah cepat. Di balai desa, orang-orang bicara soal kompensasi, bukan musim dan sasi.
Biar anak-anak kita hidup lebih terang.
Nene Loha murka, tapi tubuhnya terlalu tua. Ia memilih mendongeng. Mengajari Ari Lamo bahasa yang hanya diingat laut dan batu-batu tua. “Kalau aku mati, jangan hidup seperti mereka yang menggali tanah dan mencemari laut.”
Ari Lamo tumbuh dalam dua arah. Ia mencintai laut, tapi ia juga anak dari seorang ayah yang menyerah pada tambang. Ia tahu doa neneknya, tapi juga tahu keheningan ayahnya adalah luka yang dalam dan diam. Di antara sasi yang dilupakan dan alat berat yang terus menggali, Ari Lamo kerap mencari jalan yang tak ada dalam peta.
Perlawanan dalam dirinya bukan dalam bentuk teriakan, tapi dalam cara ia berdiri lama di tepi teluk, memandangi laut yang keruh seperti sedang membaca sesuatu yang tak bisa ditulis. Ia memungut karang mati, menyusun rumput laut kering, dan menghitung ikan-ikan yang mati dalam sebuah buku kecil yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Kembali ke laut
Satu malam yang sepi di dermaga, Paitua Falo mengantar drum solar terakhir ke kapal logistik perusahaan. Malam itu laut tampak aneh, tenang tapi berkilau seperti kaca retak. Saat ia menurunkan barang dari perahu, seekor ikan tiba-tiba melompat ke dalam perahunya. Ikan karang matahari, jenis endemik yang nyaris punah. Warna tubuhnya masih menyala dalam gelap, kuning kemerahan seperti langit senja.
Paitua Falo mematung. Ikan itu menggelepar pelan, dan ia merasa seperti melihat mata Bulan Saure. Bukan secara harfiah, tapi dalam cara ikan itu diam, dalam cara siripnya bergerak lembut. Ia ambil ikan itu dengan kedua tangan, dan melemparkannya kembali ke laut. Tapi saat ikan itu menyentuh air, ia merasa tubuhnya ikut terseret, tenggelam, dihantam gelombang masa lalu. Pada saat itulah dia menyadari, Bulan tidak benar-benar mati, hanya kembali ke laut.
Malam itu ia tak kembali ke rumah. Ia duduk di perahunya sampai pagi, memandangi laut yang mulai berubah warna. Ketika fajar naik, ia mendayung perlahan ke tengah teluk. Ia tidak membawa jaring ataupun tali pancing.
Sejak hari itu, ia tak pernah kembali ke pabrik. Ia berhenti memakai helm proyek. Ia mulai merajut kembali tali dari kulit pohon sukun yang pernah ia tinggalkan. Bukan sekadar tali jaring, tapi tali kepercayaan, tali darah yang dulu mengikatnya pada laut dan pada perempuan yang melahirkan anaknya di tengah badai.
Paitua Falo tidak bicara banyak. Tapi sorot matanya berubah. Ia melihat Ari Lamo bukan lagi sebagai pengingat dosa, melainkan warisan yang mesti ditebus. Kadang-kadang, malam hari, ia berdiri diam di depan batu hitam di ujung teluk, tempat dulu Bulan Saure suka berdendang.
Dan ketika ia mengucap pelan,“Maafkan beta,” laut diam saja. Tapi angin berhenti sejenak.
Sejak itu, Paitua Falo lebih sering di laut, sekalipun telah dilarang kepala desa. Melaut telah menjadi aktivitas terlarang saat itu. Dari dokumen perusahaan yang beredar dari mulut ke mulut, ikan-ikan di Teluk Ama telah mengandung merkuri, arsenik, kromium, dan beragam nama-nama kimia yang tak mudah dimengerti orang desa. Sebagai ganti, setiap hari penduduk mendapat jatah beras, sarden kaleng, daging beku, dan terkadang mi instan.
Paitua Falo tak hirau. Kini, setiap hari ia melaut. Ari Lamo melihat ayahnya bukan lagi sebagai lelaki yang kalah oleh waktu, tapi seseorang yang sedang meminta maaf dengan tubuhnya sendiri. Dan itu menggetarkan hatinya lebih dari kata-kata apa pun.
Dia biasa berangkat melaut malam hari dan baru pulang menjelang matahari terbit. Semakin lama, ia mesti pulang lebih siang, karena harus berlayar semakin jauh. Ikan-ikan menjauh, sebagian mati sebelum sempat ditangkap.
Namun hari itu, dia tidak pulang. Tidak pernah pulang lagi. Hanya sisa-sisa perahu dan dayungnya yang ditemukan terdampar di tepi pantai.
Orang-orang desa berusaha mencari, tanpa hasil. Kebanyakan menyalahkan Paitua yang mengabaikan larangan agar tidak melaut.
Penduduk desa kebingungan. Sebagian meyakini bahwa itu adalah penanda buruk dan meminta dibuat ritual penyucian desa. Namun, sebagian lainnya memilih melanjutkan hidup. Mereka kembali menyalakan tungku pabrik, yang cerobongnya menghadap ke langit, dan 24 jam menguarkan asap tebal berwarna jelaga.
Kalau aku mati, jangan hidup seperti mereka yang menggali tanah dan mencemari laut.
“Ini zaman nikel, bukan zaman hantu,” kata kepala desa, mantan calo tanah, yang tinggal di ujung desa, di rumah paling megah. "Salah sendiri, sudah diperingatkan agar tidak melaut."
Arzeti Azizah untuk Kompas
Nene Loha meradang. Tapi, ia tidak menangis. Ia hanya duduk berjam-jam di samping perahu menantunya, mengusap kayu yang retak dan mencium bau garam yang tersisa di dayung. Di malam harinya, ia memeluk Ari Lamo dan berbisik di telinganya,"Kau dengar suara ombak, Nak? Itu ayahmu. Ia tidak hilang. Ia telah bersama Ibumu."
Ari Lamo, yang belum genap 15 tahun, hanya menatap mata neneknya. Matanya seperti laut yang menyembunyikan kedalaman luka. Sejak itu ia tak bicara lagi. Tapi menjelang terbitnya matahari ia bangun dan duduk di batu di tepi pantai, mendengarkan gelombang.
Bagi Ari Lamo, kehilangan ayahnya bukan sekadar duka. Itu luka yang berubah menjadi bara. Ia menatap bukit-bukit yang dikuliti, mendengar suara mesin yang tak pernah tidur, dan menyadari, ini bukan sekadar tanah dijual. Ini janji yang dikhianati. Ia yang selama ini diam, mulai bicara. Bukan dengan mulutnya, tapi dengan tubuhnya, dengan langkah-langkahnya yang menyusuri teluk, dengan mata yang mencari isyarat laut, dengan tangan yang menggali kembali akar sasi yang telah lama tertimbun lumpur tambang.
Hari pembalasan
Pada malam ke-40 sejak ayahnya hilang, langit mendung. Angin membawa bau garam. Ari Lamo memanjat bukit tailing. Ia menanam dayung ayahnya dan sehelai kain warisan ibunya. Ia menggigil.
“Wahai penjaga hongana… untuk setiap hutan yang ditebang, tumbuhkan pepohonan di dadaku...” Suaranya nyaris hilang. Ia menggores lengan dengan serpih kerang. Darah meresap ke tanah. “O Ina, o Tano, Ibu Bumi,… musnahkan mereka yang langgar sumpah fagogoru...”
Langit bergemuruh. Angin berputar. Tanah goyang, dan laut surut tiba-tiba hingga puluhan depa. Ledakan terdengar dari kejauhan. Api membubung dari smelter. Orang-orang di menara hanya bisa melihat api membesar.
Besoknya, pabrik sunyi. Mesin mati. Di televisi, orang-orang dari ibu kota mewartakan, “Teroris hancurkan proyek strategis nasional Teluk Ama.”
Tapi Nene Loha tahu. Itu bukan teror. Itu pengingat. Itu jawaban.
Ari Lamo menghilang setelah peristiwa itu. Ada yang bilang ia jadi batu di dasar laut, menjaga terumbu. Ada pula yang bilang, malam itu ia jadi nyala api yang meledakkan tungku-tungku.
Sejak itu, pabrik ditinggalkan. Bukan karena logam habis, tapi para pekerja dihantui mimpi tentang seorang anak dari laut membawa nyala api.
Setiap Jumat pagi, Nene Loha ziarah ke pantai. Menabur cengkeh dan fuli ke laut. Ia percaya, air rusak harus disucikan serbuk sari.
Ia menyentuh pasir, menulis nama cucunya di samping nama-nama ikan yang punah. Angin membawa butiran cengkeh. Ia tersenyum kecil meski matanya basah. “Kau telah kembali, cucuku,” bisiknya.
Hanya setelah seratus tahun sejak Nene Loha tak tampak lagi, laut mulai memudar keruhnya. Air berubah toska. Mangrove tumbuh di bekas limbah. Cengkeh dan pala kembali meliar di bekas pabrik.
Teroris hancurkan proyek strategis nasional Teluk Ama.
Setiap pagi, saat laut surut, di pasir yang kembali memutih, ditemukan seperti jejak kaki-kaki--sebenarnya lebih serupa sirip. Tapi, orang-orang desa tahu, itu jejak hiu berjalan, yang disebut Hemiscyllium halmahera oleh orang-orang kota. Namun, penduduk setempat menyebutnya sebagai matat re maimo, ikan yang berjalan sambil membawa ingatan tentang nilai-nilai lama tentang rasa malu dan takut untuk melanggar hak alam dan orang lain. Mereka selalu berjalan perlahan di seselapo. Di mana mereka lewat, lamun-lamun tumbuh. Di mana mereka berputar, karang-karang beranak pinak.
Dan hiu-hiu berjalan itu terus berkeliaran. Agar tak ada yang lupa, tanah dan laut pernah marah, dan akan marah lagi bila dirusak.
Keterangan bahasa Sawai:
Fagogoru: aturan adat tentang kasih dan penghormatan.
Hongana: hutan belum dibuka.
Matat re maimo: nilai malu dan takut melanggar hak atau tatanan sosial
Seselapo: wilayah antara darat dan laut.