Hujan Doa di Pasar Takjil
Andi Wirambara · 14 Maret 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Capek, Nak?”
Sadam menyambut pertanyaan ayahnya dengan anggukan. Mereka berdua sudah cukup lama berkeliling di Pasar Takjil yang ramai ini, wajar jika bocah seperti Sadam sudah merasakan pegal-pegal. Kaki mungil yang terbungkus sepatu bergambar tokoh kartun favoritnya sudah terasa gerah. Sang ayah meraih kedua ketiak Sadam dan menggendong jagoan kecilnya itu.
Mereka berkeliling hampir satu jam lamanya di sana, Sadam bersemangat dan girang saat ayahnya mengajak ke Pasar Takjil dan membeli banyak jajanan untuk berbuka puasa meski Sadam sebenarnya sudah berbuka jam 12 siang tadi. Bagi ayahnya, amatlah penting memupuk kesan manis bagi anaknya melalui bulan puasa agar senantiasa menyambut Ramadhan berikutnya dengan antusias. Mungkin konsep pahala dan keberkahan berlimpah sulit dicerna untuk anak seumurannya, namun kesan bulan Ramadhan yang berbeda dengan bulan-bulan lain akan membentuk Sadam menjadi seorang saleh perindu bulan suci.
Tangan kanan menggendong Sadam, tangan kiri menenteng banyak kresek berisi bermacam jajanan. Ayah Sadam melanjutkan langkah mencari pentol bakar sebagai kudapan terakhir untuk dibeli sebelum pulang, permintaan kesekian Sadam. Sadam bisa meminta jajan puas-puas pada ayahnya, hampir semua dituruti. Mainan dan balon pun sukses ia bawa pulang. Berbeda jika pergi dengan ibunya, permintaan akan diseleksi dulu apakah boleh atau tidak. Ujungnya lebih banyak penolakan.
Usai melewati deretan penjual kolak, es jeruk peras, gorengan, hingga kue-kue basah, tibalah pada pedagang dengan gerobak dorong sederhana dilengkapi alat panggangan tradisional, arang menyala di celah jeruji panggangnya. Inilah pentol bakar incaran mereka. Pembeli berkerumun mengelilingi. Waktu berbuka sudah semakin dekat, pengunjung pasar kian riuh.
”Ayah, apa waktu kecil Ayah juga makan pentol pas buka puasa?” polos Sadam yang berpangku di lengan sang ayah, sembari menanti pesanan pentol mereka. Ayahnya menyunggingkan senyum.
”Ayah dulu jarang beli pentol, soalnya Ayah enggak punya uang.”
”Terus, Ayah makan apa?”
KOMPAS/SUPRIYANTO
”Makanan yang dimasak nenekmu, itu paling enak. Bagi Ayah yang penting bukan makanannya, tapi bisa makan bersama keluarga itu sudah buat Ayah senang.”
Sadam mengangguk setengah mengerti, kemampuannya memahami memang cukup baik. Ayahnya berprinsip, penting menanamkan hal baik pada anaknya agar tumbuh sebagai manusia yang tak hanya cerdas kognisi, namun bagus pula moralnya, punya simpati dan empati yang mumpuni. Salah satu penekanannya adalah mengenalkan konsep bersyukur.
Hanya saja, ayah Sadam orang yang mudah terbawa suasana, kadang jadi terlalu banyak bicara. Sadam pernah bertanya kenapa tidak boleh menyakiti hewan, sekalipun itu anjing yang giginya tajam-tajam. Menjawab itu, ayah Sadam memulainya dengan narasi bahwa hewan juga ciptaan Tuhan, tidak boleh disakiti. Lama-lama penjelasan membengkak kepada kategori hewan yang boleh dimakan, ternak boleh disembelih dengan tata cara tertentu, jenis hewan buas, hewan beracun, tidak boleh membunuh semut, hingga penjabaran soal hewan-hewan yang dilindungi. Istrinya sampai harus menghentikan suaminya karena melihat Sadam mulai kenyang dengan buncahan informasi. Suaminya lebih terlihat memberi kuliah daripada nasihat.
Untungnya, Sadam adalah anak penurut yang secara alami menjadi penyimak yang baik. Setiap celotehan ayahnya adalah hal luar biasa baginya. Banyak hal baru yang ia dengar, banyak petuah bijak begitu mudah terserap dan diterapkan dalam perilakunya. Apalagi jika sang ayah mulai berkisah tentang masa kecil yang miskin namun penuh petualangan. Sadam bagai menaiki mesin waktu, menjelajahi kisah sosok lelaki panutannya dalam siaran khayal. Cerita itu biasanya ditutup dengan ajakan ayahnya kepada Sadam untuk selalu bersyukur. Tipikal ayah cerdik, menautkan setiap bahasan dengan pesan-pesan moral.
Dari pertanyaan pentol bakar ini pun, ayah Sadam berkisah panjang dari legenda fiktif tentang pentol, bahan pentol, sampai isu kandungan pengawet berbahaya yang sempat mencuat kala sang ayah masih remaja. Sadam mulai mabuk informasi, syukurlah tak lama pentol bakar mereka selesai dibuat. Sudah waktunya mereka pulang, matahari kian tergelincir dan membiarkan terang langit mulai meredup. Waktu maghrib semakin dekat.
Makanan yang dimasak nenekmu itu paling enak. Bagi Ayah yang penting bukan makanannya, tapi bisa makan bersama keluarga itu sudah buat Ayah senang.
Aroma lezat dari pentol bakar menguar dari kresek membuat energi Sadam seketika penuh kembali dan meminta sang ayah untuk menurunkannya. Ayahnya dengan senang hati melakukannya, terlebih tangannya sudah mulai kesemutan. Langkah mereka ke parkiran terjeda saat seorang ibu-ibu berpakaian lusuh dan menggandeng anak kecil—mungkin seumuran Sadam—mencegat mereka. Si ibu mengulurkan telapak tangan. Ayah Sadam paham ibu itu peminta-minta, refleks ia hendak mengangkat tangannya sebagai kode penolakan, mendadak tarikan-tarikan kecil di celana panjangnya membuatnya menengok ke bawah, melihat mata Sadam yang membulat. Sadam tampak iba, tepatnya pada anak lelaki seumuran di depannya yang kurus, berbaju lusuh dan dekil, terus menempel pada ibunya. Ayah Sadam urung menolak pengemis itu.
”Ayah, dia kasihan, punya uang tidak?”
Ayah Sadam tersenyum, bangga pada empati anaknya. Ia berjongkok dan bicara pada putra manisnya itu.
”Sadam tahu, kenapa kita harus memberi mereka uang?” Sang Ayah bertanya. Biasanya pertanyaan ini adalah awal suatu petuah darinya.
”Karena kasihan?”
”Bukan cuma itu, tapi karena sebagai manusia, kita harus saling berbagi.”
Mulut Sadam membulat seperti huruf O, rasa antusias seperti biasa muncul untuk mendengar ayahnya. Sementara ibu peminta dan anaknya masih bertahan, sepertinya ada sinyal bagus dari percakapan Sadam dan ayahnya tersebut.
Di luar dugaan, percakapan Sadam dan ayahnya mengalir terlampau jauh. Ayah Sadam mulanya memberi pesan pada Sadam bahwa setiap rezeki sudah diatur, bisa saja rezeki si ibu dan anaknya itu dititipkan pada Sadam. Penjelasan itu berlanjut mengenai setiap orang ingin hidup nyaman dan enak, namun tidak semua beruntung mendapatkannya. Sadam harus bersyukur bisa makan enak, bersekolah, dan punya mainan. Obrolan itu tentu agak berbisik, sebisa mungkin si ibu tidak mendengar mereka.
Si ibu hampir menyerah, mulai berpikir ayah muda itu tidak benar-benar akan memberinya uang. Saat hendak beranjak meninggalkan bapak dan anak itu, tiba-tiba ayah Sadam—masih sambil bicara pada Sadam—mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya, membuka, dan mengeluarkan uang. Si ibu bagai melihat hilal rezeki, apalagi uang itu warnanya biru, nominalnya relatif besar. Ia putuskan bersabar sedikit lagi.
”Sadam, kasih uangnya ke si adek,” ayah Sadam menyodorkan uang pada Sadam, diteruskan Sadam pada anak kecil di depannya. Si anak diam sebentar menerima uang itu, lalu diberikan kepada si ibu.
“Alhamdulillah… terima kasih, Pak, Dek,” ucap si ibu sambil mengusapkan uang itu ke wajahnya. Sadam tersenyum, pun sang ayah.
”Semoga rezeki Bapak makin banyak, lancar,” lanjut si ibu.
”Amin…,” Sadam dan ayahnya menyahut.
”Bismillahirrohmanirrohim…,” si ibu tahu-tahu menengadahkan tangan. ”Saya doakan Bapak sehat, uangnya makin banyak, keluarganya tenteram….” Ibu itu mengamitkan berentet doa. Ayah Sadam hendak menyela sopan karena sudah harus bergegas pulang, namun Sadam kembali mencegahnya. Anak itu menahan tangan ayahnya.
“Ayah, kita mau didoain. Kata Ayah, kan, doa orang yang kita bantu lebih mudah terkabul,” polos Sadam. Ayahnya menelan ludah. Cukup ludah saja, ia tak boleh menelan nasihat-nasihat yang sudah ia berikan pada Sadam.
Sadam menengadahkan tangan dan memberi isyarat untuk ayahnya juga ikut melakukannya. Ayahnya menurut. Si ibu pengemis melanjutkan doa-doa panjangnya.
Langit yang cerah semakin gelap, jingga cantik berpendar-pendar. Di langit pula, suara ayat-ayat sunyi melantun bersahut-sahut dari berbagai masjid. Sadam berdiri khusyuk, ayahnya gelisah. Doa terus-menerus turun seperti hujan yang deras.