Malam itu, hujan tidak turun. Tapi suara yang terdengar seperti hujan mengguyur atap-atap kota. Mungkin itu suara sepeda motor yang melintas cepat di jalanan basah, mungkin juga suara berita yang diulang-ulang di televisi warung. ”Pemerintah menegaskan tidak ada kebohongan dalam kebijakan terbaru…”. Kata ”tidak ada kebohongan” diucapkan terlalu sering, sampai Jemy Witney merasa seolah-olah seluruh negeri sedang belajar berbohong dengan nada yang sopan.
Jemy duduk di bangku panjang, di depan plang rokok Kuningan yang setengah terbuka. Di depannya, segelas bir dingin tanpa busa. Di tangannya, rokok keretek yang padam. Ia bukan pemabuk yang mabuk setiap malam, hanya seseorang yang tidak tahu lagi bagaimana caranya sadar dengan cara biasa.
”Witney,” begitu teman-temannya memanggilnya. Nama itu bukan nama keluarga, bukan nama artis, bukan pula nama samaran. Itu hanya nama yang ia temukan di botol kecil parfum palsu dari Pasar Baru bertahun-tahun lalu, ’Witney’s Breeze’.
”Aroma kejujuran dalam kesegaran yang menipu,” begitu tulisan di labelnya. Ia tertawa waktu itu dan sejak hari itu, nama Witney menempel di belakang namanya seperti sejarah kecil yang tidak penting.
Kau tahu, Jemy Witney adalah tipe lelaki yang tidak suka menolak. Ia tidak sombong, tidak pernah ingin menang. Ia hanya ingin duduk, menunggu, sambil melihat dunia bergerak dengan caranya sendiri.
Kalau ada orang marah padanya, ia hanya mengangguk. Kalau ada orang minta maaf, ia juga mengangguk. Hidup baginya, seperti gelas bir yang setengah penuh dan setengah kosong: dua-duanya benar, dua-duanya tidak berguna.
Ia tinggal di kamar sempit di belakang toko onderdil, tempat bau oli bercampur dengan aroma nasi goreng tengah malam. Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat menara masjid yang lampunya kadang mati sendiri, dan papan reklame besar bergambar senyum seorang caleg muda yang katanya ”berkomitmen untuk perubahan”.
Tiap malam, Jemy mengamati wajah itu, wajah senyum yang selalu sama, bahkan ketika listrik padam. Dalam senyum itu, ia menemukan sesuatu yang ganjil, ketenangan yang tidak wajar.
Ada masa ketika Jemy pernah mencintai seseorang. Namanya Sari. Seorang perempuan yang datang ke hidupnya seperti lagu yang tak sengaja ia dengar di radio malam. Waktu itu, ia bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah kantor start-up yang menjual janji dan kata-kata motivasi dalam bentuk digital. Sari datang sebagai konsultan komunikasi. Sari cantik dalam cara yang membuat orang tidak percaya pada dirinya sendiri. Ia selalu memakai kacamata bulat, menulis catatan dengan pena biru, dan punya kebiasaan menggigit ujung sedotan kalau sedang berpikir.
Mereka mulai bicara tentang hal-hal kecil, kenapa lift di kantor itu selalu macet di lantai tiga, kenapa kopi instan di pantry rasanya seperti kenangan masa kecil yang tidak mau pergi. Dari hal-hal kecil itu, tumbuh percakapan yang lebih dalam, dan dari percakapan itu tumbuh sesuatu yang bahkan tidak mereka sadari. Kedekatan tanpa nama.
Tapi pada akhirnya, seperti semua hal yang terlalu indah untuk jadi nyata, Sari pergi tanpa sempat berpamitan.
Yang tersisa hanya pesan singkat di ponsel Jemy:
”Jangan menungguku. Dunia ini terlalu kecil untuk orang sabar seperti kamu.”
Sejak itu, Jemy mulai minum. Bukan karena ia ingin melupakan, melainkan karena ia ingin ingat lebih lama.
Orang-orang di warung menyukai Jemy karena satu hal, ia selalu mendengarkan.
Ia tidak banyak bicara, tetapi matanya seperti bisa menampung semua keluhan, semua omong kosong, semua kesedihan kecil yang beterbangan di udara malam.
Di zaman ketika setiap orang ingin bicara dan tak ada yang mau mendengar, Jemy adalah pengecualian yang absurd. Ia mendengar berita politik seperti mendengar suara laut di televisi tanpa gambar. Ia mendengar gosip pejabat seperti mendengar dongeng masa kecil yang terlalu sering diulang.
Pernah suatu malam, seorang wartawan muda datang ke warung itu. Ia bertanya kepada Jemy, ”Bang, menurut Abang, apa yang paling salah dari negeri ini?”
Jemy hanya mengembuskan asap pelan. ”Kita terlalu sibuk merasa benar,” katanya.
Kalimat itu membuat wartawan muda itu diam cukup lama lalu menulis status panjang di media sosial tentang ”seorang pemabuk bijak yang ditemuinya di warung kecil”.
Tentu saja status itu viral karena orang lebih suka membagikan kebijaksanaan yang bukan miliknya.
Beberapa hari kemudian, nama Jemy Witney muncul di media daring.
Artikel itu berjudul:
”Jemy Witney, Sang Filsuf Jalanan yang Mengajarkan Arti Kesabaran.”
Jemy membaca artikel itu sambil menggaruk kepala. Ia tidak tahu siapa yang menulisnya. Foto dirinya diambil diam-diam dari belakang, siluetnya kabur oleh cahaya lampu jalan.
Di kolom komentar, orang-orang menulis kalimat seperti:
”Masih ada orang baik di negeri ini.”
”Dia tidak tahu politik, tapi kata-katanya lebih dalam dari presiden.”
”Tuhan menyamar jadi pemabuk.”
Ia tertawa membaca komentar itu.
Lucu, pikirnya, bagaimana dunia kini mencintai sesuatu hanya karena ia tampak tidak peduli.
Setelah itu, datanglah masa yang lebih aneh. Beberapa mahasiswa dari fakultas filsafat datang menemuinya. Mereka bilang ingin mewawancarainya untuk skripsi. Salah satu dari mereka berkata dengan penuh semangat:
”Bang Jemy, kami ingin tahu bagaimana konsep kesabaran eksistensial dalam konteks masyarakat pascakebenaran.”
Jemy mengernyit.
”Apa itu pascakebenaran?”
Mahasiswa itu tersenyum, ”Zaman di mana orang lebih percaya pada perasaan daripada fakta.”
Jemy tertawa keras. ”Oh,” katanya, ”berarti zaman ini tidak pernah berubah.”
Malam-malam berlalu.
Di televisi, berita tentang korupsi dan demonstrasi berselang-seling seperti lagu lama yang diputar dengan pita rusak.
Di jalanan, orang-orang bicara tentang harga sembako, tentang politik, tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, seolah mereka sedang mengulang naskah yang sama dari tahun ke tahun.
Kadang Jemy berpikir, mungkin negeri ini sebenarnya bukan sedang berjalan, melainkan sedang berputar.
Berputar di tempat yang sama, hanya poster-poster di dinding yang berganti.
Suatu sore, Sari kembali.
Tidak dalam wujud yang sama, bukan sebagai kekasih yang hilang, tetapi sebagai berita kecil di televisi:
”Seorang aktivis perempuan ditemukan meninggal di apartemennya. Diduga depresi berat.”
Jemy tidak menangis. Ia hanya duduk diam, menatap layar yang menampilkan foto wajah itu Sari dengan kacamata bulat, senyum samar, dan mata yang seperti menatap masa depan yang tak pernah datang.
Dalam diam, ia mematikan televisi, menyalakan rokok, dan berkata pelan, ”Dunia memang terlalu kecil untuk orang sabar, Sari. Tapi terlalu luas untuk orang yang ingin jujur.”
Sejak malam itu, Jemy makin jarang bicara. Ia lebih sering duduk di bangku depan warung, memandangi langit malam yang semakin kabur oleh lampu-lampu reklame.
Orang-orang tetap datang padanya, bercerita, bertanya, mencari nasihat, tapi ia hanya menjawab dengan senyum tipis.
Sampai suatu hari, seseorang bertanya
”Bang, kenapa Abang tetap baik walau dunia tidak baik?”
Jemy menatap kosong ke arah jalan.
”Karena kalau saya ikut jahat,” katanya, ”siapa yang akan tersisa untuk menjaga kebodohan ini tetap manusiawi?”
Kini Jemy Witney menjadi legenda kecil di sudut kota.
Ia tidak tahu bahwa wajahnya pernah dijadikan meme, bahwa namanya pernah dijadikan hashtag di media sosial, bahwa orang-orang menulis puisi tentangnya.
Ia hanya tahu bahwa bir makin mahal, dan langit makin jarang terlihat tanpa kabut.
Kadang ia berpikir, mungkin yang paling absurd bukan dirinya, tetapi dunia yang terus mencari kebenaran di antara kebohongan yang mereka sukai sendiri.
Dan pada malam-malam tertentu, ketika lampu kota redup dan suara azan subuh terdengar seperti gema jauh dari masa lalu, Jemy menatap ke langit dan berbisik pelan:
”Witney’s Breeze… aroma kejujuran dalam kesegaran yang menipu.”
Lalu ia tertawa kecil karena ia tahu hidup ini tidak perlu dimengerti, cukup dihirup seperti parfum murahan yang baunya tetap tinggal di baju bahkan setelah dicuci.
Tidak ada yang tahu kapan Jemy benar-benar pergi.
Suatu pagi, bangku di depan warung kosong. Gelasnya masih ada, tapi birnya kering. Rokoknya padam di asbak.
Beberapa orang bilang ia pindah ke kota lain.
Yang lain bilang ia jadi pengemis di terminal, atau masuk panti sosial.
Tapi ada juga yang bilang, Jemy sebenarnya tidak pernah pergi, hanya dunia yang berhenti melihat.
Karena di setiap warung, di setiap perbincangan panjang tentang negara, cinta, dan kebodohan, selalu ada seseorang yang tiba-tiba berkata dengan nada santai:
”Bang, kita terlalu sibuk merasa benar.”
Dan orang-orang tertawa tanpa sadar bahwa kalimat itu, entah bagaimana, telah menjadi bagian dari udara.