Edwin, seorang pemuda keturunan China, mengunjungi kakaknya, Meilana, yang sedang sekarat di ranjang rumah sakit. Dalam pertemuan sesaat di kala bezoek itu, Meilana bercerita bahwa dirinya sesungguhnya memiliki anak tunggal yang berusia 19 tahun. Anak lelaki tersebut sejak dua tahun lalu tidak diketahui rimbanya.
”Dia ngabur ketika polisi menuduh dia membunuh seorang lelaki yang ditodongnya di halaman sebuah bank.”
Edwin terperanjat. Matanya yang sipit semakin menyipit.
”Sungguh mati, Cik, saya baru mendengar kabar ini,” katanya.
Di pembaringan Meilana menoleh ke Edwin sekuat tenaga. Dengan kalimat lemah dan terputus-putus, Meilana meneruskan cerita bahwa kemungkinan si anak itu ditangkap dan lantas dipungut orang. Dan mungkin disekolahkan. Dan kemungkinan anak itu sampai kini masih menempuh pendidikan. Jika benar ia masih sekolah, ia sekarang duduk di bangku kelas tiga SMA.
”Tapi, Cicik tidak tahu dia sekolah di mana. Cicik minta tolong kamu cari anak itu, ya. Itu, kan, keponakanmu juga, Win. Cicik ingin bertemu dia sebelum kematian Cicik tiba....”
Belum selesai mengucap, Meilana mengatupkan mata. Napasnya melambat, untuk kemudian terhenti. Meilana pun tidur dan tidak pernah bangun lagi.
Meilana wafat. Kremasi telah dilakukan. Di rumah duka itu Edwin memutar film di kepalanya. Lalu muncullah serentet gambar nyata peristiwa ganas yang terjadi pada 1998.
Kala itu negeri terimpit krisis ekonomi parah, yang diiringi potret keadilan sosial yang payah. Rakyat bumiputra semakin melata, sementara masyarakat keturunan China dianggap semakin kaya. Dari hamparan lanskap kesenjangan itu lalu muncul pengadu domba yang meneriakkan provokasi sensitif. Mereka mengatakan bahwa apa yang seharusnya dimiliki oleh bumiputra dikeruk oleh orang-orang China. Dan pengerukan itu difasilitasi oleh para pejabat negara.
Provokasi sungguh jahat itu membuahkan hasil, yakni kemarahan kaum jelata yang membabi buta kepada orang-orang China. Maka selama beberapa hari di tengah bulan Mei sejumlah kota dirusuh. Rumah-rumah orang China dibakar. Mobil-mobil digulingkan dan disulut api. Supermarket sampai toko-toko kecil dijarah. Orang-orang China yang ditemui di jalanan dihajar. Bahkan, dipukuli sampai mati.
Pada saat kerusuhan itu terjadi Edwin dan Meilana dipulangkan dari sekolah. Di tengah jalan yang kacau-balau mereka berdua diseret sekelompok orang, dan dibawa ke lorong sempit. Edwin dianiaya, sementara Meilana digeret masuk bangunan kosong dan dirudapaksa. Setelah para penjahat itu pergi, Edwin dan Meilana merayap pulang. Mereka berdua melihat rumahnya di Jakarta Kota sudah dibakar sampai jadi abu.
Kerusuhan gila-gilaan itu akhirnya usai. Keluarga Edwin yang tak lagi punya rumah lantas ditampung sementara oleh keluarga bumiputra, Haji Pramadiraga. Setelah situasi dianggap aman, Edwin diungsikan ke Hong Kong untuk hidup dengan pamannya. Sementara Meilana dititipkan ke Purwati, adik perempuan Haji Pramadiraga, yang hidup di Songgon di ujung timur Pulau Jawa.
”Hati-hati saja. Di zaman yang tidak enak, banyak orang kaya dijarah hartanya dan disakiti badannya,” kata Purwati meyakinkan. Dikatakan bahwa Songgon adalah tempat nyaman untuk pelan-pelan mengikis trauma. Meilana pun mau ke Songgon, dan bermukim di sana.
Suasana lengang. Edwin menutup wajah dengan telapak tangannya. Ia terkesiap ketika ada seseorang menepuk pundaknya, mengajaknya pulang. ”Oh. Sudah. Sudah. Aku tak mau lagi mengingat itu!” gumam Edwin. Proyektor film di kepalanya dimatikan. Edwin keluar lunglai dari rumah kremasi.
Meilana hidup di Desa Songgon. Ia mencoba bahagia. Tapi malang lagi-lagi menghadang. Meilana ternyata hamil akibat rudapaksa di lorong Jakarta itu. Ia sungguh marah dan berduka. Ia ingin menggugurkannya. Namun, Purwati—yang sudah bertahun-tahun menikah, tapi belum juga memiliki anak—mencegahnya. Alhasil, bayi pun lahir dan dinamai Zapari. Nama itu penyingkatan dari kata Zaman Pagebluk RI. Dan Zapari diakui sebagai anak kandung dari Purwati. Berita ihwal Purwati ”melahirkan” dikabarkan kepada Haji Pramadiraga.
Lima tahun sudah berjalan, Meilana merasa tidak betah hidup di Desa Songgon. Maka ia berpamitan kepada keluarga Purwati untuk balik ke Jakarta. ”Saya akan mencari kerja. Apabila sudah dapat, dan saya sudah punya tempat, Zapari saya ajak.”
Di Jakarta Meilana tak berkehendak berkumpul dengan ayah dan ibunya, yang menyewa rumah kecil di dalam gang. Apalah saya ini, ibu dari si anak haram, katanya dalam hati. Walau stigma itu merupakan rahasia dirinya dan keluarga Purwati. Meilana memilih kos dengan satu kamar. Murah dan muram. Hanya sekali-sekali ia berkunjung ke rumah orangtuanya.
Sementara nun jauh di Hong Kong Edwin melayari pendidikan sekolah dengan baik. Sekeluar dari Sekolah Tinggi La Salle, ia ditugaskan sebagai guru.
Di Songgon Zapari memperoleh kehidupan fisik yang berkecukupan. ”Ibu dan ayah”-nya menyayangi. Tetapi, Zapari kurang terladeni dalam soal pengajaran. Dalam pendidikan sekolah ia sungguh berkekurangan. Infrastruktur sekolah di desa itu sangat tidak memadai. Gedungnya ringsek, guru sekolah juga tidak mencukupi sehingga pelajaran sekolah tidak pernah ia terima dengan utuh.
Beberapa kali Zapari menyaksikan pertengkaran penilik sekolah dengan guru. Beberapa kali ia melihat lurah dengan kasar memarahi kepala sekolah. Beberapa kali ia menyaksikan para pengajar dan pengurus sekolah berkelahi lantaran saling menuduh korupsi dan semacamnya.
Zapari acap terngun-ngun melihat semua itu. Desa yang konon rimbun dan adem ternyata ribut dan serem.
Karena sering tak ada guru, Zapari dan teman-temannya acap kali tidak ada di dalam kelas. Mereka keluyuran sampai ke dusun-dusun jauh.
Pada suatu siang yang terik, di sebuah ladang jagung yang senyap, Zapari dan teman-temannya menemukan mayat bersimbah darah. Tak jauh dari mayat yang terbelit sarung itu tampak celurit. Kepala mayat itu terluka parah karena ditimpuk durian. Zapari dan para temannya menggigil melihat itu. Tak lama kemudian datang serombongan orang. Salah satunya berkata, ”Ini korban perang sarung, Le. Mereka baru carok. Yang takut, ya, kusut. Yang lemah, ya, mati! Yang kalah, ya, mampus!”
Sesampai di rumah Zapari bercerita atas apa yang dilihat dan didengarnya. Purwati dan suaminya menasihati. ”Memang. Kata orang, kalau tidak mau mati, kamu harus kuat. Kalau merasa ditindas, kamu harus siap melawan. Kalau ada yang mau menggilas, kamu harus segera menyerang. Kamu harus meringkus kehidupan yang busuk ini dengan garang.” Zapari terdiam.
Ketika menginjak usia 15 tahun Zapari diajak pindah dan bersekolah di Jakarta oleh Meilana. Ya, biar bagaimanapun, ia anak kandung saya, hati Meilana berkata.
Setelah menghayati betapa desanya sudah membosankan, tidak lagi tenteram dan bahkan menegangkan, Zapari tidak menolak ajakan itu. Di Jakarta ia tentu berdiam di rumah kos Meilana yang kusam.
Di Jakarta, karena keterbatasan pengetahuan dan keuangan, Zapari dimasukkan ke sekolah yang asal-asalan. Dengan begitu lingkar pergaulannya buruk. Para siswa sering tawuran di jalanan. Dan Zapari dengan gembira terlibat. Untuk memenuhi kebutuhan kantong pribadi, Zapari mencari dengan cara berandal. Ia sering memalak teman.
Dengan susah payah ia akhirnya duduk di bangku SMA. Lagi-lagi, karena didorong prinsip asal belajar, ia masuk sekolah yang salah. Buku tidak dijadikan pegangan, sementara pisau dan parang ditenteng sebagai teman keseharian.
”Dengan buku aku tak mendapat apa-apa, anjiiiiirr! Tapi dengan ini, apa pun bisa saya dapat,” kata Zapari sambil menunjukkan kapak.
Kebrutalan Zapari bertemu dengan momentum situasi masyarakat yang keruh akibat provokasi soal keadilan sosial. Kesenjangan ekonomi dan pemandangan kaya-miskin menjadi pemicunya.
”Jahanam, ya! Yang kaya orang China, yang miskin kita-kita!” kata Zapari dengan setengah murka. Provokasi keji berhasil meracuni. Ia sama sekali tidak tahu bahwa ibu sejatinya, Meilana, adalah China.
Pada suatu siang yang diriuhi hujan Zapari meluapkan niat jahatnya. Ia menodong seorang lelaki yang baru keluar dari bank. Lelaki bermata sipit tersebut melawan. Zapari langsung menikam sambil menyabot tas yang diyakini berisi uang. Ia berlari secepat kilat dengan diikuti sejumlah temannya yang bersorak, ”Horreee! Dapaaat!!!”
Zapari lalu diburu polisi. Tak ketemu juga. Ia pun dicari di rumahnya. Meilana yang sangat terkejut minta agar Zapari menyerahkan diri. Tapi Zapari sudah menghilang dan tak pernah lagi pulang. Sampai akhirnya diketahui ia sudah berada di kantor polisi.
Siapa Zapari, polisi meneliti. Kebrutalannya yang sudah tumbuh di masa belia disimak dengan hati-hati.
”Membaca perkara yang ia bikin selama ini, tim penyidik meyakini bahwa Zapari memiliki gen jahat dari sononya. Tapi pertumbuhan gen itu tidak bisa bekerja sendiri. Ia menjadi besar setelah berinteraksi dengan lingkungan sosial yang membentuk,” kata psikolog yang duduk di belakang meja polisi.
Alkisah Zapari sudah dalam penjara. Tapi tidak lama ia berada dalam terungku. Seseorang yang diduga bos besar kumpulan preman membebaskannya dengan tebusan. Sekeluar dari penjara, Zapari dipelihara oleh bos itu. Dimasukkan lagi ke SMA lain, yang menampung anak-anak buangan. Di SMA itu Zapari mengganti namanya, dengan lafal yang mirip ketika diucapkan siapa saja: Jeffri.
Kembali lagi ke ujung percakapan pertemuan terakhir Edwin dan Meilana di rumah sakit.
Demi memenuhi permintaan ciciknya itu, Edwin hengkang dari Hong Kong, dan bekerja di Jakarta sebagai guru. Ia sengaja bertualang ke berbagai SMA. Siapa tahu di salah satu SMA yang saya ajar, saya menemukan Zapari, anak Cicik yang dirindukan itu? Hati kecil Edwin berkata, bertalu-talu.
Sampai akhirnya ia berdiri di hadapan para murid SMA Bukit Duri. Sekolah anak-anak buangan yang ia duga sebagai tempat belajar Zapari. Sekolah para begundal yang sedang termakan provokasi jahat ”anti-China” sampai ke hati terdalamnya. Di situ Edwin, yang dikenali sebagai China, dikepung pedang, kapak, pentungan, dan pisau belati murid-muridnya sendiri. Sekelompok geng keji yang dipimpin oleh Jeffri.