Kesambet
Ono Sarwono · 29 Januari 2023
Sumber: Media Indonesia · tautan sumber
Ono Sarwono Penyuka Wayang
EMHA Ainun Nadjib mengaku kesambet ketika mengatai Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti Firaun (raja zalim). Itulah celoteh Cak Nun, panggilannya, kenapa dirinya sampai mengeluarkan pernyataan kontroversial bin irasional tersebut.
Dalam masyarakat Jawa, kasambet itu istilah bagi seseorang yang ketempelan atau mendadak diganggu atau kerasukan dedemit (roh jahat). Biasanya badannya adem panas, meracau, ndleming atau ngomyang (melantur), hingga pingsan.
Kunti Talibrata, dalam cerita wayang, pernah kesambet ketika mentalnya sedang tidak stabil akibat memikirkan nasib putraputranya
(Pandawa) yang tiada jeda dirundung cobaan. Sepenggal kisah seorang ibu yang menjadi single parent.
Terusir dari Astina
Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Begitu juga Kunti alias Prita, sekar kedaton Mandura yang dipersunting Raja Astina Prabu Pandu Dewanata. Wanita terhormat ini tidak mengira jika hampir sepanjang hayatnya menjadi berbalut keprihatinan.
Sebagai permaisuri, Kunti wajib melahirkan generasi penerus raja. Tapi, prosesnya tidak mulus sehingga mesti memohon bantuan dewa. Maka, lahirlah tiga putra ‘saham’ dewa, yaitu Puntadewa, Bratasena, dan Arjuna.
Kunti bukan satu-satunya istri Pandu. Sang suami masih membagi cintanya kepada Madrim dari Mandaraka. Prita memang legawa dimadu, tapi dari lubuk hati paling dalam tiada seorang perempuan pun yang nyaman dibanding-bandingkan.
Di tengah kebahagiaan memiliki momongan, Kunti ditinggal suami selamanya. Pandu mangkat tidak lama setelah anak kembarnya dari
rahim Madrim lahir. Guncangan hatinya makin menjadi ketika
Madrim menyusul suami ke alam baka. Sejak saat itu Kunti menjadi orangtua tunggal (single parent). Selain sendirian membesarkan ketiga anak kandung, ia juga masih harus menyusui anak kembar lakilaki, Tangsen dan Pinten, putra wanita madunya.
Di kala hati Kunti lerem (tenang) setelah menyadari bahwa apa yang terjadi adalah kodrat, cobaan datang lagi. Takhta Astina, hak anaknya, dirampas Kurawa, putra-putri kakak iparnya, Drestarastra-Gendari, yang diotaki Sengkuni.
Tidak sampai di situ, Pandawa terus menjadi bulanbulanan Kurawa yang bengis sejak dibimbing Sengkuni. Mulai dari lakon Pendadaran
Siswa Sokalima hingga peristiwa Balesigalagala yang menjadikan Pandawa terusir dari istana Astina.
Kunti terus mendampingi anakanaknya yang memikul berbagai ujian. Hatinya teriris-iris, tetapi tidak pernah menunjukkan kesedihan di depan
putra-putranya. Kelima putranya dibesarkan hatinya untuk tetap tabah menjalani kepahitan hidup.
Kerasukan jin Kalika
Waktu terus berjalan. Pandawa membangun rumah sendiri di Hutan Wanamarta yang kemudian berkembang menjadi istana megah. Bahkan, berubah menjadi negara makmur yang disebut Amarta alias Indraprastha.
Walaupun sudah memiliki negara sendiri, Pandawa tetap diincar nyawanya oleh Kurawa demi mengamankan kekuasaaan Duryudana atas
Astina hingga tujuh keturunan.
Pada suatu ketika dikirimlah dua raksasa bayaran, Kalanjaya dan Kalantaka, dengan misi menyantap Pandawa. Peristiwa ini membuat Kunti
lagi-lagi sedih. Sekuat apa pun hati seorang ibu, pasti tetap murung ketika melihat deritaanak-anaknya yang tiada habis-habisnya. Kunti seperti
kehilangan kendali diri hingga keluar istana dan pergi tanpa tujuan.
Dalam kegalauannya, Kunti mendadak dihampiri Bathari Durga. Penguasa Kahyangan Setragandamayit, kerajaan makhluk halus, itu bersedia
membantu Kunti dengan syarat menyerahkan Pinten alias Sadewa.
Kunti menolak tawaran tersebut. Tapi tiba-tiba kondisinya makin parah akibat kemurungan akut. Kesadarannya menjadi terganggu alias linglung. Pada saat itulah, jin Kalika, utusan Durga, marasuki raganya.
Dalam kendali Kalika, Kunti kembali ke istana Amarta. Pandawa lega saat ibunda yang hilang kembali pulang. Tapi mereka bingung ketika Kunti
segera berlalu lagi dengan menggandeng Sadewa tanpa penjelasan.
Ibu dan sang anak itu berjalan jauh hingga sampai di Hutan Dandangmangore. Di sana Kunti menyerahkan Sadewa kepada Durga yang telah menunggu.
Bungsu Pandawa itu kemudian diminta meruwat Durga. Sadewa bingung karena sadar tidak memiliki kemampuan tersebut. Tiba-tiba datang sinar
dari langit masuk ke raganya.
Mendadak Sadewa berubah bercahaya berwajah Bhatara Manikmaya, raja Kahyangan Jonggring Saloka. Kemudian Sadewa meruwat
Durga yang semula berwajah raksasa berubah menjadi cantik jelita seperti sediakala dengan nama Bathari Uma. Uma adalah istri Bathara Guru yang terkena kutukan pascadrama persetubuhan terlarang di atas lautan.
Setelah ruwatan, Guru mengejawantah dan memberi gelar Sudamala kepada Sadewa. Sudamala dari kata suda yang berarti mengurangi atau
menghilangkan, dan mala yang artinya penyakit. Maknanya, sang pembersih dosa dan kesalahan.
Sejenak setelah Guru dan Uma kembali ke kahyangan, Sadewa mencari Kunti dan membebaskannya dari belenggu jin Kalika. Kalanjaya dan
Kalantaka pun diperangi hingga badhar (ke ujud asli) menjadi Bathara Citraganda dan Bathara Citrasena.
Keblondrok
Bila melihat situasi sosial kini, rasanya banyak yang kena ‘kutukan’. Ada saja yang seenaknya sendiri mengata-ngatai, menghujat, atau memfi tnah orang lain, bahkan kepada sang pemimpin sekalipun.
Mereka selayaknya diruwat oleh ‘sudamala’.Berkaca pada kisah Kunti, pernyataan Cak Nun yang menyebut dirinya kesambet mengundang tanya. Benarkah saat itu ia sedang tidak eling sehingga makhluk halus manjing (masuk) dalam raganya? Kenyataannya ketika itu Cak Nun sedang
berkonsentrasi penuh berceramah di depan jemaah.
Menurut ‘ilmu titen’, sekuat apa pun manusia mengendalikan lidahnya, bila dalam hati dan pikirannya mengendap sesuatu, maka pada suatu saat dalam bawah sadar, itulah yang keluar dari mulutnya. Itulah yang disebut keblondrok (kelepasan).