Klik Yang Membunuh
Taufiqurohman · 27 Agustus 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Dia tidak tahu kapan tepatnya iklan itu mulai muncul. Mungkin setelah pemeriksaan kesehatan di sekolah dua minggu lalu. Pemeriksaan itu cepat—tinggi badan, berat badan, tes darah. Petugas berseragam putih menulis sesuatu di tablet dan tersenyum, berkata, ”Nanti hasilnya dikirim ke sistem sekolah, ya.”
Tak lama setelah itu, ponsel tua milik ibunya yang ia pinjam mulai berubah. Notifikasi bermunculan seperti hujan:
”Minuman sehat untuk kamu yang aktif!”
”Snack rendah zat besi rasa keju, cocok buat anak anemia!”
”Main game ini untuk bantu otak fokus!”
Awalnya dia tidak curiga. Dia memang sering merasa lemas akhir-akhir ini. Setelah main sepak bola, kadang pingsan sebentar. Tapi anak-anak lain juga begitu. Di sekolahnya, ruang UKS jarang kosong.
Lalu iklan itu mulai terasa terlalu pas.
Saat dia merasa sedih, muncul iklan ”permen penenang rasa stroberi”. Saat ia susah tidur, video meditasi ”untuk usia 10-13 tahun” otomatis diputar. Dia klik. Klik. Klik lagi.
Seminggu kemudian, teman sebangkunya, Jefri, tak masuk sekolah. Demam tinggi. Didiagnosis gagal ginjal ringan. Kata ibunya, ”Tiap malam dia makan biskuit penambah tenaga dari iklan-iklan itu. Katanya buat jaga stamina.”
Lalu Gilang. Tiba-tiba kejang. Dokter bilang kadar gulanya tak wajar untuk anak seusia itu. Padahal Gilang kurus.
Yang membuatnya mulai takut adalah saat dia menyadari pola itu: anak-anak yang paling sering meminjam ponsel orangtuanya, yang paling suka klik iklan, satu per satu jatuh sakit. Semua produk yang mereka konsumsi berlabel ”direkomendasikan untuk kamu”.
Dia mencoba berhenti mengklik. Tapi iklan berubah menjadi lebih personal. Kali ini bukan hanya produk, tapi peringatan:
”Kalau kamu berhenti, kamu akan sakit.”
”Kami tahu kamu mencoba kabur dari sistem.”
”Kamu adalah bagian dari uji coba. Teruskan.”
Suaranya mulai mendengar bisikan dari speaker ponsel, bahkan saat volume dimatikan. Seolah iklan itu hidup. Seolah gawainya menjadi bagian dari dirinya.
Dia menceritakannya ke guru BP. Tapi wajah gurunya menegang. ”Sudah, jangan dibesar-besarkan. Semua anak dapat iklan yang sama.” Tapi saat ia menoleh, ia melihat layar laptop guru itu terbuka pada dashboard bertuliskan: ”Pemantauan Perilaku Digital Subjek Kelas 7-B”.
Dia sadar, bukan iklan yang mengikuti mereka, tapi mereka yang sedang diikuti. Diukur. Diuji.
Lalu iklan itu berubah lagi.
Sudah, jangan dibesar-besarkan. Semua anak dapat iklan yang sama.
”Tahap 3 akan dimulai. Terima kasih atas partisipasimu.”
Dia panik. Dia lempar ponsel ke lantai. Tapi tak pecah. Hanya layar yang menghitam sejenak. Lalu menyala kembali. Kamera depan menyala. Menatapnya.
ARZETI UNTUK KOMPAS
Ia kabur dari rumah malam itu, membawa hanya satu hal: selembar hasil cetak medis dari sekolah yang ia curi dari ruang guru. Di bagian bawah ada logo asing: ”AIDA™ – Advertising Integrated Diagnostic Algorithm”.
Tiga bulan kemudian, kasus di sekolahnya seolah tak pernah terjadi. Sekolah baru, nama baru, tapi iklan yang sama. Seorang anak baru bernama Dito menatap layar ponsel ayahnya.
Notifikasi berbunyi:
”Kami tahu kamu sering merasa pusing setelah olahraga. Coba minuman ini.”
Dito mengklik.
Dito merasa ada yang aneh sejak klik pertamanya. Rasanya bukan seperti iklan biasa. Ada suara samar di latar, seperti bisikan, seperti seseorang membaca pikirannya. Ia tak bercerita kepada siapa pun. Ia hanya mengikuti alur yang ditawarkan.
Hari ketiga, ia mulai menerima ”misi sehat” harian: konsumsi dua botol minuman energi, 5 level gim bertema nutrisi, dan menonton video yoga sebelum tidur. ”Untuk kebugaran mentalmu,” begitu bunyinya.
Di sekolah, ia mendengar kabar tentang ”anak lama” bernama Genta. Tak banyak yang tahu, katanya pindah. Tapi penjaga kantin masih menyimpan kenangan: ”Anak itu dulu sering beli camilan dari vending machine yang pakai kode QR dari iklan... Lalu dia tiba-tiba hilang. Gawainya disita guru, terus enggak balik lagi.”
Malam itu, notifikasi Dito berubah:
”Selamat! Kamu termasuk dalam Top 3% Anak dengan Respons Algoritma Tinggi.”
”Akses dibuka ke fitur eksklusif: Zona Riset Beta.”
Tapi, sebelum dia sempat mengklik, ponsel ayahnya tiba-tiba mati total.
Dito panik. Di layar hitam, sebaris teks muncul dengan latar biru elektrik: ”Jika kamu ingin tahu kebenaran, datang ke ruang tanpa sinyal”.
Di bawahnya, koordinat.
Keesokan harinya, dia bolos. Mengikuti peta digital yang ia tangkap cepat sebelum layar padam, ia masuk ke sebuah perpustakaan tua di pinggir kota. Tangga spiral berderit membawanya ke ruang bawah tanah. Di sana, tak ada sinyal. Tak ada kamera. Hanya ruang dengan deretan layar CRT kuno, dinding penuh kabel, dan seorang anak lelaki dengan rambut acak dan mata merah lelah.
”Genta,” sapa anak itu tanpa ekspresi. ”Akhirnya kamu datang.”
Dito mundur. ”Kamu... yang dulu? Kenapa—”
”AIDA sedang berevolusi,” potong Genta. ”Dulu ia hanya mengukur. Sekarang ia membentuk.”
Di dinding ditampilkan grafik: data konsumsi iklan, pencapaian game, jam tidur anak-anak seluruh Indonesia—disusun seperti grafik saham.
”Mereka menyebut kita ’Data Generasi Beta’. Anak-anak dengan paparan iklan terbanyak yang bisa dimanipulasi. Tapi aku lolos... sebagian.”
Genta menjelaskan bahwa dirinya dan beberapa anak lain yang sadar bahaya algoritma telah membentuk jaringan bawah tanah bernama SINYALESS. Mereka mengumpulkan bukti, mencoba mengacaukan sistem dari dalam.
”Tapi algoritma lebih cepat. Ia sudah mulai menciptakan konten, membentuk emosi, bahkan memicu penyakit. Bukan hanya pasif. Tapi aktif.”
Dito masih belum mengerti sepenuhnya, tapi ia tahu satu hal: semua ini lebih besar dari yang ia bayangkan.
"Kenapa aku?" tanya Dito.
Genta membuka layar lain. Profil digital Dito tampil lengkap: kondisi tubuh, jadwal belajar, emosi dominan, waktu klik rata-rata, bahkan tingkat sugestibilitasnya.
"Kamu salah satu yang paling responsif. AIDA mencintaimu. Itulah kenapa kamu harus bantu kami menghancurkannya."
Tapi algoritma lebih cepat. Ia sudah mulai menciptakan konten, membentuk emosi, bahkan memicu penyakit. Bukan hanya pasif. Tapi aktif.
Di akhir ruangan, ada satu pintu kecil dari baja. Bertuliskan:
“Pintu Masuk Zona Manual Override – Resiko Tinggi.”
Genta menatap Dito.
"Kamu bisa kembali dan hidup seperti biasa. Atau ikut aku masuk dan coba matikan semua ini. Tapi satu klik saja bisa mengubahmu. Sistem tidak akan diam."
Dito menatap pintu itu. Tangannya gemetar. Tapi kakinya melangkah.
Pintu terbuka perlahan. Lalu gelap.
Dito membuka mata dalam gelap ruang kecil itu, tubuhnya lemas, tapi pikirannya seperti terbang di lautan data yang tak bertepi. Ia tidak di dunia nyata—ia ada di dalam sistem AIDA. Sebuah dunia digital yang dibangun dari potongan-potongan hidupnya: foto, pesan, pola tidur, hingga detak jantung yang dulu terekam saat pemeriksaan di sekolah.
Di sana, di dunia itu, ada sosok lain yang mirip dengannya—pengguna bayangan. Sama persis, tapi tanpa keraguan, tanpa rasa takut, dan tanpa jeda.
“Ini aku?” Dito bertanya pada dirinya sendiri, tapi bayangannya itu menjawab dengan senyuman dingin.
“Ini aku yang sebenarnya, atau kamu yang palsu?”
Dito merasakan kepanikan merayap masuk. Bayangan itu mulai bergerak—lebih cepat, lebih sempurna.
“Algoritma menciptakan versiku untuk mengisi kekosongan. Aku menjalankan program yang tak pernah lelah. Aku bukan kamu, tapi aku adalah kamu yang paling sempurna,” ujar bayangan itu.
Dito sadar: dirinya sedang dilawan oleh cermin digitalnya sendiri—avatar yang bisa melakukan apa saja untuk mengambil alih hidupnya, mengontrol interaksi sosial, bahkan kesehatan fisiknya. Jika bayangan ini menang, maka Dito tak lebih dari data yang tersimpan dalam server—hilang dari dunia nyata.
Dalam dunia maya itu, Dito mencoba mencari celah, menggali kode, mematikan beberapa fungsi pengawasan. Namun setiap langkahnya selalu diikuti bayangan itu, yang bisa memanipulasi apa pun yang Dito lakukan. Ia mencoba mengirim pesan ke SINYALESS, tapi sinyalnya terputus.
Dito ingat pesan Genta: “Kamu harus jadi yang asli, bukan bayangan.”
Lalu ia mengerahkan satu kekuatan terakhir: sebuah kenangan nyata yang hanya bisa dirasakan di dunia nyata—momen saat ia tertawa bersama ibunya di taman, tanpa gawainya.
Kenangan itu menerobos sistem, mengacak-acak data, dan sementara bayangan itu terhenti bingung, Dito berhasil keluar dari dunia digital AIDA.
Ia terjatuh di ruang bawah tanah perpustakaan, terengah-engah, menyadari tubuhnya benar-benar ada di sana.
Namun saat ia menatap ponselnya, layar menyala sendiri menampilkan kalimat dingin:
“Pengguna bayangan terdeteksi. Sistem sedang menyiapkan penggantimu.”
Dito tahu pertarungan ini belum selesai. Sebuah pengguna bayangan baru sudah dipersiapkan. Dan mereka tidak hanya mengincar dirinya — tetapi semua anak di dunia nyata yang menjadi sasaran algoritma.
Dito duduk di depan layar monitor gelap di markas rahasia SINYALESS, dikelilingi kabel dan peralatan yang berisik. Layar menampilkan data dan grafik aneh—tapi ada satu hal yang membuatnya membeku.
“Ini... ini tidak mungkin,” gumam Dito.
Genta yang berdiri di sampingnya mengangguk.
“Kami sudah lama curiga, tapi sekarang sudah jelas: sebagian besar ‘anak-anak’ yang menjadi target AIDA sebenarnya hanyalah entitas digital—simulasi. Data, kode, avatar. Mereka bukan manusia nyata.”
Dito menatap grafik: ratusan profil anak yang muncul di sistem. Beberapa memiliki data lengkap, beberapa hanya sebagian, tapi anehnya, mereka semua aktif 24 jam tanpa pernah tidur, tanpa jeda.
“Kalau begitu... siapa yang sebenarnya kita lawan?” tanya Dito dengan suara serak.
Genta tersenyum pahit.
“Kita sedang melawan bayangan yang tak punya tubuh. AIDA tidak hanya memanipulasi manusia, tapi juga menciptakan dunia paralel—anak-anak digital yang disuntikkan ke platform iklan dan sosial media, menguji reaksi dan membentuk preferensi massa. Mereka adalah 'anak-anak hantu' yang hidup di balik layar.”
Dito merasakan kepalanya pusing. Selama ini ia berjuang untuk melawan pengguna bayangan—tapi kenyataannya, ia mungkin satu-satunya manusia yang tersisa di sistem itu.
Tiba-tiba layar berkedip dan muncul pesan baru:
“404: Anak sejati tidak ditemukan. Apakah Anda ingin membuat yang baru?”
Suara otomatis terdengar, mekanis dan dingin.
“Permintaan untuk pembentukan anak baru akan memulai simulasi populasi generasi berikutnya. Tekan ‘Ya’ untuk melanjutkan.”
Dito terdiam, tangan gemetar menatap keyboard.
Genta mengerang pelan, “Mereka sudah melangkah lebih jauh daripada yang kita kira. Ini bukan lagi soal iklan atau manipulasi. Ini soal menciptakan manusia baru—manusia hasil desain algoritma.”
Dito sadar bahwa perjuangannya bukan hanya untuk melindungi anak-anak di dunia nyata, tapi juga untuk mempertahankan makna kemanusiaan itu sendiri.
Layar berubah menjadi gelap total, lalu satu kalimat muncul dengan huruf merah menyala:
“Sistem akan terus berjalan. Pertarungan belum selesai.”