Kodokushi dan Kesaksian Sebatang Bonsai
Adriansyah Subekti · 27 Desember 2025
Sumber: Tempo · tautan sumber
DARI dalam kamar apartemen danchi 1), sudah berbulan-bulan aku melihat mayat Mitoma telentang di atas tikar tatami hingga membusuk, bersanding dengan sebuah buku bersampul hijau, piring kotor sisa makanan, dan cangkir kopi yang tinggal ampas lantaran dibiarkan tergeletak berbulan-bulan sejak Mitoma, penghuni kamar apartemen danchi itu, mati meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Aku masih tak menyangka bahwa Mitoma—lelaki tua sebatang kara yang semasa hidupnya tak pernah lupa menyirami tubuhku setiap pagi sembari menyiulkan sebuah nada yang teramat sumbang—telah lama mati hingga membusuk di atas tikar tatami. Aku dapat melihat jelas perubahan mayat Mitoma sejak hari pertama lelaki tua itu tak bernyawa, hingga mayatnya kini telah membusuk dan menjadi santapan kawanan lalat, semut, dan belatung. Bercak noda darah di sekitar mayat Mitoma yang semula merah dan basah, kini tampak hitam dan kering. Bahkan wajah mayat lelaki tua itu benar-benar sudah tak menyerupai wajah Mitoma. Persisnya, wajah Mitoma kini hanya tinggal tulang dan belulang yang membusuk digerogoti belatung.
Setiap hari, sejak kematian Mitoma, aku selalu berharap ada seseorang yang mengetuk pintu apartemennya, lalu mengebumikan mayat Mitoma selayaknya manusia mati pada umumnya. Namun, sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan, belum ada seorang pun yang mengetuk pintu apartemen Mitoma. Belum ada seorang pun yang mengetahui bahwa di dalam kamar apartemen ini terdapat mayat seorang lelaki tua yang mati sejak berbulan-bulan lalu.
Telah lama aku menunggu tibanya hari saat seseorang mendobrak pintu apartemen, lalu menemukan dan mengurus mayat Mitoma, hingga seseorang itu melihatku dan menyempatkan untuk menyirami tubuhku, tubuh yang makin hari makin kerontang lantaran berbulan-bulan tak merasakan air segar membasahi tubuhku. Begitulah. Aku selalu berharap hari itu segera tiba.
Sejak kematian Mitoma, kurasakan hidupku berjalan begitu lambat, jauh lebih lambat daripada hidup manusia. Aku masih ingat hari ketika Mitoma memboyongku dari pasar loak Asakusa ke kamar kecil apartemennya. Kala itu, hari pertama aku tinggal bersama Mitoma, setelah beberapa kali menyemprotkan air ke tubuhku dengan penuh kehati-hatian, lelaki tua itu tak henti-hentinya memandangiku seraya tersenyum selama berjam-jam. Seakan hari itu memiliki sebatang bonsai adalah pencapaian paling gemilang dalam hidup Mitoma.
***SEMASA hidupnya, aku tahu betul hal apa saja yang dilakukan Mitoma untuk menjalani hari-harinya. Atau paling tidak hal apa saja yang dilakukan Mitoma selama ia berada di dalam kamar apartemennya.
Mitoma selalu bangun setiap pagi ketika cahaya berwarna ungu mulai menembus kaca jendela kamarnya. Setelah terbangun, lelaki tua itu lantas beranjak menuju satu-satunya jendela di kamarnya, menyibak tirai putih tembus pandang, kemudian membuka jendela kamar, dan membiarkan udara sejuk menyeruak ke segala penjuru kamarnya. Seraya menghadap jendela, biasanya Mitoma menyempatkan untuk memejamkan matanya, lalu menghirup dalam-dalam sejuk udara pagi seraya tersenyum. Ya, tersenyum. Lelaki tua itu benar-benar mudah sekali untuk tersenyum.
Pagi setelah Mitoma membuka jendela kamarnya, hal berikutnya yang ia lakukan adalah membereskan tempat tidurnya, melipat selimut dan tikar tatami, kemudian menyapu lantai kamarnya. Mitoma adalah seorang lelaki tua yang terlampau peduli dengan kebersihan. Pernah suatu hari, usai Mitoma menyapu lantai kamarnya, kemudian ia melihat sehelai rambut tergeletak di atas lantai, lelaki tua itu lantas kembali menyapu ulang lantai kamarnya. Begitulah cara Mitoma semasa hidupnya selalu memastikan keadaan kamarnya tetap bersih dan nyaman.
Satu-satunya hal yang paling kutunggu-tunggu dari Mitoma setiap pagi adalah ketika lelaki tua itu hendak ke kamar mandi. Setiap pagi sebelum Mitoma memasuki kamar mandi, ia selalu menyempatkan untuk menghadap kepadaku. Tidak pernah tidak. Dengan senyum tulus seorang lelaki tua, setiap pagi Mitoma selalu menyemprotkan air ke tubuhku beberapa kali dengan hati-hati, sembari bersiul. Sesekali ia juga memangkas beberapa helai daun di tubuhku yang menguning dan bakal gugur dengan amat teliti. Lalu setelahnya, Mitoma akan diam beberapa saat untuk memandangku dengan sorot mata berbinar-binar dan tersenyum. Sungguh, pada saat-saat seperti itu, aku kerap kali ingin bisa tersenyum seperti Mitoma. Betapa aku ingin Mitoma melihatku dan tahu bahwa aku juga tersenyum.
Namun sampai hari kematian Mitoma, bahkan sampai mayat lelaki tua itu kini membusuk di atas tikar tatami, aku masih tak bisa tersenyum kepadanya. Selamanya tak akan bisa.
Tatkala cahaya ungu mulai tampak memudar dari jendela, biasanya Mitoma sudah mengenakan pakaian seragam terusan berwarna biru muda, menyiapkan keranjang bawaannya yang berisi botol berisi cairan kuning berbusa dan beberapa lembar kain, kain yang kerap dipakai Mitoma untuk mengelap lantai kamarnya. Dan setelahnya, Mitoma pasti akan pergi meninggalkanku seorang diri di kamarnya selama berjam-jam.
Tatkala sore hari mulai tiba dan cahaya kekuningan mulai memancar dari jendela kamar, itu adalah saat yang paling kutunggu-tunggu lantaran biasanya, tak lama lagi, Mitoma akan pulang dan kembali memasuki kamar apartemennya. Hingga malam tiba dan gelap mulai tampak dari balik jendela kamar, biasanya Mitoma menghabiskan waktunya untuk makan malam, membaca buku hingga berjam-jam, sampai lelaki tua itu mengantuk, lalu mematikan cahaya lampu kamarnya, kemudian tertidur hingga pagi kembali tiba dan memancarkan cahaya ungu dari jendela.
Begitulah rutinitas yang selalu dilakukan Mitoma nyaris setiap harinya, berulang-ulang. Kecuali, ya, kecuali, ketika ada satu hari saat Mitoma tidak memakai seragam terusan berwarna biru muda, dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar apartemennya dengan membaca buku atau memutar piringan kaset. Pada hari khusus itu, Mitoma kerap kali tampak lebih santai dari hari-hari biasanya, dan lebih sering menghadap kepadaku daripada hari-hari biasanya.
Begitulah hari-hari dalam hidup Mitoma, sebelum lelaki tua itu mati membusuk di atas tikar tatami di dalam kamar apartemennya seorang diri. Aku juga masih ingat hari ketika lelaki tua itu sekarat meregang nyawa. Hari ketika menjelang kematiannya.
Kala itu hari sudah beranjak malam. Tatkala Mitoma baru saja selesai menikmati makan malam seorang diri, tiba-tiba tubuhnya begitu lemas tak berdaya. Raut wajah Mitoma tampak gelisah. Mitoma lantas berupaya untuk tak menghiraukan kegelisahannya dengan membaca sebuah buku bersampul hijau. Hingga selang beberapa saat, aku mulai tahu bahwa keadaan Mitoma sedang tidak baik-baik saja.
Mula-mula lelaki tua itu terbatuk berulang kali, kemudian tampak cairan kental merah keluar tiba-tiba dari mulutnya. Pandangan Mitoma saat itu benar-benar terlihat nanar. Lalu dalam beberapa menit saja, lelaki tua itu kehilangan kendali atas tubuhnya. Mitoma pun roboh seketika di atas tikar tatami dengan posisi telentang. Dan sebelum sekujur tubuh Mitoma tampak kaku, sesaat aku melihat tubuhnya sempat gemetar begitu hebatnya.
Begitulah hari ketika Mitoma—lelaki tua yang telah bertahun-tahun merawatku dengan penuh ketulusan, lelaki tua yang sepanjang hidupnya menghabiskan waktunya seorang diri di kamar apartemen danchi, lelaki tua yang sederhana, tulus, dan teliti—harus mati lantaran penyakit yang dideritanya. Mati dalam kesunyian usia senja seorang diri.
Kini aku hanya bisa menunggu dan berharap. Ya, menunggu dan berharap akan datang seseorang yang memasuki kamar apartemen ini, lalu menemukan mayat Mitoma yang sudah tergeletak berbulan-bulan hingga membusuk, dan mengebumikan mayat itu selayaknya mayat manusia pada umumnya. Aku hanya bisa menunggu dan berharap hari itu segera tiba.
Dan demikianlah hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba.
SETELAH terdengar suara langkah kaki dari luar kamar, sesaat kemudian terdengar suara pintu yang didobrak berulang kali. Seketika pintu kamar terbuka. Tampak dua petugas tokushu seiso 2) memasuki kamar apartemen tempat mayat Mitoma membusuk di atas tikar tatami.
“Kodokushi 3) lagi.”
“Ya, Sugawara-san. Di Osaka, sudah ada lima belas kasus kodokushi dalam sepekan.”
“Ya. Hikikomori 4) benar-benar telah menjadi masalah serius bagi masyarakat modern kita, Machida-san.”
“Hmmm, ya, begitulah, Sugawara-san. Dan kebanyakan kasus kodokushi hampir selalu dialami oleh para lansia yang hidup sendirian.”
“Kita bawa dulu jenazah kodokushi ini keluar, Machida-san. Setelah itu, kita kembali lagi ke kamar ini untuk membersihkan semuanya.”
Pintu apartemen dibiarkan terbuka setelah dua petugas tokushu seiso itu mengangkut mayat Mitoma keluar. Tampak bercak noda tubuh Mitoma membekas di atas tikar tatami yang dikerubungi lalat-lalat dan belatung-belatung yang tertinggal.
Dan tak lama kemudian, suara langkah kaki kembali terdengar. Kedua petugas tokushu seiso itu kembali masuk ke kamar apartemen Mitoma.
“Semprotkan disinfektan ke seluruh ruangan, ya, Machida-san!”
“Siap!”
“Ah, Machida-san! Lihat, Pak Tua itu mungkin saja meninggal saat ia sedang membaca buku ini.”
“Ya. Itu buku bagus, Sugawara-san. Aku sudah membacanya. Kappa karya Akutagawa.”
“Ya, Machida-san. Hanya kegelisahan yang usulnya tidak jelas. 5)”
“Tepat sekali!”
Tentu saja aku tak mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua petugas itu. Lantaran aku sama sekali tak mengerti bahasa manusia. Namun yang jelas, aku masih dapat mengamati tiap gerak-gerik dan raut wajah kedua petugas itu. Dan sesaat kemudian, salah seorang petugas memandangku dengan saksama, kemudian ia melangkah perlahan mendekatiku.
“Pak Tua itu juga merawat bonsai, Sugawara-san.”
Aku tak bisa melihat wajah petugas di hadapanku lantaran sebagian wajah si petugas tertutup rapat oleh sesuatu yang aku tak tahu namanya. Si petugas kemudian meraih sebuah botol berisi air dari dalam kantong seragamnya. Lalu dalam sekejap, setelah sekian lama, aku kembali merasakan air segar membasahi sekujur tubuhku. Membuat tubuhku tak lagi merasa kerontang.
“Ya, sudah beres semua sekarang. Walaupun noda cokelat di atas tatami ini tak sepenuhnya bisa hilang. Ayo, Machida-san!”
“Ya!”
Lalu pintu kamar apartemen ditutup. Kedua petugas tokushu seiso itu melangkah meninggalkan kamar apartemen dengan langkah kaki yang lambat laun tak lagi mampu kudengar. Keheningan kembali memenuhi kamar apartemen Mitoma. Dan aku kembali sendirian di kamar ini.
DI atas tikar tatami, bercak noda gelap berbentuk tubuh Mitoma yang telentang masih tampak jelas. Seekor lalat berjalan di atas bercak noda dengan langkah patah-patah, barangkali lalat itu merasa mabuk lantaran mencium aroma wangi menyengat yang baru saja disemprotkan oleh petugas tokushu seiso.
Setelah mayat Mitoma akhirnya ditemukan, aku merasa lega sekaligus kehilangan. Entah kenapa, aku merasa kehilangan Mitoma untuk kedua kalinya. Seraya memandangi bercak noda di atas tikar tatami, aku kembali melamunkan tahun-tahun yang kulewati di kamar ini bersama Mitoma. Sungguh, betapa singkatnya hidup seorang manusia.
Dalam keheningan kamar apartemen Mitoma, tiba-tiba aku melihat sesuatu bergerak-gerak yang berasal dari noda gelap bekas mayat Mitoma. Noda gelap berbentuk tubuh yang telentang di atas tatami itu bergerak-gerak secara perlahan. Dan sesaat kemudian, noda gelap bekas mayat Mitoma itu terlihat bangkit dari tikar tatami serupa bayangan tubuh manusia. Lalu noda gelap itu tampak bergerak pelan di udara, hingga lambat laun menghampiriku.
Alih-alih merasa cemas, aku malah justru merasa tenang ketika noda gelap itu bergerak pelan menghampiriku. Entah kenapa, aku merasa Mitoma kembali hidup dari kematiannya yang sepi dan menyedihkan. Aku merasa Mitoma kembali hidup dalam wujud yang lain, wujud yang kini tengah berhadapan denganku. Dan dengan begitu, sebatang bonsai sepertiku tak akan lagi merasa sendirian.