Kompas Terakhir
Hasbi Jusuma Leo · 26 September 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Rudi baru saja duduk di meja kerjanya. Tangan kanannya menaruh rantang empat susun di bawah meja, sementara telunjuk kirinya menekan tombol power pada CPU berdebu, kabel-kabelnya berkelindan seperti akar pohon tua yang kehilangan arah tumbuh.
Usai mondar-mandir mengisi air minum dari dispenser galon di pojok ruangan ke gelas kaca dan botol plastik, ia mulai mencari file Word sambil mengenakan sepatu. Klik dua kali, muncullah laporan yang belum selesai, pekerjaan hari ini.
Ia melepas sandal jepit, menyarungkan kaus kaki yang sudah bersarang di dalam sepatu tiga hari lamanya, lalu mengenakan pantofel hitam dengan sol yang mulai tipis. Bunyi kipas angin menggesek debu terdengar seperti detak jam yang malas.
Sudah lima tahun ia bekerja di sebuah kantor pemerintahan di luar Jawa. Lima belas tahun sebelumnya sudah ia rasakan mutasi ke berbagai daerah terpencil.
Mutasi akan datang seperti surat undangan yang tak bisa ditolak. Sesuai pola: dari daerah terluar, ke terpencil, lalu berkembang, dan akhirnya—jika catatan bersih dan rezeki berpihak—ke Jawa.
Rudi menanti tahap itu. Mutasi tinggal menghitung hari. Menurut perhitungannya, kali ini, dia akan masuk Jawa. Pulang kepada istri dan dua anaknya yang menunggu, tempat ibunya masih berjualan nasi uduk setiap pagi meski sendi-sendinya mulai rewel.
Seperti biasa, sebelum bekerja, ia sarapan dari rantang: dua susun berisi nasi (satu untuk pagi, satu untuk siang), satu berisi sayur lodeh, sisanya ikan sambal dan kerupuk yang mulai melempem. Sambil makan, ia menyimak ceramah ustaz dari komputer miliknya:
”…Umar bin Abdul Aziz yang sedang bekerja diterangi pelita. Lalu seseorang di luar mohon diri untuk masuk. Begitu sang Khalifah melihat yang hendak bertemu adalah anaknya, pelita langsung ia padamkan. Ia tidak ingin menggunakan minyak pelita yang merupakan uang rakyat untuk keperluan pribadi….” Cerita yang akrab. Seperti nyanyian lama yang tak kunjung basi. Dulu, di masa sekolah dinas, cerita itu sering diulang. Rudi tumbuh dalam keluarga yang menggantungkan hidup dari madrasah kecil dan warung makan. Tidak ada uang sogokan, tidak ada titipan. Yang mereka punya hanya doa dan kerja keras.
Dan untuk waktu yang cukup lama, Rudi percaya itu cukup.
Ia ingat betul saat pertama kali diminta menandatangani daftar lembur di akhir bulan di kantor ini. Hari itu Sabtu. Kantor gelap. Ia sedang memancing di dermaga belakang mes pegawai. Tapi daftar hadir sudah disiapkan, tanda tangan tinggal bubuhkan.
Semua orang menandatangani.
Rudi tidak.
”Kalau kamu enggak tanda tangan, seolah-olah kamu nuduh kami bohong,” ucap rekan sekantornya, setengah bercanda, setengah mengancam.
Tapi Rudi tetap menolak. Sama seperti di sini, di semua kantornya yang lama ia tidak pernah menandatangani daftar lembur fiktif.
Bahkan ketika uang lembur itu sebenarnya lumayan untuk menutup biaya sekolah anak bungsunya yang baru masuk SMP. Sejak saat itu, daftar lembur tidak pernah disodorkan kepadanya, meskipun dia benar-benar lembur.
Pintu terbuka tanpa ketukan. ”Selamat pagi, Pak Rudi. Bapak dipanggil Pak Burhan di ruangannya,” kata Wati, pegawai honorer, sekretaris kepala kantor.
”Sekarang? Pak Burhan enggak sarapan dulu?” Rudi melirik arloji murahan di pergelangan tangan kirinya. ”Biasanya juga jam-jam sembilan kalau rapat.”
”Sekarang, Pak. Pak Dwi, Pak Suharso, Pak Ali, Pak Darma juga dipanggil.”
Di ruang tertutup, Pak Burhan dikelilingi empat kepala seksi. Tidak seperti biasanya, rapat ini sunyi, tanpa suara piring plastik dan sendok katering. Tidak ada pegawai honorer yang merangkap office boy mondar-mandir membawa kopi atau pastel sambil mengambil foto untuk dokumentasi. Ini bukan rapat. Ini konklaf.
Pak Burhan membuka suara: ”Badu membuat ulah. Dia melapor ke pusat.”
Suasana mendadak tegang. Seolah angin dari laut berhenti berembus.
”Lewat situs Inspektorat. Soal lembur. Katanya fiktif,” lanjut Burhan, sambil mengembuskan asap rokok. Matanya mengawasi kaca ruangan yang bertuliskan merah: ’Ruangan Ber-AC, Harap Tutup Kembali’.
Para kepala seksi terdiam. Gumam-gumam tak percaya. Beberapa mencibir.
”Dia benar-benar berani,” ujar salah satu.
”Di mana-mana juga begitu. Lembur itu cuma formalitas,” ujar yang lain. ”Absen jam tujuh malam, lalu pulang ke rumah. Uangnya buat bayar cicilan.”
”Tapi Badu memang lembur beneran,” kata Rudi, pelan. ”Dia kerjakan laporan-laporan kita juga. Yang bukan tugasnya.”
Semua terdiam. Mereka sadar, Badu sering jadi pelampiasan. Pegawai yang tidak diakui secara formal tapi diandalkan dalam diam.
Burhan mengangguk pelan. ”Untung laporannya belum sampai. Sempat saya intercept. Ada kawan di bagian aplikasi pengaduan. Kalau Inspektorat turun, bukan cuma kantor cabang yang kena. Wilayah juga ikut terciprat.”
Ayouna Untuk Kompas
Esoknya, tim penegakan disiplin dari kantor wilayah datang. Baju mereka rapi, wajahnya tegang. Ketua tim, seorang pria yang tiga dekade lebih hidup dari meja ke meja birokrasi, yang sudah dimutasi ke berbagai daerah. Pernah menjadi Kepala Cabang, pernah menjadi Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa, dan sederet jabatan lain, membuka sesi. ”Tahu tidak, laporan kamu itu bahaya?”
”Kenapa bahaya, Pak? Memang tidak ada lembur. Yang ada akal-akalan,” jawab Badu, tenang. ”Tidak ada keadaan darurat. Tidak ada yang kerja sampai malam. Tapi absennya jalan terus.”
”Lembur itu sudah ada aturannya. Ada SPT. Ada absen.” Ketua tim menahan marah. ”Lagian itu cuma uang receh. Masih banyak modus korupsi menyelewengkan ribuan kali angkanya yang dilakukan di kantor ini dan semua kantor di seluruh Indonesia,” ketua tim hanya menyimpan kalimat terakhir itu dalam hati.
Tapi Badu memang lembur beneran. Dia kerjakan laporan-laporan kita juga. Yang bukan tugasnya.
”Kalau semua dilakukan hanya demi kelengkapan formal, apa itu bukan korupsi?” tanya Badu. ”Apa harus tertulis bahwa nurani itu penting?”
Meja terguncang. Ketua tim membentak. ”Nurani!? Tahu apa kamu soal nurani!?”
Anggota tim terdiam. Mereka tahu ketua mereka sedang merasa kalah argumen. Mereka tahu Badu benar. Tapi mereka juga tahu, di kantor ini, kebenaran adalah anak yatim.
”Buktikan!” ketua tim menantang.
Badu menyerahkan ponsel. Di layar, terpampang foto pejabat tinggi dari pusat, berdiri di podium acara Hari Antikorupsi. Di belakangnya, spanduk bertuliskan besar: ’Lembur Fiktif? NO!’
Ketua tim tercekat. Terdiam lama. Lalu membuka map, mengeluarkan leaflet kampanye integritas. Dia tidak menyerah. Ia justru memerintahkan bawahannya: periksa absen Badu, pakaian dinasnya, keterlambatannya, bahkan siapa yang terakhir diteleponnya. Badu diserang balik. Dikecilkan. Diroyok sistem.
”Kenapa hari ini tidak pakai seragam?” tanyanya, datar.
”Belum sempat laundry, Pak. Semalam pulang jam sebelas karena kerjaan dari seksi lain.”
”Pernah kamu keluar kantor di jam kerja tanpa izin?”
”Pernah, Pak. Untuk keperluan mengurus ATM dan lain-lain.”
”Ada blangko izin dari atasan langsung?”
”Tidak, Pak. Karena cuma sebentar.”
Ketua tim mencentang. Birokrasi bekerja. Nurani tertinggal di meja.
”Pak Rudi, sebagai atasan langsung, Anda harus menjatuhkan hukuman disiplin ringan pada Badu,” kata Burhan.
”Karena dia lupa absen dan tidak pakai seragam?” Rudi balik bertanya.
”Ya. Biar dia jera. Biar masuk daftar hitam kepegawaian.”
”Tapi Pak Burhan tahu, bukan itu masalahnya. Kita semua tahu.”
Burhan menatap tajam. ”Bukankah Pak Rudi sendiri yang dulu mengeluh Badu pendiam, tidak kooperatif?”
”Benar, Pak. Tapi kalau jujur jadi alasan dihukum, itu bukan disiplin. Itu balas dendam.”
Pak Burhan menatapnya lama, seperti melihat pantulan dirinya sendiri di masa muda, sebelum sistem menang.
Seminggu kemudian, di hari Jumat.
Surat mutasi turun. Rudi tidak dikirim ke Jawa. Tapi ke kantor kecil di sebuah kecamatan di pulau yang bahkan belum ada di Google Maps. Di lembar surat, alasannya: ”penyegaran organisasi”. Kalimat yang terdengar seperti parfum murah di antara bau anyir luka.
Ia tidak melawan. Ia hanya berkemas, pamit seadanya. Tak ada upacara. Tak ada foto perpisahan.
Pagi sebelum keberangkatan, ia menemui Badu. Di parkiran belakang, di antara motor-motor berdebu dan genangan kecil sisa hujan malam.
Badu mengangguk pelan. Ada beban di matanya yang tak sempat dibahas.
”Aku tahu kau tidak menjatuhkanku, Pak,” katanya.
Rudi tersenyum samar. ”Tapi juga tak menyelamatkanmu.” Rudi memandang jauh ke atap gedung yang mulai retak.
Badu menunduk. ”Mungkin itu yang paling adil di tempat seperti ini.”
Sejenak mereka diam. Angin berembus lewat sela-sela gedung, membawa suara pengajian dari musala samping.
Pak Rudi, sebagai atasan langsung, Anda harus menjatuhkan hukuman disiplin ringan pada Badu.
Sebelum pergi, Badu mengulurkan sesuatu. Sebuah pulpen biasa, merek murahan, namun ada goresan kecil di sisinya.
”Dulu Bapak pernah minjam ini waktu tanda tangan pengajuan dana, ingat? Saya simpan terus. Enggak tahu kenapa.”
Rudi memandangi pulpen itu lama, lalu mengangguk pelan. Hatinya seperti digesek sesuatu yang lembut dan tak terlihat.
Ia berjalan menuju gerbang, melewati lorong kosong yang dulu begitu akrab. Setiap sudut punya suara. Setiap kursi pernah memanggilnya. Tapi pagi itu, semua diam.
Menuju tempat tugas barunya, di atas kapal kayu kecil yang mengangkut sayur dan keramik, Rudi duduk menatap ombak. Kabut tipis menggantung di ujung cakrawala, seolah memisahkan antara dunia yang nyata dan yang ideal. Laut berdesir lambat, seperti napas panjang seseorang yang kelelahan.
Sesekali, air asin menempel di kacamatanya. Ia tak tahu apakah itu dari percikan ombak atau dari matanya sendiri. Mungkin keduanya. Ia tak lagi mencari tahu apa bedanya antara perih dan pasrah.
Dari pelabuhan kecil, ia menyambung dengan bus tua, menyusuri jalan tanah yang berlumpur, menembus hutan dan kabut. Pohon-pohon berdiri seperti siluet sunyi, dan rumah-rumah panggung muncul sesekali di sela lereng, seperti bisikan kehidupan yang jauh dan tenang.
Rudi menyandarkan kepala ke kaca jendela. Jalanan berguncang, tapi pikirannya lebih goyah.
Dari bangku belakang, seorang anak muda membuka Youtube. Suara ceramah membelah sunyi:
”…Umar bin Abdul Aziz memadamkan pelita saat anaknya masuk. Ia tak ingin minyak rakyat digunakan untuk urusan pribadi.…”
Rudi memejamkan mata. Dulu ia seperti Badu—muda, yakin, berintegritas, percaya pada nilai. Lambat laun arus membawanya, dan dia tidak lagi melawan, demi anak istrinya.
Ia teringat masa mudanya—bagaimana dulu ia bertahan dibentak-bentak senior, dikucilkan teman seangkatan, dikatai munafik hanya karena menolak amplop ucapan terima kasih.
Ia pernah menjadi seperti Badu. Pernah berdiri di garis yang tegas, dengan dada penuh prinsip. Tapi waktu adalah penghapus yang sabar. Sedikit demi sedikit, garis itu pudar.
Ia tahu dirinya tak seutuh dulu. Nilai kejujuran Umar bin Abdul Aziz yang dulu ia dekap di dada, kini telah menjadi kain perban kusam yang hanya ia simpan—bukan untuk dipakai, hanya untuk dikenang.
Ia memang tak menyelamatkan Badu. Tapi juga tak sanggup menjatuhkannya.
Dan itu—baginya—adalah perlawanan terakhir dari nurani yang belum sepenuhnya mati.
Setidaknya, ia bukan musuh orang jujur.
Ia menggenggam pulpen murahan pemberian Badu, erat-erat, seakan benda kecil itu adalah kompas terakhir yang tersisa. Lalu menatap langit. Langit yang diam-diam mencatat.
Air matanya jatuh pelan. Ia biarkan saja.
Bukan karena ia lemah. Tapi karena akhirnya ia mengerti: kadang, tak semua orang bisa jadi pahlawan. Tapi setiap orang bisa memilih untuk tidak jadi pengkhianat.