Demo ketiga kali di awal pemerintahanku ini kembali terjadi, para demonstran yang terdiri atas ribuan nasi memenuhi lapangan bibirku, mereka menuntut keadilan. Berbagai spanduk dan pamflet terbentang, bertuliskan: ”Jangan sisakan kami untuk dibuang, kami hidup untuk melayanimu”. Mereka adalah sisa-sisa nasi yang tidak kuinginkan, nasi yang kubuang dengan sengaja, sebab yang kuinginkan untuk negaraku, adalah rakyat yang sejahtera, rakyat modern yang terdiri dari seblak, mi gacoan, fried chicken, dan kebab serta burger.
Sebagai Presiden di Negara ”Tubuhku”, aku sangat sibuk melayani rakyat. Jadwalku sebagai orang nomor satu di negeri ini sungguh superpadat, melebihi kemacetan Jakarta. Kemacetan yang berakar pada cepatnya pembangunan dan pesatnya perekonomian. Begitu banyak rapat dan kunjungan yang mesti aku hadiri secara langsung demi kelancaran dan kesejahteraan negeriku, meski dengan sukarela harus kutinggalkan beberapa jamuan makanan yang sudah disiapkan oleh ibuku di rumah.
Aku tahu, mereka tidak benar-benar hidup seperti rakyat kebanyakan. Tapi di kepalaku, tubuh ini memang negara yang harus kuatur sebaik-baiknya. Apa yang masuk ke perut, siapa yang duduk di kursi menteri rasa lapar, dan siapa yang harus rela dieliminasi demi cita rasa kekinian. Dalam struktur pemerintahanku, ibuku menjabat sebagai menteri logistik merangkap kepala dapur nasional—tanpa tanda jasa, tapi sangat berjasa. Ia bukan sekadar juru masak, melainkan penyambung hidup bangsa bernama Tubuhku.
Ibu tak pernah absen menyiapkan makanan dengan menu yang bervariasi, ayam goreng, sayur lodeh, ikan asin, tempe goreng, sup. Meski tanpa pembantu, perempuan berumur 50 tahun yang menyukai lagu-lagu Scorpions itu, dengan tepat waktu mampu mendistribusikan makanan untuk rakyatku sampai dengan keadaan layak dan bergizi, takarannya tak berkurang sedikit pun, tak pernah terkorupsi. Ibu menjelma menjadi penegak keadilan yang tidak pandang bulu, dibalik kelembutan dan keriputnya.
Tapi jangan dikira ibu hanya lembut pada nasi dan rajin pada dapur. Di balik apron dan sendok sayurnya, tersembunyi tangan besi yang pernah mengguncang masa kecil kami. Dan kakakku, Temujin—yang namanya seakan ditakdirkan jadi penakluk Asia—ternyata lebih dulu ditaklukkan oleh ibu. Ia dijadikan kelinci percobaan dalam eksperimen pola asuh paling revolusioner: pendidikan keras tanpa Wi-Fi, tanpa sinyal, dan tanpa hak bertanya kenapa. Ia diasingkan di pelosok desa, hidup bersama nenek. Hidup seperti ketika ibu masih kecil.
Sekali dalam setahun kami mengunjunginya, yaitu pada hari raya Idul Fitri. Aku tidak bisa memastikan, apakah orangtuaku menjenguk nenek, atau mereka benar-benar mengunjungi kakak. Sebab dari yang kulihat, tidak ada sapaan dan pelukan untuk kakakku yang berbadan atletis dan bertubuh tinggi itu. Seperti biasa, ibu sangat dingin dalam memainkan perannya. Ia selalu menyuruhku berbicara dengan kakak, menanyakan kabarnya, bagaimana kehidupannya selama ini dengan dalih: ”Kamu bisa belajar kemandirian dan kepemimpinan dari Temujin”.
Memang harus diakui, kakakku sangat sukses memimpin negaranya sendiri, hal ini tampak dari rakyatnya yang makmur, dan militernya yang siap tempur, berotot kekar dan jago dalam urusan perang. Untuk urusan yang berkaitan dengan militer dan disiplin, aku selalu meminta saran darinya.
Pernah suatu hari aku bertanya, ”bagaimana cara mengatasi demo?” dengan ekspresi datar dan dingin kakak menjawab ”hukum mereka, kalau tidak bisa musnahkan mereka”. Melalui sifat kakak ini, aku jadi sedikit tahu bagaimana gambaran masa lalu ibu dalam menaklukkan ayah, termasuk dalam memimpin dan mengurus keluarganya.
Dulu, saat demo pertama kalinya yang dilakukan oleh para nasi sisa, sempat terpikir olehku saran dari kakak, tapi tak jadi kulakukan, sebab aku juga teringat oleh saran lain dari adikku, Harun Ar-Rasyid, yang menyarankan untuk menerima setiap kritik dan mengayomi rakyat dengan cinta kasih.
Di antara ketiga anak ibu, Harun adalah pengecualian, ia dibesarkan dengan cinta, dimanja, dan paling dijaga dari yang namanya kejahatan. Ia menjelma menjadi anak emas dalam keluarga kami, seolah ia lahir sebagai representasi dan pelengkap harapan serta kekosongan yang belum pernah kami ekspresikan: cinta. Tak mengherankan bila ia menjadi satu-satunya cinta yang kami punya. Harun juga berhasil dalam memimpin negaranya sendiri-aku heran kenapa semua anak ibu menjadi pemimpin-. Rakyatnya damai, sejahtera, dan penuh cinta kasih. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan perpustakaan megah dibangun di pusat kepalanya.
Dari semuanya, yang paling tidak jelas statusnya adalah aku. Dan ini berdampak pada bagaimana aku menjadi seorang presiden. Menjadi seorang pemimpin. Meskipun Temujin diasingkan dan hidup bersama nenek, setidaknya ia masih beruntung ada seseorang yang mengasuhnya. Pernah suatu hari, aku cemburu karena perhatian ibu sepenuhnya dicurahkan untuk Harun. Saat itu aku kesal dan pergi dari rumah. Seminggu aku di rumah nenek, berharap merasakan penderitaan yang sama seperti Temujin. Penderitaan yang akhirnya disembuhkan oleh nenek. Tapi harapanku pupus, bahkan nenek pun tak pernah memperhatikanku. Kasih sayangnya sepenuhnya hanya untuk kakakku, Temujin.
Karena semenjak kecil sampai sekarang, tak ada kasih sayang dan perhatian yang kudapatkan, aku tumbuh sebagai seorang pemimpin yang dingin, tak acuh terhadap segala sesuatu, bahkan kepada rakyatku sendiri. Rakyat yang kini menggumpal, berdesakan meminta keadilan.
Sejak awal, aku memang tidak tertarik untuk memperhatikan mereka, apalagi mendengarkan aspirasi yang menuntut keadilan. Merepotkan. Buang-buang waktu dan atensi.
Aku terlalu sibuk mencari uang, mencari jabatan, mencari validasi, dan mengikuti tren Eropa. Bagiku, itulah satu-satunya cara agar aku tetap bertahan menghadapi kesunyian. Menghadapi kesendirian tanpa perhatian. Melalui media sosial, aku bisa mendapatkan semuanya, hiburan, pelukan yang menenangkan, dan waktu yang berharga untuk dihabiskan.
Setiap hari, aku sibuk mem-branding diriku sendiri, membangun citra publik dengan narasi yang membuat mereka percaya bahwa aku layak menjadi presiden. Aku memang berbeda dengan kedua saudaraku, yang menjadi pemimpin karena rakyat benar-benar memilih mereka. Aku memaksa rakyat memilihku, membuat mereka tidak ada pilihan lain. Sementara, di dalam kepalaku telah kususun strategi untuk menyingkirkan mereka. Mengganti mereka dengan rakyat kelas atas: seblak, fried chicken, mi gacoan, piza, burger.
Demo untuk kali ketiga ini, adalah saat di mana rencanaku akan berjalan sempurna. Telah kulatih semua tentaraku untuk hari ini, saat ini. Memusnahkan mereka, sesuai saran kakakku.
Kompas/Supriyanto
Dengan satu perintah, tentaraku siap pada posisinya. Di atas podium, aku berpidato untuk mengantar mereka ke alam baka.
”Rakyatku yang sia-sia dan jelata. Maaf, kalian harus pergi kali ini. Wajah-wajah kalian yang kusam, dekil, sebenarnya sungguh mengganggu bagi kesejahteraan negeriku ini, jangan salahkan aku jika aku mengabaikan kalian, lihatlah! Kalian sungguh tidak menarik, tidak cocok hidup dalam zaman modern ini, zaman yang berkiblat pada peradaban Eropa. Selamat tinggal. Sekarang, tembak dan musnahkan mereka!” perintahku kepada pasukan yang siap dengan pistol di tangan mereka, tanpa memberi ruang bagi rakyatku yang miskin, untuk membela diri.
Dor!dor!dor! suara peluru membelah keributan dan huru-hara saat itu. Rakyatku terperanjat menyaksikan kejadian yang berlangsung selama satu detik itu. Mata mereka seakan tertahan di kepala. Tak percaya apa yang terjadi. Begitu juga dengan diriku.
Aku roboh, tubuhku bersimbah darah, dengan kurang lebih 700 peluru bersarang di kepalaku. Dari jauh, samar kulihat Temujin, Harun, dan Ibu. Mereka tersenyum, seolah menanti momen ini. Sebelum benar-benar menutup mata untuk terakhir kalinya, sayup terdengar jeritan rakyatku, mereka menangis dan berteriak ”kami tidak membencimu, kami selalu menyayangimu”. Sebuah kata-kata yang selalu ingin kudengar dari keluargaku. Sebuah kata-kata yang mengantar tubuhku kembali, dengan senyuman. Kata-kata yang lembut memeluk jiwaku.
”Aku bodoh. Maaf!” suaraku pelan hampir tak pernah terucap.