Kupungut Dunia dari Tanah dan Kutemukan di Layar
Ahmad Justang · 31 Desember 2025
Sumber: Kompas
”Tak semua anak dilahirkan bersama sinyal.”
Beberapa dari kami harus menunggu di bawah pohon sawit, menatap langit kosong, menakar apakah angin hari ini membawa pesan, atau sekadar debu dari jalanan yang belum diaspal.
”Aku boleh pinjam HP-mu, Kak?” tanyaku lirih suatu pagi.
Kakakku mengernyit. ”Buat apa lagi? Main game?”
”Enggak. Buat tugas,” jawabku pelan.
Dia diam sebentar. Lalu menyimpan HP-nya ke dalam saku dan masuk ke dalam kamarnya tanpa sepatah kata.
Aku tahu itu jawaban halus yang menyakitkan. Tapi aku sudah terbiasa.
Kala itu aku duduk di bangku kelas tujuh. Sekolah sudah bukan tempat duduk dan papan tulis. Sekolah kini tersembunyi dalam grup Whatsapp.
Tugas datang sebagai foto, suara, dan pesan singkat yang tak pernah kuterima.
Namaku bahkan tidak ada dalam daftar grup itu. Dan karena tak pernah masuk, tak ada yang merasa kehilanganku.
Malam-malam aku sering mendengar ibuku berbicara dengan ayah, suara mereka seperti desir angin yang hanya terdengar jika kau benar-benar mendengarkan.
”Anak itu kasihan juga ya, Yah,” ujar ibu pelan. ”Kalau tidak dikasih HP, dia tidak bisa ikut belajar.”
”Kalau kita punya lebih, pasti sudah kubelikan,” jawab ayah. ”Tapi kita saja masih nunggak di warung.”
Aku mendengar itu sambil memeluk dengkul. Rasanya seperti duduk dalam ruangan yang tidak ada jendelanya. Gelap dan sempit, tapi tak ada pilihan keluar selain bersabar.
Maka aku turun ke tanah.
Ke kebun sawit yang bukan milik kami. Ke jalan-jalan belakang, tempat truk-truk pernah berhenti dan meninggalkan jejak berondolan.
Aku tahu waktunya saat suara mesin mulai menghilang. Itu tanda kami boleh berebut. Aku dan anak-anak lain melompat dari semak. Tidak ada aba-aba, tidak ada batas. Siapa cepat dia dapat.
”Jangan diambil semua!” teriak anak yang lebih tua kepadaku.
”Ini yang sebelah sini punyaku!” balas yang lain.
Tapi kami tetap memungut. Satu demi satu, seperti memungut huruf dari tanah, menulis mimpi dengan keringat dan debu.
Berondolan itu kecil. Tapi mereka punya harga. Dan harga itu perlahan mengisi kaleng bekas susu yang kusembunyikan di bawah tempat tidur.
Setiap uang yang kutaruh di dalamnya seperti menyalakan satu titik cahaya di ujung lorong gelap. Aku percaya, sekecil apa pun cahaya, ia tetap bisa membimbing jalan.
”Bu, kalau nanti aku punya cukup uang, boleh beli HP sendiri?” tanyaku suatu sore.
Ibu menoleh dari tungku masak. ”Uang dari mana?”
”Dari berondolan. Aku kumpulkan.”
Ia terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. ”Kalau memang itu dari usahamu sendiri, ibu ridho.”
Setiap uang yang kutaruh di dalamnya seperti menyalakan satu titik cahaya di ujung lorong gelap.
Dan hari itu aku percaya satu hal:
”Tidak semua doa harus dipanjatkan lewat lisan. Sebagian doa bisa ditanam dalam kerja keras, lalu dipanen dalam waktu yang tepat.”
Motor tua kami hanya tahu dua hal. Mengeluh dan berjalan. Dan malam itu, ia memilih berjalan.
”Ayo siap, Bu. Tokonya buka sampai jam sembilan,” kataku sambil merapikan uang tabungan yang kusimpan dalam kantong plastik bening.
Ibu hanya mengangguk, lalu mengambil kerudung dan jaket tipis. Motor kami sudah lama tak layak jalan, tapi malam itu kami paksa juga ia mengantar mimpi.
Perjalanan ke toko memakan waktu hampir tiga puluh menit. Jalanan gelap, beberapa bagian berlubang. Lampu motor meredup setiap kali angin berembus kencang.
”Motor ini kayaknya bisa protes kalau tahu tujuannya jauh,” kelakar ibu, berusaha mencairkan udara dingin.
Aku tertawa kecil. ”Asal sampai, Bu. Nanti kita ajak dia istirahat panjang.”
Kami tiba di toko ponsel saat langit sudah menggulung cahaya terakhir. Lampu-lampu putih menyala di etalase. Di balik kaca berjejer nama-nama asing yang dulu hanya bisa kulihat dari genggaman temanku.
”Saya cari HP yang bagus, tapi harganya miring, Bang,” ucapku kepada penjaga toko.
Ia melihatku dari ujung kepala sampai sandal jepit. Lalu mengambil satu kotak kecil dan meletakkannya di atas meja.
”Ini, Vivo Y12s. Harga awalnya satu juta sembilan ratus.”
Aku menggigit bibir, lalu menatap wajahnya penuh harap.
”Kalau bisa, tolong kurangin, Bang. Uangnya cuma ada segini nih.”
Penjaga toko menatapku. Ia terdiam sebentar, lalu menghela napas.
”Baiklah, saya hitung dulu.”
Harga itu adalah hasil dari musim kering, dari matahari yang membakar, dari langkah kaki yang tak pernah menyerah.
Ia mengambil kantong plastik berisi uang dari tanganku, lalu membukanya perlahan. Satu per satu lembaran dihitung, koin-koin dipisahkan. Suaranya beradu pelan di atas meja kaca. Ia tidak bicara apa-apa, hanya fokus menghitung. Tangannya cekatan, tapi matanya sesekali melirikku.
Setelah selesai, ia mendongak dan berkata, ”Semua di sini ada satu juta tujuh ratus tiga puluh.”
Lalu ia tersenyum kecil. ”Ya sudah ambil saja. Saya buatkan tanda terimanya dulu.”
Aku mengangguk. Tidak ada basa-basi. Harga itu bukan sekadar angka. Harga itu adalah hasil dari musim kering, dari matahari yang membakar, dari langkah kaki yang tak pernah menyerah.
Sesampainya di rumah, aku langsung membukanya.
Layar itu menyala seperti pagi pertama dalam hidup yang lama tertunda.
Kupandangi lama-lama, seakan takut nanti tiba-tiba hilang atau meleleh. Tanganku bergetar saat menyentuh ikon Whatsapp.
Untuk pertama kalinya, aku tidak hanya bisa melihat dunia. Aku bisa merasakannya, menyentuhnya, bahkan menjawab.
HP itu menemaniku selama masa SMA. Hadir bahkan sebelum aku benar-benar masuk sekolah, dan rusaknya pun terjadi sesaat setelah aku tamat. Ia seperti kawan seperjalanan yang tahu kapan datang dan kapan harus pergi.
Selama perjalanan itu, banyak luka yang ia terima. LCD-nya pernah diganti tiga kali. Pernah jatuh saat hujan deras. Bahkan pernah tercebur ke dalam air karena sekolahku berada di pinggir laut dan banjir datang tanpa aba-aba.
Saat itu aku panik sepanik-paniknya. Rasanya seperti paru-paru ikut tenggelam bersama harapan.
”Astaghfirullah... jangan mati dulu,” bisikku sambil mengangkatnya dari genangan.
Setelah kuusap-usap dan kujemur sebentar, ajaibnya ia menyala. Aku langsung sujud syukur.
Itu bukan sekadar HP. Itu adalah saksi hidup bahwa sesuatu yang diperjuangkan tidak mudah patah.
”Eh, kamu jualan, ya, sekarang?” tanya salah satu teman lewat chat.
”Iya, buka online shop kecil-kecilan,” jawabku.
”Hebat. Dulu gak punya HP, sekarang bisa punya usaha.”
Aku tak langsung membalas. Hatiku tersenyum. Karena dari HP itulah aku belajar tentang konsistensi, tentang kepercayaan, tentang usaha yang tak harus ramai tapi sampai.
Keuntungan dari jualan itu lama-lama menumpuk. Aku bisa beli kuota sendiri, bisa beli perlengkapan sekolah, bahkan aku mulai menabung untuk kuliah.
Dan yang paling membahagiakan, dari HP itulah aku bisa membeli HP baru lagi dengan uang sendiri.
”Kadang sesuatu yang sederhana bisa menjadi titik balik besar dalam hidup jika kita sabar dan tekun menjalaninya”.
Ketika HP pertama itu akhirnya benar-benar rusak, aku tidak sedih.
Aku hanya menatapnya, menyentuh layarnya pelan, lalu berbisik dalam hati, ”Terima kasih, karena telah hadir saat aku tak punya siapa-siapa.”
Sekarang, dunia tak lagi hanya kutemukan di layar.
Ia kutemukan juga di pikiran yang berkembang, di langkah yang mantap, dan di keyakinan bahwa ”apa pun yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya”.
Dan aku percaya, cahaya yang berasal dari dalam tak akan pernah padam. Bahkan ketika layar terakhir pun mati.