Lampion Siang Bolong
Agus Dermawan T · 29 Januari 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
”Hai, cucuku. Engkong mengundangmu ke pojok gedung sekolah ini lantaran Engkong ingin bercerita banyak sekali. Semoga kau mau mendengarnya,” kata orang tua itu dengan suara serak. Sepeda kuno merek Simplex yang tadi ia kendarai rapi disenderkan. Matanya yang sipit menatap sekeliling gedung sekolah kusam dan sunyi-sepi.
”Saya selalu khidmat mendengar cerita orang sangat tua, Kong. Meski saya tidak tahu, Engkong ini siapa dan datang dari mana,” sahut si cucu.
”Nanti kamu akan tahu. Setidaknya setelah ceritaku kau dengar dengan seksama,” kata Engkong.
”Saya akan mencermati, Kong. Saya yakini, pertemuan rahasia di tengah hari ini akan jadi peristiwa puisi.”
”Kalau begitu, baiklah, cerita Engkong mulai. Begini. Syahdan dahulu, sebelum tahun 1960, di desa Engkong hanya ada dua Sekolah Rakyat yang dikelola oleh negara. Sekolah Rakyat Negara yang dua gelintir ini sungguh tidak mencukupi untuk menampung 400-an anak-anak peserta didik yang tersebar di banyak wilayah dusun dan desa. Seperti Desa Gladak, Watukebo, Macanputih. Dusun Aliyan, Karangbendo sampai Gintangan…. Engkong dan teman-teman sepantaran, yang semuanya keturunan Tionghoa, prihatin dengan keadaan itu.”
Engkong beringsut, membetulkan posisi duduk dan membenahi celananya yang kusut.
”Lalu… lalu kami membuat Timprit, satu tim sekecil burung emprit. Timprit mengusulkan kepada pemerintah untuk membangun minimal satu Sekolah Rakyat Negara di setiap dusun dan desa. Kami katakan bahwa Sekolah Rakyat Negara sangat dibutuhkan oleh masyarakat kelas bawah karena sekolah ini tidak menarik biaya pendidikan kepada siswa. Ini berbeda dengan sekolah swasta.”
Bicara Engkong terhenti sejenak lantaran agak tersedak.
”Selain mengeluhkan ketiadaan Sekolah Rakyat Negara, Engkong dan teman-teman juga memperhatikan, betapa situasi sosial kala itu harus diwaspadai. Karena diam-diam di desa kami muncul gap pendidikan antara masyarakat bumiputera dan masyarakat Tionghoa. Waktu itu di desa kami sudah ada Sekolah Tionghoa. Gedung sekolah ini apik dan berlantai dua. Ihwal gedung itu orang-orang di desa bilang: mograng neng awang-awang, dipandeng silap sawang sinawang. Artinya, berdiri gagah di ketinggian, dipandang silau, dan tidak bisa dibanding-bandingkan. Guru-gurunya pun lengkap dan sangat siap.”
Engkong mengambil napas. Pendengaran si cucu semakin awas.
”Sekolah ini bahkan menyediakan bus khusus untuk antar-jemput siswa. Maka pada setiap jam di jalanan desa kami bersliweran bus sekolah mereka. Sementara para pelajar bumiputera yang sempat bersekolah cuma berjalan kaki saja, maksimal naik sepeda, atau naik becak atau delman milik ayahnya. Yang ironis, pemerintah justru melarang peserta didik bumiputera masuk ke Sekolah Tionghoa. Padahal, Sekolah Tionghoa itu dengan ramah hati bersedia menerima murid dari mana saja.”
”Buset. Itu kebijakan di luar nalar, Kong,” sela si cucu.
”Nanti dulu!” sergah Engkong.
Terdengar suara gemerasak di ketinggian. Pelepah pohon kelapa melayang dan terjerembab di tanah kering di sebelah Engkong. Debu menghambur. Pecahlah hening. Tapi Engkong sama sekali tak bergeming.
”Usaha Timprit dalam mendorong pemerintah untuk mendirikan Sekolah Rakyat Negara ternyata terhalang pintu baja. Lalu kami berinisiatif mendirikan Sekolah Rakyat Swasta. Untuk mengorganisasi pendirian, kami mendekati Yayasan Carmelio di Kota Malang. Kami menjelaskan bahwa desa kami adalah wilayah yang bagus untuk sekolahan karena lokasinya tepat di tengah impitan beberapa desa lain. Seperti Srono, Benculuk di selatan; Kabat di utara, serta Genteng dan Gambor di barat. Letak yang memusat ini terbukti pernah menstimulasi pemerintah Hindia Belanda untuk membuat desa kami sebagai kota mini percontohan. Kau tahu, cucuku, di sini sejak dulu telah ada stasiun kereta api, kantor pos, gedung pertemuan, gereja, masjid, klenteng, toko buku, dan pasar. Juga lapangan untuk jaarbeurs atau pasar malam tahunan.”
Engkong menatap wajah si cucu yang tampak semakin ingin tahu.
”Pada tahun 1930-an Ki Hajar Dewantara juga terpikat desa kami sehingga menugaskan Sudjojono untuk jadi guru di situ sambil mengembangkan lembaga pendidikan non formal Taman Siswa. Kau mestinya tahu, Sudjojono pada kemudian hari menjadi tokoh besar seni lukis Indonesia.”
”Saya tahu nama Sudjojono, Kong. Kan dari dulu saya ingin jadi pelukis,” kata si cucu.
”Tapi tunda dulu soal Sudjojono. Engkong teruskan, ya.”
Langit biru tiada berawan seperti mengabarkan bahwa kemarau datang sebentar lagi. Burung elang di langit sayup-sayup menyapa dengan suara tinggi: keliii... keliii... keliii….
”Menilik geografi dan sejarah yang menarik, Yayasan Carmelio setuju untuk mendirikan sekolah di situ. Kami sangat senang. Lalu pada akhir 1958, dengan dukungan organisasi Tiong Hoa Hwee Kwan, yayasan membeli sebidang tanah luas. Pada Agustus 1959 berdirilah Sekolah Rakyat Swasta Masabakti. Gedung sekolahnya lumayan bagus, dilengkapi lapangan voli. Bahkan lapangan bola yang dikelilingi pohon kapuk randu, yang apabila buahnya pecah akan melayangkan benda-benda putih bagai salju. Engkong ingat, Ramang, Lim Sun Yu, Sutjipto Soentoro, dan Phoa Sian Liong pernah berlatih bola di situ, sebelum mereka bertanding di stadion Tirtowangi. Sekolah itu adalah tempat kita berada sekarang ini, cucuku. Di sini.”
Jari Engkong menunjuk lingkungan sekitar dan tempat ia berdiri.
”Saya sudah menduga. Sudah menduga, saya,” sahut si cucu dengan agak bangga.
”Jangan bangga dulu. Engkong lanjutkan kisahnya.… Meski dikelola orang-orang Tionghoa, sekolah Masabakti menerima murid yang berasal dari mana saja, suku apa saja, agama apa saja. Itu seperti yang kami konsepkan sejak mula. Soal biaya pendidikan dilakukan dengan gotong royong. Yang punya uang membayar sesuai kewajiban. Yang seperempat kaya membayar sekadarnya saja. Yang belum berpunya tidak usah bayar apa-apa. Maka sekolah kami pun punya banyak siswa. Problem kekurangan Sekolah Rakyat Negara pun tertambal. Meski kami merasa masih jauh dari ideal....”
Si cucu tersenyum lega. Engkong menarik napas dengan membusungkan dada, seperti mengatur tenaga-dalamnya.
”Untuk melanjutkan perjuangan pendidikan, pada tahun 1962 Timprit mendirikan Sekolah Menengah Pertama Teratai yang dibiayai para donatur Tionghoa anggota organisasi Baperki, itu Badan Pembauran Kewarganegaraan Indonesia. Sekolah ini menerima murid dari kalangan mana saja, dengan biaya pendidikan yang lagi-lagi saling subsidi. Lulusan Sekolah Rakyat Negara yang tak punya biaya untuk menempuh sekolah lanjutan dipersilakan belajar di sini, dengan uang sekolah semurah-murahnya.”
Si cucu tertegun. ”Hebat,” katanya.
”Dan, ini dia yang paling Engkong ingat! Setahun setelah pendirian sekolah menengah itu Engkong diangkat sebagai Wali Sekolah. Atas jabatan tersebut, anak-anak Engkong yang semuanya sekolah di situ punya posisi yang ’patut diperhatikan’. Namun, jangan dikira perhatian itu sama dengan penganakemasan. Jangan dikira!”
Si cucu terkejut. Alisnya merengut.
”Pada suatu hari sejumlah siswa dari kelas tiga berusaha menghindari pelajaran dari guru yang tidak mereka sukai. Guru itu mengajar setelah jam istirahat. Maka, pada jam istirahat itu para siswa lelaki, yang berjumlah sembilan, bersepakat melincur pergi ke Waduk Bunder. Setelah satu jam bermain-main di situ mereka semua balik. Dan-ohooi!-di depan pintu kelas telah menunggu sang kepala sekolah dengan wajah membatu. Hukuman pun dijalankan. Mereka dijewer keras satu per satu. Apakah anak Engkong yang ada dalam rombongan melincur itu juga kena hukuman? Tentu! Guru sama sekali tidak pandang bulu! Ah, Engkong tak bisa membayangkan apabila itu dilakukan pada masa sekarang, pada generasimu. Cerita kiamat pak guru jadi berita di televisi, media sosial dan koran! Pak guru akan dicokok polisi, dimasukkan bui, untuk kemudian dibikin jadi pengangguran.”
Di sehampar lapangan yang kering terlihat liukan kecil puting beliung. Pasir-pasir halus dipuntir-puntir semau-mau. Pusarannya yang kencang bergerak ke atas, meruncing, sambil membawa keping-keping sampah kering.
“Eh, apa dikata pada ujung tahun 1965 Gestapu, atawa Gerakan September Tiga Puluh, meletus! Peristiwa kudeta berdarah-darah yang membantai tujuh jenderal itu disebut-sebut dikendalikan oleh satu partai Dan partai itu disebut-sebut mengafiliasi Baperki. Sementara rumor politik berdesas-desus bohong bahwa kudeta itu disponsori oleh pemerintah Republik China. Kau pasti tahu, China adalah negeri asal-muasal orang-orang Tionghoa.
“Saya tahu, Kong.”
Lalu, astaga, Sekolah Menengah Pertama Teratai yang dibiayai kaum Tionghoa pun dibubarkan, dibredel, digrendel. Sementara Sekolah Rakyat Swasta Masabakti ditutup, untuk kemudian disita, atau diambil alih oleh negara. Diambil alih, karena Masabakti dianggap sebagai perintis dan penyadar pemerintah untuk membangun berbagai Sekolah Negara, yang sekarang, di masamu, cucuku, sudah berkembang menjadi 70 jumlahnya.”
“Samber geledek! Sekolah ditutup? Padahal Timprit dan Engkong sudah bersusah payah membangun itu. Soal politik, ‘kan lain urusannya, ” sela si cucu.
Engkong mencopot kacamatanya, dan mengelap kacamata buram itu dengan kausnya yang berwarna merah menyala.
”Engkong sungguh sudah sangat berjasa. Pemerintah seharusnya memberikan medali dan bintang kepada Engkong, sebanyak-banyaknya!”
Kelopak mata Engkong yang sipit setengah mengatup sehingga menipis bagai garis. Setelah terbatuk sedikit, Engkong seperti akan menangis.
”Itu pikiranmu, cucuku. Pikiran politik-sosial kala itu berkata beda. Pada tahun 1966, beberapa hari setelah tahun baru Imlek, Engkong justru ditangkap oleh segerombol anggota masyarakat. Engkong dan teman-teman Timprint diringkus dalam gelap malam hari. Di tengah hujan petir kami dinaikkan ke atas truk sapi dan dibawa ke Blimbingsari. Itu pantai tujuh kilometer sebelah timur desa ini, yang sekarang jadi lapangan terbang bagus sekali. Engkong dan teman-teman dibikin tamat hidupnya di sana. Sebelum menyudahi kami dengan panjang parang dan belati, para pembunuh berteriak lantang: orang-orang ini begundal Baperki, anteknya partai gila, alat kudeta negara China! Ayo nasibnya rame-rame kita bikin jelaga! Ayooo!”
Si cucu terperanjat dan melongo.
”Kau tahu, jasad Engkong dan teman-teman lama sekali terkubur di sana. Setiap kali roda pesawat menggelinding di aspal bandar udara, tubuh kami seperti ditimpa seribu batu dari runtuhan Gunung Annapurna! Baru pada gelindingan pesawat keseribu arwah Engkong dan teman-teman menyeruak dan terbebas dari bumi. Terbang ke langit tinggi, bergembira di surga, menari bersama warna-warni pelangi.”
Si cucu terperangah. Mulutnya menganga. Ia ingin bertanya. Tapi Engkong buru-buru beranjak pergi. Dengan susah payah Engkong mengontel sepeda Simplexnya menelusuri perspektif jalan raya. Sosoknya pelan-pelan melebur dalam kilau fatamorgana. Bayangan sosok dan kaus merah Engkong tampak bagai kerlap lampion di tengah hari. Hilang timbul, seperti puisi.
Si cucu terkesiap, dan tubuhnya lantas menguap menjadi asap. *
Kelapa Gading, Jakarta 7 -1- 2025.