Hari itu, langit tampak biru sebagaimana biasanya, dengan nuansa ironi yang kental. Di dasar laut, warna biru itu lebih seperti sisa kenangan—disterilkan dari harapan. Aroma asin tidak lagi segar, melainkan membawa bau samar bahan kimia dan plastik yang lunak oleh waktu.
Seekor gurita bernama Oktavio membuka rapat. Ia mengenakan dasi kupu-kupu yang dibuat dari kantong plastik bekas merek supermarket ternama. Di sekelilingnya berkumpul berbagai makhluk laut: Paus Bungkuk yang sudah lama pensiun dari migrasi, Penyu Tua dengan cangkang penuh coretan seperti grafiti bawah laut, dan Ikan Badut yang sudah tidak lucu lagi.
”Kita mulai,” kata Oktavio, lalu mengepulkan tinta sebagai efek dramatis, walau semua sudah muak dengan teatrikalitas.
”Hari ini, anak Paus Bungkuk menelan styrofoam.” Semua kepala menunduk, kecuali Seekor kuda laut dengan sedotan plastik menancap di mulutnya. Ia tidak bisa menunduk, bahkan tidak bisa berbicara tanpa suara seperti ”pffft—fft.”
”Itu bukan sekadar insiden,” lanjut Oktavio. ”Itu bagian dari pola. Pola kehancuran, penindasan sistemik oleh spesies berkaki dua yang tinggal di darat itu yang merasa memiliki segalanya, termasuk laut ini.”
Penyu Tua mendesah. ”Dulu, ombak hanya membawa kabar angin. Sekarang membawa sikat gigi dan sendok plastik.”
Paus Bungkuk mengaum pelan, ”Anakku, si kecil Bloop, pikir itu ubur-ubur. Dia belum tahu apa itu styrofoam. Kami tidak mengajarkannya dalam nyanyian keluarga.”
Di sudut, sekelompok ikan sarden sedang mengadakan pertunjukan spoken word bertema ”Microplastik di Pencernaan Kami”. Mereka sudah lama putus asa ikut rapat resmi.
Oktavio menempelkan lengannya ke pelipis. ”Tiap hari ada laporan. Kemarin si Kura-kura kecil terlilit tali rafia bekas parcel Lebaran. Minggu lalu, Dugong tersangkut tas jinjing bertuliskan ’Selamat Hari Bumi’.”
Mereka semua terdiam.
Kemudian, Ikan Hiu, yang dikenal sinis dan sarkastik, ikut bersuara. ”Kupikir kita sudah paham bahwa mereka tidak akan berhenti. Mereka bilang cinta alam, lalu swafoto sambil buang botol minuman ke laut. Ironi seperti matahari yang bersinar terang di atas rumah yang terbakar.”
Kuda laut mengeluarkan bunyi serak: ”Pft—pfft—! (Terjemahannya: ’Kita butuh solusi, bukan pernyataan sarkas!’).”
Penyu Tua mengangkat satu sirip. ”Mungkin sudah saatnya kita migrasi ke dimensi lain. Dunia paralel. Dunia di mana plastik tidak ditemukan.”
Itu bagian dari pola. Pola kehancuran, penindasan sistemik oleh spesies berkaki dua yang tinggal di darat itu yang merasa memiliki segalanya, termasuk laut ini.
”Dan masuk ke novel fiksi ilmiah? Jangan mengada-ada, Penyu!,” kata Hiu. ”Kita tidak sedang dalam karya Borges.”
”Ada tren yang mencemaskan,” katanya. ”Semakin banyak paus yang memilih tidak bereproduksi. Trauma kolektif. Kita perlahan menuju kepunahan.”
Seekor ubur-ubur, setransparan krisis eksistensial, mendesis, ”Apa gunanya bertahan, kalau setiap anak lahir untuk menderita? Bahkan plankton pun mulai tumbuh dengan lapisan mikroplastik.”
Oktavio menoleh ke semua peserta. ”Kita harus merumuskan satu resolusi.”
”Resolusi apa? Kita tidak punya parlemen. Tidak ada veto, tidak ada pengadilan lingkungan. Hanya arus yang makin asin dan perut kami yang makin penuh polimer,” jawab Paus Bungkuk.
Rapat bubar tanpa hasil.
Keesokan harinya, rapat hari kedua.
”Revolusi?” gumam Ikan Hiu sambil tersenyum sinis. ”Kita lempar balik plastik balik ke daratan?”
Seekor ikan buntal menyahut lirih, ”Kita tidak punya tangan. Yang punya cuma keluarga gurita, tak mungkin mereka sanggup melempar semua plastik yang jumlahnya jutaan kali lipat dari populasi mereka.”
Rapat hari kedua kembali mandek, tanpa ada hasil.
Suasana rapat hari ketiga terasa lebih berat. Tak banyak kata. Bahkan Ikan Badut memilih diam; mulutnya hanya membuka-tutup seperti memutar ulang napas lama yang basi.
Tiba-tiba, gelembung kecil naik dari dasar lumpur. Seiring dengan itu, tubuh mungil berwarna hijau transparan muncul dari gelap: sekelompok fitoplankton mengambang pelan ke tengah forum. Di antara mereka, satu tubuh agak lebih besar—fitoplankton tua, berjanggut halus dari filamen klorofil, membawa sesuatu yang mirip gulungan lumut sebagai notulen.
Ia tidak berbicara dengan suara, tapi melalui semburan sinyal kimia dan gelombang cahaya bioluminesens yang dipahami bersama oleh semua makhluk laut.
”Kami telah lama diam,” katanya. ”Terlalu lama. Kami yang menjadi paru-paru lautan, dan dengan sendirinya paru-paru dunia. 50, tidak, mungkin 70 persen dari seluruh oksigen di atmosfer berasal dari kami, dari proses sunyi kami di bawah sinar matahari, setiap hari, tanpa upah, tanpa jeda. Dan tubuh-tubuh kami kini penuh mikroplastik. Kami mulai melahirkan generasi yang tidak bisa lagi menyerap cahaya dengan sempurna.”
Semua yang hadir terdiam. Penyu Tua perlahan merapatkan siripnya. Ubur-ubur menggigil.
”Maka kami telah memutuskan,” lanjut fitoplankton itu. ”Kami akan berhenti. Untuk sementara. Kami akan menghentikan fotosintesis.”
Oktavio maju, canggung, suaranya sedikit bergetar. ”Tapi… tapi bagaimana caranya? Apa bisa?”
Satu fitoplankton muda melayang maju. Ia tampak masih cerah, meskipun ada bintik hitam mikroplastik di pinggir tubuhnya.
”Kami telah berkoordinasi dengan alga merah di pesisir tropis, dan dengan cyanobacteria di zona fotik samudra. Kami menyusun pola sinyal-mati: gelombang kimia yang akan mematikan enzim kunci dalam proses fotosintesis. Enzim rubisco, enzim yang membuat kami ’bernapas untuk dunia’, akan kami biarkan tidur.”
Ikan Hiu mengerutkan dahi. ”Dan kalian yakin… manusia akan menyadarinya?”
”Mereka akan,” jawab fitoplankton tua. ”Tapi tidak hari ini. Oksigen tidak menghilang dalam sekejap. Penurunan akan lambat, nyaris tak terlihat. Tapi pada hari ketujuh, manusia akan bertanya-tanya. Dan pada hari kelima belas, mereka akan panik.”
Paus Bungkuk menatap lekat. ”Ini bukan pembalasan, bukan?”
”Bukan,” sahut alga dari pinggiran lingkaran. ”Ini kelelahan.”
”Dan juga perlindungan,” tambah satu cyanobacteria dari kedalaman. ”Kami bukan mesin. Jika kami terus dipaksa bekerja dalam lautan beracun, maka pada akhirnya kami pun punah. Maka lebih baik kami memilih istirahat. Memperlambat. Memberi mereka kesempatan untuk merasakan kehilangan.”
Seekor ikan buntal pelan-pelan mengangguk, seolah paham maksudnya.
Kami bukan mesin. Jika kami terus dipaksa bekerja dalam lautan beracun, maka pada akhirnya kami pun punah. Maka lebih baik kami memilih istirahat. Memperlambat. Memberi mereka kesempatan untuk merasakan kehilangan.
Dan ketika malam itu sinar bulan menembus laut dengan pucat, sinyal itu dikirim. Gelombang tenang, tetapi tajam. Sebuah pesan berantai. Diikuti dalam hening oleh miliaran makhluk kecil yang selama ini diabaikan.
Keesokan harinya, di darat, tidak ada yang berubah. Atau, begitulah yang tampak.
Langit tetap biru. Burung masih berkicau. Mobil masih melaju di jalan-jalan. Tapi udara terasa... sedikit lebih tipis. Paru-paru orang-orang bekerja sedikit lebih keras, meski tidak cukup untuk menimbulkan kecurigaan. Hanya rasa lelah samar yang menempel seperti debu.
Tak ada yang tahu mengapa.
Hari-hari berikutnya, perubahan datang perlahan, seperti kabut yang tidak pernah diumumkan. Anak-anak yang biasanya berlari kini duduk lebih sering. Orang tua mulai terbangun tengah malam dengan napas pendek. Atlet kehilangan stamina lebih awal dari biasa. Tetapi semua itu dianggap angin lalu—hingga angka mulai berbicara.
Di ruang laboratorium yang disinari lampu putih mati rasa, para ilmuwan memandangi grafik kadar oksigen. Ada penurunan. Kecil, hanya sepersekian persen. Tapi konsisten. Lalu menurun lagi. Dua persen pada hari ketujuh.
Itu tidak masuk akal.
Tidak ada kebakaran besar. Tidak ada letusan gunung. Tidak ada peningkatan karbon ekstrem. Tapi udara semakin langka, seperti kebaikan dalam berita.
Rapat-rapat darurat digelar. Penuh jargon dan kekhawatiran yang disembunyikan dalam statistik. Beberapa pihak menyalahkan perubahan iklim, lainnya menyalahkan penggundulan hutan. Tapi tidak ada satu pun yang melihat ke arah laut.
Sampai hari kelima belas.
Pada hari itu, langit masih biru, tapi dada manusia terasa sempit. Dokter mulai meresepkan oksigen tambahan untuk pasien yang sehat. Daun-daun pohon layu lebih cepat. Orang-orang membicarakan udara dengan nada gugup, seolah takut kata-kata mereka bisa membuatnya menghilang sepenuhnya.
Dan akhirnya, seseorang menunjuk ke laut.
Penyelam diturunkan. Sampel diambil. Satelit diarahkan. Mereka menemukan plankton, alga, dan bakteri fotosintetik—masih hidup, tetapi diam. Tidak aktif. Tidak bergerak. Enzim rubisco mereka tidak bereaksi. Fotosintesis berhenti. Oksigen tidak diproduksi.
Seseorang—entah ilmuwan atau penyair—mengucapkan kata yang akan diulang jutaan kali sejak hari itu: ”Laut mogok.”
Mereka mencoba menyuap laut.
Kapal-kapal dikirim membawa teknologi pemurnian, proyek pembersihan, robot penyedot plastik. Spanduk dengan pesan harapan dikibarkan dari kapal penelitian: ”Maafkan Kami”. ”Selamatkan Laut, Selamatkan Diri Kami”.
Tapi laut tidak tersentuh.
Tidak menolak. Tidak merespons. Hanya menatap balik dengan permukaan halus seperti batu nisan air.
Di dasar laut, rapat kembali digelar. Kali ini lebih senyap dari sebelumnya. Tak ada tinta teatrikal. Tak ada puisi sarden. Hanya keheningan yang menjelma jadi kesepakatan.
Seekor gurita muda, berbeda dari Oktavio yang kini hanya mengamati, mengajukan pertanyaan pelan.
”Kita sudah membuat mereka sadar. Haruskah kita memaafkan?”
Seekor hiu tua melayang mendekat, gerakannya lambat seperti ingatan. ”Sadar bukan berarti berubah. Mereka sadar ketika karang memutih. Ketika paus terdampar. Tapi tetap buang. Tetap lupa. Sadar adalah langkah pertama. Tapi mereka selalu berhenti di sana.”
Penyu Tua menatap ke atas, ke arah cahaya matahari yang pecah di permukaan laut. ”Mungkin suatu hari mereka akan belajar. Tapi hari itu bukan hari ini.”
”Dan kita tak lagi punya waktu menunggu,” sahut cyanobacteria kecil dari celah batu karang. ”Kita tidak memaafkan atau menghukum. Kita hanya mundur. Karena kami pun punya hak hidup, bukan hanya fungsi.”
Di permukaan, hari-hari berlalu dengan perlambatan. Mesin masih berfungsi, tetapi manusia mulai tak berfungsi. Produktivitas menurun. Tumbuhan darat gagal berkembang. Panen rusak. Hewan-hewan darat mengembuskan napas lebih berat.
Langit tetap biru. Tetapi ia tidak lagi ramah. Ia hanya penutup dari ruang hampa yang makin terasa.
Sadar bukan berarti berubah. Mereka sadar ketika karang memutih. Ketika paus terdampar. Tapi tetap buang. Tetap lupa. Sadar adalah langkah pertama. Tapi mereka selalu berhenti di sana.
Kadar oksigen di atmosfer menyentuh tujuh belas persen. Tidak cukup untuk membuat manusia jatuh mati, tapi cukup untuk membuat setiap hari seperti mendaki bukit panjang tanpa ujung.
Orang-orang mulai berdoa. Mulai berbicara pada langit, pada laut, pada entitas yang bahkan tidak mereka hormati ketika laut masih memberi. Tapi tidak ada jawaban.
Karena laut telah memutuskan.
Dan ketika laut berhenti berharap, yang tersisa hanya diam. Diam yang dalam, diam yang tak bisa dipeluk, diam yang lebih tajam dari jeritan.
Dan diam, seperti laut, bisa membunuh perlahan.