BERTAHUN-TAHUN kemudian, tepatnya dua puluh satu tahun setelah semuanya berlalu, kau akan terkenang pada hari-hari musim semi di puncak bukit itu dengan semacam rasa kangen yang menyiksa dan kesedihan yang membara.
Saat itu seluruh negeri tengah bersiap merayakan seratus tahun kemerdekaan. Tetapi bagimu, apalah artinya kemerdekaan tanpa cinta?
Kau telah menjadi lelaki tua penyendiri di satu desa terpencil di kaki gunung yang hijau kemilau. Orang-orang di sekitar tempat tinggalmu mengenalmu sebagai orang tua aneh yang dianggap setengah pikun dan terkurung masa lampau.
Rasa kecewa membuatmu berhenti melakukan apa yang telah kau kerjakan dengan keras kepala selama puluhan tahun. Kini kau mengisi hari-harimu dengan menanam dan menuai, dan melewatkan malam-malammu dengan mengenang segala yang tersisa dari masa silam sambil menunggu waktu untuk pergi selamanya. Kau tahu bahwa kenangan tak hanya membawa bunga-bunga, tetapi juga ilalang liar.
Namun, kau masih dapat mengingat semuanya seakan-akan sedang melihat sebuah album foto dari masa lalu. Dulu kau mengira semua orang memiliki memori fotografis seperti dirimu. Ternyata itu anugerah yang hanya dihadiahkan Tuhan kepada segelintir manusia.
Seraya menyenandungkan “Ochi Chorniye”, memorimu mengembara pada citra jendela kaca ganda di lantai atas apartemen yang menghadap ke lembah hijau dengan pemandangan puncak gereja tua dan menara air di kejauhan. Saat pagi yang dingin dan kelabu tiba, dari jendela itu kau bisa melihat halimun mengapung di atas bukit dan lembah.
Jika cuaca cerah dan tak ada kelimun kabut yang menghalang pandang, dari puncak bukit, tepat di samping reruntuhan kastil, kau bisa melihat kehijauan dan lembah di kejauhan, Sungai Neckar yang meliuk dan rumah-rumah yang tampak mungil di bawah sana, jalur lintas rambah Neckarsteig, kerimbunan hutan Odenwald, dan perbukitan Kraichgau di selatan.
Ada banyak taman di bukit itu. Salah satunya Rosenplatz di gerbang desa. Di taman berdinding bata ini tumbuh aneka mawar warna-warni dari berbagai negeri, dari mawar merah gelap Baccara hingga mawar hibrida Osiris yang berwarna ganda kesumba dengan semburat putih cantik di kelopaknya. Ada pula sejenis mawar hitam Karagül yang berasal dari Halfeti, satu kota di Turki yang terhampar di tepi Sungai Eufrat. Mawar hitam yang langka itu tidak dapat tumbuh di sembarang tempat.
Terkadang kau duduk menyendiri sambil mengisap rokok kretek yang kau bawa dari tanah air dan memandang ke arah lembah dan bebukitan hijau di kejauhan di sebuah kursi yang terdapat di taman makam di samping Gereja Katolik. Kala berada di rantau, kau kerap membutuhkan kretek beraroma cengkih untuk menghiburmu; sesuatu yang mengingatkanmu pada kampung halaman dan membuatmu tak merasa sepi di negeri jauh.
Saat seperti itu, sesekali tampak burung gagak hinggap di ujung dahan pepohonan di sekitar. Terkadang muncul pula burung serupa sriti yang terbang berkelompok atau elang yang senang berkelana menyendiri.
Namun, kau lebih suka duduk sore-sore di taman Schlossgarten yang dikelilingi pagar batu tua di halaman belakang Gereja Protestan. Tentu itu bukan karena kau dibesarkan di keluarga Protestan meski kau sudah bertahun-tahun tak hadir di gereja. Tetapi, kau masih ingat saat orang tuamu mengajakmu menyanyikan kidung pepujian setiap Minggu di GKJW dekat rumahmu di satu kota kecil di Jawa Timur dan ibadat patuwen semasa kanak-kanak.
Dari bangku kayu di taman itu kau dapat memandang lepas ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumpun perdu berbunga kuning dan kelok sungai di kejauhan. Di taman itu tumbuh pohon ara, bewuk, dan burja perak yang berdaun rimbun. Di sana mekar pula bunga jagung biru, bunga matahari kuning, tulip jambon, mawar putih, dan begonia jingga.
Di taman yang serupa surga itulah kau berjumpa dengan Rosa.
Rosarina Neri berasal dari Bergamo, Italia, dan belajar sastra Jerman di Berlin. Dia menetap di desa itu setelah kawin. Rosa dan suaminya, Sebastian Schwarz, tinggal di rumah dua lantai di seberang Gereja Katolik. Berbeda dengan suaminya, Rosa rajin pergi ke gereja.
Sebastian karyawan perusahaan farmasi di kota, sedangkan Rosa bekerja paruh waktu di perpustakaan universitas yang berjarak setengah jam perjalanan dari sana. Dia juga penerjemah lepas buku-buku sastra Italia ke bahasa Jerman, terutama karya penulis perempuan—Grazia Deledda, Antonia Pozzi, Dacia Maraini.
Sore itu Rosa mengajak anjingnya berjalan-jalan melintasi taman. Dia melihatmu duduk sendirian di bangku kayu dekat rumpun mawar. Mula-mula kau seperti tidak menghiraukan kehadirannya. Kau duduk bergeming dan memandang ke arah bebukitan. Ada alat pendengar musik yang menyumpal kedua telingamu yang terhubung ke ponsel. Namun, saat dia melintas di depanmu, kau menatapnya tak berkedip.
Rosa memang menarik. Rambutnya bergelombang, hitam sebahu. Tubuhnya ramping serasi. Matanya gelap dan bening. Kelak kau akan mengingat bahwa sepasang mata itu seperti telaga jernih yang memantulkan biru langit dan bayangan burung-burung.
Merasa risih, Rosa menyapamu dalam bahasa Jerman yang formal, “Halo, selamat sore.”
“Hai. Selamat sore,” kau menjawab dalam bahasa Inggris yang santai seraya tersenyum. Tak hanya bibirmu, sepasang matamu juga ikut tersenyum.
Tiga hari kemudian, saat Rosa dan Sebastian duduk-duduk di beranda rumah mereka, kau tak sengaja lewat. Pada sore yang cerah itu, kau baru saja berjalan-jalan melintasi bukit. Kau melambai dan menyapa. Sebastian membalas sapaan itu dan kalian berkenalan. Kau memperkenalkan diri sebagai penulis yang datang dari Tenggara dan diundang untuk tinggal dan menulis di Kommandantenhaus di samping kastil selama tiga bulan sepanjang musim semi.
Rupanya kau dan Sebastian memiliki banyak kesamaan. Selain sebaya, kalian sama-sama menyukai musik rock, rokok, catur, dan sepak bola. Mungkin itu sebabnya kalian lekas akrab. Setelah perkenalan singkat itu, kau sesekali berkunjung sekadar untuk minum bir atau bermain catur atau menonton siaran langsung sepak bola di televisi.
Pada satu malam kau datang saat Sebastian tak ada di rumah. Waktu Rosa membuka pintu, dilihatnya dirimu basah kehujanan dan menggigil kedinginan. Rosa tak tega untuk tidak mengajakmu masuk dan menawarimu secangkir teh kamomil hangat.
Saat Rosa menyeduh teh di dapur, tiba-tiba dirasanya seseorang memeluknya dari belakang, membalikkan tubuhnya, lalu dengan kurang ajar mengecup bibirnya tanpa izin.
Rosa terkejut dan spontan menampar pipimu. Sepasang matanya yang bening menyiratkan pertanyaan. Namun, kau kembali mendekap dan menciumnya. Kali ini kecupanmu lebih panjang dan dalam. Rosa tak sanggup mengelak, tetapi juga tak membalas. Sejurus kemudian Rosa mendorong tubuhmu. Tetapi, kau kembali memeluknya dan merengkuh kedua pipinya, menatap lekat matanya, lalu mengecup lembut bibirnya. Kali ini Rosa menyerah. Kalian berpagutan. Saling lumat dalam dahaga.
Sejak itu Rosa kerap bertemu denganmu secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Sebastian. Sesekali dia bahkan berani menyelinap ke apartemenmu yang terpencil di samping kastil. Saat berpelukan tanpa busana, kalian seakan-akan kembali menjadi bocah manja yang lupa segala. Tak peduli bahaya yang bakal tiba.
Tak selalu bercinta, kalian justru lebih sering bercerita dan tertawa. Kau dan Rosa membicarakan apa saja: hal-hal yang kalian suka, juga tentang luka dan duka.
Rosa bercerita tentang kakeknya, pejuang partisan yang mati digantung Mussolini. Kau bercerita tentang kakekmu, aktivis kiri yang tewas dibantai dalam sebuah tragedi kelam.
Kau juga mengisahkan nasib buruk pamanmu. Dia pemuda cemerlang yang mendapat beasiswa untuk belajar teknik nuklir di Leipzig. Tetapi, sehabis pecah huru-hara 1965, dia kehilangan kewarganegaraan. Setelah bertahun-tahun menjadi eksil di Jerman Timur, dia tewas ditembak Stasi saat berupaya menyeberangi Tembok Berlin.
Kau dan Rosa adalah anak-cucu kesedihan yang menjadi korban sejarah gelap kemanusiaan dan revolusi yang terkadang memangsa anak-anaknya sendiri.Satu kali kau bertanya sambil menyisir rambut hitamnya dengan jemarimu, “Mana yang lebih kau sukai, Puccini atau Verdi?”
“Verdi. Favoritku Aida. Kisah cinta yang sungguh tragis,” jawab Rosa. “Kau?”
“Puccini. Terutama Turandot. Setiap kali mendengarkan ‘Nessun Dorma’, aku selalu merasa ingin hidup lebih lama,” katamu dengan mata menerawang.Rosa menatapmu dengan matanya yang kelam lalu bertanya dingin serupa putri cantik berhati kejam yang mengingkari cinta dalam opera Puccini, “Apa yang lahir setiap malam dan mati saban pagi?”
Kau menjawab tenang, menirukan Calaf si pangeran tak dikenal, “Harapan.”
“Apa yang merah menyala seperti api, tetapi bukan api?”
“Darah.” Tak seperti Calaf, kau menjawab tanpa ragu.
“Apakah yang dingin seperti es, tetapi bisa membakar?”
“Turandot!” kau menjawab lantang seraya tersenyum lalu menubruk dan menciumnya yang tergial.
Suatu kali, saat kalian beristirahat di sebuah bangku kayu yang terlindung pepohonan setelah berjalan-jalan menembus hutan di tepi desa, Rosa berkata, “Tahukah kau bahwa tumbuhan bisa bercakap-cakap dengan tumbuhan lainnya?”
“Bagaimana caranya?” katamu.
“Jika ada tumbuhan yang sedang haus atau stres, mereka akan mengeluarkan suara tertentu dalam bahasa tumbuhan yang hanya bisa didengar oleh tumbuhan lain atau makhluk dengan kemampuan ultrasonik,” ujar Rosa.
Kau membayangkan pohon telanjang yang menaungimu bertanya kepada langit biru, “Apakah yang lebih tua daripada gairah asmara?”
“Kesedihan,” jawab langit. “Kesedihan adalah sungai purba yang lebih dulu ada sebelum gairah asmara.”
Sesekali jika kangen dan sepi mendera, kau menyambangi Rosa ke kota saat dia bekerja di perpustakaan. Biasanya kalian berkencan pada saat istirahat makan siang. Kau akan naik bus yang datang satu jam sekali di halte dekat gerbang desa dan turun di halte di depan jembatan tua di pusat kota lalu berjalan kaki menuju sebuah kafe Italia di sudut Haspelgasse. Rosa sudah menunggumu di sana.
Dua bulan setelah pertemuan pertama kalian, pada satu malam Sebastian yang terlambat pulang kerja menangkap basah kau dan Rosa berciuman. Sebastian murka. Dia dan Rosa bertengkar hebat.
Sejak itu kau tak pernah datang lagi ke rumah mereka. Rosa pun tidak mencoba menemuimu karena Sebastian mengancam akan membunuhmu jika kalian ketahuan masih berhubungan.
Apakah Rosa jatuh cinta kepadamu? Dia sendiri tak tahu pasti. Namun, dia merasa senang jika berada di dekatmu. Dia menikmati kelembutanmu saat kalian berkecupan, tatapan matamu yang hangat dan meluluhkan, serta caramu membuat dia tertawa senang.
Tidak sekalipun kau berkata bahwa kau mencintainya. Tetapi, Rosa merasa dicintai dan dihargai segenap keperempuanannya. Bukankah istri setengah baya seperti dia pun berhak berbahagia?
Sebelumnya Rosa tidak pernah menyeleweng dari Sebastian yang kaku, gemuk, botak, dan membosankan. Sejak memergoki perselingkuhan itu, sikap Sebastian berubah. Dia jadi sering marah-marah dan pulang terlambat.
Pada satu senja kau mencegat Rosa di depan Rosenplatz. Saat itu gerimis mulai jatuh. Sekuntum mawar hitam mekar di sudut taman. Rosa baru saja turun dari bus sepulang kerja. Kau hendak berpamitan karena tiga hari lagi harus pulang ke tanah airmu.
Rosa menatapmu berkaca-kaca dengan matanya yang kelam serupa luka kenangan. Dia rindu, ingin memelukmu. Namun, dia waswas, takut Sebastian memergoki. Dia bergegas berlalu, mencoba menghindar.
Apesnya, Sebastian mengetahui pertemuan singkat itu. Tetapi dia hanya diam.
Malam itu Sebastian mengajak Rosa bercinta, tetapi Rosa menolak. Sebastian tak memaksa. Dia membuka sebotol anggur dan menyodorkan segelas kepada istrinya. Mereka minum bersama tanpa kata.
Esok paginya desa kecil itu gempar. Rosa dan Sebastian ditemukan tak bernyawa di ruang tengah. Di samping mereka tergeletak dua gelas kosong. Sebastian yang patah hati telah mencampurkan sianida ke dalam minuman.
Bertahun-tahun kemudian, tepatnya dua puluh satu tahun setelah semua itu berlalu dan banyak orang telah melupakannya, kau terkenang kembali pada hari-hari di musim semi itu dengan semacam rasa kangen yang menyiksa dan kesedihan yang membara.
Kau teringat pada sekuntum mawar hitam yang mekar di sudut taman pada satu senja yang jauh. Mawar langka itu tidak tumbuh di sembarang tempat.