Melarung Lentera
S. Prasetyo Utomo · 22 November 2025
Sumber: Tempo · tautan sumber
MENINGGALKAN Kuil Asakusa, wajah Ryota tampak cerah. Ia mengajak Aiko, istrinya, singgah di toko barang antik milik Akihiro. Ia memperoleh pedang wakizashi1 zaman shogun Tokugawa Iyeasu yang dikaguminya. Ia sisipkan pedang pendek itu di balik ikat pinggang celana, dan tertutup jaketnya. Tak seorang pun bisa melihat pedang pendek samurai yang baru saja dibelinya. Leluhurnya seorang ronin 2 dan ia merasa tenteram saat memiliki benda pusaka pedang wakizashi.
Berdua dengan Aiko, Ryota berjalan kaki memasuki Taman Sumida dengan menenteng dua lentera air. Mereka akan menghanyutkan lentera air yang menyala itu ke sungai pada malam hari. Lentera air itu akan terapung-apung di atas genangan air sungai yang tenang. Berpendaran. Menghanyutkan doa dan harapan bagi para arwah leluhur agar kembali ke alam baka dengan kebahagiaan.
Tak jauh dari Ryota dan Aiko, terlihat berdiri tachiyaku3 kabuki, Takizawa, menghanyutkan lentera air yang menyala dan terapung tenang. Ryota tak pernah menduga kegembiraannya dalam mengikuti Festival Toro Nagashi4 di hari ketiga perayaan obon5 terganggu ulah sutradara kabuki itu. Ryota melihat lentera air yang dihanyutkannya berpisah dari lentera air yang dihanyutkan Aiko. Anehnya, lentera air Takizawa merapat ke lentera air Aiko. Kedua lentera air itu hanyut bersamaan, selalu merapat. Lentera air Ryota terpisah menjauh, terapung-apung.
Takizawa mendekati Aiko. Ia menunjuk lentera airnya yang hanyut berdampingan dengan lentera air Aiko. Tercium aroma shochu6 dari mulutnya setelah singgah di izakaya7 Hoppy Street, sebelah barat Kuil Asakusa. Kedai ini menyediakan minuman dan hidangan lezat. Dari kedai minum inilah Takizawa membawa lentera air ke tepi Sungai Sumida, dan sengaja menguntit langkah Ryota dan Aiko. Ia berhasrat memancing kemarahan Ryota.
“Rupanya para arwah leluhur merestui doa kita untuk hidup bersama,” kata Takizawa, dengan tertawa, mabuk shochu. Aiko menyambut kelakar Takizawa dengan senyum. Wajah Ryota tertampar. Ia seorang aktor dalam Teater Kabukiza, dan Takizawa seorang sutradara yang sangat berkuasa mengatur segala peran, bahkan nasibnya di gedung teater kabuki.
“Lihat, lenteramu terhanyut sendirian, terpisah dari iringan lentera yang lain, persis seperti hidupmu!” kata Takizawa mencerca Ryota. “Kalau istrimu hidup bersamaku, tentu ia sudah bahagia memiliki anak.”
“Kenapa kau mengganggu kebahagiaan keluargaku?”
“Aku tak mengganggu keluargamu. Aku seorang duda, dan istrimu tak bahagia hidup bersamamu. Ia ingin cerai. Kau bertahan begitu rupa, dan istrimu makin menderita dalam kedok perkawinan.”
Menahan amarah, Ryota memandangi lentera air yang hanyut terapung-apung terpisah dari iring-iringan lentera air. Lentera air itu terpencil dalam gelap sungai, seperti tersesat arah.
ORANG-ORANG terus berdatangan ke tepi Sungai Sumida untuk menghanyutkan lentera air, melarung doa dan harapan agar para arwah kembali ke alam baka dengan tenteram. Tapi Ryota memendam perasaan terhina. Ia berangkat dari rumah dengan perasaan bahagia bersama Aiko. Kini, setelah berada di antara orang-orang yang menghanyutkan lentera air dengan penuh doa, ia justru kehilangan harapan. Ia akan segera ditinggalkan istrinya.
“Malam ini kau bisa mengambil keputusan. Ceraikan istrimu dan tinggalkanlah ia bersamaku. Biar kami menikmati keindahan iring-iringan lentera air bersama!” kata Takizawa, menyudutkan Ryota.
“Engkau sangat kuhormati di panggung kabuki. Aku belajar banyak darimu. Kuanggap kau sebagai guru. Jangan sampai rasa takjubku kepadamu lenyap hanya karena urusan istri. Kau lelaki gagah dan terpelajar, bisa mencari istri yang lebih baik dari Aiko.”
“Lakon hidupku tak akan seru bila aku mencari perempuan lain. Menikahi istrimu akan menjadi kisah yang menarik. Kau akan merasakan kepedihan hati karena aku menikahi istrimu. Dan kau tak bisa berbuat apa pun.”
“Mengikuti kemauanmu, arwah leluhurku tak akan tenang di alam baka,” Ryota menukas.
“Apa yang kaulakukan malam ini, dengan melarung lentera air, sia-sia belaka!”
“Apa kalian tak malu dengan perbuatan ini?” balas Ryota meyakinkan istrinya dan Takizawa. Tapi Takizawa yang mabuk shochu tak menghiraukan siapa pun. Takizawa makin meracau, dan kebenciannya kepada Ryota ditumpahkan dalam sumpah serapah. Ryota, yang dibakar dendam dan marah, meraba gagang pedang wakizashi di balik jaketnya.
“Engkau yang akan malu! Di antara aktor kabuki, tak seorang pun berani mencemooh kami!” balas Takizawa dengan congkak. “Mereka tunduk kepadaku!”
Orang-orang mulai meninggalkan tepi Sungai Sumida dan iring-iringan lentera air yang gemerlapan dalam senyap malam sudah jauh dihanyutkan air menuju Teluk Tokyo. Terlihat sangat cepat, Ryota menghunus pedang wakizashi dari rangka di balik jaketnya. Tercium aroma choji abura8 dari pedang pendek yang berkilau tertimpa cahaya lentera air di permukaan sungai. Tergagap, Takizawa melangkah surut, menjauh dari tempat Ryota berdiri. Lututnya goyah, menggigil.
“Leluhurku ronin yang sudah tenang di alam baka. Tapi kau memanggil arwah leluhurnya kembali untuk merasuki pedang pendek ini. Kau mesti mati kutikam pedang!” kata Ryota geram dan tak lagi bisa mengendalikan diri. Gerakan tangannya sangat cekatan dan kuat.
LANGIT yang menaungi Sungai Sumida menjelang dini hari masih gelap tanpa bintang tanpa bulan. Orang-orang meninggalkan tepi sungai. Takizawa mundur beberapa langkah menjauh dari tempat Ryota berdiri menghunus pedang pendek yang berkilau, terbuat dari baja tamahane9 yang ditempa hingga tajam. Satu tikaman tak terduga mengenai dada sutradara kabuki yang gagah itu. Ia terperosok ke dalam aliran Sungai Sumida, terapung, terhanyut air, beriringan dengan lentera air yang berpendaran.
Lentera air berpendaran yang mengapung-apung di atas permukaan air Sungai Sumida menghanyutkan doa dan harapan agar arwah leluhur tenang di alam baka. Ryota segera menyarungkan ujung pedangnya tersembunyi di balik jaket. Ia meninggalkan tepi sungai. Ia melihat Aiko menyusuri tepi sungai menyertai tubuh yang dihanyutkan air. Ia tak peduli apakah Takizawa akan segera sadar dan berenang menepi.
Ia melangkah dengan perasaan lega telah memuliakan arwah leluhurnya. Masih sempat dilihatnya lentera air yang beriringan menjauh. Kali ini ia merasa tenang, tenteram sebagai keturunan ronin yang terlindungi pedang pendek di balik jaketnya.
Hotel Monday Tokyo, Juli 2025
Keterangan