”Kau gila, ya! Apa yang kau katakan semalam?” Seseorang yang tinggal tidak jauh dari tempatku, mendadak membuka pintu kamarku dengan kasar. Dengan wajah yang tak ramah, ia mencecarku.
”Apa maksudmu?”
”Semalam! Ketika kau mengira kau berbicara dengan Tuhan!” desaknya.
”Oh, itu pembicaraanku sendiri dengan-Nya. Maaf aku merasa tak wajib membahas itu dengan siapa pun.”
”Jangan sembarangan menghina Tuhan! Kau manusia yang tak kenal rasa syukur!” dengusnya. Semakin tajam matanya menatap mataku seolah-olah aku binatang jahanam yang patut untuk dihukum atas nama Tuhan.
”Aku tak menghina-Nya,” balasku, masih tenang. ”Lagi pula bukan urusanmu juga kalau memang aku menghina-Nya.”
”Kau menghina Tuhanku? Artinya kau harus berhadapan denganku!”
”Kau kira Tuhanku sebelum keputusanku terjadi, adalah Tuhan yang sama dengan yang kau sembah?”
Tetanggaku tak bisa berkata-kata lagi, karena ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, ia telah berkoar-koar, menyebarkan informasi ke seluruh penghuni gedung ini bahwa aku adalah seorang penista agama dan aku patut dihukum.
Kalau memang Kau berkuasa, kutantang Kau untuk mengubah nasibku! Jadikan mungkin bagiku mencapai apa-apa yang ingin kucapai!
Ya, baiklah. Tuduhan itu sempurna untuk mengakhiri hidupku. Aku siap ditangkap dan dihukum oleh orang-orang yang menjunjung tinggi Tuhan di atas batok kepala. Aku tak keberatan mati sesegera mungkin karena semua ini sudah tak berarti.
Hanya saja, berhari-hari, berminggu-minggu, orang tak pernah menghampiriku. Si tetangga hanya mengoceh sendiri tentang kekurangajaranku memprotes kekuasaan-Nya. Yah, memang malam itu aku agak kurang ajar dalam berkata-kata. Karena terlalu sering menelan kegagalan dalam hidup, kubilang pada-Nya, ”He, Tuhan! Kalau memang Kau berkuasa, kutantang Kau untuk mengubah nasibku! Jadikan mungkin bagiku mencapai apa-apa yang ingin kucapai!”
Ya, tentu, tak ada balasan atas tantanganku itu. Aku pun menganggap Tuhan tidak benar-benar berkuasa. Maka, demi keputusanku untuk berhenti memperjuangkan hidup, apa pun yang terjadi padaku, aku tak peduli lagi.
”Hei, bangunlah!”
”Eh?”
”Ayo, bangun dan pakai jaketmu!”
Aku membuka mataku dengan susah payah, mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer di alam mimpi. Ini masih tengah malam. Suasana langit kota yang terlihat dari jendelaku masih gelap dan dihiasi titik-titik lampu gedung-gedung pencakar langit.
”Siapa kamu?” kataku, mendapati perempuan itu duduk di tepi ranjangku.
”Ikut denganku!”
”Ke mana?”
”Nanti kamu akan tahu!”
Aku menurut saja saat perempuan itu memaksaku berdiri, lalu mengenakan jaketku ke badanku. Ia dengan telaten merapikan rambutku.
”Kita akan menemui seseorang. Dan kamu akan senang!” ujarnya sembari sedikit menjauhkan diri untuk menatapku beberapa saat dari ujung rambut hingga ujung kaki. ”Kau sudah rapi. Kau siap untuk pergi! Ayo!”
”Pergi ke mana? Aku tak pergi sebelum tahu ke mana. Dan, satu hal lagi,” kataku, menarik tanganku sendiri setelah perempuan itu menggandengku. ”Aku tidak tahu kamu siapa!”
”Baiklah. Namaku Tami. Aku diutus Tuhan kemari. Puas?” sahut si perempuan.
”Apa?!”
”Telingamu tidak tuli, Alex. Kamu dengar kata-kataku, bukan?”
”Kamu bilang kamu utusan Tuhan? Pasti orang-orang gedung yang menyuruhmu, ya? Kenapa tidak polisi saja yang meringkusku? Permainan apa yang kalian jalankan, heh?!” Aku mulai yakin kehadiran si perempuan ini tak lain adalah untuk menangkapku atas tuduhan penistaan agama.
”Aduh, kamu ini bicara apa, sih! Tidak ada yang terlibat selain kita berdua, Tuhan, dan seseorang yang akan kamu temui! Kalau kamu sepenuhnya pasrah akan apa pun yang menimpamu, harusnya kamu tak menolak ajakanku!”
”Dari mana kamu tahu kalau aku merasa pasrah akan apa pun yang menimpaku?!”
”Kan sudah kubilang! Tuhan yang mengutusku!”
Maka, tanpa mendebatnya lagi, aku setuju mengikutinya. Kami berjalan cukup jauh meninggalkan apartemenku. Setelah berjalan beberapa lama, kami mencapai batas kota.
”Jangan khawatir,” kata Tami, kembali dengan suara selembut sutra seperti ketika ia membangunkanku. ”Kamu tak akan menyesali perjalanan kita.”
”Kalau boleh tahu, siapa ’seseorang’ yang akan kutemui?”
”Nanti kamu akan tahu.”
Setiba di tempat tujuan, yang tak lain sebuah halte bus, ia mempersilakanku untuk duduk.
”Kita bertemu sampai di sini, Alex,” kata perempuan itu. ”Aku pergi dengan bus sejauh mungkin. Dan selagi busku menjauh, orang itu akan kemari. Jadi kamu tunggu saja.”
Aku mengangguk.
Hanya sebutir keberuntungan untuk setiap manusia malang terpilih.
Tami menaiki bus pertama yang berhenti sejak kami tiba. Cukup aneh juga. Sebab setahuku, di jam selarut ini, di pagi buta menjelang subuh begini, jadwal keberangkatan bus belum ada. Entahlah. Mungkin memang ada. Aku tak peduli. Aku hanya penasaran siapa ’seseorang’ yang dia maksud akan menemuiku?
Tak lama setelah Tami pergi, tibalah orang yang dimaksud. Aku kecewa melihat orang yang mendatangi halte tidak berpenampilan megah atau sarat unsur keagamaan seperti misal mengenakan jubah yang kedodoran dan berkilau atau mengenakan sorban dan semacamnya, karena Tami menyebut semua ini diatur oleh Tuhan. Sedangkan sosok yang menghampiriku hanya seorang pria paruh baya, berkaos lusuh, dengan membawa sebuah karung.
”Kau yang bernama Alex?” sapa orang itu.
”Ya. Anda siapa?”
”Perkenalkan, Ali Sabeni. Dan aku pedagang.”
”Apa yang Anda jual?”
”Hanya sebutir keberuntungan untuk setiap manusia malang terpilih,” pungkasnya. ”Jika kau tidak tertarik, aku bisa pergi ke halte lain. Jika kau tertarik, kita bisa bicarakan harga. Bagaimana?”
”Anda menjual keberuntungan? Maksudnya, jika seseorang membeli itu, maka ia akan beruntung?”
”Ya. Seumur hidupnya akan dilimpahi keberuntungan. Namun, ada harga yang harus dikorbankan.”
”Apa itu?”
”Alih-alih menanyakan ’berapa’, kau malah bertanya ’apa’. Kau tampaknya paham ini bukan tentang uang, ya, Nak?” Ali Sabeni terkekeh. ”Baiklah. Mari kita duduk dulu. Akan kutunjukkan terlebih dahulu sebutir keberuntungan yang kujual hanya satu untuk setiap jiwa yang merana.”
Ia pun duduk di sebelahku di kursi halte bus itu. Lantas ia keluarkan sebutir benda dari dalam karungnya yang besar. Benda itu ternyata cuma sebutir kelereng, tapi tampak terbuat dari bahan emas.
”Dengan benda ini, kau akan mendapati segala yang kau inginkan menjadi nyata. Selama sisa waktumu di bumi, kau akan merasa menjadi orang yang paling beruntung, Anak Muda.”
”Baiklah. Bisa tolong Anda sebutkan ’apa’ harganya? Saya ingin memiliki itu!”
”Kau hanya harus meneken kontrak denganku. Isinya adalah bahwa jika kelak kau mati, kau akan bekerja untukku,” jawab Ali Sabeni.
”Jadi memang benar orang-orang yang mati itu akan kembali dihidupkan?”
”Kurang lebih begitu.”
”Apa yang akan saya kerjakan untuk Anda kelak?” tanyaku.
”Pekerjaan seperti ini. Berkeliling, menawarkan keberuntungan kepada tiap orang yang selalu kalah dalam hidupnya. Sangat mudah. Bahkan terkadang pekerjaan seperti ini terasa seperti tamasya.”
”Begitu, ya.”
”Bagaimana? Kau tertarik?”
”Tentu saja.”
Maka kontrak kutandatangani saat itu juga. Dan Ali Sabeni memberikanku sebutir keberuntungan. Kusimpan itu dalam sakuku. Karena aku disuruh kembali lagi ke gedung di mana sebelumnya aku tinggal, maka aku berjalan pulang seperti biasa.
Sesampai di apartemen, aku terlelap karena kelelahan. Aku bangun siang hari saat kota sedang sibuk. Aku raba saku jaket. ’Kelereng’ itu masih ada. Dengan jantung yang berdebar tak keruan dahsyatnya, aku genggam ’kelereng’-ku sambil membatin, ”Semoga saja si rambut merah menjadi istriku.”
Rambut merah, adalah julukan yang kusematkan secara pribadi untuk seorang dari tempat kerjaku dahulu. Aku jatuh cinta padanya tapi tak pernah berani menyatakannya.
Sekejap kemudian, suara gadis itu terdengar merayapi tengkukku, ”Sarapan sudah kusiapkan, Sayang. Ayo, kita makan.”
Aku melompat kaget, mendapati si rambut merah berdiri di belakangku. Ia tampak cantik dengan rambut merahnya yang tergerai dan baju tidur yang agak transparan. Aku tak bisa menahan rasa gugup.
Dengan tergesa-gesa, aku berlari ke kamar mandi. ”Wahai, Kelereng! Aku berharap bisa memiliki rumah semegah istana dan harta melimpah tanpa habis!”
Dan, seperti yang sudah kuduga, sekeluar dari kamar mandi, kamar apartemenku yang bobrok berubah menjadi kamar yang sangat luas dan indah selayaknya kamar para raja!
”Ini... terlalu indah untuk menjadi nyata!” kataku.
Dengan panik, aku berlari meninggalkan kamar. Dan, aku malah lebih panik lagi ketika kudapati bagian luar pintuku bukan lagi koridor apartemen kumuh. Aku berada di bangunan yang benar-benar berbeda, di sebuah istana yang tampaknya milikku sendiri!
”Sayang, kenapa kamu bertingkah aneh? Kemarilah. Temani aku sarapan,” ucap si rambut merah setengah berteriak dari dalam kamar.
Aku tak peduli. Aku berlari meninggalkan rumah ’istana’-ku itu. Aku melihat entah berapa banyak mobil mewah terparkir di garasi. Kuambil kunci salah satunya, lalu aku pacu mobil itu ke jalan raya.
”Ini pasti hanya permainan Tuhan! Tidak mungkin ini nyata!” pikirku. ”Mana bisa orang memiliki segala sesuatu hanya dengan ucapan singkat dan sebutir kelereng aneh!”
Kau terlalu meremehkan kuasa Tuhan, ya. Bahkan saat kau sudah dianugerahi keberuntungan yang sedahsyat itu, kau masih menyangkal-Nya.
Aku ketakutan karena semakin lama mobil itu kupacu, semakin tampak nyatalah segala hal yang tersaji; segala bangunan dan jalan yang detailnya begitu kuhafal. Semua itu tampak sama. Bahkan saat berhenti di lampu merah, kulihat orang-orang yang dulu pernah bekerja denganku, menyapaku dari dalam bus yang mereka tumpangi!
”Hei, Alex! Lama tak terlihat kau!”
”Wah, mobil siapa itu?!”
”Sekarang kau penuh gaya, Bung!”
Aku tak tahu apa semua ini layak atau tidak untuk dibuktikan, tapi aku merasa aku sedang dipermainkan. Maka, kupacu mobil itu dengan lebih kencang lagi. Aku berharap aku bisa mati saja secepatnya agar semua kegilaan ini berakhir!
Dan, begitulah.
Mobil yang kupacu menabrak sebuah tembok beton, menghancurkan tubuhku. Aku benar-benar mati. Tapi, mungkin aku akan terbangun lagi di apartemen bobrokku, bukan? Kejadian barusan, segala harap yang sekejap menjadi nyata itu, hanyalah mimpi, bukan?
”Sayangnya tidak, Nak,” ucap Ali Sabeni, menghampiri tubuhku yang hancur. Ia memikul karungnya, terkekeh pelan. ”Kau ikut denganku, sesuai perjanjian kita.”
”Tunggu, tunggu! Jadi semua ini....?!”
”Ya, memang nyata, Alex. Kau terlalu meremehkan kuasa Tuhan, ya. Bahkan saat kau sudah dianugerahi keberuntungan yang sedahsyat itu, kau masih menyangkal-Nya. Sekarang mari ikut denganku. Ada banyak tugas yang harus kau kerjakan!”
Dan aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyesali segalanya.