Nyanyian token bergema lagi di akhir bulan. Di sepanjang lorong gang itu, rumah-rumah kontrakan kembar ukuran 4x4 yang memanjang sampai ujung mengeluarkan lampu kedap-kedip warna merah di meterannya. Satu-persatu orang punya rumah keluar. Ada yang masih lajang, ada pula yang beranak tiga.
Nyanyian token saling bersahut-sahutan. Kamsil berdiri di teras. Si buruh pabrik termangu menatap meterannya, “Sudah habis saja,” gumamnya seraya berkacak pinggang. Lalu di sebelah rumahnya, ada Buton, bapak anak tiga, yang kemudian disusul istri dan anak-anaknya, keluar dan berdiri di teras, menatap meteran mereka. Si Kuncil, anaknya, masih bercelemok bubur pisang, menggaruk-garuk kepalanya yang bingung. Meski dia sebetulnya belum bisa bicara, tapi sudah berbahasa. Muncul di kepalanya semacam ini, “Mengapa rumahku selalu mengeluarkan bunyi seperti itu setiap akhir bulan?”
Di depan rumah mereka, Yasbun, perempuan muda yang bekerja sebagai karyawan di rumah penatu, mengintip lewat jendela. Sambil senyum-senyum di balik tirai dia melihat Kamsil, Buton dan keluarganya. Lalu diam-diam dia berkata, “Sudah kutebak, kita seperti ini lagi,” kemudian selepas terkekeh kecil dia tiba-tiba muncul membuka pintunya.
Dari seberang, disapanya istri Buton, “Ibu, belum bayar token lagi, nih?”
Istri Buton tersenyum, “Iya, nih, kasian si anak lagi makan sambil nonton Upin Ipin malah tiba-tiba bising sama bunyi token.” Ditunjuknya celemok Kuncil, yang sedari tadi diam-diam menjilati pipinya sendiri.
Tidak lama setelahnya, sekonyong-konyong meteran rumah-rumah lain pun ikut berbunyi. Orang-orangnya keluar. Masing-masingnya terpampang wajah susah. Seolah tersinkron satu sama lain, mereka menatap meterannya. Menggaruk-garuk kepalanya, berdecak sedikit, lalu menatap orang-orang lain yang juga berdiri di teras-teras mereka.
Tanpa suara, mereka diam saja. “Permisi,” ujar angin yang melintas di tengah- tengah jalan yang memisahkan rumah di seberangnya. Rambut tergerak melambai. Daster-daster terkibas.
Dalam kecanggungan itu, Kamsil sekonyong-konyong tersenyum kepada Tebok, Tebok berpaling senyum kepada Potang, Potang kirim senyum kepada Yasbun, Yasbun cengar-cengir kepada istri Buton, istri Buton menatap datar kepada Buton yang bersarung atasan singlet. Buton senyum menundukkan wajahnya sambil sesekali menggaruk kelaminnya yang gatal. Di bawah, dia melihat Kuncil yang bertubuh sepahanya, sedari tadi mencoba meraih bubur yang tersangkut di bawah hidung. Buton tak sengaja terkekeh.
KOMPAS/CAHYO HERYUNANTO
Kemudian di bawah matahari terik siang itu, mereka berdansa, berjoget bersama-sama dengan nyanyian token yang tak bosan-bosannya bersenandung setiap akhir bulan.
Lalu tak lama, Kuncil berhasil menjilat buburnya, dia senyum semringah. Senyumnya pecah bersamaan dengan deru token-token yang kini dengan ilmu matematika, tercipta sebuah irama yang beritme, saling bersahut-sahutan satu dan lainnya secara teratur serupa musik dansa elektro, Kuncil sekonyong-konyong berlarian di jalan lorong kecil depan rumahnya.
“Yeeee!!!!” dia bersorak dengan suara kekanak-kanakannya. Hingga membuat anak-anak kecil lain ikut menyusul. Kemudian di bawah matahari terik siang itu, mereka berdansa, berjoget bersama-sama dengan nyanyian token yang tak bosan-bosannya bersenandung setiap akhir bulan.
Istri Buton yang merengut, kini wajahnya cerah, dirangkulnya pinggang Pak Buton yang perutnya sudah offside, bersama-sama menatap anak-anak kecil itu girang gembira. Yasbun sedikit meloncat-loncat serupa guru TK, menepuk-nepuk tangannya kecil-kecil, dan memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
Potang menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. Dia ambil rokok gulung yang tersemat di telinganya, membakarnya perlahan, kemudian dengan memejamkan matanya, dia mendongak, lantas mengembuskan asapnya tinggi-tinggi ke udara. Tebok terpingkal-pingkal, tak sanggup membayangkan, bahwa di tengah-tengah dia sedang berutang selayaknya penduduk-penduduk lain di gang itu, anak-anak kecil itu berdansa dengan kemiskinan.
Sedangkan Kamsil, dia masih berkacak pinggang, mulutnya sekadar tersungging sedikit miring ke atas. Dia perhatikan setiap meteran listrik yang berbunyi-bunyi itu.
Dalam kemiskinan kami bersatu. Dalam penderitaan kami berjuang.
Sebagai lulusan sastra, meski tidak bekerja di bidang sastra, keindahan sastra selalu ada di hatinya. Diam-diam dia berpikir, lalu tak sengaja berbisik dengan dirinya sendiri, “Barangkali kami adalah kultus kemiskinan. Yang di setiap akhir bulan, kami menatap masing-masing meteran kami yang bernyanyi, lalu merenung dalam-dalam atas penderitaan dan utang-utang, dan kami tidak perlu dibahagiakan oleh sesiapapun. Dalam kemiskinan kami bersatu. Dalam penderitaan kami berjuang.”
“Nyanyian token,” ujarnya, lalu dia tersenyum.
Penghuni gang itu kesemuanya jadi ceria. Mereka menatap wajah satu sama lain, kemudian tertawa melihat anak-anak kecil itu seolah-olah sedang mengolok-olok kesedihan mereka.
Namun waktu terus berlalu bersamaan dengan tiupan angin tengah hari yang tak mengenal sopan-santun. Perlahan-lahan, keceriaan jadi meredup. Semakin banyak angin yang mengelus-elus muka, semakin murung pula roman mereka. Seolah angin sedang mengibas-ngibaskan kenyataan tepat di wajah masing-masing penghuni gang itu.
Sebab itu, Tebok yang semula ikut riang gembira, kini kembali merenung. Begitupun dengan Potang, sesaat bara api rokoknya mendekati pangkal, dia banyak menundukkan wajahnya dan menatap got kecil yang kehitaman di tengah jalan gang itu. Berpikir, tapi tidak memikirkan apa-apa.
Yasbun, kini terduduk. Kakinya tiba-tiba melemah dan tak kuat untuk meloncat lebih lama lagi. Dan tangannya telah berhenti menepuk. Dia duduk, menatap meterannya yang tak berhenti berbunyi. Sedangkan Buton masih menatap anak-anak kecil yang berlarian, meloncat-loncat, berteriak, dan bersorak. Sekali itu, gatal di kelaminnya tidak ia pedulikan.
Di saat yang bersamaan,istri Buton telah menitikkan air matanya. Semalam, ia baru saja menyelesaikan perhitungan sisa uang mereka. Bila meteran telah berbunyi, artinya, ada uang beras atau lauk yang terpaksa harus dipotong.
Mendadak, gang itu menjadi sunyi. Hanya terdengar angin yang untuk kesekian kalinya datang menyapa.
Angin lewat lagi di hadapan mereka. Sedangkan nyanyian token tak kunjung berakhir. Masing-masing orang di gang itu telinganya telah berdengung. Bising mengelilingi setiap pojok mereka melangkah. Mereka terkepung oleh tembok suara, dan utang-piutang yang tak berbentuk. Sejatinya, bunyi token itu telah tiada siapa yang peduli lagi. Namun ada sesuatu yang terus bersuara, berkoar-koar, yang lambat-lambat mengiris masing-masing hati mereka.
Hingga tak lama, secara serempak, mereka naik ke sebuah kursi plastik di teras, lalu memencet tombol pada meteran yang membuat token berhenti bernyanyi.
Mendadak, gang itu menjadi sunyi. Hanya terdengar angin yang untuk kesekian kalinya datang menyapa. Dan anak-anak jadi berteriak dan memasang wajah kecewa.
“Kami ingin mendengarnya lagi!” protes si anak yang paling tua. “Kami ingin joget-joget lagi!”
Namun tiada yang membalas, tiada yang menyahut anak-anak kecil itu. Sepanjang gang terus disisakannya bunyi yang bersembunyi dari penduduk-penduduknya. Mereka sekadar perlahan-lahan masuk ke dalam rumah. Menutup pintu kayunya dengan pelan. Dan membiarkan anak-anak kecil itu kecewa.
Tetapi, tak lama setelahnya, sekonyong-konyong terdengar lagi nyanyian token di gang sebelah. Dengan serempak, anak-anak itu berlarian berbondong-bondong ke sana. Namun kaki Kuncil tak sengaja masuk ke dalam got kecil yang kehitaman di tengah jalan gang itu. Dia tersandung, lalu terjatuh, lututnya lecet. Dia ingin menangis, tetapi ketika melihat abang-abangnya dan kawan abang-abangnya yang lain terus menjauh dari keberadaannya, dia jadi meredam tangisnya dalam-dalam. Cepat-cepat dia bangkit berdiri, lalu berlari sementara terlupa bahwa sebuah sandalnya yang bila dipijak akan mengeluarkan suara itu telah tertinggal di dalam selokan hitam.
Bahkan bagi seorang anak, token yang bernyanyi pun adalah festival.
Tapi ia tidak peduli, meskipun ia belum dapat bicara, tapi ia telah berbahasa. Di dalam hatinya dia berkata serupa ini, “Aku tak boleh melewatkan nyanyian token yang datang sekali sebulan.”
Kenyataannya, Kamsil masih bergeming di teras rumahnya. Sedari tadi dia melihat anak-anak kecil yang berlarian menuju gang sebelah. Kala melihat Kuncil terjatuh, dia ingin menolong, tapi di satu sisi dia tahu, anak kecil harus belajar bangkit sendiri. Lantas ia diam saja. Kemudian sesaat Kuncil telah menghilang di ujung jalan, dia mendekati selokan, dan mengutip satu sandal Kuncil yang tertinggal. Sandal itu lalu dia letakkan di samping sapu lidi rumah Keluarga Buton.
Sembari tersenyum kecil, dia mengucapkan, “Bahkan bagi seorang anak, token yang bernyanyi pun adalah festival.”