Orang Besar yang Kelima
Afri Meldam · 12 November 2025
Sumber: Kompas
”Siapa lagi yang akan menggantikan Buya Syarif kalau bukan kau,” kata mereka bangga.
”Patah tumbuh hilang berganti. Kami sangat berharap kau bisa melanjutkan cita-cita Buya, membangun kampung halaman kita.”
Serasa hendak meledak dada mereka oleh gelombang sukacita menyambut kepulangan Maliki yang sudah menyandang gelar doktor dari salah satu universitas ternama di Jakarta itu. Lebih-lebih—inilah bagian terpentingnya—Maliki sudah pula menjadi salah satu pejabat teras di kementerian!
”Akhirnya kita punya orang besar lagi!” Puja-puji bergemuruh, seiring doa dan harapan yang ditumpangkan di pundak Maliki.
”Sungguh, ini petunjuk dari Allah, Maliki. Kau pulang pada saat yang tepat. Kaulah harapan kami untuk menyelesaikan masalah yang kini menimpa kampung kita.”
”Maliki pasti juga sudah memikirkan hal itu. Serahkan saja pada orang besar kita ini!”
Kampung mereka yang miskin dan tersuruk di kungkungan rimba Bukit Barisan sangat jarang melahirkan orang besar. Kau tentu paham bahwa yang dimaksud dengan ”orang besar” di sini bukanlah merujuk pada ukuran badan, melainkan pada ukuran otak dan kantong, yaitu orang-orang yang dengan kemampuan otaknya bisa memperbesar daya tampung kantongnya.
Meski pada masa kecil sama-sama dididik di lepau dan surau— sebagaimana orang Minang pada umumnya, jangan pernah kau bandingkan kampung mereka dengan Bukittinggi atau Padang Panjang. Jelas saja itu perbandingan yang tidak adil. Pun, jika kau membandingkan kabupaten tempat kampung mereka berada dengan dua kota itu, tetap saja daerah miskin itu kalah telak.
Dan walaupun kampung itu dulu dikenal sebagai daerah kekuasaan salah satu raja Minangkabau, nenek moyang mereka bukanlah keturunan orang-orang cerdik pandai yang menjadi pengambil keputusan di Pagaruyung. Sungai Batang Sumpu yang ketika itu dipenuhi oleh butiran emas memerlukan banyak kuli pendulang. Raja pun mengirim kuli tambang dari Saruaso dan Limo Kaum ke kampung itu. Konon, para pendulang itulah yang menjadi nenek moyang mereka.
Sebagaimana cerita yang terdedah dari lidah para tetua, ketika emas habis dikeruk pada akhir abad ke-16 dan keluarga raja beserta orang-orang kaya kembali ke Pagaruyung, nenek moyang mereka bertahan dengan mengais sisa emas di ceruk-ceruk terdalam sungai dan bukit sambil terus meneroka hutan, membangun kampung halaman.
Beberapa mati tertimbun reruntuhan galian, sebagian yang lain secara perlahan belajar bercocok tanam dan mulai membuka ladang gambir dan lada. Beberapa orang yang bisa berhitung kemudian menjadi tauke, menampung hasil ladang dan menjualnya ke saudagar di Tiku. Namun, sebagian besar lainnya tetap memilih menjadi kuli upahan, bekerja untuk orang lain, melakukan apa saja, dari pagi ke petang, sekadar untuk memenuhi kebutuhan perut.
Demikianlah, dari segelintir keluarga pendulang yang berhasil menjadi tauke rempah itu, ratusan tahun kemudian barulah kampung mereka bisa melahirkan orang besar. Dan sejauh ini, baru ada empat orang yang secara bersama mereka akui sebagai orang besar yang lahir dari rahim perempuan asli kampung itu. Bayangkan, dalam rentang lima abad, hanya ada empat orang besar yang mereka punya, yang bisa mereka banggakan kepada orang-orang!
Orang besar pertama yang dilahirkan kampung itu adalah Jamaludin Rauf, anak pedagang gambir. Laki-laki itu pembuka jalan bagi orang-orang besar lainnya dari sana. Ia adalah orang pertama yang menjadi dosen di perguruan tinggi di Padang, yang juga menjadi awal baik bagi orang-orang kampung itu untuk melanjutkan pendidikan setamat sekolah menengah.
Berkat Jamaludin, lahir orang besar berikutnya, yaitu Ahmad Syarif Hasan, orang besar yang kedua. Kau tentu tahu bagaimana sepak terjang Buya Syarif di tingkat nasional, dan bahkan di mancanegara. Meski sudah puluhan tahun mengajar dan menetap di Yogyakarta, dan sudah barang pasti berbagai jabatan yang ia emban membuatnya sibuk luar biasa, Buya tak pernah melupakan tanah kelahirannya di lembah Bukit Barisan itu.
Setiap tahun ia pasti selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung, meski barang sehari dua hari. Dan dalam waktu yang cuma sebentar itu, ia akan selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar atau ikut duduk di kedai, mendengar keluh kesah orang-orang tentang rupa-rupa permasalahan yang terjadi di kampung dan mencarikan jalan keluarnya.
Orang besar ketiga dan keempat adalah Taswal Alam dan Tasrif Alam, dua orang kakak beradik yang sama-sama menjadi profesor dan mengajar di Universitas Andalas, Padang. Dua orang Guru Besar ini kemudian menjadi rektor di dua universitas berbeda di Sumatera, yang selama masa jabatan mereka telah banyak membantu lulusan SMA dari kampung itu untuk bisa kuliah di kampus yang mereka pimpin.
Namun, karena mereka belum pernah menduduki jabatan di ”pusat” sana, kebesaran dua orang kakak beradik ini selalu berada di bawah bayang-bayang Buya Syarif. Meski orang-orang kampung tak menafikan jasa yang telah diberikan dua profesor bagi kampung halaman, tetap saja nama mereka akan terimpit ketika orang-orang membicarakan Buya.
Karena memang, kalau bukan karena pengaruh yang dimiliki Buya di pusat sana, mungkin masih berkubang lumpur jalan ke kampung itu. Kalau bukan karena Buya, mungkin masih harus menunggu seratus tahun lagi hingga kampung itu akan diterangi cahaya listrik. ”Buya benar-benar telah membawa kita dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang,” kata mereka berseloroh di lepau.
Tersebab itulah setelah lebih dari tujuh tahun mereka larut dalam kesedihan sejak kepergian Buya, yang pada tahun berikutnya secara berturut-turut disusul oleh dua orang profesor kakak beradik itu, kepulangan Maliki yang sudah bergelar doktor dan kini menjadi salah satu orang penting di kementerian tempat ia bekerja sungguh membuat mereka kembali tersenyum.
Apalagi mengingat bahwa Maliki adalah kemenakan Buya, meski jauh sekalipun. Buya agaknya memang sudah mempersiapkan Maliki sejak lama untuk menggantikannya menjadi orang besar berikutnya—demikian orang-orang meyakini.
Memang semasa Buya hidup dan beliau diamanahi jabatan penting berkali-kali oleh hampir tiga presiden, Malikilah yang mengurus segala keperluan Buya. Maliki akan ikut ke mana pun Buya pergi. Segala urusan yang berkaitan dengan Buya harus melalui Maliki. Pokoknya, Buya dan Maliki seolah sudah menjadi satu kesatuan.
Mengikuti jejak Buya, Maliki juga tidak puas dengan hanya mengantongi ijazah S-1. Ia pun kuliah S-2, mengambil kelas akhir pekan sehingga ia tetap bisa mendampingi Buya. Entah bagaimana prosesnya, ia lulus tepat waktu, dan lalu kembali mendaftarkan diri di program doktoral di almamaternya, yang mampu ia selesaikan dengan gemilang.
Tentu bergaul dengan orang pintar seperti Buya, kau juga akan ketularan kepintarannya, kata orang-orang. Maliki memang sudah dasarnya berotak encer, timpal yang lain.
Kembang kempis hidung Maliki mendengar semua puja puji itu. Bagaimanapun, sudah sangat lama ia ingin mendengar pengakuan orang-orang tentang dirinya. Pun demikian dengan orangtuanya, yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk memamerkan foto Maliki memakai toga kepada siapa saja yang bertamu ke rumahnya.
”Jika bukan karena kasihan ombak, aku tentu tak akan sampai ke pantai.” Begitu kata Maliki kepada orang-orang kampung, mengutip kalimat yang ditulis Buya di salah satu bukunya sebagai ungkapan rasa terima kasihnya kepada orang-orang yang telah ikut membantunya meraih semua cita-citanya. ”Jadi, kalau ada permasalahan yang bisa saya bantu saya carikan jalan keluarnya tentu saya akan sangat senang sekali,” ujar Maliki.
Maka, mengalirlah segala keluh kesah yang telah mereka simpan lama itu.
”Sejak Buya tidak ada, sudah sesuka hati saja orang-orang di kabupaten dan provinsi sana memperlakukan kampung kita ini! Sudah tidak ada lagi marwah kampung kita di mata mereka. Padahal, dulu pada saat Buya masih hidup, kampung kita disanjung-sanjung, dipuji sebagai tanah kelahiran tokoh bangsa. Tapi, setelah ditinggal pergi Buya, mereka pun tak lagi menyisakan sedikit pun rasa hormat kepada kampung kita. Orang-orang kampung diadu domba, terpecah, lalu kampung ini pun mereka perlakukan seenak perutnya saja!” ujar salah seorang dari mereka, geram.
Maliki tentu sudah bisa menduga ke mana arah percakapan itu. Namun, sebagai orang besar, ia tentu tak ingin cepat-cepat memintas. Ia ingin menunjukkan sikap tenang khas orang besar yang berwibawa. Maka, ia pun meminta orang-orang menceritakan duduk perkaranya dari awal.
Kompas/Supriyanto
”Kau tentu sudah mendengar kabar soal perusahaan yang mengolah kayu hutan di Lisun, kan?”
Maliki mengangguk.
”Itu yang menjadi sumber petaka kampung kita! Sejak mereka menebangi hutan Lisun, harimau makin sering masuk kampung, memakan ternak. Dan sebentar lagi kami-kami inilah yang akan diterkamnya. Lalu, menurutmu, apa lagi yang membuat inyiak balang itu keluar hutan kalau bukan karena hutan telah dirusak? Dulu ketika musim sulit, orang kampung kita masih bisa pergi ke Lisun, mencari ikan gariang, kulaghi, atau umbuik-umbuik, lalu menyangainya menjadi ikan salai. Atau pergi ke sungai di balik Batu Tanggo, memancing limbek. Dapat juga uang pembeli beras. Kini kau lihatlah, karena tak ada lagi yang bisa diusahakan pada musim susah, orang-orang kampung kita sudah mulai mencuri. Sawah-sawah juga sudah banyak yang kering. Anak-anak sungai sudah tak lagi dialiri air. Orang-orang pun terpaksa membeli beras. Biaya hidup pun kian bertambah.”
“Bukankah dulu perwakilan perusahaan kayu sudah datang ke sini dan mengajak semua orang bermusyawarah mengenai pengelolaan hutan di Lisun?” tanya Maliki tenang, seakan tak sedikit pun terpancing dengan kata-kata penuh amarah yang dilontarkan penduduk kampung.
“Ya, tapi kita semua sudah ditipu oleh perusahaan kayu itu!”
“Ditipu bagaimana?”
“Mereka tidak hanya menebang kayu berukuran besar sebagaimana kesepakatan bersama setelah musyawarah dulu. Area penebangan mereka pun selalu bertambah dari waktu ke waktu. Bisa dibilang hutan di sana sudah sepenuhnya dikuasai oleh mereka. Tinggal menunggu waktu saja hingga sungai-sungai yang berhulu ke Lisun mengamuk dan menghanyutkan kampung kita.”
Maliki menghela napas. Keningnya tampak berkerut. Mungkin ia tengah berpikir keras. ”Apakah hal ini sudah dibicarakan sebelumnya dengan DPRD atau Bupati?”
”Sudah berkali-kali kami berembuk dengan DPRD dan Bupati. Hasilnya nihil. Katanya perusahaan itu memang sudah mengantongi izin resmi dan mereka beroperasi sesuai dengan peraturan pengelolaan hutan. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, mereka tentu tidak tahu—atau lebih tepatnya tidak mau tahu!”
Baru saja Maliki akan menimpali, seseorang yang lain sudah bersuara: ”Sudah sering kami mendengar desas-desus kalau Bupati punya saham di perusahaan itu. Makanya sampai sekarang keluhan masyarakat tidak pernah ditindaklanjuti.”
”DPRD pun sama saja. Mereka semua sudah kongkalikong, bagi-bagi persenan dari perusahaan kayu!” sahut seseorang yang duduk di sebelahnya.
”Bukankah Munif bisa menyuarakan ini di DPRD?” Maliki menyebut satu-satunya anggota dewan dari kampung mereka, yang mungkin dalam pikirannya akan berpihak pada kemaslahatan orang-orang di kampung kelahirannya.
”Munif? Ah, sama saja ia dengan anggota dewan yang lain. Sejak ia terpilih, masuk telinga kanan keluar telinga kiri saja kata-kata kami baginya. Bisa jadi ia juga sudah makan uang suap dari perusahaan kayu!”
Maliki lagi-lagi menghela napas dalam-dalam.
”Kau harapan kami sekarang, Maliki. Kau tentu akan didengarkan. Kau orang besar. Mereka pasti segan padamu. Mungkin sebaiknya kau langsung saja menemui Gubernur, atau Presiden saja sekalian. Biar tahu rasa Bupati zalim itu!”
Lalu orang-orang pun bernostalgia mengingat Buya. Bahwa jika seandainya Buya masih hidup, tentu akan sangat mudah bagi beliau untuk menyelesaikan permasalahan ini. Hanya dengan satu pesan singkat ke Gubernur, perusahaan kayu itu bisa segera dihentikan, begitu kata mereka.
”Kau tentu juga bisa melakukan itu, Maliki,” kata mereka seolah ingin meyakinkan Maliki. ”Kau satu-satunya orang besar yang dimiliki kampung kita sekarang.”
Maliki mengangguk-angguk. ”Akan saya usahakan. Insya Allah.”
Orang-orang pun mengangguk-angguk. ”Kami percaya padamu.”
”Kami tahu kau akan membawa orangtuamu tinggal di Jakarta. Tapi, kami di kampung ini juga orangtuamu. Jadi, sering-seringlah pulang, jenguk kampung halamanmu ini,” pesan mereka malam itu sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Sebelum ia kembali ke Jakarta beberapa hari kemudian, Maliki menemui Bupati dan beberapa anggota DPRD, termasuk Munif dan utusan Gubernur. Namun, tentu saja orang-orang kampung yang telah menyemai bibit harapan di dada mereka sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan Maliki dengan orang-orang tersebut pada pertemuan di ruang VIP sebuah hotel berbintang di Padang itu. Sebagaimana orang-orang kampung juga tidak tahu bahwa saham yang dimiliki Maliki pada perusahaan kayu yang menjadi sumber malapetaka di kampung mereka jauh lebih banyak daripada yang dimiliki oleh Bupati.
Orang-orang kampung di lembah Bukit Barisan itu sepertinya terlalu tergesa-gesa mengangkat Maliki sebagai orang besar yang kelima.