Pasar Santa, 2045
F Ilham Satrio · 21 September 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Raibnya orang-orang di Jakarta selama beberapa bulan terakhir menjadi hal yang semakin lumrah diterima Zafan. Tanpa terkecuali pusat-pusat belanja dan pasar tradisionil yang hanya menyisakan bayangan kejayaan masa lampau. Tak terkecuali Glodok, Tanah Abang, Kemayoran, lalu sebut pasar dan pusat grosir lainnya dan kau hanya akan disambut oleh tembok yang dingin. Di tengah migrasi besar-besaran itu Zafan mampu bertahan. Gilirannya untuk pergi meninggalkan Jakarta tiba setahun lagi. Setelah ziarah terakhir dan pamungkas yang akan ia lakukan.
Baru saja kakinya melangkah keluar dari apartemennya, Zafan disergap deru angin dingin yang memeluknya dari balik tengkuk. Ia rekatkan kerah jaket parkanya dan menyelinapkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Seiring dengan arah angin, ia melangkah barat. Poninya kerap tersibak, sementara pori-pori mukanya tersayat-sayat angin. Sunyi. Angin tak segan membentur jalanan, mendesak, menyembilu. Di atas trotoar yang telah rompal dan lebih mirip boulevard yang baru saja dijatuhi bom, Zafan mengayunkan kedua kakinya seolah ia manusia terakhir di muka bumi. Pakaiannya, setelan yang sudah melekat dua hari di badannya: sepatu tenis coklat, celana jins hitam kusam, parka tebal.
Kemungkinan pertama adalah, Zafan bakal disambut optometrinator di ambang pintu toko dan ia akan memindai retina matanya. Pintu akan terbuka diiringi rekaman suara cewek sebagai penyambut tamu ’selamat datang selamat membaca selamat berbelanja salam literasi’. Zafan akan melangkah masuk, membuka jaket dan menggantungnya di dekat pintu. Ia akan berlari kecil ke sebuah meja tempat data dari ribuan buku tersimpan. Sebuah perangkat berbentuk persegi berbahan logam hasil olahan biji gotri dan sampah plastik, ditanami cip dan prosesor kuantum. Ia mencolek layar perangkat dan membuka program besutan kementerian kebudayaan baca-tulis bernama martinator.
Vincensius Dwimawan Chriswanto-
Kemungkinan kedua: Zafan duduk di hadapan benda logam yang dingin itu dan membuka program martinator. Ia masukkan nama pengguna dan kata sandi. Setelah akunnya berhasil dimuat si program, ia akan disambut oleh suara cewek, ’Cintaku tahap beta, di pulau yang nun, sayur-mayur digital, swasembada bootcamp dalam kapal, menuju tapal batas masa depan, yang berada di sini –puisi karya Zafan dengan prokreasi Martinator versi 4.0’, kata rekaman suara si cewek. Lalu dataraya pun tersibak. Hanya dibutuhkan sentuhan ujung telunjuk Zafan di layar untuk membuka ribuan buku yang terkoneksi dengan jutaan informasi.
Angkat tangan atau kami tembak!
Kemungkinan ketiga: Zafan disambut bau sawi busuk sebelum masuk ke ruangan berpendingin seperti masuk ke dalam lemari kulkas sebesar kamar tidurnya. Di dalam ruangan ia menyaksikan kilatan-kilatan mata yang penuh antusias, pendar mata yang penuh rasa lapar, serta sorot mata para aulia kebudayaan yang kerap mendengus saat menyaksikan seseorang asyik membaca buku dengan judul-judul stoik. Zafan akan mengambil tempat di hadapan rak buku berwarna coklat oak. Ia memilah halaman buku yang baru saja dicomotnya. Memilahnya perlahan sembari menghidu harum kertas seperi koki handal mengiris lobak. Ia akan larut di tempat duduk dengan bacaannya hingga petang merembang.
Akan tetapi tidak ada kemungkinan hari ini. Semua hal yang pernah diangankannya telah terjadi pada sepersekian detik di dalam kepalanya. Sehingga, apa yang kemudian akan ia datangi tak lain sebagai situs masa lalu belaka. Sebagai sisa-sisa peristiwa yang tak sempat diingatnya, dan oleh karenanya tak dapat ia anggap sebagai suatu kebaruan, sebagai temuan yang segar. Padahal, peristiwa-peristiwa itu hanyalah zarah dari serentetan hukum kosmik di masa lalu. Zafan menyadari akan hal itu. Zafan menyadari akan tujuannya yang tak lagi ada. Dan Zafan menyadari ia hanya akan menemukan ketiadaan.
Di saat yang sama, langkah kakinya tak bisa mengerem sebagaimana keraguan bercokol di benaknya. Kedua kakinya seperti benda yang terpisah dari pusat kendali pada pangkal otaknya. Kemudian kedua tangannya, yang tiba-tiba bergerak keluar dari saku jaket dan berpindah ke saku celana jins keras mengepal. Kemudian hidungnya yang tergelitik, bibirnya yang bergetar, kedua telinganya yang menangkap suara-suara yang dikirim angin dari kejauhan dan terpantul-pantul dari dinding bangunan yang kusam, dingin, dan lapuk. Tapi tidak dengan pikirannya. Sekali dihantui keraguan, sisanya adalah semacam kepastian tentang laku berjalan, melangkah, seperti dinamo yang tak akan berhenti sebelum kerusakan medan magnet menderanya.
Untuk apa Anda ke Pasar Santa?
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti. Mobil patroli autonomus dengan pendar sirine yang menyilaukan kedua mata Zafan sampai ia harus menangkisnya dengan punggung tangan.
”Berhenti di situ dan angkat tangan Anda!” perintah suara dari mobil patroli.
”Tapi, a—”
”Angkat tangan atau kami tembak!”
Sontak Zafan mengangkat kedua tangannya ke udara. Setengah melambai. Terpaan angin dingin yang meresapi punggungnya perlahan berubah menjadi hangat dan memanas perlahan.
”Apa yang Anda lakukan di daerah ini?” tanya suara dari si mobil patroli.
”Ke Pasar Santa,” jawab Zafan.
”Tunjukkan Identitor di ponsel Anda.”
Tangan kanan Zafan kemudian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. Membuka Identitor, sebuah aplikasi tempat identitas dan segala macam rekam jejak tersimpan. Aplikasi tunggal yang menggugurkan aplikasi-aplikasi lain di ponsel kita dan tak ada aplikasi lain yang dapat menyainginya, seolah ponsel kita tak lagi membutuhkan aplikasi lain selain Identitor tempat semuanya tentang kita berada dan tertanam sejati sebagai data diri absolut lagi permanen. Zafan mengarahkan muka ponsel ke arah alat pemindai yang terpacak di badan mobil agak ke sebelah kaca pengemudi. ”Jangan melangkah, diam di tempat!” kata suara mobil patroli. Zafan tetap di tempatnya, mematung, tapi jangkauan sinar gama pemindai Identitor mampu merangsek ke dalam ponsel Zafan. Sejak detik itulah Zafan telanjang setelanjang-telanjangnya seolah tak ada lagi bagian luar tubuhnya yang mampu melindunginya dari ketelanjangan sempurna di hadapan mobil patroli autonomus itu.
”Untuk apa Anda ke Pasar Santa?” tanya si mobil patroli.
”Melihat-lihat.” Jawab Zafan. Gigi gerahamnya saling bertumbuk.
”Apa yang bisa dilihat? Kompleks pasar itu tinggal puing-puing belaka!”
”Saya ingin menulis sesuatu tentang puing-puingnya.”
Menerima jawaban seperti itu, mobil patroli bergeming selama hampir satu menit.
”Lagi pula, tahun depan saya sudah harus meninggalkan tempat ini dan—”
”Diam! Anda tak perlu bicara jika tidak ditanya.”
Zafan diam. Kedua tangannya masih menggantung di udara. Pegal mulai merayap sendi dan otot bahunya. Keringatnya merembes di punggung. Bajunya basah. Embusan angin terasa panas. Hawa yang kerap kali dirasakan bila seseorang dihampiri mobil patroli autonomus. Ada yang bilang hawa itu berkat konversi nikel ke listrik yang kurang sempurna dan membuat uap panas tertahan dan meradiasi mereka yang berada di sekitar mobil. Namun ada juga yang bilang uap panas itu bagian dari senjata mereka. Zafan tak tahu mana yang lebih tepat. Ia hanya akan menambahkan, hawa panas itu membuat badan kita merasakan pegal-pegal dan rasa gatal di kepalan tangan.
”Masuk ke mobil!”
”Saya tak berbuat apa pun, untuk apa saya ditahan?”
”Anda menolak perintah institusi untuk masuk ke mobil. Itulah kesalahan Anda, anak muda!”
”Saya berhak membela diri untuk sesuatu yang bahkan tidak saya perbuat!”
Sepersekian detik sengatan listrik meluncur dari antena mobil patroli autonomus dan menyetrum Zafan. Lempeng besi menjulur dari bagian kap mobil seperti lidah dan menyekop tubuh Zafan seperti onggokan bangkai kucing dan memasukkannya ke dalam bagasi.
Kepalanya pengar dan matanya menyaksikan kunang-kunang beterbangan. Badannya terasa ngilu dan menggigil. Ia raba celana jins dan tak menemukan apa pun di dalam sakunya. Satu hentakan kesadaran itu, seperti seseorang yang baru saja siuman dari alam mimpi akibat bertemu hantu atau semacamnya yang hendak memakan bulat-bulat tubuhnya. Zafan yang terkapar merangkak bangkit. Lututnya bergetar. Benda berharga terakhir yang ia miliki, yang menghubungkannya dengan dunia, ponsel sialan itu, kini raib tak berbekas.
Ia edarkan pandangan, kompleks pasar yang hanya hidup dalam senarai tembang tentang Jakarta tempo dulu. Langkah lunglai kedua kakinya menuntun Zafan meniti anak tangga. Sebenarnya ia jeri, sebab tak ada lagi tiang penyangga yang mampu menahan beban. Tapi ia terus melangkah masuk dan menemukan dinding keramik yang membisu. Pecahan batu, semen yang berlubang, kabel yang menjuntai, angin yang kembali dingin menusuk.
Hanya beberapa langkah lagi, desaknya, ia akan menemukan situs itu. Karena dinding-dindingnya sudah rontok dan tugur, Zafan dapat mengambil langkah lurus. Memotong melewati lubang dan rompal dinding. Lantai pecah, kerikil terinjak, terseret di atas keramik yang retak. Udara lembab dan aroma debu adalah perpaduan yang pas tentang peradaban yang lampau. Tapi Zafan yakin, seyakin kedua langkah kakinya yang tak lagi dapat kepalanya kontrol untuk berhenti. Zafan yakin, kedua kaki yang mengayun itu pun yakin.
Setibanya di situs itu, keyakinannya disambut hangat oleh perangkat berbentuk persegi berbahan logam hasil adukan biji gotri dan sampah plastik, ditanami cip dan prosesor kuantum. Ia mencolek layar perangkat dan membuka program besutan kementerian kebudayaan baca-tulis bernama martinator. Mesin itu kemudian berbunyi, ’Cintaku tahap beta, di pulau yang nun, sayur-mayur digital, swasembada bootcamp dalam kapal, menuju tapal batas masa depan, yang berada di sini –puisi karya Zafan dengan prokreasi Martinator versi 4.0’.