Pecundang di Tanah Para Pembangkang
Gusti Aditya · 15 Agustus 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Kau tahu itu makam siapa?” Gadis manis asal Iran itu menunjuk salah satu pusara di luasnya TPU Père-Lachaise. ”Dia adalah Sadeq Hedayat. Orang Iran. Bangsawan. Tapi ia melawan. Dengan tulisan,” katanya terputus-putus. ”Kota ini dipenuhi oleh para pembangkang. Aku yakin kau salah satunya,” lanjutnya. Aku menggelengkan kepala. Ia menatapku sangat dalam. Entah merasa tak enak atau bagaimana, gadis bernama Aisa itu berkata, ”Mungkin belum hari ini. Barangkali esok, atau lain hari.”
Tidak akan. Itulah jawaban yang ingin aku sampaikan pada Aisa. Namun, lidahku terlalu kelu untuk bilang itu. Aku tak tahu bagaimana perasaan Aisa padaku, namun aku tahu ia akan sangat kecewa jika mengetahui bahwa aku bukanlah seorang pembangkang dan tak berniat untuk menjadi itu. Terlalu banyak pembangkang di dunia dan semua akan berakhir seperti orang di bawah pusara ini: Sadeq Hedayat.
”Bagaimana Sadeq Hedayat menurutmu?” tanyaku.
Aisa menjadi semangat membahas itu. Napasnya yang ngos-ngosan usai kami melewati bukit-bukit Père-Lachaise seakan sudah tergantikan dengan otomatis. Pipinya yang merona itu bersiap untuk mengatakan banyak hal. Aku tersenyum.
Aisa berkisah bahwa Sadeq Hedayat sama sepertiku. ”Ia lahir dalam golongan aristokrat. Kakeknya penulis terkenal di kubu pemerintah. Salah satu saudara perempuannya menikahi seorang jenderal. Namun, kau sudah tahu, ia melawan pemerintahan Iran saat itu, Reza Syah, dengan tulisan-tulisannya yang melampaui zamannya. Kritiknya terlalu tajam perihal agama dan struktur masyarakat, membuat gerah banyak pihak. Ia mati bunuh diri di flat-nya di Paris.”
Senyumku surut. ”Apa yang sama dari Sadeq Hedayat dengan diriku? Cerpenis dan novelis? Esok matiku adalah bunuh diri? Atau berasal dari keluarga aristokrat?”
Aisa tertawa. Ia melihatku. ”Semua, kecuali esok kau akan mati dengan cara bunuh diri,” jawabnya.
”Keluargaku bukan berasal dari kalangan aristokrat.”
Aisa hanya menganggukkan kepalanya. Senyumnya perlahan-lahan hilang. Ia mengalihkan pandangan ke pusara Sadeq Hedayat.
”Keluargaku memang bekerja di kedutaan besar Indonesia di Paris. Sejak lahir aku di tinggal di Paris. Aku lebih sering mengunjungi TPU Père-Lachaise daripada negara asal kedua orangtuaku. Namun, jika dikatakan aku adalah aristokrat, tidak juga. Ibuku dulu eksil ketika negaraku didera huru-hara. Ia pergi ke negara ini untuk mencari suaka. Bertemu dengan ayahku, seorang penulis kurang terkenal yang sedang berkuliah di kota ini. Jadilah aku.”
”Huru-hara macam apa?” Aisa bertanya tanpa melihatku.
”Perbedaan ideologi, permainan politik, militer dengan senjatanya, dan pemerintahan yang rakus. Nenekku, ibunya Ibuku, salah satu tokoh paling dicari pada masa itu. Nenek dan kakekku mati, Ibuku lolos.”
Aisa menarik napas dalam-dalam. ”Maaf telah menyamakan latar belakang Hedayat dengan dirimu. Bukan maksud membandingkan, namun kau lebih layak marah dan membangkang atas nama masa lalu keluargamu.”
Kota ini dipenuhi oleh para pembangkang. Aku yakin kau salah satunya.
Nada suaraku naik, dadaku terasa berat, ”Itu urusan orangtuaku! Bukan urusanku.”
”Kenapa?” Tanya Aisa dengan tenang.
”Aku… Aku ini rasanya seperti nir-tempat yang dijelaskan oleh Marc Augé…”
”Antropolog kesukaanmu,” jawab Aisa dengan cepat.
”Ya, ya, benar. Aku ini seperti nir-tempat selayaknya ruang transit, stasiun, atau bandara. Aku tak punya sebuah ikatan khusus untuk berinteraksi dengan ruang, di mana tempat asalku atau tempatku sekarang tinggal. Aku tak punya ikatan kuat dengan Perancis karena aku bukan asli sini. Aku berbeda. Apalagi Indonesia. Di telingaku, negara itu seperti negeri dedongengan yang jauh dan aku bingung bagaimana harus bersikap jika negara itu sedang terkena sial—sayangnya negara itu kena sial melulu.”
”Itu yang membuat cerpen-cerpenmu tak pernah mengandung muatan sosial dan politik?”
”Apakah semua itu harus?” nada suaraku kembali naik.
Aisa mengangkat bahu. Ia melihatku lalu tersenyum. Kemudian ia berjalan mendahuluiku, kami berkeliling area pemakaman. Kami melihat berbagai makam penulis kondang yang sudah wafat dan kini sudah pasti menjadi belulang.
”Jean de La Fontaine, Honoré de Balzac, Gertrude Stein, Colette, Oscar Wilde, Sadeq Hedayat, dan masih banyak penulis lagi adalah mereka yang dikuburkan di sini,” kata Aisa. Dan, alasan itulah kami menyukai tempat ini untuk berkencan—jika boleh menyebut pertemuan kami adalah sebuah kencan.
”Dan mereka semua para pembangkang,” kataku dengan ketus.
”Fontaine dengan fable satirnya kepada kerajaan, Balzac dengan La Comédie Humaine sebagai penggambaran masyarakat Paris yang menderita, Stein melawan kekerasan ras dan agama, Colette melawan patriarki, Oscar Wilde melawan diskriminasi orientasi seksual, dan mungkin kau bisa belajar dari Hedayat dengan kepekaan terhadap negara asalmu.”
”Aku tak mau menjadi penulis yang seperti itu. Aku merasa tak cocok.”
”Tak apa,” jawab Aisa dengan singkat. ”Tulisanmu benar-benar bagus. Sangat bagus. Aku ingin bisa menulis seperti dirimu,” katanya. Aku tahu bahwa itu caranya menutup rasa kecewa karena menerima ajakanku untuk berkencan untuk yang kesekian kalinya dengan obrolan yang begini-begini terus.
Kompas/Supriyanto
”Besok tulisanmu naik di jurnal kampus. Aku turut bangga denganmu. Tulisanmu membahas apa?” tanyaku.
Ia menunduk dan menendang batu kerikil. ”Perempuan dan Iran,” jawabnya singkat. ”Mungkin aku sekarang bisa dikatakan selalu aman. Bebas untuk tidak memakai kerudung, juga bebas berekspresi. Di Paris, kota ini, aku bisa menyampaikan pendapatku dengan tenang di depan massa demonstrasi.”
Aku berjalan pelan di sampingnya, ”Lantas mengapa kau mengambil tema itu? Tema yang jauh sekali darimu.”
”Ke mana pun aku melangkah, Iran selalu mengalir dalam darahku. Ketika aku aman, belum tentu perempuan lain di negaraku merasakan itu. Aku diberikan keuntungan dengan tinggal di kota ini, bebas menulis dan bercerita, sebab itu aku memanfaatkan hal itu untuk mengabarkan kepada dunia, bagaimana kondisi nyata negaraku.”
Aku tak merasa bahwa apa yang dikatakan Aisa adalah sebuah sindiran padaku. Namun, hatiku terasa berdegup amat kencang dan begitu kacau.
Aisa melanjutkan, ”Apa kau kira para penulis pemberontak itu memikirkan diri mereka sendiri? Ketenaran? Uang? Ah, bahkan banyak di antara mereka yang anumerta. Hedayat juga begitu. Ia menjadi simbol perlawanan bagi sebagian orang yang masih hidup.”
”Lantas apa yang mereka cari?”
”Vargas Llosa pernah menulis bahwa akan sulit penulis kontemporer untuk menjadi seperti penulis zaman dulu. Sebab, tak ada pantikan bagi mereka untuk memasuki keabadian. Maksudnya, kini, para penulis ini seakan menjadi produk industri semata. Aku juga merasa menjadi seperti itu. Aku seperti menulis untuk memenuhi target, memenuhi tuntutan, mengenyangkan perut, kemudian sudah. Aku tak merasa bahwa aku menulis dengan iming-iming keabadian. Menjadi abadi.”
Aku menganggukkan kepala. ”Menjadi abadi,” ulangku. ”Bukankah menjadi abadi berarti menjadi terkenal pula?”
Aisa meletakkan tangannya ke belakang, ia berjalan mendahuluiku, kami melewati pusara-pusara bergaya barok. ”Sebenarnya menjadi terkenal itu penting. Menjadi terkenal, maka suaramu akan terdengar. Kau tahu Mahsa Amini? Beberapa tahun setelah kematiannya dalam kurungan penjara karena ditangkap oleh polisi moral Iran sebab gaya berbusananya tak menaati aturan, perempuan Iran mulai melawan. Beragam caranya. Caraku adalah dengan menulis kritik kepada pemerintah.”
”Kau terkenal di negaramu,” kataku.
”Hidup kita di bumi tak lebih panjang dari alien yang kencing di planet Neptunus. Aku tak sedang mempersiapkan diriku sendiri, melainkan anak-anak kita nanti. Keturunan kita nanti. Kau tak tahu mereka akan hidup di Paris, Iran, atau Indonesia. Tak ada yang tahu. Kita tak tahu pula persoalan apa yang akan menimpa mereka. Apakah Sadeq Hedayat tahu bahwa bertahun-tahun setelah kematiannya, ada seorang perempuan yang akan dibunuh dengan sadisnya oleh polisi yang katanya sedang memperbaiki moral bangsanya? Ia tak tahu. Namun, tulisannya tahu. Tulisannya itu melampaui zamannya. Ia abadi. Setidaknya bagi bangsa kami.”
Aku tersenyum saat itu. Ya, aku tahu, aku sedang tersenyum. Sekaligus, aku merasa tersengat. ”Nampaknya selama ini aku terlalu lama diam dan menulis roman kosong untuk sekadar memenuhi kantong.”
”Itu tak salah,” kata Aisa. Ia membalikkan badan, berjalan mundur dan tersenyum padaku. ”Kau bisa memulainya kapan saja. Bahkan nanti malam.”
*
Di sebuah bangku di Jardin du Luxembourg setelah aku mengantarkan Aisa pulang, aku duduk lama sekali di sana. Ketika matahari mulai tenggelam pada pukul sembilan malam, aku masih duduk dan menatap orang-orang yang sedang mempersiapkan penyambutan musim panas. Aku benar-benar pecundang, begitu yang aku pikirkan. Seluruh orang di kota ini memang para bergajul dan pembangkang—baik mereka yang masih hidup maupun yang sudah mati. Sedang aku, adalah seonggok manusia yang hanya memikirkan diri sendiri.
Kondisi negaraku sangat memprihatinkan. Badai PHK ada di mana-mana, sedangkan mereka yang berkuasa terus menikmati uang yang seakan tak tahu kapan berhentinya. Mereka mengeruk alam guna memperkaya kantung-kantung para konglomerat. Kekayaan hanya dimiliki oleh segelintir, lainnya adalah para miskin dan menyedihkan.
Aku seperti menulis untuk memenuhi target, memenuhi tuntutan, mengenyangkan perut, kemudian sudah. Aku tak merasa bahwa aku menulis dengan iming-iming keabadian. Menjadi abadi.
Orangtuaku diam, padahal salah satu di antara mereka adalah eksil yang kehidupannya dibunuh oleh negara. Mereka memang memberiku kehidupan yang layak, namun yang dibutuhkan seorang anak bukan hanya itu. Uang bisa habis kapan saja, namun kondisi damai dan adil adalah harga mati yang harus diciptakan.
Pulang nanti, aku akan membuat sebuah tulisan yang hebat. Entah berupa cerpen, esai, atau bahkan novel yang akan membuat para tiran berkeringat sampai ke bokong-bokongnya. Persetan dengan orangtuaku yang kini menjabat sebagai pejabat di KBRI. Toh ketika mereka mati, aku akan sendiri melewati sunyi tak bergantung dan menjilat para pejabat dan konglomerat.