Pedang Kayu Kenjutsu
S Prasetyo Utomo · 30 Agustus 2025
Sumber: Tempo · tautan sumber
LANGIT hampir padam. Kios-kios di sepanjang jalan menuju Kuil Asakusa ramai dikunjungi pembeli. Kios barang antik Akihiro sepi tanpa pengunjung. Tampak lelaki tua itu menikmati semangkuk matcha [1]. Mengenakan kimono, Ryota bersama Harumi memasuki kios dengan langkah tenang. Mereka dijamu Akihiro minum teh hijau. Tampak wajah lelaki tua itu tenteram, menyembunyikan keahliannya dalam bela diri kenjutsu [2].
“Ajari saya jurus kenjutsu yang mematikan!” pinta Ryota.
Akihiro meletakkan mangkuk matcha. Tegak berdiri, ia memeragakan beberapa jurus kenjutsu dengan pedang kayu. Ryota mengikuti semua gerakan lelaki tua itu. Ia melakukan gerakan kuda-kuda, tebasan, tusukan, tangkisan, dan serangan balik dengan sangat cekatan.
“Apa kau ditantang kakak lelaki Harumi?” tanya Akihiro.
“Kakak Harumi seorang yakuza [3]. Ia ingin menyeret Harumi agar menjual diri di klub malam Kabukicho [4]. Saya menghalanginya,” kata Ryota tenang, tak sekalipun dihantui rasa takut.
“Dia menentukan tempat pertikaian?”
“Ia menantangku bertarung dengan pedang di jalanan Kabukicho.”
“Kau menyanggupinya?”
“Tentu saya menyambutnya,” balas Ryota. “Kami sama-sama keturunan ronin [5]. Tak pantas menghindari tantangan.”
“Ingatlah, semua gerakan kenjutsu memancar dari pengendalian diri,” kata Akihiro. “Tetaplah menjaga rasa hormat. Jangan pernah merendahkan lawan.”
Kios-kios di sepanjang jalan menuju Kuil Asakusa mulai ditinggalkan orang-orang. Para pengunjung kuil bergerak ke arah Taman Sumida. Ryota dan Harumi berpamitan kepada Akihiro, meninggalkan kios barang antik.
“Bawalah pedang kayu ini!” pinta Akihiro.
Mereka mengikuti langkah orang-orang menuju Taman Sumida di antara pohon-pohon sakura. Mereka melangkah pelan-pelan di atas rerumputan, tepi Sungai Sumida. Mereka mencari tempat sunyi. Ryota ingin memeragakan gerakan-gerakan kenjutsu dengan pedang kayu di taman yang jauh dari kerumunan orang. Ia membayangkan lawan yang bakal dihadapinya seorang lelaki kekar bertato naga dengan jari kelingking tangan kiri yang terputus, yang menandai terkena hukuman oyabun [6] yang melindunginya.
MENGENAKAN kimono hitam, Ryota menggenggam pedang kayu yang digunakan untuk berlatih kenjutsu. Bersama Harumi, ia memasuki Taman Sumida untuk menonton pesta kembang api. Mereka menjauhi keramaian orang yang ingin menikmati pesta kembang api. Harumi pelan-pelan mendampingi Ryota, melupakan kakak lelakinya, seorang yakuza yang pernah menganiayanya.
Matahari di atas taman mulai padam. Orang-orang terus melampiaskan kegembiraan di sepanjang jalan sekitar sungai. Harumi tak mau kehilangan kesempatan menikmati pesta kembang api. Ia mencari-cari sosok lelaki kekar bertato naga yang mungkin saja merusak kebahagiaannya.
Harumi menikmati perayaan pesta kembang api yang mulai meletup-letup di langit. Ia takjub menatap gemerlap cahaya kembang api. Gadis itu membiarkan Ryota, kekasihnya, berlatih kenjutsu dengan menggunakan pedang kayu, menyempurnakan gerakan tebasan vertikal, miring, dan horizontal.
Lagi asyik memandangi spektrum warna kembang api, Harumi tersentak melihat kakak lelakinya muncul dengan pisau pendek yakuza. Kedatangan lelaki yakuza itu mengejutkan. Lelaki kekar bertato itu menenggak sake dari mulut botol, dan bertahan untuk tidak mabuk. Ia mendekati Ryota yang tengah berlatih kenjutsu dengan pedang kayu. Ryota tampak tenang. Ia menghadapi lelaki yakuza yang mabuk. Ia berusaha tak terpengaruh kemarahan lelaki yakuza.
“Aku tak bisa membiarkan adikku kaubawa pergi serupa ini,” kata lelaki yakuza.
“Ia akan kubawa kerja di klub malam Kabukicho, biar menghasilkan banyak uang.”
“Kau tak pantas memperlakukan adikmu dengan cara seburuk ini!” kata Ryota.
“Ia telah menemukan kebahagiaannya sendiri sebagai penulis naskah kabuki.”
“Aku tak akan pernah berhenti menghalangi niat jahatmu!” kata Ryota penuh percaya diri.
“Kalau begitu, bersiaplah untuk mengalahkanku!”
Di tangan lelaki yakuza itu tergenggam pisau pendek. Ryota menggenggam pedang kayu untuk menghadapi serangan pisau pendek yang berkelebat ditikamkan ke arahnya. Dengan pedang kayu itu, Ryota melakukan tangkisan, tikaman, dan serangan balik yang sangat merepotkan lelaki yakuza. Sesekali ia melakukan teriakan-teriakan yang mengejutkan bersamaan dengan gerakan pedang kayu.
Gerakan Ryota sangat cekatan, dan lelaki yakuza berkali-kali tertikam pedang kayu. Tak sekalipun pisau pendek lelaki yakuza menggores tubuh Ryota. Ketenangan dan rasa hormat Ryota kepada lawan memberinya keleluasaan untuk berkelit dan berbalik melakukan serangan bertubi-tubi. Ujung pedang kayu bahkan sempat menikam leher lelaki yakuza hingga terluka.
Lelaki yakuza surut. Tebasan pedang kayu melukai pergelangan tangan kanan lelaki yakuza yang menggenggam belati pendek. Nyeri sekali pergelangan tangan lelaki yakuza. Pisau pendek yang berkilau itu terpental di rerumputan. Tanpa senjata, lelaki yakuza itu terhuyung-huyung menghindar, melarikan diri dari tikaman pedang kayu. Ia menghambur di antara orang-orang berpakaian kimono yang terpikat pancaran kembang api dengan kebahagiaan. Lelaki yakuza berlindung di antara keramaian orang-orang di tepi sungai.
“Jangan kaukejar dia! Nanti kamu dijebaknya!” pinta Harumi. Ia menggenggam lengan Ryota, dan menyembunyikan rasa takut. Ryota menghentikan langkah kakinya memburu lelaki yakuza.
Terhuyung-huyung, lelaki yakuza itu meninggalkan taman. Garang matanya memancarkan dendam. Wajahnya menampakkan kekejian di masa mendatang. Harumi memandangi kepergian kakak lelakinya yang melontarkan ancaman, “Aku akan datang lagi untuk menyelesaikan perkara ini!”
“Kau tak pantas menjadi lawanku!” balas Ryota dengan perasaan yang terkendali. Terpikir di benaknya untuk memburu lelaki yakuza itu sampai ke keramaian klub malam, gedung pertunjukan, dan hotel di Kabukicho, markas mereka mencari mangsa, tetapi diurungkannya.
SEUSAI pesta kembang api, Harumi melonggarkan genggaman di lengan Ryota. Lelaki muda itu masih menggenggam pedang kayu di tangannya.
“Antar aku pulang,” pinta Harumi. ”Aku takut, kalau kakak lelakiku tiba-tiba muncul dan kembali menghajarku. Aku seringkali tak bisa tidur semalaman.”
“Aku akan sering menemanimu,” tukas Ryota sambil melangkah pelan meninggalkan Taman Sumida yang berangsur-angsur senyap ditinggalkan orang-orang. Ryota mencari taksi dan mengantarkan Harumi kembali ke apartemen. Ia berjalan kaki seorang diri untuk mencapai apartemen tempat tinggalnya.
Sebuah mobil van hitam berhenti di sisi tubuh Ryota. Seorang yakuza muda dengan tubuh bertato turun menghampiri Ryota. Membungkuk hormat.
“Oyabun kami ingin bicara!” kata lelaki yakuza. Ryota naik ke dalam mobil van hitam, disambut lelaki setengah baya bertato naga yang mengangguk hormat. Mobil van hitam itu melaju ke Kabukicho. Mereka memasuki sebuah klub malam, dan Ryota dijamu minum sake.
“Mohon maaf atas perilaku bawahan kami,” kata oyabun yakuza. “Kalau kau berkenan membebaskannya, aku akan sangat berterima kasih. Dari caramu memandang, aku merasa, kau sama sepertiku, keturunan ronin.”