Dengan bersusah payah, Dul berusaha menggelar tikar pandan yang sudah lusuh dengan satu tangan. Tangan kirinya dibebat kain seperti orang sehabis operasi patah tulang. Semua orang di pasar mengingat cerita yang diceritakan Dul berulang-ulang, tangan itu patah saat ia menaiki Buroq ketika hendak mencapai Arsy, tetapi gagal. Dul jatuh, naas yang jatuh ke tanah adalah tangan kirinya terlebih dulu. Terdengar bunyi krek, dan tangannya patah. Sejak itu, Dul tak pernah menaiki Buroq lagi, Dul takut ia terjatuh lagi karena ia hanya tinggal memiliki satu tangan.
Meskipun baru menggelar lapaknya, orang-orang sudah berebut mengerumuninya seperti tabib sakti yang dikerumuni pasien. Mereka juga tak peduli jika lapak Dul hanya memiliki payung yang diikat hanya menaungi Dul sendiri. Sementara pasiennya berdesakan mengantre berpanas-panasan. Dul telah mengantisipasinya, ia mengeluarkan ember yang berisi kertas lipatan nomor antrean. Orang-orang langsung berebut, seperti ayam berebut beras yang dihamburkan. Mereka saling sikut, dan tentu di antara mereka ada yang kecewa karena tidak mendapatkan nomor antrean.
Pertama kali datang ke sana menggelar lapaknya, semua pedagang melihat Dul dengan sinis. Empat orang preman berbadan kekar datang, dua di antaranya membawa golok. Dul tak menggubris mereka. Mereka sangat berisik. Suaranya melengking membelah siang, seolah keempat preman itu adalah penguasa pasar. Dua orang menghamburkan tikar pandan yang baru saja ia beli, dua orang lain berteriak kesetanan meminta jatah lapak. Orang-orang hanya berani melihatnya dari jauh. Tak ada yang merasa kasihan, karena mereka mengingat ketika pertama kali berjualan di pasar, mereka mengalami hal yang sama. Tetapi, di antara preman itu tak ada yang berani memukulnya karena Dul tidak ada tanda-tanda hendak membantah atau melawan. Dul juga membiarkan lapaknya diacak-acak.
”Dua di antara kalian akan mati. Satu orang akan mati karena menenggak miras. Satu orang lagi mati terlindas truk. Satu yang lain akan hancur karena istrinya selingkuh. Dan satu yang lain lagi akan selalu bersedih karena mandul.”
Suara Dul tak terlalu keras, tapi separuh pasar telah mendengarnya. Empat orang itu tertawa terbahak-bahak menertawakannya.
”Aku tahu telah memberi kabar. Terserah kalian mempercayainya atau menertawainya.”
Setiap hari, Dul berusaha menggelar lapaknya. Empat preman itu selalu datang dan mengoloknya karena ancaman Dul tak pernah benar-benar terjadi. Berkali-kali, mereka mengobrak-abrik lapaknya. Namun, dua pekan setelah Dul mengucapkan sabdanya, dua orang di antara mereka benar-benar mati seperti yang dikatakannya. Sementara yang seorang lagi ditangkap polisi sepekan kemudian karena membunuh istrinya sendiri karena ketahuan selingkuh. Dan yang seorang lagi merana di pinggir jalan karena istrinya minggat meninggalkannya. Orang-orang mengamini ucapan Dul, istri preman itu tak tahan dengan suaminya yang tak kunjung memberinya anak. Sejak saat itu, tak ada yang berani mengganggu Dul dan lapaknya. Sebaliknya, para pedagang di pasar pun seperti penasaran, apakah Dul mengetahui masa depan seseorang? Ataukah mungkin semua perkataan Dul akan benar-benar terjadi? Lapak Dul menjadi ramai sejak saat itu. Meski ada komplotan preman lain, mereka tak berani mengganggu Dul.
Rahardi Handining.
Dul mengeluarkan kertas kosong yang biasa ia beli di tukang fotokopi. Di kertas itu, ia akan menuliskan takdir untuk orang-orang yang mengantre.
Dul tak perlu berkata-kata. Sejak ia duduk, ia telah menggenggam sebuah pena emas yang konon didapatnya dari langit. Dul meyakinkan pasiennya, pena emas itu berasal dari Lauhil Mahfudz, tempat takdir paling rahasia. Dul mendapatkan pena emas ajaib itu dari ayahnya. Ibunya yang juga menghilang sejak ia berusia tujuh belas tahun menceritakan, saat hari terakhir ayahnya mengepakkan sayapnya untuk mencuri berita dari langit, ia diburu oleh panah-panah api dari segala penjuru. Setelah tubuhnya dihunjami anak panah berapi, membuat tubuhnya tak bisa mengendalikan sayapnya, kemudian saat jatuh dan mengawang di awan, sebuah rantai besi mengikat tubuhnya dari langit. Ia diikat dengan rantai yang kuat. Seorang Malaikat penjaga langit menaiki Buroq menyeretnya menuju langit, ia berteriak meminta pertolongan. Sia-sia. Lengkingan ayahnya di malam itu serupa guncangan bumi yang cukup menggetarkan. Ibunya menceritakan itu bukan guncangan biasa, itu adalah teriakan suaminya yang tertangkap. Begitu setidaknya kisah yang ia ingat tentang ayahnya yang tak pernah ia lihat lagi sejak ia berusia enam tahun.
”Dul, bagaimana dengan kisah cintaku? Apakah ada perempuan cantik yang bersedia menikahiku?”
Dul mengerutkan keningnya. Dul menggerak-gerakkan tangannya dan tiba-tiba pena emas itu seolah bergerak-gerak sendiri, seperti digerakkan kekuatan tak terlihat. Dul tak pernah menjawab semua pertanyaan dengan kata-kata. Ia hanya menuliskan apa yang akan menjadi takdir para pasiennya. Pasien pertama di hari itu telah ditetapkan, ia memiliki istri yang tidak ingin dimiliki semua lelaki.
Saat menerima kertas dari Dul mengenai takdirnya, lelaki itu menangis, kemudian meraung sejadi-jadinya. Ia sebenarnya ingin menghajar Dul karena ia seperti melecehkan hidupnya, tetapi niat itu segera diurungkan. Ia mengingat bagaimana Dul menghajar orang yang tidak menghendaki takdir yang telah ditulis. Meski hanya dengan satu tangan, Dul bisa membuat orang yang besarnya dua kali lipat dari tubuhnya tak berdaya hanya dengan dua pukulan dan satu tendangan. Sejak itu, Dul memberi ultimatum, jika tak mau melihat takdir, jangan pernah datang kepadanya.
Matahari kian meninggi. Orang-orang yang berdesakan mengeluarkan peluh tiada henti. Beberapa orang yang menunggu antrean membeli minum di kios dekat lapak Dul. Sementara beberapa yang lain berteduh di lapak penjual lain yang membuat si pemilik ruko manyun. Tak senang karena mereka bukan membeli dagangannya.
Dul pulang dengan berjalan kaki. Beberapa tukang ojek selalu menawarkan bantuan untuk mengantarkannya pulang, tetapi selalu ia tolak. Baginya, tak ada makan siang gratis. Segala sesuatu kebaikan yang ditawarkan pasti akan ada permintaan timbal balik.
Bagaimana dengan kiai dan ustaz itu yang mengatakan Tuhan akan mengubah nasib suatu kaum selama mereka berusaha mengubahnya.
Sejak ditinggal ayah dan ibunya, Dul memilih mengontrak kamar di deket rel kereta api. Hanya kamar. Kamar mandi terletak terpisah sepuluh meter dari tempatnya tinggal. Setiap pagi selalu terdengar suara gaduh orang-orang yang mengantre hendak ke kamar mandi yang digunakan secara bergantian. Namun, setiap kali Dul hendak ke sana, mereka mempersilakannya untuk masuk terlebih dulu karena mereka takut Dul mengutuk, memberikan takdir yang buruk untuk mereka.
Kamar yang ia tempati berdempetan dengan kamar penghuni lain. Dindingnya terbuat dari papan tripleks bekas pembangunan, dipasang tidak simetris di setiap dindingnya. Dul menganggapnya sebagai karya seni yang unik, seperti kolase. Kamar itu berukuran empat kali empat meter. Alasnya hanya tanah yang ditutupi karpet kucel. Atapnya terbuat dari asbes yang bolong di beberapa lubang. Jika hujan, Dul harus menyiapkan ember yang telah ia beli sejak ia di sana. Empat ember ia siapkan. Beberapa dindingnya yang terbuka, ditutup dengan seng bekas jika ada angin kencang atau hujan deras, seng itu akan mengeluarkan bunyi yang khas. Dul meringkuk jika hujan lebat tiba, memeluk lututnya sendiri, dan tersenyum. Di sini, ia merasa tak pernah sendiri. Ada suara kereta yang melengking. Terkadang, Dul mendengar dua orang bergumul dengan lengkingan desahan orang bercinta. Beberapa kali saat di pasar, beberapa perempuan berbisik di telinganya, menawarkan tubuh mereka demi menukar takdir hidup yang lebih baik. Dul tersenyum kecut menghadapinya. Sekalipun ia tidur dengan mereka, tak ada satu pun perempuan yang memuaskan hasratnya.
Dari pasar, ia harus masuk ke gang kecil melewati tempat penjagalan ayam dan kambing, yang aromanya menguar sedemikian rupa. Dul sudah terbiasa menciumnya, dan ia tidak perlu menutup hidung. Dua kali belokan dengan berjalan kaki, dan melewati satu pos ronda tempat para pemuda berkumpul untuk memecah malam.
Saat Dul lewat, salah seorang dari mereka berceletuk,
”Dul, apakah takdir manusia bisa diubah?”
”Tidak. Segalanya telah ditetapkan sejak manusia dilahirkan.”
”Bagaimana dengan kiai dan ustaz itu yang mengatakan Tuhan akan mengubah nasib suatu kaum selama mereka berusaha mengubahnya.”
”Karena takdir berkehendak demikian.”
”Jadi, percuma kita hidup jika segalanya telah ditentukan?”
”Tidak ada yang percuma. Seperti kehadiranku, memberi kabar gembira dan kabar buruk buat kalian.”
Para pemuda itu tahu, mereka tak mungkin bisa membantah semua perkataan Dul. Ia serupa wali. Perkataannya juga serupa sabda nabi. Untungnya, Dul hanya menggelar lapak di pasar, bukan mencari pengikut untuk mendirikan sekte.
Terkadang, saat malam tenang, ia keluar rumah, duduk di teras memandang bulan. Ingin sekali terbang ke sana. Ia meraba punggungnya dengan tangan kanan. Ia sering bertelanjang dada saat malam. Di bagian belakang punggungnya, ada bekas sayatan yang cukup lebar.
”Sayapmu telah dipotong sejak kecil demi mengelabui malaikat. Jangan sampai seorang pun tahu, kamu manusia setengah malaikat.” Begitu celoteh ibunya mengenai luka sayatan itu.
Ia memercayai sepenuhnya perkataan ibunya, dan ia pun pernah berharap, sayap itu akan tumbuh kembali. Ia ingin mengepakkan sayapnya. Barangkali, ia akan menjumpai ayahnya di sana, atau mungkin ia akan mencuri tentang kabar yang belum pernah diberitakan pena emas peninggalan ayahnya. Namun, tahun demi tahun sayap itu tidak pernah tumbuh.
Ayahnya sering menceritakan ketika ia mengendarai Buroq. Mata Dul takjub, ia mendengar ayahnya bercerita tanpa mengedipkan mata, tentang bagaimana ayahnya beberapa kali berhasil mencapai Arsy tanpa diketahui malaikat. Ia melihat malaikat-malaikat berlesatan seperti lesatan cahaya, tetapi tidak ada yang berbenturan satu sama lain. Dul selalu membayangkan suatu saat, ia yang akan melihat lesatan-lesatan cahaya itu.
Sejak pagi buta, orang-orang telah mengantre di lapak Dul. Hari itu antrean lebih membeludak dari biasanya. Mereka berharap mendapatkan takdir yang baik untuk masa depan mereka. Mereka menunggu hingga matahari naik, hingga matahari terbenam, tetapi Dul tak kunjung muncul. Beberapa orang, yang tahu tempat tinggal Dul, langsung datang ke sana. Tetapi, tak ada Dul di sana. Mereka juga menggeledah. Pemilik kamar itu langsung keluar begitu melihat kamar kontrakannya diacak-acak orang. Tetapi, mereka tak peduli dengan teriakan pemilik kontrakan. Mereka mencari, barang kali Dul meninggalkan pena emasnya yang biasa ia gunakan untuk menulis takdir.