NAMANYA Najib. Usianya empat puluh lima tahun. Tubuhnya kurus, rambut tersisir rapi, dan wajahnya tenang dengan senyum ramah yang senantiasa menghias bibirnya. Ia bukan tokoh penting di masyarakat, tapi Najib memiliki profesi rahasia yang tidak diketahui tetangga bahkan istrinya, yaitu sebagai penghulu nikah. Tepatnya nikah siri.
Tentu saja bukan penghulu resmi sebagaimana petugas KUA, bukan pula seorang ustadz dengan latar belakang pendidikan agama Islam yang mumpuni. Ia hanya seorang lelaki biasa yang paham sedikit-sedikit soal tata cara ijab qabul, fasih membaca doa, dan sangat lihai menempatkan diri hingga terlihat meyakinkan.
“Yang penting sah menurut agama,” begitu ia selalu meyakinkan kliennya.
Padahal, jauh di dalam benaknya sendiri, ia tahu kalimat itu bisa diperdebatkan panjang lebar. Baik dari sisi fiqih maupun dari sisi moral. Tapi siapa yang peduli? Jika uang sudah bicara, bukankah sangat mudah menyamarkan kebenaran?
Bersama dua orang temannya, Miftah dan Firman, Najib telah membangun usaha nikah siri ini secara profesional. Ini adalah pekerjaan yang saling menguntungkan. Najib butuh uang, kliennya butuh dinikahkan secara agama, namun tak ingin terikat aturan negara. Tak ingin ketahuan oleh masyarakat atau oleh pasangan bagi yang masih punya pasangan sah.
“Saya takut dosa, Ustadz,” begitu kata salah satu kliennya suatu ketika. “Tapi kalau nikah siri halal kan, Ustadz?”
Najib hanya tersenyum. Ia merasa tak punya wewenang menjawab persoalan moral. Tapi satu hal yang selalu ia pastikan adalah tarif jasanya cukup murah. Tiga juta rupiah untuk satu ijab qabul. Sudah termasuk jasa penghulu, dua orang saksi, dan kalau diminta ada sertifikat nikah bermaterai. Kalau tak ingin sertifikat, juga tak masalah. Ada yang merasa tak perlu. Ada yang takut ketahuan jika menyimpan di rumah. Bagi Najib yang penting adalah uang masuk dan akadnya terlaksana dengan lancar dan aman.
Profesi ini bukan warisan, bukan pula cita-cita Najib saat kecil. Tak pernah terlintas dalam kepala Najib, bahwa suatu hari ia akan memandu akad nikah bagi pasangan yang datang entah dari mana. Bahkan ada yang keberatan memperlihatkan KTP, ia hanya menyebutkan nama lengkap berikut bin dan bintinya. Biasanya yang model begini adalah kelas pejabat atau aparatur negara yang sangat menjaga privasi.
Jadi semuanya bermula dari pandemi.
Saat itu, proyek jalan yang dikerjakan kantor Najib dihentikan. Najib otomatis menganggur. Mencari kerja di tengah pandemi sangat sulit. Banyak karyawan yang dirumahkan alias PHK.
Hingga suatu sore di warung kopi pinggir jalan, Miftah, teman lama Najib yang pernah hidup sebagai calo jual beli sertifikat palsu, memunculkan ide.
“Lu bisa baca doa-doa akad nikah, kan?” Seingat Miftah, Najib dulu termasuk rajin ikut mauludan, yasinan, sampai marawisan. Lidahnya fasih melafalkan doa dan lagu berbahasa Arab.
Najib menoleh dengan wajah heran.
“Gue liat lu pernah mimpin doa waktu selamatan nikah saudara lu beberapa tahun lalu. Suara lu fasih, persis kayak ustadz.”
Najib terkekeh. “Halah, itu mah cuma formalitas.”
“Tapi lu bisa. Dan lu ngerti syarat sahnya nikah, kan?”
“Ya ngertilah, kan gue udah nikah.”
Miftah yang punya segudang akal-akalan, berbisik agak mendekat. “Gue punya kenalan. Banyak yang mau nikah siri, tapi bingung cari penghulu. Kalau lu berani, kita bisa buka jasa itu. Nikah halal tanpa ribet.”
Najib diam. Ide itu terdengar sinting, tapi… Najib terdiam berpikir. Zaman makin edan. Banyak orang ingin jalan tengah. Mereka tahu zina itu dosa, tapi juga tak siap menanggung risiko pernikahan legal. Maka nikah siri adalah celah penyelamat.
“Gue pikir-pikir dulu.” Akhirnya Najib menjawab.
“Oke, tapi cepet. Ntar gue yang bikin iklannya di internet,” imbuh Miftah menyemangati. “Ntar gue kasih hitung-hitungannya. Pokoknya ini peluang bagus, apalagi zaman pandemi begini.”
DUA minggu kemudian, Najib resmi menjadi penghulu ilegal alias penghulu abal-abal. Tuntutan hidup lebih mendesak ketimbang memikirkan rasa risih dan risiko. Ia belajar ulang tentang rukun dan syarat nikah dari internet. Ia hafal urutan lafaz ijab kabul, doa pernikahan, dan ayat-ayat yang sering dikutip dalam khutbah nikah. Bahkan ia juga menghafal beberapa hadits pendek untuk memperkuat wibawanya saat acara berlangsung. Untungnya otak Najib cukup encer untuk menghafal.
Untuk meyakinkan klien, ia tampil seperti ustadz pada umumnya. Memakai baju koko, peci hitam, dan wajah berwibawa. Sementara Miftah yang mengurus sertifikatnya. Biasanya, bagi pasangan yang memang butuh sertifikat, mereka akan meminta copy KTP atau data lengkap yang akan dicantumkan dalam sertifikat. Nanti Miftah yang membuat di percetakan langganannya saat dulu jadi calo sertifikat palsu.
Firman, selain jadi saksi, bertugas membantu mengelola akun media sosial, menjawab pertanyaan dari calon klien, dan mengatur jadwal. Semuanya berjalan seperti bisnis normal. Ternyata hasilnya sangat di luar dugaan Najib. Dalam satu bulan, mereka bisa menikahkan tujuh sampai sepuluh pasangan. Mayoritas berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Namun ada juga yang datang jauh-jauh dari daerah, tentunya demi keamanan.
Najib dan dua temannya sudah punya tempat akad nikah yang mereka sewa di suatu tempat, dijamin aman. Sekali acara, mereka cukup membayar 200 ribu. Sebuah ruangan berukuran 4×6 meter yang memang disewakan untuk acara sederhana. Dengan dekorasi seadanya, cukup bagus untuk melangsungkan akad nikah tertutup.
Beberapa pasangan bahkan masih sangat muda, wajah mereka masih seperti remaja SMA. Tapi lebih banyak yang berusia matang sekitar empat puluhan, dan tak sedikit pula yang sudah menjelang senja, terutama laki-lakinya. Tak perlu heran melihat pasangan yang beda usianya cukup jauh, lelaki sudah kepala enam, sementara perempuannya masih tiga puluhan. Biasanya sang lelaki berpenampilan layaknya orang kaya.
“Sudah pernah menikah?” tanya Najib suatu hari pada salah satu calon mempelai wanita yang masih gadis.
“Belum, Ustadz,” jawabnya gugup.
“Wali nasabnya di mana?”
“Nggak tahu, saya sudah nggak komunikasi sama ayah saya sejak lama,” katanya pelan.
Najib terdiam sejenak. Ia tahu seharusnya wali nasab adalah syarat utama, kecuali janda yang sebagian ulama mengatakan boleh dinikahkan wali pengganti. Tapi, melihat mata si gadis yang penuh kekhawatiran, dan tangan si lelaki yang menggenggam amplop berisi uang tunai, ia akhirnya mengangguk.
“Baik. Bersedia saya yang jadi walinya?”
Gadis itu mengangguk dan menunduk.
Kalau mau jujur, hati kecil Najib kadang berbisik. Apakah ini benar? Apakah ia bukan sekadar memfasilitasi syahwat dengan dalih halal? Tapi bisikan lain di dalam dirinya segera memadamkan kegelisahan itu. Ia hanya membantu, dan mereka yang meminta. Daripada mereka berzina, bukankah ini lebih baik? Dan ini, menurut Najib, termasuk kondisi darurat sebab ayahnya tidak ada.
Yang penting penghulunya paham hukum pernikahan dalam Islam, sudah dewasa dan berakal sehat, serta bisa memandu akad nikah dengan baik. Lalu ada dua orang saksi yang sudah baligh dan berakal sehat, maka semuanya sudah aman. Itu yang jadi pegangan Najib. Najib malas masuk dalam perdebatan, meskipun yang berdebat kadang hati dan pikirannya sendiri.
Dan kalau sudah mendapat bayaran, apalagi jika ada bonus dari pasangan yang kaya, semua pertanyaan itu lenyap seperti sampah disapu hujan. Najib tahu, dunia ini memang tak lagi sesederhana haram dan halal. Ada wilayah abu-abu tempat orang-orang seperti dirinya mengais rezeki. Ia merasa bukan pelaku dosa, tapi juga bukan penyeru kebaikan. Ia merasa hanya berikhitiar agar tidak kelaparan, di tengah dunia yang makin kejam dan tak adil bagi rakyat kecil.
Bagi Najib, selama tetangga dan istrinya, Yana, tidak tahu pekerjaannya, maka semua aman. Yana tahunya Najib kini bekerja sebagai tenaga lepas di proyek jalan antarkota. Najib bahkan menyimpan helm proyek dan rompi proyek di dalam bagasi motornya, sekadar untuk meyakinkan Yana.
Yana tak banyak bertanya, apalagi dia juga mulai sibuk. Sejak pandemi, ia jadi senang main media sosial, rajin memakai skincare, dan sering melakukan siaran langsung. Penampilan Yana sekarang memang beda, mulai mirip artis di mata Najib. Padahal dulu ia pemalu. Ia mengaku sedang membangun personal branding untuk jadi influencer. Entah apa itu influencer, Najib tidak paham. Di telinganya terdengar seperti nama penyakit pilek.
Najib yang gagap teknologi, hanya tahu aplikasi pengirim pesan untuk berkomunikasi, tidak paham apa itu personal branding, dan istilah asing lain yang sering disebut Yana. Tapi yang ia tahu, pengeluaran rumah tangga makin besar. Yana makin sering meminta uang untuk membangun personal branding, katanya itu modal awal yang wajib dikeluarkan.
Ia bisa live sampai tengah malam, membaca komentar orang-orang asing yang menyapanya dengan gaya genit. Tak jarang ia dan penontonnya saling memanggil dengan sebutan beb, cinta, dan sayang. Okelah itu sapaan terhadap sesama perempuan, tapi tetap saja Najib merasa istrinya jadi norak dan centil.
Ia pernah mendekat saat Yana sedang siaran langsung. Tapi langsung didorong agar tak tertangkap kamera.
“Mas, minggir dulu! Kamu gangguin aja. Ini audiens-ku lagi banyak,” bisiknya sambil mendorong Najib, tentunya setelah menutup kamera sejenak agar penonton tidak melihat tatapan tajamnya ke arah Najib.
Najib tidak pernah benar-benar tahu apa yang dilakukan istrinya. Kata Yana, ia mendapat banyak bintang, donat, paus, dan entah apa lagi dari para penontonnya. Semua bisa diuangkan. Lagi-lagi Najib tidak paham dan hanya bisa geleng-geleng kepala.
MALAM itu, saat duduk di kursi plastik di depan rumahnya, Najib membuka ponsel dan mengecek daftar pesan masuk. Ada pesan dari Miftah.
Ada calon klien baru, namanya Indra. Dia minta akad nikahnya besok siang. Indra ini orang tajir, Bro. Dia bayar tiga kali lipat. Gak pake sertifikat.
Meski mendadak, Najib tetap tersenyum lebar. Rezeki pantang ditolak. Ia langsung membalas. Siap, kirim info selengkapnya ya!
Kalau untuk klien yang royal begini, pelayanan harus ekstra. Najib menyuruh Firman menghubungi pemilik tempat langganan mereka agar merapikan dekorasi dan memberi pewangi. Malam itu juga Najib langsung menyiapkan baju terbaiknya.
Besoknya bersama dua temannya, Najib sudah ada di tempat biasa, ruangan yang ia sewa untuk sekali ijab qabul. Mereka bertiga memakai baju koko rapi, lengkap dengan pecinya. Semua sudah terlihat seperti acara dan tempat akad nikah pada umumnya.
Sekitar pukul satu siang, orang yang mau menikah itu datang, seorang lelaki dengan penampilan lumayan gagah, datang mengendarai mobil. Ia langsung mengenalkan diri, nama lengkapnya Indra Irawan.
“Sebentar ya, calon istri saya masih di mobil,” katanya dengan senyum agak jengah.
Najib mencoba membalas dengan senyum ramah untuk mengurangi kecanggungan kliennya. Miftah dan Firman menyiapkan minuman dan sedikit camilan.
Tak lama calon istrinya muncul di pintu masuk. Rambutnya terurai sepunggung. Memakai baju kurung putih atas bawah dan sebuah selendang berbahan satin yang ia sampirkan di bahu. Saat perempuan itu melangkah masuk, ia menunduk malu-malu.
Namun, saat tatapannya bersirobok dengan Najib, keduanya terperangah.
“Yana?” seru Najib kaget.
Perempuan itu melongo, tak mampu berkata-kata.
Calon pengantin pria heran melihat mereka saling kenal. Lelaki itu menoleh ke kiri dan kanan, memandang semua yang ada di ruang itu dengan bingung. “Maksudnya… kalian saling kenal?”
Senyap sekian jenak.
Sampai Najib melangkah mendekati Yana dan dengan jari gemetar menunjuk muka istrinya itu. “Brengsek kamu ya! Diam-diam selingkuh dan malah mau menikah! Kamu sudah gila? Kamu itu masih istriku!”
Kata-kata itu menggelegar. Tangannya terangkat hendak memukul Yana, namun cepat-cepat ditahan Miftah. Sementara Firman berdiri tegang dalam kebingungan.
Indra langsung mundur satu langkah. “Ustadz? Ini… maksudnya apa? Dia istri Ustadz?”
Najib tak menjawab. Dadanya naik turun, tangannya mengepal.
“Kamu yang brengsek! Kamu bilang kerja di proyek jalanan! Ternyata jadi penghulu abal-abal!” Yana membalas, nadanya nyaring mencoba menutupi kesalahannya. “Selama ini kamu membodohi aku kan?”
“Tetap saja yang kamu lakukan jauh lebih hina! Aku kerja begini juga demi memenuhi permintaan kamu yang makin aneh-aneh! Dandan tiap hari, ternyata untuk menjerat lelaki lain!” Bibir Najib bergetar. Matanya menyala oleh kemarahan.
Indra mundur makin jauh. “Saya pikir dia sudah cerai. Dia ngakunya janda.”
Ia pun bergegas keluar dari ruangan itu. Yana menyusulnya. Di halaman, terdengar mereka bertengkar. Sampai suara mesin mobil terdengar, suara gas ditekan cukup kencang dan berlalu dengan cepat. Meninggalkan tempat yang kini bagai neraka bagi Najib. Tak ada lagi keributan. Tak ada yang tersisa kecuali ruangan hening dan wajah Najib yang masih beku. Ia merasa semua hal yang ia bangun selama ini runtuh dalam sekejap. Bukan hanya karena Yana berselingkuh, tapi karena pengkhianatan itu terjadi dalam panggung miliknya sendiri.