Perjamuan di Puncak Gunung
Beatrix Polen Aran · 17 Oktober 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Panggilan dari Martinus ketika saya baru selesai bermimpi tentang peti mati berwarna hitam yang dipajang seorang tak dikenal. Suaranya serak memecah keheningan gubuk beratap daun rumbia berdinding kardus dan plastik. Saya telah mengenalinya dan tak perlu bantuan beberapa teguk air ludah untuk meloloskan rasa kaget. Ayo bergegas, kata Martinus.
Subuh masih murung pada awal musim panas. Geliat tubuh tergesa-gesa menuju kamar mandi dan mulai membasuh telapak kaki, mengucek-ucek bola mata, lalu menyarungkan belati pada pinggang. Nasi jagung terisi di dalam dese yang terbuat dari daun lontar dan air pada sebuah botol berukuran sedang ditaruh di dalam tas. Dengan gerak yang masih rikuh, ia membuka bungkusan. Pisang goreng hangat berkerut-kerut, tetapi amat manis dicicip.
Tadinya saya mengira, sepanjang perjalanan, kami akan mengunyah angin atau menelan dedaunan muda, seperti jawaban yang diberikan kemarin sore bahwa harga beras di pasaran naik jadi ia tak mampu membelinya. Tetapi, yang kutemukan, hanya wajah yang selalu siap sedia dalam keadaan apa pun. Menumbuk jagung bercampur segenggam padi dalam alu dan lesung.
youna untuk Kompas
Perjalanan menuju puncak akan segera dimulai. Memburu matahari pagi adalah pengalaman berharga yang harus diperjuangkan. Terlunta-lunta selama perjalanan dihantui binatang buas, mengusap lintah yang tak terhitung jumlahnya; menempel, menyesap kulit bertubi-tubi. Dari sela-sela dedaunan, nyamuk bertengger rapat.
Martinus mengernyitkan dahi dan berseloroh, ”Kenapa yang indah-indah itu letaknya tak di bawah ketiak saja?”
”Kapan sampai ke puncak?”
”Andai saja puncak seperti mimpi.. hmm.”
Parahnya lagi, Martinus tak mempercayai apa yang dikatakan oleh Silvester-seorang penunjuk jalan menuju puncak gunung. Saya hanya berdehem setiap kali Silvester mengatakan bahwa perjalanan menuju puncak gunung adalah perjalanan ritual menemui leluhur. Leluhur-seturut pemahaman saya adalah nenek moyang yang telah mati. Orang-orang itu bersemayam di tempat di mana ia bermula, tambah Silvester.
Martinus melebarkan mulut sambil terkekeh-kekeh seraya memijit-mijit dahan pohon. Apa sebabnya? Tak percaya? Ya!
Dari cerita-cerita yang ia peroleh tentang puncak gunung, tak seorang pun berkisah tentang perjumpaan dengan leluhur, apalagi perjamuan di puncak dengan makhluk-makhluk yang tak kelihatan. ”Itu pikiran orang-orang yang halusinasi, mengganggap sesuatu yang tak kelihatan menjadi kekuatan,” tukas Martinus.
Lelaki yang mempunyai tahi lalat di kening, perawakannya tinggi kurus, berambut keriting itu berusaha meyakinkan saya dan Silvester.
”Eh, masih tak percaya?” sepotong kalimat terbit dari mulut saya. Silvester menatap heran. ”Tidak!” jawab Martinus. Cepat-cepat saya sodorkan seteguk air ke dalam lubang mulut Martinus. Begitu saja ditelan. Lalu menyusul sedikit nasi dari dalam dese. Alamak, ia mengunyah sambil mendesak saya mempercepat suapan lagi. Huff … saya kira ia lapar. Gila! Ternyata memang benar-benar ia tak percaya. ”Bersegera meminta maaf kepada Silvester!” sedikit nada ancaman melesat dari bibir saya. Ia membalas senyum sambil mengangkat bahunya.
Silvester tahu, dirinya tak mungkin menjelaskan kepada Martinus dan saya tentang leluhur secara lebih detail. Sepanjang jauh mata memandang, ia hanya menatap leluhur yang meratapi rumah dan halaman yang tak lagi berbentuk. Leluhur yang dahulu menjaga agar pepohonan tetap menegak menjulang langit, merawat udara agar menjaga ketahanan tubuh manusia, membingkai mata air agar tetap jernih serta merawat keindahan matahari. Leluhur kini, ditimbun amarah, disulut rasa kecewa.
Beberapa jam lagi kami akan tiba di puncak gunung. Dengan siaga, Silvester menoleh ke sekeliling. Hanya lampu senter yang mengawasinya. Batu-batu lepas bergelantungan.
”Idiiih,” saya bergidik ngeri. Hauuuwww… gema suara binatang memanggang kuping.
Martinus memegang tangan saya dengan erat, begitu selanjutnya saya meremas jari Silvester.
”Tarik napas, embuskan,” Silvester mengarahkan.
”Jangan takut,” imbuhnya lagi.
Pagi menjemput tatkala tubuh kami rebah di atas gundukan tanah. Di sampingnya, lekuk tanah kira-kira dua puluh meter. Matahari pagi baru saja menakik langit, binarnya meresap ke dalam kelopak mata. ”Sungguh indah ciptaan Tuhan,” gumam saya seraya mengeluarkan handphone dan mulai memotret. Crekk… crekk… crekk. Tak terhitung berapa kali Silvester mengatakan bahwa jauh sebelumnya berbondong-bondong orang datang ke puncak gunung lalu membawa pulang tumbuhan yang tumbuh di puncak gunung. Lain lagi, orang-orang juga menyaksikan sunyi dengan berpesta pora. Di puncak gunung, sesungguhnya orang-orang memurnikan batin dengan lebih sempurna.
”Terus?” saya bertanya ingin tahu.
Setiap malam sesudahnya, Silvester dikerubung mimpi buruk didatangi leluhur meminta pertanggungjawaban. Tanggung jawab yang dimaksudkan adalah mengembalikan segala sesuatu yang menjadi kepunyaannya.
”Caranya? Mena.. nam… kembali tumbuhan di musim panas?” dengan suara terbata sambil saya memasukkan coklat penuh-penuh ke dalam mulut.
Di puncak gunung, sesungguhnya orang-orang memurnikan batin dengan lebih sempurna.
”Atau, memberikan sepeser uang untuk melangsungkan ritual pengembalian,” saya berlagak seolah tahu.
”Hmmmm, sayangnya orang-orang itu telah pergi,” Silvester tampak merenung membicarakannya.
Silvester ternyata lebih bisa menguasai emosinya daripada saya. Dan, nalurinya yang telah menyatu dengan alam begitu sempurna sehingga ihwal alam banyak yang diketahuinya, dirasakan dan dialaminya.
Martinus tertegun sesaat. Wajahnya pucat, tetapi bukan karena terkejut mendengar obrolan saya dan Silvester tentang gunung dan perangai orang-orang yang pernah datang. Wajah Martinus itu jelas pucat dan lesu karena letih dan barangkali juga karena lapar.
”Oh, saya kira kau mulai sadar dan perca….,” saya ragu-ragu melanjutkan kata-kata.
”Perutku lapar hendak makan,” Martinus berterus terang.
”Oh, ya, makan,” saya seperti mengulang kalimat itu.
Matahari tegak lurus dengan ubun-ubun. Martinus merapikan duduknya di bawah pohon. Saya dan Silvester membenamkan tengkuk pada dahannya yang sudah tua. Martinus mengeluarkan nasi jagung dan menaruhnya di atas batu ceper. Bersamaan dengan itu, beberapa tumbuhan yang sengaja disembunyikan turut dimunculkan. Silvester melarikan matanya dari tatapan saya dengan rasa kecewa karena ulah Martinus. Sementara itu, Martinus tampak tenang-tenang, menikmati hasil kerja kerasnya mencabut tumbuhan.
Buat beberapa saat, Silvester merasa tak tahu apa yang akan dikatakannya, seolah belum siap menerima pengakuan Martinus yang masih entah.
Ikan kering dibalur tomat menguar dari dalam dese. ”Ini masakanmu?” tanya Silvester mengalihkan.
”Martinussss kok dilawan? Ahli koki… ha-ha,” Martinus menepuk-nepuk dada.
Beres makan, saya melihat gurat senyum merekah di wajah Martinus, matanya berkilat-kilat. Mungkin dia sedang membayangkan harga tumbuhan yang telah dicabutnya.
Silvester melinting rokok sambil bergumam lirih. ”Harganya mahal bila dijual?”
”Sangat mahal. Eh… lagi viral di media sosial. Harga tumbuhan ini menjadi incaran netizen,” ujar Martinus sambil tertawa kecil.
Setelah siang yang lalu, malam datang menjemput. Ketiganya merebahkan tubuh di bawah tenda kecil dan pengap sambil bercerita hingga terlelap.
Dari luar terdengar suara menyusul tangisan yang mengguguk. ”Ada apa? siapa yang menangis?” batin Silvester lalu perlahan bangun. Segera ia keluar, pandangannya mengitari sekeliling. Satu-satunya barang yang berantakan adalah tas milik Martinus. Ia berjongkok dan meneliti, sesudah itu merapikan kembali tas beserta tumbuhan yang mencuat keluar.
Kemudian, dengan tiba-tiba suara tersebut menghilang dan saya tergesa-gesa keluar. ”Jangan membawa pulang tumbuhan itu,” seru Silvester.
”Maksudnya tumbuhan dari puncak gunung ini?” saya bertanya setelah coba mengintip ke dalam lewat celah antara tubuh Martinus dan bingkai kain.
”Kita sudah mendapat teguran. Dan, bila berhasil membawa pulang, mungkin saja akibatnya lebih besar dari pecah tangisan ini,” Silvester menjelaskan panjang lebar.
”Tangisan?”
”Ya.”
Silvester membayangkan, dalam waktu yang amat singkat, gemuruh gunung bertubi-tubi dengan letupan api—menelantarkan sanak keluarganya dan mungkin saja berujung kematian. Entah bagaimana bermulanya, tahu-tahu sanak keluarganya tercerai entah ke mana. Dan, dengan kesadaran penuh, ia meminta kepala-kepala kampung dan tetua adat melangsungkan ritual permintaan maaf.
”Terlambat sungguh terlambat,” setiap ucapannya disertai dengan gerak lagak yang membuat saya semakin yakin bahwa murka itu nyata.
Martinus bangun dan bergegas keluar menghampiri. Ia sama sekali tak mau terpengaruh dengan segala bujuk rayu kami. ”Jangan percaya sia-sia,” ujar Martinus.
Martinus bangun dan bergegas keluar menghampiri. Ia sama sekali tak mau terpengaruh dengan segala bujuk rayu kami.
Dan, segera ia membopong tasnya berisi tumbuhan itu lalu pergi. Saya dan Silvester mengejarnya. Melewati jurang nan terjal, Martinus mampu melewati walau hanya bermodal belati di pinggangnya dan senter. Gemuruh yang menggeram dan di langit tampak kilat. Ketika melewati sebuah mata air, ia menunduk hendak meminum.
”Astaga, airnya keruh,” ujarnya. Langit alangkah kelamnya. Angin dingin menusuk tulang belulang. ”Martinus… Martinus,” kami berteriak, tetapi tak menuai jawaban.
Berbagai umpatan hendak mengalir, tetapi tak kunjung mengalir. Akhirnya terucap juga.
”Sialan. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Martinus,” saya bergumam.
”Tolong… tolong… tolong,” seperti suara yang dihamburkan begitu saja. Martinus menyeret langkah limbungnya ke arah kami lagi setelah jeda beberapa jam. Silvester tahu apa yang kan terjadi, tetapi ia ingin tak mengetahuinya. Ingin tak tahu apa-apa!