Dia melinting rokoknya dengan jemari bergemetaran. Dinding rumahnya penuh dengan tempelan peta, salinan dokumen, dan litografi kusam. Buku-buku bertumpuk di meja, berjejal di rak, dan berhamburan di lantai.
Kami tidak sengaja bertemu di sebuah toko roti, persis di sudut pertemuan jalan Nieuwe Rijn dan Beschuitsteeg. Dia tahu kalau aku adalah orang Indonesia hanya dengan melihat sekian detik saja. ”Saya tahu sejarah negerimu,” katanya. Dari keriput mulutnya, aku ingin menebak. Umurnya mungkin sudah 90 tahun, atau lebih. ”Ketika Hatta datang ke kota ini untuk berkumpul dengan kawan-kawannya, saya baru masuk sekolah dasar. Silakan mampir ke rumah kalau ada waktu.” Meski segan, aku mengiyakan.
Dia kini mereguk kopinya dan perlahan-lahan mulai berkisah.
”Kamu tahu?”
Aku diam saja. Memberi isyarat mata untuk siap mendengarkan.
”Pada awal abad ketujuh belas, Kekaisaran Indonesia berhasil menghubungkan masyarakat di sekitar Laut Atlantik, Pasifik, dan Laut Utara. Ini adalah kekaisaran pertama di mana gagasan tentang toleransi beragama dan keingintahuan ilmiah berjalan beriringan dengan eksploitasi politik dan ekonomi terhadap penduduk lokal dengan jalan kekerasan, monopoli, dan perbudakan global.”
”Tidak banyak yang tahu kalau kolonialisme Indonesia punya sejarah panjang yang gelap, pahit, dan absurd. Mereka menjelajah, menaklukkan, menetap, dan mengeksploitasi wilayah dunia yang luas.”
Aku berusaha mencerna ucapannya. Indonesia menjajah?
”Dampak global kolonialisme Indonesia adalah peristiwa penting dalam sejarah umat manusia. Sekitar akhir 1300, Indonesia menemukan jalur laut di sekitar pantai selatan Afrika. Tujuannya adalah memajukan kekuatan perdagangan dan militer mereka di Eropa.”
Indonesia adalah bangsa yang sebenarnya menjajah Eropa?
Dia mencoba meraih sesuatu dari tumpukan kertas. Tangan kirinya mengambil buku dari kursi. Dia menyodorkan ke hadapanku.
”Ini bahasa Melayu?” Dia mengangguk dan tersenyum.
”Indonesia adalah bangsa yang sebenarnya menjajah Eropa?”
Aku sengaja buat nada suaraku agar terdengar naif sambil memegang buku darinya. Semoga dia tidak tahu kalau aku sedang berpura-pura percaya pada ceritanya. Tapi, kalau itu benar, ini adalah cerita paling sinting yang pernah aku dengar.
”Ya….” Dia menyalakan rokoknya dengan santai.
”Apakah kamu tahu kalau sejarah penjajahan dimulai pada 29 Juli 1457, dengan lima kapal besar berbendera merah-putih yang bersiaga di perairan De Maes. Hari itu, satu kapal bergerak perlahan melintas rawa-rawa De Oude Haven, Rotterdam, membawa rombongan para pembesar Indonesia. Tamu-tamu agung itu disambut khidmat oleh perwakilan kerajaan Belanda Selatan."
”Pada 1496, Soori Tua Rivaai, orang Tapanuli yang ikut dalam rombongan itu menerbitkan catatan-catatannya dengan judul Playeran Suci: Mnybrang ke Bharat dan Prentah Kraja'an.”
Aku tepekur mengamati sampul buku itu.
”Itu buku pertama yang memuat ribuan kromolitografi tentang keanekaragaman manusia, budaya, flora, dan fauna Eropa…dan tentu saja, catatan navigasi dan kartografi. Bukalah halaman 13.”
Dengan hati-hati aku menyingkap kertas.
”Bacalah paragraf kedua.”
Tertatih-tatih, aku mengeja aksara Melayu tua. Di sana Tua Rivaai menulis kesannya sewaktu bertemu orang-orang Belanda: ”Tidak biasa ini penglihatan. Ibarat langit dan bumi apabila tilik keagungan, kemegahan, dan adab kami di Indonesia. Itu orang-orang putih punya pakaian lusuh bertambal lagi pula tidak beralas kaki."
Aku terenyak masih tidak percaya. Dia terus berceloteh.
”Kamu tahu, selama berabad-abad buku ini telah membangkitkan rasa ingin tahu eksotis dan menyebabkan ekspansi besar-besaran dari Timur ke Barat. Kurang dari tujuh tahun setelah buku ini terbit, Eropa menjadi koloni negara-negara Asia. Indonesia menguasai sebagian besar wilayah Eropa Barat. Sejak saat itu, Eropa membutuhkan ratusan tahun lagi untuk merdeka dari kolonialisme Asia.”
”Kalau kamu ke toko buku, baru-baru ini terbit Prelude to Slavery and Racism: The Indonesians in Holland. Penulisnya Nicholas Ostler. Dia bilang bahwa Playeran Suci pantas dikutuk. Karena buku itu mempercepat perbudakan dan menebar rasisme global."
Dahiku mengerut. Dia meneruskan ceritanya.
”Dari Rotterdam, lima kapal itu berlayar ke arah utara. Seminggu kemudian berbelok ke selatan di ujung Den Helder. Tua Rivaai mencatat perjalanan ini sebagai perjalanan yang tandus dan dingin. Angin utara yang kencang menjadi badai laut yang hebat. Setelah tiga hari berlayar, mereka berhasil memasuki perairan kerajaan Amsterdam. Orang-orang Amsterdam gembira menyaksikan konvoi kapal itu mendekati kota mereka. Mereka percaya orang-orang berkulit coklat akan membawa berkah.”
”Sebenarnya perjalanan ke Amsterdam cukup berisiko karena kerajaan itu sedang berkonflik dengan Republik Den Haag. Namun, Tamboora, satu kapal besar yang memimpin, dengan gagah menambatkan sauhnya di pelabuhan Amsterdam yang kotor dan kumuh. Delegasi Tamboora pun turun memasuki kota Amsterdam. Orang-orang berkerumun di sepanjang De Raempoort. Para musisi dan penyanyi grup Syarikat Muuda Indonesia menyanyikan mars kemenangan. Peristiwa ini, oleh sejarawan Gert Ijzermaan, ditafsirkan sebagai ‘penaklukan pertama Indonesia’ atas Eropa.”
Aku masih tertegun sambil sesekali membuka halaman demi halaman.
”Dalam bab Kpulangan (Pulang Kampung), Soori Tua Rivaai merangkum perbincangan di kapal induk Nusaantara Bharu. Sebagian besar penumpang kapal ini adalah para penentu kebijakan. Mereka membahas masa depan Belanda sebagai kawasan strategis untuk memperluas jaringan pasar rempah-rempah, kopi, gula, dan teh Indonesia di Eropa Barat hingga ke Inggris.”
Sepertinya saya harus segera pulang. Apa bapak tidak lelah?
”Dalam bab itu, Tua Rivaai juga mencatat tentang dua kapal yang menetap di pelabuhan Amsterdam. Semua penumpangnya mendapat tugas ’membangun peradaban dan infrastruktur ekonomi di tanah jajahan atas perintah kerajaan’. Para perintis itu berjumlah 2.856 orang. Mereka adalah para musisi, penyanyi, pedagang, seniman, pekerja, arsitek, dokter, dan prajurit. Semuanya akan tinggal di Amsterdam hingga batas waktu yang belum ditentukan.”
Malam semakin larut. Pikiranku berkecamuk mendengar ”sejarah” yang tidak masuk akal ini.
”Apakah kamu sudah bosan,” tanyanya. Aku hanya bisa tersenyum.
”Sepertinya saya harus segera pulang. Apa bapak tidak lelah?” aku balik bertanya. Dia hanya terkekeh.
”Kamu memang layak untuk tidak percaya.”
”Maaf, ini hal yang sama sekali baru,” sergahku.
”Baiklah, akan saya teruskan sedikit. Setelah itu kamu boleh pulang.”
”Antara tahun 1596 dan 1901, sedikitnya ada 7.034 ekspedisi dari Indonesia ke Belanda. Pengiriman besar-besaran orang Belanda ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali untuk bekerja di perkebunan juga terjadi pada tahun-tahun tersebut, terutama terjadi pada tahun 1807, setelah Indonesia menaklukkan kesultanan, republik-republik Belanda, dan sebagian wilayah Austria, Jerman, dan Perancis. Pementasan manusia dan budaya Belanda di berbagai pameran kolonial internasional juga mulai digagas. Pementasan itu berlangsung di Pakanbaru (1880), Medan (1884), Santiniketan (1888), Makassar (1892), Wamena (1903), Seoul (1905), Beijing (1909), dan Osaka (1931). Kemunculan para mahasiswa Belanda di universitas-universitas terkemuka di Sumatera dan Nusa Tenggara baru terjadi setelah Indonesia memberlakukan politik etis pada tahun 1901.”
Kini mataku menekuri lantai. ”Semua yang bapak ceritakan tadi ada dalam buku ini?” Dia menggeleng. ”Itu baru satu sumber.”
”Maaf, tampaknya saya harus pulang. Saya khawatir badai angin datang dalam beberapa menit lagi.”
Dia mengangguk penuh pengertian sambil beranjak dari kursinya. ”Saya antar kamu ke pintu.”
Dua bulan berlalu sejak aku mendengar kisahnya. Dia bilang akan selalu bisa ditemui di toko roti. Tapi aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Rumahnya di Plantsoen yang rindang itu selalu tampak sepi. Kadang aku sengaja melewatinya di malam hari. Gelap gulita, tidak ada cahaya lampu. Aku merasa agak menyesal.
Setahun berlalu sudah. Sore itu aku singgah ke sebuah toko buku. Beberapa buku baru dipajang di meja depan kasir. Mataku tertambat pada buku tebal berjudul ”Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Belanda (1945-1949).” Aku membaca ringkasannya.
”Penelitian terkini tentang kekerasan selama perjuangan kemerdekaan Belanda (1945-1949) mengungkap fakta-fakta baru bahwa pembantaian paling berdarah dan paling brutal terjadi di bulan November 1945 hingga April 1949, terutama di Groningen, Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Breda, dan Maastricht. Secara sistematis ribuan wanita, anak-anak, termasuk orang-orang tua Belanda terbunuh. Buku ini menyimpulkan bahwa Indonesia harus memberikan kompensasi atas berbagai kerugian yang diderita Belanda selama perang kemerdekaan.”
Hari sudah gelap ketika aku melewati rumahnya. Lampu tampak menyala dari ruangan kerjanya. Kali ini aku hanya ingin mengamatinya dari balik pohon oak.