Ardisa untuk Kompas-
Ternyata kami berjumpa untuk berpisah. Setelah persidangan singkat itu, ayah melambaikan tangan untukku. Tiba-tiba ada yang berembun di sudut mata. Harapan dan mimpi menjadi penyanyi yang pernah kami ceritakan dulu saat berboncengan sepeda bersama ke sekolah hingga sepatuku kadang loncat terlepas, bermain busa-busa dalam ketelanjangan saat mandi sambil mengepalkan tangan ke angkasa, berjanji akan jadi dua Power Rangers merah yang akan mendamaikan dunia, musnah sudah.
Di depan kursi-kursi hadirin, aku digandeng ibu untuk ikut menyalami para hakim dan pengacara. Aku digendongnya. Tanganku belum sampai menjangkau meja yang terlalu tinggi. Dalam detak jantung yang tak berirama, aku merasa semua ini mimpi. Tetapi ibu memelukku dan bilang semuanya nyata. Biarkan ayah bersama pilihannya. Ibu bisa. Jawabnya sambil lebih erat memelukku.
Setelah perpisahan itu, seolah ada yang gompal dalam kepala. Tak utuh. Merasa tak butuh lagi laki-laki dewasa di rumah ini. Tetapi ibu tetap saja kerepotan dalam ekonomi. Saudara-saudaranya pun banyak yang hidup dalam kesusahan sehingga kami tak patut meminta belas kasih. Kadang dengan rela aku tidak masuk sekolah hanya demi membantunya berjualan sayur di pasar. Kami petik sendiri dari kebun belakang. Tak ada modal untuk mengambil lebih banyak sayuran para pemasok dari pegunungan.
Belakangan aku tahu ibu mulai jatuh cinta lagi. Sebenarnya aku tak setuju. Mungkin belum. Teringat beberapa tahun lalu tentang perpisahan ayah dan ibu. Namun, ketika ibu bilang jika dalam rahimnya telah bersemayam benih pacar barunya yang seorang pemasok dan juragan sayur, padahal pernikahan itu belum dilangsungkan, aku tak bisa bilang apa-apa. Ada rasa nyeri dalam dada yang tak bernama. Segalanya begitu cepat tanpa ibu mau menceritakan lebih dulu padaku.
“Biarkan dia pergi. Dia laki-laki. Biar tahu kerasnya dunia. Kalau dia menikah aku juga tak perlu repot-repot mencari ayah kandungnya. Lain kalau perempuan.”
Malam itu aku mendengar calon ayah baruku berbincang dengan ibu. Dua malam yang lalu aku tak pulang. Pura-pura minggat. Ketika kembali dan mendengar ucapan itu, mantap sudah jika aku seolah tak pernah diharapkan mereka. Maka dini hari itu ketika mereka terlelap, aku melangkahkan kaki menuju terminal. Menjemput bus menuju Jakarta. Menjemput mimpi yang barangkali sudah harus kutemui di sana. Namun, aku barus sadar, bekal yang tak cukup, pendidikan yang kurang, kemampuan bekerja yang tak memadai membuatku harus tidur berpindah-pidah tempat. Dari masjid, emperan toko, musala POM, hingga teras terminal karena belum menemukan pekerjaan.
Dalam kekalutanku yang sangat, kesepian tanpa ayah ibu, kegalauan menghadapi masa lalu, seorang laki-laki datang kepadaku di depan pintu keluar terminal. Dengan kemeja rapi dan sepatu pantofel mengilat. Menenteng tas koper hitam bagus. Rambut klimis. Bisa dipastikan dia pegawai atau pengusaha sukses yang pernah diceritakan ayah.
“Kamu mau ikut Om jualan? Untungnya besar. Bisa membeli mimpi-mimpimu yang dulu tak tercapai.”
Awalnya aku ragu. Kami baru bertemu. Tetapi sorot mata orang itu begitu menyakinkan. Membuat mataku ikut berbinar. Sebuah kesempatan. Kapan lagi aku bisa bekerja dan belajar dari orang yang kelihatan sukses di depanku. Maka siang itu kuputuskan ikut bersamanya. Mendatangi kediamannya yang tampak sepi. Jauh dari pemukiman warga. Awalnya aku merasa takut. Namun, demi sebuah mimpi dan cita-cita, semua akan kujalani.
Setelah dipersilakannya masuk, aku duduk di sofa. Melihat di depanku, di atas meja, banyak kotak-kotak kardus kecil berisi pil warna-warni. Mirip permen rasa buah-buahan yang pernah kuisap waktu masih kanak-kanak.
“Ini pil mimpi. Satu pil ini bisa membawamu dalam mimpi-mimpi yang kau cita-citakan. Membuat orang yang mengisapnya lebih bersemangat dalam hidup. Mengejar mimpi-mimpinya. Melupakan kepahitan hidup yang ada. Jika menurutmu aku sedang membual, kau boleh mencobanya nanti. Satu saja.”
Biarkan dia pergi. Dia laki-laki. Biar tahu kerasnya dunia. Kalau dia menikah aku juga tak perlu repot-repot mencari ayah kandungnya. Lain kalau perempuan.
Wajahku mengerut. Mana ada sebuah pil yang bisa membawa mimpi-mimpi kita menjadi nyata. Bahkan sampai sedewasa ini aku baru tahu ada benda itu. Kalau pun benar ingin sekali aku menjadi penyanyi jaz terkenal seperti George Benson yang liriknya sering ayah senandungkan dulu bersamaku. Bernyanyi Nothing’s Gonna Change My Love for You di depan ribuan orang dalam suara gurih dan renyah di depan teriakan serta riuh tepuk tangan.
“Apakah aku bisa memilih mimpi yang seperti apa?”
“Tentu saja. Syaratnya sebelum kau mencicipi satu pil ini, kau harus bersedia membantu menjual terlebih dahulu sesuai daftar nama yang kuberikan. Tentu saja kau hanya perlu ke orang-orang yang butuh pil ini saja. Tidak semua orang suka dengan mimpi. Menganggap mimpi itu tak pernah ada. Mereka hanya percaya di dunia hanya ada dua hal. Kenyataan dan kematian. Kau tak perlu menjual ke mereka. Satu lagi, pil-pil ini sering jadi rebutan. Barang ini sangat langka. Mahal pula harganya. Usahakan kau berjualan dalam kerahasiaan. Tentu saja ada kerja ada upah yang akan kubayarkan. Paham?”
Dalam semangat yang membara, hari itu kuputuskan melangkah. Mengantarkan barang dagangan pil mimpi yang kata mereka memang membuat orang yang mengonsumsinya lebih bersemangat, lebih percaya diri menjalani hidup, lebih bisa melupakan masa-masa kelam yang dulu pernah ada. Apalagi ketika aku pulang, upah bagi hasil yang kuterima cukup lumayan. Dipersilakan pula mencicipi satu pil. Dan benar, mimpi-mimpi bersama ayah yang dulu pernah hilang seolah di depan mata. Entah itu hanya ilusi atau nyata, aku bahagia merasakannya.
Hari-hari berikutnya aku tak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan setelah ketagihan mengisap pil itu. Bahkan ketika beberapa polisi datang ke kontrakanku tanpa kusadari. Mengubrak-abrik segala isi di dalam ruangan. Menemukan beberapa pil mimpi dalam warna-warna lucu. Kemudian dalam kecekatan, polisi-polisi itu segera memborgolku. Membawaku ikut bersama mereka. Pil-pil mimpi dalam kemasan di dalam kardus ikut mereka bawa. Aku bingung ada apa dan kenapa? Mereka bilang aku bisa memberi kesaksian dan jawaban di kantor saja nanti.
“Jadi menurutmu pil-pil ini bisa membawamu dalam mimpi-mimpimu yang tak pernah tercapai?”
Aku mengangguk. Berkata pula jika aku dikenalkan untuk menjual pil itu oleh seseorang. Kusebutkan nama dan mereka sigap mengetiknya dalam komputer di depanku.
“Di dunia ini tidak ada kesuksesan tanpa usaha atau kemakmuran tanpa kerja keras. Beberapa orang yang tak tahan dalam kepahitan hidup lebih memilih angon babi ngepet atau memelihara tuyul. Termasuk menjual pil mimpi yang untungnya sangat besar ini. Tetapi isi di dalamnya hanyalah kepura-puraan. Menenggelamkan otak dan pikiranmu dalam kerusakan. Dipenuhi ilusi yang tak akan pernah ada. Keuntungan dan kebahagiaan yang didapat dengan jalan pintas tentu tak akan berkah. Kalau kita bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah, bisa dipastikan kita sedang di surga. Bukan di dunia. Isi di dalam pil ini hanyalah surga reka-reka ciptaan manusia. Orang yang beragama seharusnya tahu jika surga yang kekal dan benar-benar ada hanya milik Tuhan. Beruntung kau tidak sampai kecanduan parah dan memilih mimpi dari surga yang salah.”
Sebelum aku selesai untuk mengunyah satu per satu ucapan polisi di depanku, mendadak ponselku ditelepon nomor yang tak kukenal. Ada suara perempuan di ujung sana dalam ucapan terbata-bata. Begitu tepat memanggil namaku. Berusaha mengingat jika ini suara ibu. Kukira ibu lupa padaku. Bilang jika ibu melihatku di televisi.
“Setelah ini aku akan langsung dipindah ke lapas Bu. Nanti alamatnya kukirimkan.” Ada rasa sakit di tenggorakan setelah mengucap itu, tetapi berusaha kutahan.
Anggapanku tahun-tahun lalu jika ibu telah lupa padaku ternyata salah. Saat itu aku merasa jadi orang paling sia-sia. Terlalu cepat mengunyah segala kekalutan seperti pecundang. Entah aku tahu atau tak paham dengan pil-pil mimpi itu, setidaknya aku jadi belajar jika hidup memang tak pernah mudah. Segalanya perlu keikhlasan dan kerja keras.
Setelah perjalanan panjang dari kantor polisi dengan beragam pertanyaan yang menggantung dalam kepala hingga sampai di tempat ini, di depan pintu terluar lapas, aku dipersilakan masuk setelah dikawal dua orang di belakang. Berjalan menyusuri paviliun menuju kamar sel yang sudah ditentukan. Di gerbang pertama, seseorang membukakan pintu. Wajah kami bertemu dalam tatap. Aku berusaha mengingat seseorang yang dulu pernah bertemu denganku di terminal. Menawariku pil mimpi. Dia mengangguk padaku. Tersenyum. Semanis iblis.
Setelah ini aku akan langsung dipindah ke lapas Bu. Nanti alamatnya kukirimkan