Ini kali ketiga aku pindah rumah. Walau masih dalam satu kota tapi beda kecamatan. Aku merasa hidup seperti suku yang tinggal di pedalaman hutan, hidup nomaden. Tapi mereka hidup berpindah-pindah dengan alasan yang bisa aku terima, karena bahan makanan pada tempat itu sudah habis atau sebab musim yang berubah. Tapi bagaimana dengan aku? Tentu tidak untuk kedua alasan itu.
Baru malam kemarin aku bersama ayah dan ibu pulang dari kampung nenek, dan pagi ini aku harus bergegas mengemas barang. Aku harus pindah hari ini juga. Padahal aku masih ingat, baru pekan lalu ibu membayar uang sewa rumah ini. Namun itu tidak dihiraukan oleh ibu, yang ia sampaikan padaku, kita harus pindah hari ini juga. Aku tahu tak ada gunanya untuk bertanya lebih lanjut pada ibu, apalagi untuk berdebat. Yang aku lakukan hanya memasukkan semua barangku pada tas dengan pikiran bimbang yang berkumpul di kepala.
Betul saja. Ini terjadi lagi. Kami pindah masih di kota yang sama, hanya dua kecamatan dari rumah sebelumnya. Aku masih belum mendapat alasan kenapa ibu dan ayah suka sekali pindah rumah. Yang aku lihat ibu dengan tetangga sekitar tidak ada masalah, semua kegiatan sosial seperti pengajian dan arisan, ibu ikuti. Begitu juga dengan ayah. Dia juga sering ikut gotong royong yang diadakan oleh Pak RT. Bahkan ayah juga sering duduk di kedai kopi dengan bapak-bapak lain, sampai ibu marah karena pulang tengah malam.
“Kevin, mengapa tidak semua barang kamu rapikan?” Tanya ibu yang berdiri di depan kamarku.
“Tidak usah, Bu. Barang yang perlu saja aku rapikan. Agar nanti jika kita pindah lagi, aku tidak repot untuk berkemas.” Sindirku.
Ibu tidak menjawab, ia langsung beranjak dari pintu kamarku.
Sibuknya aku menata barang di kamar yang lebih kecil dari sebelumnya, begitu juga dengan ibu dan ayah. Hingga matahari berganti rembulan. Ibu tidak sempat untuk memasak dan ayah mengajak kami makan malam di luar sambil memberi tahu jalan menuju sekolahku. Jika dibanding dengan rumah sebelumnya, rumah sekarang lebih jauh jaraknya ke sekolah. Begitu juga dengan kantor ayah. Namun ini bukan alasan untuk tidak pindah.
Sepekan berlalu, aku tinggal di rumah ini. Tidak payah bagiku untuk berteman dengan anak-anak di Kompleks Mutiara ini. Mungkin karena ini kali ketiga aku pindah, jadi jiwa adaptasiku makin terasah. Hanya saja aku perlu lebih pagi berangkat sekolah dibanding sebelumnya. Aku lihat ibu sudah berdandan lagi dengan gayanya serupa istri pejabat besar. Ya mau ke mana lagi kalau bukan pergi arisan ibu-ibu kompleks atau perkumpulan yang berkedok pengajian. Lain pula dengan ayah yang hampir tiap malam pergi ke warung, walau hanya sekadar untuk minum kopi dan membahas kecamuk politik di negeri ini.
Sore ini ayah pulang lebih awal. Tak biasanya ayah seperti ini. Pukul enam itu paling cepat biasanya. Ayah pernah cerita, jadi seorang kasir nasabah itu pulangnya tak sama dengan pegawai bank lainnya. Ayah harus menghitung transaksi hari ini dan mencocokkan dengan data yang ada di komputer.
“Pusing aku, Ma. Pusing!” Kata ayah sambil melempar tas ke kursi di ruang tamu.
“Papa diteror lagi?”
“Kali ini lebih serius ancamannya, Ma. Coba kamu bisa bersabar dulu, tidak akan terjadi seperti ini.” Kesal ayah sambil kedua tangannya memegang kepala.
“Sabar? Kurang sabar apalagi aku, Pa?”
Entah apa yang mereka buat kesepakatan pada malamnya, sehingga pagi ini semua baik-baik saja.
Mereka terus saling menyalahkan. Aku memilih menyumbat kedua telinga dengan perangkat jemala. Karena aku sudah bisa menebak kelanjutan dari pertengkaran mereka. Ini bukan kali pertama. Ayah akan pergi keluar, menghabiskan malam di kedai kopi. Sedangkan ibu menangis di kamar. Dan aku juga sudah tahu akhir dari pertengkaran mereka. Semua akan berakhir di meja makan pada saat paginya. Ibu akan menyiapkan sarapan seperti biasa dan ayah juga akan memuji masakan ibu. Seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa pada sore kemarin. Itulah hebatnya ayah dan ibu. Entah apa yang mereka buat kesepakatan pada malamnya, sehingga pagi ini semua baik-baik saja.
“Ma, jangan lupa nanti ya. Pakai KTP Mama, nanti kalau ada kendala segera hubungi Papa.”
Ibu memberi kode dengan jempol bersama telunjuk yang membentuk lingkaran dan tiga jari lagi berdiri. Aku menghalau semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dasar benakku. Buat apa aku harus menghiraukan urusan mereka, bagiku asal mereka tidak bertengkar itu sudah lebih dari cukup, batinku.
Tapi permintaan ibu adalah titah seorang ratu yang harus dituruti dan segera dilaksanakan.
Marun muncul di ujung langit. Aku lebih dulu tiba di rumah. Ibu dengan senyum sumringahnya menyuruh aku untuk segera mandi dan memakai pakaian yang bagus. Tidak mengerti apa maksudnya. Yang aku tahu, aku letih sepulang sekolah dan ingin rebahan walau selang beberapa menit saja. Tapi permintaan ibu adalah titah seorang ratu yang harus dituruti dan segera dilaksanakan.
Tak lama dari aku mendapat titah itu, ayah datang. Dengan kemeja biru dan tas jinjingnya, ayah langsung memeluk ibu. Gayung bersambut. Mereka girang hingga lupa jika ada aku di sana, bahkan ayah juga lupa untuk melepas sepatunya. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan mereka, kenapa sore ini menjadi sore yang menyala, apa karena marunnya langit? Atau karena KTP tadi pagi? Entahlah. Aku menarik diri dan menuju kamar untuk berganti pakaian.
Pertanyaan yang bertumpuk di kepala terjawab sudah. Ibu mengajak aku ke pusat perbelanjaan modern atau Mall. Makan enak, pasti. Sesampai di Mall, restoran paling mahal yang dituju. Tanpa beban ayah membayar dengan menggesek saja.
“Kevin, kamu mau beli apa?” tanya ibu dengan suara yang mengalun.
“Beli sepatu boleh, Bu?”
Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku sudah lama ingin sepatu baru yang teman-temanku sudah memakainya. Benar saja, bak jin Aladin, permintaanku langsung terkabulkan.
Terdengar suara bergema dari tiap sudut Mall yang menginformasikan bahwa akan segera tutup dalam beberapa menit. Tapi ibu masih mau membeli tas dan sepatu yang tadi dia lihat. Sekali lagi, kemauan ibu adalah titah yang tidak bisa ditolak. Dengan sisa waktu yang makin mengerucut, kami berlari ke toko yang ibu maksud. Sungguh malam yang melelahkan dan membahagiakan. Lelah karena mengelilingi Mall dengan tentengan di kanan dan kiri. Bahagia karena barang yang aku inginkan kini sudah kumiliki.
Sepekan berlalu, ibu sibuk pergi dengan sepatu dan tas barunya, begitu juga dengan aku. Yang tak lepas dengan sepatu impian itu. Kini aku bisa lebih percaya diri ketika ke sekolah, karena apa yang teman-temanku pakai, aku juga sudah ada. Tak ada rasa minder apalagi malu ketika aku jajan di kantin atau saat berbaris.
Semua kebahagiaan itu tidak lama adanya. Belum cukup sebulan, mendung menghampiri.
“Kevin, kamu mulai berkemas ya.” Ungkap ibu yang masih di meja makan.
“Kita mau akhir pekan ke mana, Bu?” tanyaku sambil menghabiskan bubur ayam.
“Kita akan pindah rumah.” Timbal ayah.
Aku tidak mau melanjutkan pertanyaan lagi, sebab aku sudah tahu ayah dan ibu punya alasan yang berlapis untuk setiap kepindahan. Dengan wajah datar, aku beranjak dari meja makan menuju kamar. Aku tidak kesusahan untuk berkemas karena seringnya pindah. Ini menjadi keahlian yang tidak dimiliki oleh anak seusiaku. Aku yakin itu.
Jangankan akan bermanfaat, bekas siramannya pun tak akan ada.
Kali ini aku pindah rumah di daerah pinggir kota, betul-betul paling pinggir. Bahkan bahasa keseharian anak-anak di sini sudah terkontaminasi dengan bahasa daerah. Ingin rasanya aku untuk protes pada ayah dan ibu, tapi itu bagai menyiram bunga di derasnya hujan. Jangankan akan bermanfaat, bekas siramannya pun tak akan ada. Hanya letih dan buang-buang waktu saja. Mencoba menikmati setiap detik, walau gerak tak berkutik, memulai menit ke menit dengan rasa menerima tapi jiwa trauma, menghadirkan pikiran baik pada pergantian jam yang dilalui, meski raga ingin pergi.
Ketenangan yang diharapkan pada pindah rumah kali ini, hanya harapan semu semata. Dua lelaki paruh baya datang. Dengan tubuh yang tegap dan tatapan tajam. Pintu rumah diketuk dengan sangat keras. Ayah mengintip dari balik jendela yang ditutupi kain.
“Dua orang lelaki, Ma.” Bisiknya tepat di telinga ibu.
“Aku tak kenal dengan mereka, Yah.”
Dengan langkah ragu, ayah yang ditemani ibu membukakan pintu.
“Bayar! Bayar! Bayar!”
Suara teriakan itu yang aku dengar dari pintu kamar. Aku tidak mau ambil bagian dari apa yang terjadi di situ. Lagi dan lagi, aku menyumbat telinga dengan perangkat jemala. Suara di luar masuk di sela-sela telingaku. Segera aku tambah bunyi dari gawai, hingga sampai pada batas paling keras. Dengan menggoyangkan kepala, aku nikmati lagu setiap kata yang keluar dari perangkat jelama. Begitu juga dengan kakiku, yang bergoyang mengikuti alunan musiknya.
Ardisha Lestari untuk Kompas
Perutku memberontak. Wajar saja karena matahari telah tergelincir dari posisinya. Sudah saatnya makan siang. Kuberanikan untuk keluar kamar dengan telinga yang masih tersumbat. Pandanganku terbelalak. Kapal pecah. Kaca meja tamu berserak, bunga plastik penghiasnya berantakan, kursi terbalik, dan pecahan piring menghiasi lantai. Apakah perang dunia ketiga sudah terjadi?
Aku tidak melihat ayah atau pun ibu. Yang aku dengar hanya suara tangisan dari kamar mereka. Dari pintu kamar yang terbuka sedikit, aku mencoba melirik. Hanya ada ibu yang menutupi wajahnya dengan sepuluh jari. Rambutnya pun kusut bagai benang layangan yang tak digulung. Di mana ayah? Entahlah. Dengan langkah kecil aku coba mendekati kamar itu. Tangisan ibu makin dalam. Kupanggil beberapa kali, tapi tak ada respon dari ibu. Kubuka perlahan pintu kamar itu, melebihi kapal pecah saat di ruang tamu tadi.
Lebih baik aku menunggu ibu selesai dari tangisannya daripada aku mengganggu singa betina yang lagi bersedih.
Bingung merajai kepalaku. Aku harus mulai dari mana? Setelah berpikir dan menimbang, aku memutuskan untuk duduk diam di samping ibu. Aku membatin jika aku mulai dari merapikan barang, lalu bagaimana dengan ibu. Jika aku ke ibu dulu, ibu bagaikan batu yang mengeluarkan suara tangisan. Duduk diam itu sudah tepat. Lebih baik aku menunggu ibu selesai dari tangisannya daripada aku mengganggu singa betina yang lagi bersedih.
Beberapa saat berlalu. Tangisan ibu membeku. Ia mulai membuka mata dan melirik aku, dengan mengusap sisa air mata di pipinya.
“Sudah lama kamu di sini, Vin?” tanya ibu dengan suara yang masih serak.
“Baru, Bu. Baru beberapa menit saja.” Jawabku dengan tangan mengusap bahu ibu.
Saat aku bertanya kesedihan apa yang ibu langsungkan, ibu menjawab dengan hujan di sudut matanya. Aku tak kuat untuk melanjutkan pertanyaan berikutnya. Hanya dengan rangkulan dan sandaran kepala kulanjutkan.
Pelangi muncul setelah hujan jatuh di sudut mata ibu. Dengan koper hitam yang berisikan beberapa lembar pakaian dan tas sandang, aku dan ibu melangkah keluar rumah. Hingga kami sampai pagar luar, batang hidung ayah tak kunjung tampak. Sebuah mobil dengan bertuliskan kata-kata yang berwarna hijau, kami meninggalkan rumah.
Bagiku asal bersama ibu, maka dunia akan baik-baik saja.
“Hendak ke mana kita, Bu?” tanyaku dengan memandang matanya yang masih bengkak.
“Sesuai titik ya, Mas.” Sahut ibu pada sopir.
Dan aku hanya diam. Beberapa saat berlalu, pandanganku masih lekat pada wajah ibu yang melihat gawainya.
“Mengapa dibuang kartunya, Bu?” tanyaku saat ibu mengeluarkan kartu dari gawainya.
“Ibu mau hidup tenteram, tanpa teror dari pinjaman online itu.”
Aku menjahit bibir mendengar itu dan memilih menikmati perjalanan yang aku tidak tahu tujuannya. Bagiku asal bersama ibu, maka dunia akan baik-baik saja.