KAU di tepi lapangan, dinaungi pohon-pohon beringin yang menjulang seperti penjaga begitu setia. Langit merah senja mengintip dari celah dedaunan. Bau dupa menyengat. Asapnya membentuk lingkaran-lingkaran di udara, seperti menari di atas kepala orang-orang yang berbaris diam di sekelilingmu.
“Kau tahu ini untuk siapa?” bisik seseorang di belakangmu.
Tentu saja kau tahu. Upacara ini untukmu. Tapi kau tidak berani mengatakannya. Kau hanya diam, membiarkan orang-orang membawa tubuhmu yang kaku ke tengah lingkaran.
Seseorang menabuh gendang. Bunyinya seperti denyut jantung, tapi terlalu lambat, terlalu jauh. Seorang lelaki tua dengan jubah putih berdiri di depanmu. Matanya tertutup kain hitam. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Kau tahu ia sedang melafalkan mantra.
“Apakah kau siap?” tanya lelaki itu.
Siap? Kau tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana kau bisa siap untuk sesuatu yang bahkan tidak kau pahami? Tapi tubuhmu, atau apa pun yang tersisa darimu, mengangguk perlahan.
Mereka akan mengingatmu. Tapi untuk itu, kau harus pergi dulu.
Mereka mulai menari. Gerakan mereka lambat, seperti bayangan yang mengalir di atas tanah. Setiap langkah mereka membuat tanah bergetar. Kau ingin ikut bergerak, tapi kakimu berat, seolah terjebak di bawah akar-akar pohon.
“Tidak perlu takut,” kata lelaki tua itu. “Ini hanya tradisi. Semua orang melewatinya.”
Tradisi apa? Kau ingin bertanya, tapi suara itu hilang di tenggorokanmu.
“Ini upacara pelepasan,” katanya lagi, seperti bisa membaca pikiranmu. “Mereka akan mengingatmu. Tapi untuk itu, kau harus pergi dulu.”
Pergi? Kau tidak ingin pergi. Kau ingin tetap di sini, meski kau tahu tidak ada yang benar-benar menginginkanmu.
“Semua orang pergi,” lelaki tua itu melanjutkan, suaranya seperti nyanyian burung hantu. “Jika kau tidak pergi, mereka akan lupa. Kau akan menjadi bayangan, mengambang di antara waktu yang panjang.”
Kau melihat ke sekeliling. Wajah-wajah itu tidak menatapmu, tapi melewatimu, seolah kau sudah menjadi sesuatu yang mereka kenang, bukan sesuatu yang ada untuk dilihat.
Kau sudah mati sejak lama. Hari ini, kami hanya mengirimkan apa yang tersisa darimu ke langit.
Lalu kau sadar. Mereka memang tidak bicara tentang tubuhmu. Tubuhmu masih ada. Tapi ini tentang dirimu yang lain. Dirimu yang pernah berlari di bawah pohon-pohon ini, tertawa di antara suara gendang. Dirimu yang pernah menjadi bagian dari mereka.
“Kau sudah mati sejak lama,” kata lelaki itu. “Hari ini, kami hanya mengirimkan apa yang tersisa darimu ke langit.”
Dupa semakin tebal. Asapnya seperti tangan-tangan yang menarikmu ke atas. Kau ingin melawan, tapi kau tahu ini benar. Kau sudah mati. Kau sudah mati saat pertama kali kau memilih meninggalkan pohon-pohon ini, meninggalkan tradisi, meninggalkan tanah yang membesarkanmu.
Ketika mereka menari, kau perlahan menghilang. Tubuhmu masih berdiri, tapi sesuatu darimu terlepas. Kau melihatnya naik bersama asap. Dan untuk pertama kalinya, kau merasa ringan.
Tapi tidak semuanya pergi. Sebagian dirimu tetap tinggal, terperangkap di akar-akar pohon beringin. Kau mendengar suara mereka berbisik di bawah tanah, menceritakan kisahmu kepada siapa saja yang sudi mendengarkan.
“Kau ingat ketika pertama kali meninggalkan desa ini?” suara itu datang dari dalam kepalamu.
Ya, kau ingat. Itu malam gelap tanpa bulan. Kau mengemas barang-barangmu dengan tergesa, takut ketahuan oleh ayahmu. Kau melangkah ke jalan besar, mengikuti suara kota yang memanggilmu dengan janji-janji palsu.
“Kau mengira kota itu akan memelukmu,” lanjut suara itu, “tapi kau lupa bahwa tanah ini yang pertama kali membesarkanmu.”
Kau tidak ingin mengingatnya. Tapi setiap kata itu seperti cermin, memaksamu melihat bagian dirimu yang sudah lama kau abaikan.
“Dan kau bahkan tidak kembali ketika kami memanggilmu,” suara lain menyela. “Ketika ibumu sakit, ketika ayahmu meninggal, ketika desa ini hampir tenggelam oleh banjir.”
Kau merasa dadamu sesak. Kau ingin membela diri, tapi apa yang bisa kau katakan? Kau tahu mereka benar.
Tarian di sekelilingmu semakin cepat. Gendang berbunyi lebih keras, seperti suara amarah yang memukul-mukul di telingamu. Wajah-wajah itu semakin kabur, tapi suara mereka semakin jelas.
Kau mencoba menutup telinga, tapi bunyi itu tidak berasal dari luar. Ia menghantam dari dalam, seperti denyut yang tak terkendali. Cahaya senja perlahan memudar, tergantikan oleh kegelapan yang merayap dari sudut-sudut pandangmu. Bayangan para penari menjulur panjang di tanah, menyatu dengan akar-akar pohon yang seolah bergerak, mendekat ke arahmu.
Asap dupa makin pekat, membentuk lingkaran-lingkaran yang menyesakkan. Wajah-wajah itu tampak melarut di balik kabut, bergantian muncul seperti fragmen kenangan. Di antara bayang-bayang, kau melihat sekilas senyum ibumu yang hilang seiring bunyi gendang. Lalu bayangan lain muncul, ayahmu berdiri di tepi ladang, wajahnya menatap lurus seolah menyalahkan.
Setelah tarian berhenti, asap dupa semakin tebal, melingkar di sekitarmu seperti selimut kabut. Kau merasa tubuhmu bergerak, melayang, bukan dengan langkah, tetapi dengan arus yang menarikmu. Pohon-pohon beringin menjauh, digantikan oleh jalan setapak yang gelap, berlapis bayangan masa lalu. Kau melihat ladang yang pernah kau susuri, pagar bambu yang pernah kau panjat, dan sungai kecil kau arungi. Semuanya terasa lebih dekat, tapi juga lebih jauh, seolah-olah waktu sendiri telah terlipat.
Tanah di bawah kakimu bergetar lagi, kali ini lebih kuat. Kau merasakan retakan kecil di tanah, seperti luka yang perlahan terbuka. Udara di sekeliling menjadi dingin, menusuk kulitmu seperti duri yang tersembunyi. Namun tubuhmu tetap terpaku, seolah kekuatan yang lebih besar menahannya. Kau ingin melawan, ingin berlari, tapi akar-akar itu telah membelitmu lebih dalam.
“Kami memaafkanmu,” kata lelaki tua itu tiba-tiba.
Kau terkejut. “Memaafkan?”
“Ya,” katanya sambil tersenyum tipis. “Tapi hanya jika kau memaafkan dirimu sendiri.”
Kau ingin berkata sesuatu, tapi tidak ada kata-kata yang cukup. Asap semakin tebal, menutupi segalanya.
Ketika asap itu akhirnya hilang, kau tidak lagi berada di lapangan. Kau berdiri di depan rumah lamamu, di desa yang kau tinggalkan. Pohon-pohon beringin masih ada di kejauhan, tapi mereka diam, seperti menunggu.
Kami memaafkanmu.
Kau tahu kau harus masuk. Tapi pintu itu terasa berat. Dan untuk pertama kalinya, kau menyadari bahwa tidak ada yang bisa membukanya selain dirimu sendiri.
Pintu itu berdiri di hadapanmu, lebih berat dari yang kau bayangkan. Kau tahu, jika kau membukanya, tidak ada jalan kembali. Tapi apa yang menantimu di dalam? Kenangan yang kau hindari bertahun-tahun, wajah-wajah yang kau tinggalkan tanpa pamit. Kau ingin memutar tubuh, pergi ke arah lain. Tapi sesuatu di akar-akar pohon tadi menahannya. Suara mereka masih berbisik, “Kau harus pulang.” Apa aku layak pulang? pikirmu. Tanganmu gemetar di atas gagang pintu. Kau merasa dingin yang bukan berasal dari malam, tapi dari dirimu sendiri, dari bayangan rasa bersalah yang tak pernah pergi.
Kau mengulurkan tangan ke gagang pintu yang dingin, tapi tubuhmu gemetar, ragu. Bayangan desa ini, yang kau tinggalkan bertahun-tahun lalu, tiba-tiba terasa lebih nyata daripada langkah-langkah yang pernah kau tempuh di kota. Suara-suara dari pohon beringin masih berbisik di kejauhan, mengingatkanmu pada malam-malam penuh cerita, doa-doa yang dilantunkan ibumu, dan nyanyian lirih simbah yang melintasi sawah.
Kau menunduk, melihat tanganmu yang mulai terasa asing. Apakah ini tangan orang yang pernah menanam benih di tanah ini, atau tangan orang asing yang hanya singgah sebentar? Kau memejamkan mata, mencoba mengusir keraguan itu. Namun, bayangan ayahmu berdiri di ladang kembali muncul. Kali ini, ia tidak menatap lurus. Ia tersenyum kecil, samar, seolah mengatakan bahwa kau boleh pulang, meski terlambat.
Dengan napas berat, kau memutar gagang pintu. Deritnya seperti tangisan pelan, memecah keheningan. Di dalam, kau melihat meja kayu yang pernah menjadi tempat ibu menyajikan makan malam. Sudut ruangan itu masih dipenuhi bayangan ayahmu yang duduk, membersihkan cangkulnya. Tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya kenangan yang bergulir di antara debu dan cahaya remang-remang.
Kau melihat bayangan di lantai tanah, bukan bayangan tubuhmu, tapi bayangan seorang anak kecil yang berlari ke pelukan ibunya. Itu kau, dulu, sebelum segalanya berubah. Dan untuk pertama kalinya, kau tidak merasa berat. Kau tahu, kau adalah bagian dari rumah ini, bukan sebagai penghuni, tapi sebagai cerita yang akan tetap tinggal di dinding-dindingnya.
Cahaya redup dari dalam rumah menyambutmu, dan untuk pertama kalinya, kau melihat bayangan dirimu sendiri di lantai tanah itu, bukan sebagai seseorang yang terasing, tetapi sebagai bagian dari rumah ini, dari desa ini.
Saat kau melangkah masuk, angin bertiup dari belakang, menutup pintu dengan lembut. Di kejauhan, pohon beringin terlihat diam, tapi ranting-rantingnya bergoyang pelan, seolah melambai.
Di dalam rumah, seorang anak kecil berlari melewati ruangan, mengintip ke arah pintu yang barusan bergerak sendiri. “Ibu, pintunya buka sendiri!” katanya.
Ibu itu menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil, tanpa berkata apa-apa. Seolah ia tahu—dan selalu tahu—bahwa kini kau akhirnya pulang, atau pamit untuk pulang.