Punakawan di Pinggiran Parlemen
J.A. Bestari · 19 September 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Toilet umum itu berdiri tepat di seberang pagar parlemen—terbuat dari seng setengah karatan dan atap plastik biru yang robek di ujungnya. Di dalamnya, Semar menyapu lantai yang basah oleh air hujan semalam. Tangannya menggenggam pel dengan tenang, seolah sedang memegang senjata pusaka yang kehilangan tuah.
Dulu, Semar adalah penasihat raja. Kini, ia jadi penjaga pintu yang hanya dibuka untuk mereka yang kebelet.
Petruk duduk di atas trotoar, memintal kata-kata dari puntung rokok dan debu jalanan. “Apa gunanya sabda negara kalau tak bisa mencegah sembelit rakyat?” gumamnya, entah kepada siapa.
Gareng membuka lapak gorengan yang diteduhi payung bertuliskan “Janji Manis Tanpa Gula Tambahan.” Ia bilang itu payung sisa kampanye lima tahun lalu.
Sementara Bagong, si bungsu yang suaranya lantang dan pikirannya sekeras seng toilet, sibuk menyetem gitar tiga senar. Lagu yang akan dia nyanyikan hari ini berjudul: “Lakon yang Tak Diundang di Rapat Paripurna”
Mereka bukan lagi punakawan kerajaan. Tapi rakyat yang kebetulan masih mengenal nama mereka sendiri.
“Dulu kita bagian dari cerita,” kata Semar, duduk di bangku plastik kecil di depan pintu toilet. “Sekarang kita cuma sisipan di catatan kaki negara.”
Gareng terkekeh. “Kalau kita masih punya lakon, pasti naskahnya hilang ditumpuk amplop bansos.”
Dan semua tertawa. Pelan. Tertawaan yang tidak menggema.
Sekarang kita cuma sisipan di catatan kaki negara.
Hari itu gedung parlemen tampak lebih sibuk dari biasanya. Mobil-mobil berplat khusus berderet seperti kawanan semut elite yang tahu ke mana harus menggigit. Di balik pagar besi tinggi yang dihiasi bendera kecil, para anggota dewan melangkah masuk dengan wajah khidmat dan setelan jas yang lebih licin dari nurani mereka.
“Sidang dimulai pukul sembilan,” kata seseorang dari pengeras suara. Tapi dari luar pagar, tak ada yang tahu apa yang akan disidangkan hari ini. Termasuk rakyat.
Gareng menatap baliho besar di depan gerbang, bergambar seorang tokoh politik dengan senyum tebal dan tulisan “Dengarkan Suara Rakyat” dalam huruf kapital. Ia mengunyah tempe mendoan sambil mengangguk pelan.
“Kalau suara rakyat itu suci, kenapa kita masih makan dari sisa makanan rapat?” katanya pada Petruk.
Petruk tak menjawab. Ia sibuk mencatat sesuatu di buku kecilnya: puisi pendek yang tak akan pernah dibacakan di televisi.
youna untuk Kompas
Bagong berdiri di trotoar, menyalakan speaker tua yang ia sambung ke aki motor bekas. Ia mulai menyanyikan lagu yang nadanya mirip campuran antara kidung Jawa dan blues jalanan:
Sidang demi sidang, janji demi lupa,
Kursi makin empuk, telinga makin tumpul,
Parlemen berkaca, tapi tak pernah bercermin.
Beberapa orang lewat melirik. Ada yang tersenyum. Ada yang menoleh lalu mempercepat langkah.
Semar menyimak dalam diam. Ia tahu, tak semua suara harus diteriakkan. Ada suara yang lebih keras justru karena ia ditahan. Ia memandang gedung megah di seberang, lalu berkata lirih:
“Kadang yang paling sunyi justru paling mendengar.”
Gareng menoleh. “Maksudmu... kita?”
Semar tersenyum kecil. “Mungkin bukan kita. Tapi siapa pun yang masih berani tertawa... tanpa dibayar.”
Pagi itu hujan turun seperti ingin membasuh dosa kota. Tapi truk-truk Satpol PP tetap datang. Peluit ditiup, garis polisi dibentangkan. Payung Gareng ditarik paksa, wajan gorengannya terlempar ke selokan. Tempat pengamen Bagong dicabut. Petruk diminta minggir oleh seseorang yang wajahnya terlalu tegang untuk disebut manusia.
Semar berdiri di depan toilet umum yang kini diberi stempel merah: “PELANGGARAN.”
“Tanah ini milik negara,” kata seorang petugas sambil memotret mereka, seolah ingin memasukkan wajah-wajah itu ke dalam arsip pelanggaran sejarah.
Semar tak menjawab. Ia hanya mengelus pelnya yang patah, lalu menatap pelan ke arah pagar gedung parlemen di seberang jalan. “Negara milik siapa?” bisiknya. Tapi tak ada yang menjawab. Bahkan angin pun lewat dengan acuh.
Gareng duduk di trotoar yang basah, memegang tempe yang kini berlumur lumpur.
“Kenapa yang punya suara selalu duduk di kursi, dan yang punya perut selalu diusir dari tanah?” katanya sambil tertawa lirih, lalu batuk.
Petruk membuka buku catatannya, lalu menyobek halaman terakhir. Di sana tertulis:
“Kami tak meminta istana. Hanya tempat di bayangnya.”
Bagong menyalakan gitarnya yang kini hanya punya dua senar. Ia mencoba menyanyikan sesuatu, tapi suaranya serak. Tangannya gemetar.
“Sudah tak ada tempat buat lagu,” gumamnya. “Lakon sudah digusur dari panggung.”
Semar menatap mereka satu-satu. Mata tua itu tak marah, tak sedih. Hanya kosong seperti kelir yang lupa lakonnya.
Matahari tenggelam perlahan di balik atap parlemen. Pagar gedung itu masih berdiri tinggi, mengkilap oleh lampu-lampu jalan dan janji yang dipoles saban lima tahun sekali.
Lakon sudah digusur dari panggung.
Di seberang, di atas trotoar yang mulai kotor oleh air hujan dan bekas poster kampanye, empat sosok duduk bersila.
Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Mereka tak lagi punya lapak. Tak ada lagi toilet untuk dibersihkan, tak ada gorengan, tak ada tempat parkir, tak ada lagu. Tapi mereka masih punya satu sama lain. Dan satu hal yang tak bisa digusur: lakon.
Gareng membuka kresek plastik, mengeluarkan potongan tempe yang ia simpan di kantong. Dibagi jadi empat. Mereka makan dalam diam, seperti sedang mempersembahkan sesuatu kepada langit yang tak pernah turun menyapa.
“Apa kita masih tokoh, Pak?” tanya Bagong.
Semar tersenyum samar. “Lakon tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat. Kadang dari istana ke jalan. Kadang dari naskah ke perut kosong.”
Petruk membuka buku catatannya, lalu menulis satu kalimat terakhir.
“Kalau rakyat terlalu sunyi, maka punakawan harus terus bersuara. Meski suaranya cuma tinggal bisik.”
Semar menatap gedung parlemen. Lampu-lampu menyala. Kamera siaran langsung memantul di jendela. Tapi tak satu pun wajah mereka ada di layar.
“Dulu, kami dibisikkan ke telinga raja,” kata Semar. “Sekarang, kami hanya bisa bicara pada bayangan pagar.”
Ia berdiri, lalu berkata pada siapa pun yang masih mendengar:
“Kalau kalian tak lagi mendengar suara kami... mungkin kalian bukan rakyat lagi. Atau barangkali... kami memang cuma wayang yang lupa siapa dalangnya.”