Rumah di Sebelah Sekolah
Sunaryo Broto · 16 Juli 2023
Sumber: Media Indonesia · tautan sumber
LAGU kebangsaan Indonesia Raya karangan WR Soepratman terdengar jelas. Bangunlah jiwanya/Bangunlah badannya/ Untuk Indonesia Raya.... Lagu yang bersemangat menyentuh jiwa patriotisme. Sang Saka Merah Putih berkibar tertiup angin dan para siswa serta guru menghormatinya.
Saya ikut berdiri ke arah tiang bendera, tersembunyi dengan tangan kanan di atas kepala sebagai tanda hormat. Angin sepoi berhembus dari sawah sebelah timur jalan. Melenakan sebentar. Saya menikmati adegan itu dari teras lantai 2 rumah saya yang bersebelahan dengan sekolah. Seperti masa kecil saya, rumah bersebelahan dengan sekolah TK, tempat ibu mengajar.
Sejak pensiun saya sudah tidak merasakan upacara 17 Agustus. Mulai sekolah dasar sampai bekerja berturut-turut saya mengikuti upacara 17 Agustus setiap tahun. Begitu lulus langsung bekerja di perusahaan dan ikut upacara. Sesekali menjadi petugas bendera atau pembaca teks Pancasila. Setahun lalu saya pensiun dan tak mengikuti upacara untuk pertama kalinya. Ada sesuatu yang hilang. Seperti hampa dan tak terlibat pada peringatan kemerdekaan negeri tercinta. Seperti tak berperan. Padahal dulu tak merasakan. Ikut upacara hanya rutinitas. Kebetulan sekarang tinggal di rumah, sebelah sekolah, sehingga bisa ikut merasakan nuansa upacara 17 Agustus.
Upacara selesai. Mata berembun. Saya masuk ruangan di lantai dua. Duduk di kursi risban, kursi panjang jati tua di ruang depan. Memandang tembok 4 lantai sekolahan yang persis di depan rumah. Angan terbang. Apa yang dapat kuberikan kepada Indonesiaku? Apa yang telah kuperbuat untuk negara? WR Soepratman sampai umur 35 tahun sudah berperan menggubah banyak lagu perjuangan. Chairil Anwar dan Kartini malah tak sampai usia 30 tahun sudah meninggalkan jejak karya. Soe Hok Gie dalam usia 27 tahun juga sudah berperan. "Kamu sampai usia pensiun masih duduk manis di rumah?" Seolah ada suara dari balik tembok itu.
Entah sudah berapa kali saya pindah rumah sampai usia 58. Ada sekitar 11 kali, dari kampung halaman di rumah dinas perumahan pabrik gula. Lalu pindah kota ke kamar kos mahasiswa di Yogya. Pindah ke tempat kerja di pinggir hutan Kalimantan. Di sini beberapa kali pindah rumah. Sampai usia pensiun akhirnya merasakan lagi tinggal di kampung halaman. Di pinggir kota seberang sawah, di sebelah sekolah.
Tiap hari kerja, jalan depan rumah dilalui para siswa. Kadang ada upacara di sebelah rumah atau baris berbaris di depan rumah. Juga rutin suara mesin praktikum atau instruksi-instruksi guru melalui pengeras suara. Takdir membawa saya tinggal di rumah bersebelahan dengan sekolah, dunia pendidikan yang saya senangi. Sampai sering bermimpi saat sekolah.
Halaman tetangga di sekitar rumah dipakai untuk titipan sepeda para siswa dengan membayar Rp 2.000 sehari. Hampir semua rumah dengan radius sekitar 300 meter dari sekolah menyediakan halaman atau bagian rumah untuk parkir siswa. Rumah saya satu-satunya rumah terdekat sekolah yang tak dipakai untuk parkir.
Suatu saat ada siswa menghadap, lalu bertanya, apa boleh titip motor? Kujawab rumah ini tidak untuk penitipan motor. Apa jawabnya? Justru tidak untuk penitipan motor, dia ingin menitipkan supaya gratis. Dia bercerita kalau orangtuanya baru kesulitan keuangan dan tak ada uang untuk parkir Saya lalu melihat halaman rumah seluas 600 m2. Memang terasa lapang. Hanya ada satu mobil dan satu motor yang parkır Saya berpikir, egois juga kalau menolak permintaan sederhana itu. Saya ragu. Meski akhirnya setuju dengan catatan hanya untuk dia dan risiko ditanggung sendiri
Tak dinyana, cerita itu didengar beberapa temannya dan mulai ada yang lain menitipkan motor dengan harapan gratis. Saya tak bisa menolak. Mempersilakan Ada satu-satunya siswa SMK itu yang naik sepeda Rumahnya sekitar 4 km dari sekolah. Kalau sekarang orang naik sepeda menjadi gaya hidup yang mewakili kemapanan ekonomi dan kesehatan, dia mewakili salah satu potret penduduk kita. miskin dan pantang menyerah.
Setelah bertemu siswa itu, Ekalaya, saya terharu. Dia sulung dari 4 bersaudara. Bapaknya buruh tani. Kulitnya kusam, dekil, tapi wajahnya ceria. Tak ada sedih meski hidupnya dibalut kesederhanaan. Juga tak ada keminderan. Dia siswa pintar di jurusan multimedia, jurusan terkenal di SMK itu. Aku seperti melihat diri sendiri waktu seumurnya. Dekil, kecil, sederhana, ingin tahu banyak, naik sepeda ke sekolah. Aku menjadi kenal dekat setelah 1-2 obrolan ringan.
"Tahu kamu arti namamu?" tanya saya iseng saja.
"Iya dari nama wayang Bambang Ekalaya. Bapakku pengagumnya. Aku disuruh mencontoh usahanya untuk pintar seperti Bambang Ekalaya yang belajar memanah. Ditolak guru Durna, dia pantang menyerah. Tetap berlatih memanah dengan didampingi patung gurunya. Akhirnya pandai memanah dan dapat mengalahkan Arjuna, penengah Pandawa yang menjadi murid paling top dari Durna
"Kamu suka wayang?"
"Suka sekali, tapi lebih suka membaca bukunya."
"Kamu suka membaca?"
"Iya. Tapi tidak punya buku. Membaca di internet dari HP bekas bapak. Bisa dibaca kalau dapat wifi gratis.....
Saya tersentuh. Lalu, Ekalaya saya ajak ke rumah dan menunjukkan kamar kerja yang dikepung buku. Ada deretan lemari buku di 4 dinding kamar. Itulah koleksi buku, salah satu harta kekayaan saya. Ada juga tumpukan beberapa buku novel atau cerpen saya. Di tengah ada meja kerja dan laptop sarana hiburanku dengan beberapa folder karya cerpen, esai atau puisi
Ada satu rak penuh dengan buku karya SH Mintardja. Satu serial terpanjang paling komplet. Api di Bukit Menoreh. Itu kenangan bacaan mahasiswa, Ada 396 jilid. Ini novel terpanjang di dunia Begitu mengasvikkan membaca cerita itu. Cerita terpaksa tamat dengan meninggalnya sang penulis pada 18 Januari 1999 dalam usia 66 tahun.
Novel ini pertama terbit tahun 1967. Tidak ada novel yang sepanjang buku int Coba hitung bila satu jilid sekitar 50 halaman, dikalikan 396 jilid, sekitar 18.400 halaman. Lebih tebal dari bantal tidur.
Lemari buku itu bisa juga bercerita. Satu lemari berderet buku novel dan esai Pramoedya Ananta Toer. Lengkap dengan tetralogi Pulau Buru yang menjadi maskotnya. Saya baca waktu mahasiswa saat buku itu dilarang sebuah instansi. Tiga buku awal sudah saya baca tuntas dan membekas. Kita tidak ingin menjadi mahasiswa biasa. Paling tidak berkarya, seperti tokoh Minke yang merepresentasikan profil Tirto Adı Suryo, sebagai bapak pers Indonesia yang bernama kecil Jokomono.
Dia bumi putra pertama yang mempunyai penerbitan koran Medan Priyayı tahun 1904. Dia lulusan HBS semacam sekolah lanjutan atas berbahasa Belanda. Lalu melanjutkan studi di Stovia, sekolah dokter Jakarta. Masih banyak karya Pram yang bisa berbicara pada era Jepang atau Belanda dan dipenjara di pemerintahan bangsanya sendiri. Mungkin tak lucu kalau dibilang Pram itu berkarya bagus kalau dalam penjara, hehe...
Saya terkesan dengan buku Bukan Pasar Malam yang tipis, 109 halaman, terbitan tahun 1949, saat penulisnya belum berumur 25 tahun. Buku itu mengharu biru sebuah perasaan orang miskin yang kecewa dengan keadaan dan suatu saat naik kereta ke Blora untuk merawat bapaknya yang sakit IBC sampai meninggal. Dia bisa bercerita tentang kampung halamannya dan hubungan yang keras dengan bapaknya yang kecewa dan tenggelam dalam arena judi. Ternyata bisa seseorang yang awalnya gigih berjuang menjadi penjudi berat untuk menenteramkan kecewanya.
Di salah satu rak itu juga ada kitab Injil Perjanjian Lama juga buku kecil Zabur yang saya beli di sebuah pameran. Paling banyak Al-Qur'an beserta tafsirnya. Yang lengkap Tafsir Ibnu Katsir dan Al Azhar dari HAMKA, salah seorang penulis yang saya kagumi. Saya pernah ke rumahnya di Pasir Panjang, pinggir Danau Maninjau Sumatra Barat
Tak akan ada habisnya buku-buku di dinding itu bicara. Masih banyak, ribuan judulnya. Belum cerita buku dari Chairil. Umar Kayam, Rendra, Sapardi, Danarto, Goenawan Muhamad, Emha Ainun Nadjib, Sutardji, sampai penulis terkini Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, Habiburrahman atau Tere Liye. Empat nama itu pernah ke kota saya dan saya berkesempatan menemaninya, Juga bundel banyak majalah sastra Horizon.
Matanya berbinar, langsung mengamati judul judul buku itu. Bahkan anak saya pun tak seperti itu. Saya seperti menemukan anak hilang yang saya cari.
Saya persilakan dia membaca. Dia antusias, mengambil satu-dua buku lalu duduk di pojok kamar. Agak lama.
"Semua buku ini sudah dibaca, Pak?" tanyanya.
"Hampir semua sudah dibaca
Dia kembali asyik membuka halaman buku. Memasukkan ke rak dan mengambil yang lain.
"Umpama pinjam apa boleh?" tanyanya malu-malu.
"Silakan. Sesukamu. Asal buku kembali dan rapi."
Lalu dia memilih dan membawanya pulang. Besok berganti, menukar dengan judul lain. Begitu terjadi beberapa waktu. Sampai suatu saat kutunjukkan buku-buku karangan saya. Lalu dia membacanya. Dia seakan tak percaya kalau saya bisa menulis buku sebanyak itu. Bagaimana cara menulis?
Suatu waktu dia ingin belajar menulis. Kami mencari kesepakatan waktu dan metode. Hari-harinya banyak dilalui di kamar buku. Dia mulai menulis untuk dikirim ke koran. Saya seperti guru yang menemukan murid. Mungkin berlebihan kalau saya gambarkan seperti Kyai Gringsing menemukan muridnya Agung Sedayu. Seperti Kebo Kanigoro yang menemukan Mahesa Jenar.
Dan, tetangga terdekat sekarang hanya sekolah. Tiap hari guru dan murid lewat depan rumah. Saya nikmati sambil membayangkan saya sekolah dulu. Termasuk ikut nebeng upacara dan mendengar lagu Indonesia Raya.
Pada akhirnya semua harus dijalani. Anak SMK yang sehari-hari belajar teknik juga bisa menulis sastra. Hari berlalu. Tinggal menunggu kelanjutannya sambil mengisi kegiatan pensiun.
"Eka tahu profil Bayu Skak dari Malang? Itu juga sekolah multimedia, tetapi bisa menjadi content creator Youtube, bintang film, penulis dan sutradara film. Kamu bisa menjadi apa saja asal rajin berusaha. Dunia ini besok milikmu anak muda....
Dia mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.
Debu di jalan depan rumah beterbangan hingga teras rumah. Para siswa masih hilir mudik lewat depan rumah. Alhamdulillah salah satunya bisa saya tulari virus literasi. Bukan virus covid-19 yang baru saja berlalu. Ini hikmah dari rumah di sebelah sekolah. Saya masih ingin memberi manfaat pada lingkungan terdekat. Sekecil apa pun itu.