Saat Vonis Dibacakan, Aku Tersenyum
Arie Fajar Rofian · 2 Juli 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Ruangan itu, untuk sebuah alasan yang sangat dipahami, tenggelam dalam hening yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Bukan jenis hening yang dapat ditemui di perpustakaan dan terlahir dari ketertiban atas peraturan yang telah disepakati, tetapi lebih karena penantian serta rasa penasaran—baik itu jaksa, pengacara, terdakwa, saksi mata, atau siapa pun yang hadir di sana. Tidak ada yang berani bersuara, kecuali jam dinding yang berdetak hanya karena memiliki daya.
Di salah satu sudut langit-langit, seekor laba-laba sibuk menenun jaringnya demi mendirikan hunian yang tidak pernah benar-benar kokoh. Sementara, di sudut lainnya, bola lampu yang usianya tak lagi lama mengerjap seakan sedang menyampaikan salam perpisahan berupa sandi morse. Namun, tidak ada yang peduli dengan laba-laba dan kerjapan bola lampu yang sebenarnya tak bermakna apa-apa itu.
Semua mata tertuju pada hakim yang duduk dan kedudukannya lebih tinggi, semacam raja kecil di sebuah negeri antah berantah; negeri yang tidak tercantum dalam peta. Beberapa saat kemudian, detak jam dinding tak lagi menjadi satu-satunya suara yang berani mengisi udara di tempat itu. Adalah batuk kecil dari seorang pria tua yang duduk di barisan paling depan yang berani—dan tanpa malu—mengiringinya. Batuk kecil yang berulang, seakan sedang melakukan protes pada keheningan.
Wajah hakim tenang dan berkarisma, tatapannya tajam meski tidak mengancam, menunjukkan bahwa dia telah melalui tahun-tahun dengan jumlah sidang yang mungkin lebih banyak daripada jumlah mereka yang hadir di persidangan itu. Sebuah map tipis rebah di hadapan hakim. Tangannya menyentuh bagian atas map, pelan serta perlahan. Dia dan semua orang tahu bahwa map itu tak ubahnya sebuah pintu yang akan mengantarkan ke tempat tujuan. Namun, mengenai ke mana pintu terarah, hanya dia yang sepenuhnya tahu.
Ruang sidang itu penuh sesak. Kursi-kursi bergeser kecil, merespons setiap pergerakan tubuh-tubuh yang lelah karena terlalu lama duduk di sana; tubuh-tubuh yang bergerak gelisah. Mereka yang hadir sebagian besar merupakan keluarga korban yang menginginkan keadilan memiliki bentuk yang nyata, atau setidaknya dapat dilihat. Bukan sekadar kata atau metafora yang terus diasah dan digaungkan, tetapi tak pernah tajam saat digunakan di hadapan uang beserta kekuasaan yang mengelilinginya.
Di bagian paling belakang ruang sidang, para jurnalis berdiri dan bersandar pada dinding-dinding yang bisu, berusaha untuk tidak terlihat tetapi keberadaan mereka begitu nyata. Saat kali pertama aku memasuki ruangan itu, beberapa menit lalu, rana kamera terdengar seperti rinai gerimis di tengah terik siang: awalnya ragu, lalu memadat seiring waktu. Ruang sidang yang sebelumnya hening, mendadak menjadi riuh, seperti cermin tua yang jatuh dan pecah di lantai.
Kilat cahaya kamera DSLR menyambar mataku, terlalu cepat, terlalu terang; mengaburkan kewaspadaanku pada keadaan sekeliling, hingga tersandung kaki sendiri dan nyaris terjatuh sebelum seseorang berhasil menopang tubuhku dari arah depan. Bukan wajah ramah yang kudapati setelahnya, melainkan sebaliknya. Wajah yang memaki tanpa suara, sampai akhirnya makian itu justru datang dari arah belakangku, melengking dan menancap di tengah-tengah punggungku.
Seorang wanita paruh baya, mungkin ibu korban, aku tak tahu pasti, sekadar menerka-nerka. Wajah wanita itu terasa tidak asing, tetapi tak sepenuhnya dapat kukenali, seperti sosok yang hadir sekilas dalam mimpi. Tangannya yang dipenuhi gurat masa menarik kasar rambutku, mencakar wajahku, lalu menampar pipi sisi kiriku, menyisakan denging nyaring yang menggantung di udara. Semacam ledakan kegeraman dari malam-malam yang terlalu sunyi; malam-malam yang dilaluinya tanpa nyenyak tidur.
Detik berikutnya, semua seakan terjadi dalam gerak lambat. Gerakan yang benar-benar lambat. Waktu tak lagi berjalan linear, melainkan hanya melingkar dan berputar-putar tanpa tahu arah. Di sebelah wanita paruh baya itu, berdiri seorang wanita lainnya yang lebih muda. Kedua kaki wanita itu mendadak lunglai ketika bertatapan denganku, tak lagi sanggup menanggung beban tubuh, dan jatuh bersimpuh.
Dia, dengan kepalan tangan dan bibir yang bergetar, memukul-mukul dadanya sendiri, menghasilkan dentuman lirih sekaligus memiluhkan. Satu demi satu pukulan, seakan mengingatkan jantungnya bahwa dia masih hidup; menggugah sesuatu dari dirinya agar segera terjaga. Entah itu rasa sakit, trauma, atau derita yang ditelan oleh kesunyian. Kemudian, tangisnya pecah, memekik dan memenuhi ruang sidang.
Suara lain ikut bermunculan, berlomba-lomba menjadi yang paling nyaring dan menarik perhatian. Ada jeritan, makian, serta dentangan benda-benda yang beradu dengan benda lainnya. Seseorang menendang dan membanting kursi, seorang lainnya merangsek maju, mendekat dengan segala daya dan upaya. Tangannya menggapai udara, hendak meraih apa pun yang dapat diraih dari bagian tubuhku.
Hakim berdiri, memukul palu berkali-kali, berupaya mengingatkan serta menenangkan kerumunan. Namun, suara palu tenggelam dalam riuh yang datang bertubi, serupa teriakan putus asa yang berbaur dengan debur ombak yang menghantam karang. Palu itu tidak cukup ampuh untuk menghentikan riuh. Ruang sidang bukan lagi menjadi ruang sidang yang suci, melainkan semacam pertunjukan sirkus yang menampilkan hewan-hewan yang tak sepenuhnya terlatih.
Dua petugas berseragam coklat, dengan menampilkan ekspresi masam, sigap menarik tubuhku, menampik tangan-tangan yang menggenggam erat emosi. Tampikan yang lebih dari sekadar kasar, tetapi juga mengancam. Para keluarga korban segera kembali ke tempat semula, duduk dengan setengah pasrah dan setengah menyimpan amarah. Mata-mata menatap kosong, kaki-kaki bertumpuh lemah, dan tangan-tangan yang menegang berangsur reda.
Aku duduk di seberang hakim dengan posisi punggung membungkuk, kedua telapak tangan di atas pangkuan yang saling meremas-remas hingga berkeringat. Di ruangan itu, udara seakan memadat, dan aku berkali-kali menahan napas. Aku tidak sanggup menatap mata hakim secara langsung, tetapi juga tidak sepenuhnya menunduk. Ada sedikit keberanian yang terselip entah datang dari mana di tengah rasa takut dan kekhawatiran akan masa depan usai sidang ini berlalu.
Hakim itu membuka map tipis, menatap sekilas berkas vonis yang akan segera dibacakan olehnya. Tangannya sigap menyentuh kertas, tidak bergetar atau gemetar, seakan membacakan vonis tak ubahnya membacakan surat cinta di hadapan calon kekasih yang telah lama didamba-dambakannya. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan, bersiap diri atas reaksi mungkin diterimanya.
… menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama sepuluh tahun ….
Sementara, aku membayangkan sebagian orang di ruangan itu—terutama para jurnalis—melihat ke arahku, berupaya menemukan dan menangkap sesuatu dari raut wajahku. Entah itu kesedihan, penyesalan, atau ketakutan. Apa pun yang bisa dimuat di halaman koran atau internet beberapa saat dari sekarang. Namun, aku tak akan memberi apa yang mereka ingin dan harapkan. Aku tak sudi.
”… terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah ….”
Aku tahu, pada dini hari yang lebih pekat daripada dini hari yang biasanya, anak itu, seorang mahasiswa Fakultas Hukum universitas kenamaan tewas tertabrak mobil mewah yang melaju tanpa kendali. Tubuhnya terpelanting, kepalanya membentur aspal yang keras. Dia tewas di tempat, tanpa sempat merintih, tanpa sempat menangis. Begitulah yang orang-orang ceritakan kepadaku.
”… menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama sepuluh tahun ….”
Palu diketuk. Ringan. Cepat. Tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi keragu-raguan.
Sudut bibirku tertarik ke arah berlawanan usai hakim membacakan vonis dan mengetuk palu. Bukan senyuman yang dipaksa muncul untuk menutupi perasaan yang sebenarnya, atau senyuman yang lahir dari keputusasaan akibat tak mampu menghadapi kenyataan yang tidak sebanding dengan harapan. Bukan sama sekali. Namun, senyuman yang sebenar-benarnya senyuman yang patut untuk dibagikan kepada dunia, ekspresi dan luapan kegembiraan.
”Sepuluh tahun? Itu benar-benar tidak sebanding dengan nyawa seseorang! Anak kami mati, Yang Mulia, tidak akan pernah kembali.”
Pria yang tadi sempat menopang tubuhku yang nyaris terjatuh, berteriak histeris. Kursi yang didudukinya terdorong ke belakang, menimbulkan decit panjang yang terdengar tidak nyaman di telinga siapa pun. Di sebelahmya, ibu korban turut menjerit, lalu menangis. Kemudian, kata-kata mengudara dari para keluarga korban, bercampur antara ”tidak adil”, ”bukan manusia”, ”bermain-main dengan hukum”, ”hukuman tidak setimpal”, dan ”hakim tidak punya empati”—semuanya beterbangan seperti misil-misil yang ditembakkan tanpa tahu arah.
Di tengah keriuhan yang terlalu sulit diatasi, aku menghitung cepat sambil berandai-andai mengenai masa depan dan bagaimana dunia tetap berlangsung tanpa aku terlibat di dalamnya selama sepuluh tahun ke depan. Angka itu tak memberiku cukup guncangan hingga aku hilang akal, tetapi juga tak membuatku merasa harus bersyukur. Ada perasaan yang janggal sekaligus ganjil menjalari seluruh tubuhku.
Kau tak perlu khawatir, semua hakim di wilayah ini adalah kerabatku. Dapat kupastikan, hukumanmu tak akan lebih dari sepuluh tahun.
Sepuluh tahun, artinya usiaku 45 tahun saat terbebas dari jeruji besi nanti. Di saat bersamaan, anakku akan berusia 19 tahun. Itu adalah usia yang sama seperti korban saat tubuhnya ditemukan terkapar dan tak bernyawa di lapisan aspal yang dingin. Saat itu, mungkin dunia sudah banyak berubah. Mungkin rambutku sudah tumbuh uban. Mungkin tubuhku terasa jauh lebih ringkih. Mungkin.
Namun, satu hal yang nyaris pasti akibat keberadaanku di ruangan itu, kelak anakku bisa mengenyam pendidikan tinggi tanpa perlu pusing memikirkan biaya. Pada malam usai kejadian naas itu, majikanku mendatangi rumahku yang berada di gang sempit di pinggiran kota. Hujan berangsur reda, dan aroma tanah yang basah menyusup melalui celah pintu kayu yang telah rapuh dimakan rayap.
Di hadapanku, sambil setengah berlutut dan napas yang terengah, majikanku memohon sesuatu yang sulit terwujud, tetapi terlalu menggiurkan untuk ditolak. Sebuah permohonan yang tidak hadir secara cuma-cuma. Sepuluh miliar rupiah, itu adalah nominal yang kudapat jika bersedia menukarnya dengan kebebasanku. Nominal yang bahkan sulit kugapai meski harus bekerja seumur hidup tanpa jeda, tanpa istirahat.
Aku mengangguk setuju, bersedia mengakui sesuatu yang tidak pernah kulakukan, sebuah kejahatan yang menjadi milik anak semata wayangnya yang berkendara dalam keadaan mabuk.
”Kau tak perlu khawatir, semua hakim di wilayah ini adalah kerabatku. Dapat kupastikan, hukumanmu tak akan lebih dari sepuluh tahun,” ucapnya, kembali berupaya meyakinkanku yang sebenarnya sudah merasa yakin. ”Saat vonis dibacakan, sepuluh miliar akan berpindah tangan.”