AAFKAN saya, Bang, cuma bisa bayar setengah harga, sebab uang saya pas-pasan.”
“Saya, Bang. Tidak apa-apa. Naiklah,” kata Rudin seraya tersenyum.
Perkataan dan senyuman yang untuk ketiga kali ia ulang sebagai tanggapan atas permintaan maaf yang berulang pula dari lelaki paruh baya di depannya itu.
Dan Rudin segera menarik gas sepeda motor ojeknya, membawa penumpangnya sore itu dari depan gerbang penjara. Namanya Haris, meminta diantar ke Kampung Ujung Aspal. Satu jam waktu yang akan ditempuh Rudin.
Sekilas Rudin melirik kaca spion. Tatapannya bertemu dengan rambut awut-awutan dan jenggot lebat pria di belakangnya. Matanya juga merah, seperti kurang tidur. Menguatkan gambaran wajahnya yang kusut. Ada letih pula ditangkap Rudin.
“Saya baru bebas, Bang. Satu tahun setengah masa hukuman saya.”
Kalimat itu dikeraskan oleh Haris untuk melawan deras angin sore karena Rudin mengeraskan laju sepeda motor.
Rudin mengangguk-angguk keras pula, memperlihatkan bahwa dirinya merespons.
“Kasus apa, Bang?” tanyanya seraya menurunkan kaca helm karena debu menerpa wajahnya.
Tikungan di depan, tarikan gas ia kendorkan. Dan ia harus lebih menurunkan kecepatan karena dua puluh meter di depannya ada seorang perempuan renta bertubuh bungkuk yang berdiri di tepi badan jalan.
Ia kelihatan hendak menyeberang, namun bingung bagaimana caranya sebab kendaraan lalu lalang. Tidak begitu padat, namun tetap membahayakan, terutama bagi penyeberang serupa nenek itu.
Banyak orang di tepi jalan, di trotoar, hanya menatapi nenek-nenek itu. Tak ada gelagat memberi bantuan.
“Ah, kota ini, sudah keterlaluan,” gerutu Haris. “Kayaknya saya harus turun, Bang.”
Rudin menghentikan sepeda motornya. Ia pun turun, melangkah ke tengah jalan dan memberikan isyarat kepada pengemudi kendaraan lain untuk memperlambat laju.
“Itu nenek-nenek gila, Pak! Tak usah dipedulikan!” seorang nyonya pemilik toko kelontong berteriak, lalu terkekeh.
Orang-orang juga tertawa.
“Kalian yang gila!” seru Haris sekembalinya ke samping sepeda motor Rudin, setelah menyeberangkan perempuan itu.
“Saya memukul siswa saya, Bang. Saya kalap karena ia menantang saya berkelahi gara-gara saya sarankan untuk mencukur rambutnya yang tidak rapi.”
“Bapak seorang guru?” teriak Rudin untuk memastikan pendengarannya tak salah.
Angin sore yang deras menjadi berkali lipat derasnya di atas sepeda motor yang melaju, dan desaunya menghalangi pendengaran.
“Ya!” Haris juga berteriak agar suaranya terdengar. “Saya guru PNS di SMP! Tapi tidak lagi, sebab bersamaan dengan masuk penjara, saya juga dipecat sebagai pegawai!”
Rudin melirik kaca spion. Terlihat lelaki itu menggeleng-geleng. Wajahnya bicara tentang kekecewaan yang dalam.
Sang tukang ojek hendak bertanya tentang banding, tentang perjuangan melawan vonis yang salah, tentang keadilan, tentang nasib orang kecil. Namun ujungnya ia yang tersenyum kecut sendiri. Ia merasa pertanyaannya tak ada artinya.
Sesaat ia berharap Haris tak bicara, sebab ia ingin membiarkan keprihatinan lepas menjalari dadanya.
Bukan, bukan sekadar prihatin pada nasib Haris, tapi prihatin pada dirinya juga! Ia seorang guru honorer SMP pula, yang nyambi menjadi tukang ojek!
“Seorang PNS saja bisa demikian mudah dihancurkan, apalagi aku yang honorer?”
Seruan batinnya itu menyeruak karena ia mengingat sehari sebelumnya ia menegur agak keras siswanya yang mem-bully temannya. Siswa itu menatapnya dengan tajam.
Mata Rudin menyorot balik bayangan tatapan tajam siswanya itu.
“Dengar cerita temanmu itu, Pak! Dengar! Bapak mau hancur pula? Bapak mau dipecat juga? Bapak mau masuk penjara juga? Hah?!” Suara siswanya itu bergema pula dalam kepala Rudin.
Dada Rudin bergemuruh. Napasnya tak beraturan. Serangga terbang yang melanggar kaca helmnya tak ia hiraukan.
Klakson sebuah minibus yang hendak menyalipnya pun seolah tak terdengar. Sedangkan sepeda motornya sedikit ke tengah.
“Sialan! Kau mau hancur?!” bentak sopir dari dalam kendaraannya yang menyalip dengan kecepatan tinggi.
“Tidak! Aku tak takut hancur! Coba saja melawanku! Kau siswa hendak semau-maumu? Tidak bisa!” teriak Rudin tak kalah keras.
“Kenapa, Bang?!” Tepukan keras Haris di pundaknya yang diiringi seruan itu membuat Rudin tersadar dari cengkeraman perasaannya.
Sepeda motornya ia rem mendadak. Dia dan Haris sampai terdorong ke depan karena kelembaman.
Rudin menarik napas berulang kali untuk mengendalikan diri.
Haris menepuk-nepuk punggung lelaki di depannya itu untuk membantu menenangkannya, walaupun ia sendiri tak tahu menenangkannya dari apa. Desau angin membuatnya tak mendengar jelas teriakan Rudin.
Pertanyaan “kenapa, Bang?” masih diulang oleh Haris saat sepeda motor bergerak kembali. Tapi Rudin hanya menggeleng-geleng, mengisyaratkan “tidak apa-apa”. Haris menanggapinya dengan anggapan Rudin tak mau ditanya lagi.
Perasaan tukang ojek itu tak lagi setenang sebelumnya. Ada kesal, ada kemarahan yang merayap terus dalam dadanya. Saat matanya melirik arloji di lengan kiri, ia sadar bahwa setengah jam lagi ia akan sampai di tujuan penumpangnya.
“Rumah Abang di komplek mana, Bang?” Rudin bertanya untuk menghela sedikit ketidaktenangannya. Ia tidak perlu berseru karena laju sepeda motor ia kurangi.
“Bantaran Sungai, Bang.”
“Oh,” sambut Rudin datar.
“Abang heran tujuan saya ke situ?” suara Haris diikuti ketawa kecil.
Rudin menangkap raut kecut di wajah lelaki itu menyusul ketawanya.
Komplek Bantaran Sungai adalah komplek kumuh di Kampung Ujung Aspal. Ditempati oleh para warga miskin yang tak memiliki rumah atau tak sanggup mengontrak rumah atau menyewa kos-kosan. Mereka membangun bedeng-bedeng dari triplek, gedek, bahkan kardus, atau menyewa bedeng yang sudah ada dengan biaya per bulan sangat murah.
Jika musim hujan seperti saat itu, jalan ke sana becek, seperti beceknya komplek hunian. Memasukinya harus siap-siap mencium bau busuk comberan atau apek jemuran pakaian di depan-depan bedeng. Meruap pula aroma kotoran manusia dari tebing sungai tempat penghuni komplek buang hajat, mandi, dan mencuci.
Rudin cepat-cepat menggeleng. Ia tak mau penumpangnya tersinggung.
“Biasa saja, Bang. Saya tidak tersinggung,” ucap Haris pelan. Lirih.
Rudin tak mau melirik kaca spion, sebab tak sanggup mendapati wajah yang pedih di sana.
“Sebelumnya, saat saya masih aktif mengajar, saya dan keluarga menyewa kontrakan di Komplek Timur Ujung Aspal....”
Pip!
Kalimat Haris terpotong karena pengemudi ojeknya membunyikan klakson. Ternyata untuk menyapa dua orang remaja, laki-laki dan perempuan yang berdiri di depan sebuah swalayan.
“Selamat sore, Hendi, Ratih.... Lagi belanja, ya?” Rudin juga menyapa sambil memelankan laju sepeda motor di depan mereka. Sebelumnya ia telah pula mengangkat kaca helm, agar dikenali.
Hendi dan Ratih menatap sebentar. Hanya sebentar, tanpa reaksi, tanpa sambutan, lalu melangkah masuk ke swalayan.
“Siapa itu, Bang?”
“Terus kenapa sampai pindah ke Bantaran Sungai, Bang?” Rudin tak menjawab. Justru balik bertanya.
Hatinya perih, dan akan semakin perih kalau Haris sampai tahu bahwa kedua remaja yang ia sapa dengan sangat sopan itu adalah siswa yang ia ajar di sekolahnya.
“Saya dipenjara, kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan, sementara istri juga tak punya pekerjaan tetap, Bang. Jadinya kami tidak bisa membayar kontrakan, lalu diusir. Akhirnya dengan sisa-sisa harta yang saya tinggalkan untuk istri, ia menyewa bedeng di Bantaran Sungai.”
Rudin menutup kembali kaca helmnya.
Tiba-tiba ia merasa cemas, jangan-jangan Haris menatap kaca spion, lalu menangkap wajahnya yang kecut. Lebih kecut dari wajah Haris sebelumnya.
Rudin terpukul karena menurut dia Haris justru lebih beruntung, lebih hebat karena dalam kondisi sangat sulit masih bisa mengontrak. Rudin tak pernah berani bermimpi akan mengontrak, akan menyewa kos, sebab honornya yang dibayar per tiga bulan cuma bisa untuk makan istri dan dua anaknya. Itu pun masih harus ditambah oleh istrinya dengan berjualan penganan kecil. Untung mertuanya mengajaknya numpang.
“Agak cepat, Bang,” pinta Haris ketika mereka mendekati jalan masuk ke Kampung Ujung Aspal. “Saya tiba-tiba kangen sekali pada anak saya satu-satunya. Saya ingin cepat ketemu. Dia lagi sakit. Ginjal, Bang.”
Ada desah di ujung ucapan itu. Desahan yang panjang, dan berulang sampai tiga kali.
Tiba-tiba Rudin ingin tertawa. Tertawa sekeras-kerasnya.
“Ya, Tuhan!” seru batinnya. “Lucu sekali dunia ini! Setiap orang miskin selalu bertumpuk-tumpuk masalahnya. Sudah masuk penjara, dipecat dari jabatan, diusir dari kontrakan, anaknya sakit, hahahahahaha...!”
Tukang ojek itu benar-benar merasa lucu. Lucu yang getir sekali. Dan ia ingin tertawa sekaligus menjerit, menangis!
Karena tak bisa, yang ia lakukan adalah menarik gas lebih keras, mempercepat laju sepeda motornya. Paling tidak, itu mungkin bisa menjadi sesuatu yang membuat bahagia penumpangnya, sebab ada tukang ojek yang mengerti perasaannya.
Lagi pula Rudin tak mau basa-basi hingga kelepasan bertanya, “Apakah anaknya tidak dirawat di rumah sakit, Bang?”
Rudin benar-benar tak mau mendengar jawaban mantan napi itu yang meneriakkan sepinya.
“Terima kasih, Bang. Tidak usah masuk, nanti motor Abang kotor melewati jalanan becek.”
Ucapan Haris di gerbang jalan masuk Kampung Ujung Aspal tak digubris oleh Rudin. Ia sedang ingin berbuat baik kepada penumpangnya yang malang itu. Mungkin Haris bisa senang mendapat perlakuan itu.
“Luar biasa, Abang. Jarang-jarang ada orang mau berkorban seperti ini.”
Suara Haris tak digubris pula oleh Rudin, sebab dalam laju sepeda motornya yang pelan karena di dalam gang menuju Bantaran Sungai, ia menatap kerumunan warga yang mengitari sebuah mobil mewah bergambar lambang partai politik. Ketika seorang lelaki berpenampilan perlente turun dari mobil itu, para warga, laki-perempuan, tua-muda, berebutan dengan buru-buru mengulurkan tangan menyalaminya.
Yang telah bersalaman dengan bergegas menuju sebuah mobil bak terbuka di belakang mobil mewah itu. Mereka berebutan pula, tak mau kalah cepat mengambil bungkusan sembako yang disodorkan dengan wajah semringah oleh seorang perempuan berpenampilan anggun.
Rudin lekas mengusir sesuatu yang menghunjam dadanya dan hampir membuatnya tersenyum sinis.
Ia malu pula mengungkapkannya kepada Haris.
SATU jam mengantarkan Haris, Rudin beristirahat di atas peti kayu di depan sebuah toko bahan bangunan.
Bukan badannya yang lelah, melainkan batinnya!
Sebuah mobil mewah datang.
Tatapan kosong Rudin melekatinya.
Klakson berulang-ulang dibunyikan oleh pengemudinya.
Rudin tak mengerti apa maksudnya. Jika meminta ruang parkir, masih banyak ruang di tepi jalan, di depan toko. Sepeda motor Rudin yang ia parkir hanya memakan sedikit ruang.
Pengemudinya, seorang lelaki berseragam khaki layaknya pejabat berteriak keras, membentak Rudin. Sepertinya tak puas, ia turun dari mobil dan menendang sepeda motor Rudin.
Tiba-tiba, sesuatu memukul-mukul ruang batin pria ojek itu. Kian ia tahan, kian keras mendera.
Rudin bangkit perlahan.
Ia hampiri dengan cepat lelaki itu yang terlihat kecut dan hendak bergegas masuk kembali ke mobilnya.
Orang-orang di sekitar toko bahan bangunan itu, bahkan pemilik toko dan pramuniaganya, terlambat menyadari apa yang terjadi.
Barulah ketika seorang perempuan pejalan kaki menjerit, mereka berhamburan datang dan mendapati seorang lelaki berseragam khaki tergeletak pingsan dan Rudin yang berdiri di sampingnya dengan muka merah penuh amarah.
Suasana temaram di ujung sore pun diwarnai sirene ambulans yang mengevakuasi lelaki berseragam khaki, yang bersahut-sahutan dengan sirene mobil patroli polisi yang pergi membawa Rudin.
PAGI itu Haris terlihat membonceng Rudin dari depan penjara.
Haris telah menjadi tukang ojek dan Rudin baru bebas setelah dihukum satu tahun.
Sepanjang perjalanan, selama satu jam, Rudin bercerita tentang kejadian pemukulan dan perusakan sebuah mobil mewah yang ia lakukan di depan sebuah toko, tentang nasibnya dan keluarganya kemudian.
Haris hanya tertawa. Ia tidak bisa mendengar semua cerita Rudin, sebab terhalang desau angin.
Tapi Haris tahu seluruhnya dengan jelas dan lengkap.
Angin deras yang menampar tubuh mereka berdua di tengah jalan menghamburkan jutaan cerita serupa, dari segala arah, dari segala masa.