Sekolah Terakhir Republik
Djoko Subinarto · 23 Juli 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Tahun 2045. Tak ada lagi sekolah. Tak ada lagi suara bel memanggil masuk siswa ke ruang kelas. Yang terdengar setiap pagi hanyalah suara notifikasi dari EduGoline, sistem pendidikan terpusat digital total yang hanya bisa diakses lewat perangkat Crownbox, laptop canggih yang juga bisa berfungsi sebagai baki.
Semua pelajaran, ujian, bahkan upacara bendera dilakukan secara digital. Namun, kemudian, datang masalah. Sistemnya terkunci. Itu sejak pemerintah gagal membayar utang pengadaannya yang bernilai triliunan kepada penyedia dari luar negeri. Maka, akses ke ribuan server diblokir. Anak-anak hanya bisa menatap layar biru dengan tulisan: ”Access Denied. Contact your Government”.
Di sudut kota kecil bernama Cibeas Baru tinggal seorang remaja bernama Elan. Umurnya 16 tahun. Ia dikenal sebagai orang yang keras kepala dan doyan bertanya. Badan Elan kurus karena kebanyakan mikir dan jarang sarapan. Tapi, matanya tajam seperti sedang terus membongkar kebohongan dunia. Di antara teman-temannya, Elan dijuluki ”si tukang banyak tanya” lantaran dia bisa mempertanyakan segalanya, dari harga tempe naik sampai kenapa belajar harus lewat Crownbox.
Ayahmu sedang belajar di universitas kehidupan.
Elan tinggal bersama ibunya, Eha Suhaeni, penjual nasi uduk dan bubur lemu. Ayah Elan dulu guru IPA di SD Negeri 03 Cibeas Baru. Tapi, sejak sistem digital menggantikan guru, ia memilih bekerja serabutan dan lalu tak diketahui rimbanya, bak ditelan bumi.
”Ayahmu sedang belajar di universitas kehidupan,” kata ibunya sambil tertawa hambar. Sejak itu, Elan mengerti bahwa keluarga bukan soal siapa yang ada, tapi siapa yang bertahan.
Kendati hidupnya pas-pasan, Elan punya kekayaan yang tak bisa dicuri siapa pun: rasa ingin tahu. Ia membaca apa pun yang bisa dibaca, mulai dari buku manual skincare sampai brosur kampanye parpol. Dan, tentu saja, tiada hari baginya tanpa mengajukan tanya.
”Kenapa Wi-Fi cuma kencang pas tengah malam?”
”Kalau belajar bisa bikin pintar, kenapa orang pintar bisa bikin sistem bodoh?”
Pertanyaannya kadang membuat ibunya bingung sendiri, kadang juga membuat tetangganya waswas pula.
Tapi, justru dari rasa ingin serba tahu itulah Elan tumbuh. Ia bukan anak yang patuh tanpa logika. Ia paham dunia di sekelilingnya sedang error, dan ia tak ingin diam. Baginya, sekolah bukan soal seragam dan kurikulum, tapi tentang keberanian menolak disuruh duduk diam saat akal sehat sedang diinjak-injak.
”Kenapa kita harus sekolah lewat laptop?”
”Kenapa semua guru diganti video?”
”Kenapa ibu harus jual nasi uduk buat beli paket data?”
Pertanyaan-pertanyaannya selalu dianggap mengganggu. Sampai akhirnya, suatu hari, Elan melihat sesuatu yang mengubah hidupnya.
Ia menemukan sebuah buku tulis.
Buku itu ditemukan di gudang tua milik sekolah dasar yang sudah lama ditutup. Ada gambar-gambar rumus matematika dan catatan tangan berdebu. Di bawahnya tertulis: Kelas 5A–Pak Ojon, 2023.
Elan seperti menemukan fosil purba.
”Apa ini yang namanya pelajaran?” gumamnya.
Sejak saat itu, ia mulai mencari buku-buku bekas dan barang-barang lainnya. Jidar, kapur, papan tulis, semua dikumpulkan. Di gang sempit di belakang rumahnya, ia menggambar huruf-huruf di tembok dengan kapur warna-warni.
Tiga hari kemudian, seorang bocah kecil berhenti dan bertanya, ”Aa lagi gambar apa?”
”Aa Elan lagi mau bikin sekolah,” jawabnya.
”Sekolah?”
”Iya. Sekolah beneran. Bukan yang di laptop.”
Mulai hari itu, gang sempit di belakang rumah Elan disulap jadi kelas.
Setiap sore, Elan mengajari anak-anak kecil membaca, menulis, dan berhitung. Kadang dia sendiri bingung saat menerangkan sesuatu, tapi itu tak menghentikannya. Karena ia tahu pendidikan bukan soal sempurna, tapi soal keberanian melawan kebodohan sistematis.
Warga mulai membicarakannya.
”Ada remaja nekat bikin sekolah,” kata Mang Udung, yang saban pagi keliling kampung naik selis, jualan es mambo yang disimpan di dalam termos biru legendarisnya.
Wah, jangan sampai ketauan Tentara Edu!
”Ngajarin anak-anak pakai kapur. Gilak!” komentar Ceu Dedeh, juru masak hajatan paling laris sekecamatan, yang kalau bicara tak lupa selalu diselipi bumbu gosip antartetangga.
”Wah, jangan sampai ketauan Tentara Edu!” sebut Kang Danas, salah satu tokoh karang taruna, yang penampilannya simpatik dan berwibawa.
Tentara Edu adalah satuan baru yang dibentuk pemerintah sejak sistem digitalisasi pendidikan kacau. Mereka tidak bersenjata. Tugasnya adalah mengawasi, melacak, dan membubarkan segala bentuk kegiatan belajar-mengajar nonresmi yang tidak terdaftar dalam sistem EduGoline, termasuk sekolah gang seperti yang dirintis Elan, kelompok belajar lokal, ataupun guru-guru independen yang dianggap menyebarkan ”materi tak tersertifikasi”.
Namun, Elan tidak takut. Ia malah mulai merekrut teman-teman sebayanya untuk turut mengajar.
Ada Encas, tukang servis HP yang juga jago listrik. Ada pula Koswara, anak mantan guru yang menyimpan puluhan buku di bawah lantai rumahnya. Lalu, ada Uus, yang dulunya murid terpintar sebelum jaringan pendidikan digital terpusat lumpuh total dan ayahnya ditangkap karena menyebarkan soal matematika lewat flashdisk.
Mereka menamakan sekolah itu Sekolah Terakhir Republik. Disingkat STR. Dan mereka merancang dan menyusun kurikulum sendiri.
Senin: Membaca dan Menulis.
Selasa: Sejarah yang Tidak Pernah Diajarkan.
Rabu: Matematika Anti-Monopoli.
Kamis: Ekonomi Tahu Tempe.
Jumat: Debat dan Musik Protes.
Mereka tahu, waktu mereka tidak banyak. Karena Tentara Edu mulai mengendus kabar aktivitas mereka.
Pada malam Jumat, terdengar suara ketukan keras di rumah Elan.
”Saudara Elan, ikut kami sekarang.”
Tanpa perlawanan, Elan dibawa ke markas Tentara Edu. Di sana, ia dihadapkan pada layar besar. Seorang pria berbaju jas necis muncul lewat panggilan video.
”Elan. Kau mengganggu sistem negara. Kami tawarkan dua pilihan: berhenti dan dapat beasiswa ke luar negeri, atau terus mengajar dan masuk daftar pengkhianat negara.”
Elan menatap layar itu agak lama.
”Boleh saya jawab dengan puisi?”
”Hey! Ini bukan lomba seni!” bentak seorang petugas di dekatnya.
”Lalu, kenapa kalian takut pada kapur dan papan tulis?”
Hening. Tak ada jawaban
Keesokan harinya, Elan dibebaskan.
Aneh, pikir Elan. Kenapa dirinya tidak langsung ditahan?
Ia pulang, dan melihat sekolah STR yang berada di gang sudah rata dengan tanah. Tembok-tembok telah dicat hitam. Buku-buku dibakar. Anak-anak menghilang. Hanya tersisa papan tulis patah dengan coretan terakhir: ”Jangan lupa siapa kamu.”
Elan terduduk. Dunia seperti terbalik.
Namun, hari itu, ada sebuah amplop terselip di pintu rumahnya. Isinya hanya selembar kertas dan satu kalimat: ”Jika kau mau tahu kebenaran, temui Pak Ojon di Kilometer Nol”.
Perjalanan ke Kilometer Nol memakan waktu seminggu lamanya. Elan menumpang truk, bersembunyi dari razia, dan nebeng tidur di mushala warga.
Akhirnya, ia tiba di sebuah rumah tua. Di sana, seorang pria sepuh menunggunya.
”Kau Elan. Aku tahu kau akan datang.”
”Pak Ojon?”
”Iya, aku. Dulu, aku bagian dari tim penggagas dan pencipta EduGoline.”
Elan kaget.
”Bapak bagian dari sistem yang menghancurkan pendidikan?”
”Awalnya tidak begitu. Kami ingin menyebarkan pengetahuan ke seluruh negeri. Tapi, sistem kami dibajak, dikomersialisasi, dikunci lewat utang. Aku membelot.”
Pak Ojon lalu membuka koper logam. Di dalamnya, sebuah Crownbox prototipe.
”Ini satu-satunya yang bisa membuka server asli. Namun, ada harga yang harus kau bayar.”
”Apa?”
”Sistem ini hanya bisa diaktifkan dengan sandi pribadi yang dibuat menteri pendidikan waktu itu. Tapi, sandi itu saja tak cukup. Kau harus pula menyerahkan seluruh identitasmu—biometrik, pikiran, privasi. Semua akan terekam permanen. Dunia akan tahu siapa dirimu, dan sistem akan mengawasimu seumur hidup.”
Elan terdiam.
”Jadi, untuk membebaskan pendidikan, aku harus mengorbankan diriku?”
”Benar. Kau bisa memilih pergi, atau jadi ’pembuka jalan’.”
Malam itu, di kamarnya, Elan mencoba menyalakan Crownbox dan mengutak-atik sandinya. Layar menyala. Sebuah kotak dialog muncul.
”Enter Passcode to Unlock Republik”.
Elan mengetik pelan: K-A-P-U-R-2-0-2-0.
Gagal.
Ia mencoba: E-D-U-G-O-L-B-E-B-A-S.
Gagal.
Terakhir, ia mencoba dengan sesuatu yang selama ini diajarkan oleh hatinya, bukan logika.
”S-E-K-O-L-A-H-T-E-R-A-K-H-I-R”.
Layar bergetar. Bunyi klik terdengar.
File-file pendidikan dari seluruh Republik terbuka. Semua pelajaran, sejarah, puisi, sains, hingga catatan para guru, semuanya kembali.
Elan menangis. Bukan karena menang. Tapi, karena tahu, harapan tidak pernah bisa dikunci.
Tahun 2052. Sekolah-sekolah kembali berdiri. Bukan karena pemerintah. Bukan karena kontrak luar negeri. Tapi, karena seorang remaja yang telah menginisiasi dengan menggambar huruf di tembok gang sempit.
Elan sendiri menghilang. Tak ada yang tahu ke mana dia pergi. Legenda tentangnya tersebar di kalangan anak-anak kampung, tentang seorang guru tanpa gelar yang telah membuka dunia hanya dengan kapur dan keberanian.
Di dinding sebuah sekolah baru tertulis: ”Pendidikan terakhir Republik adalah ketika satu orang memutuskan untuk tetap mengajar meski seluruh dunia menyuruhnya berhenti”.
Dan di server pusat EduGoline yang kini bebas, pada halaman pembuka, ada satu nama yang tak bisa dihapus. Pengguna utama: Elan -- Anonymous No More.