Semalam di Priština
Eka Arief Setyawan · 28 Maret 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
”… Menjelang hadirnya malaikat maut yang sepertinya menunggu di muka pintu. Saya, Kopje Marikus, memohon bantuan kepada siapa saja yang menyaksikan video ini, agar mampu memenuhi wasiat saya. Wasiat saya hanya satu: Saya ingin dimakamkan di negara asal saya, tanah air yang mungkin jauh dari pandangan kalian, Indonesia…”
”Bagaimana menurut kalian?” Tanya Alea seusai jari telunjuknya menekan layar ponsel hingga tampilan video berhenti.
”Videonya belum selesai,” sahutku.
”Sudah kukirim ke nomor Whatsapp Bu Polisi.”
Kami berempat sama berdiri sejajar, menunduk ke arah ponsel yang kusandarkan pada sebuah asbak di atas meja kayu. Sementara di dekatnya terdapat sofa panjang berwarna coklat tua, yang di atasnya kini terbujur kaku tubuh Kopje, senior kami yang lebih sering dipanggil Kakek.
Mata dan mulut Kakek telah tertutup rapat. Ia mengenakan kemeja flanel merah dengan celana kain hitam, meski masih terbalut selimut krem tua yang menutupi perut hingga punggung kaki. Tubuhnya menghadap langit, kedua tangannya membekap perut; tampak rapih, seolah memahami kapan ia harus pergi. Kami tak henti memandangi wajah keriputnya yang pucat dan sayu—setidaknya—sejak 20 menit lalu, ketika pintu apartemen berhasil didobrak Pak Polisi, kami hanya terisak menyaksikan jasad Kakek hingga mata terasa bengkak.
Seorang perempuan lain—kami panggil Bu Polisi—berseragam lengkap kombinasi biru muda dan tua, masih bergeming dengan kedua tangan disilangkan. Sementara kawannya yang kami sebut Pak Polisi, mulai menyusuri sudut-sudut ruangan dan memotretnya dengan kamera mirrorless. Alea terus memandangi perempuan itu seolah penasaran, meski pandangannya sesekali beralih padaku.
”Indonesia, ya?” tanya lirih perempuan usia tiga puluh tahunan itu.
Ia diam sejenak. Kami seolah kaku menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.
”Sulit. Setahu saya, mereka sampai sekarang belum mengakui negara kita, kan?”
Alea lekas mengernyitkan dahi, sedangkan aku menggaruk dagu, meski tak gatal.
”Apakah kalian tak memiliki kontak keluarganya di sana?”
”Kami tak punya,” jawab Alea menggeleng. Sementara pandanganku hanya tertuju pada lengan kanan bajunya; terpasang badge bendera warna biru gelap, berisi peta wilayah Kosovo berwarna coklat dengan taburan enam bintang putih di atasnya. Bukan sebuah keanehan memang, selain pemasangan badge bagian kanannya yang sedikit miring beberapa milimeter ke bawah. Wajahku segera menyaksikan wajah tirusnya seusai tubuhnya sedikit memutar ke hadapanku.
”Saya juga tidak punya, selain alamat rumahnya di sebuah kota…”
”Kota Solo,” sahut Alea seraya kusahut balik.
”Iya, betul.”
”Alamat rumah yang sebetulnya dulu pernah kita cari di Google Maps, tapi sekarang menjadi bangunan mal,” terang Alea sembari tangannya menunjuk satu-satunya pigura yang terpajang di tembok; sebuah foto hitam putih berisi pemandangan sebuah rumah joglo, di depannya berdiri seorang remaja lelaki diapit oleh kedua orang tuanya. Kedua kaki remaja itu tertutup sebuah koper.
”Itu Kakek?” Tanya Bu Polisi dengan langkah kaki pelan mendekati pigura, kami hanya mengangguk tanpa mengucap satu kata pun.
”Momen terakhir Kakek bersama bapak-ibunya sekitar 1964.”
”Lama juga, ya?”
”Faktor politis katanya,” jawab Alea sebelum akhirnya kusahut lagi.
”Sebetulnya Kakek sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Ia hanya pernah cerita kalau dirinya lulusan institut teknik di Azerbaijan, lalu ada masalah di negaranya yang membuatnya tak bisa pulang. Sebelum menetap di sini, ia pernah tinggal di beberapa negara tetangga, Bulgaria dan Rumania. Selain itu, kami tak pernah menanyakan apa pun selain yang ia ceritakan sendiri,” terangku hingga diamini anggukan kepala Alea.
”Lalu, apakah komunitas kalian bisa bantu mewujudkan wasiatnya?”
”Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Syekh Batim. Tak lama lagi ia akan datang.”
”Insya Allah,” sahut Alea seraya memandangiku nanar.
Tanpa waktu lama, seseorang yang ditunggu pun muncul. Syekh Batim bersama istrinya lekas muncul dari ujung pintu. Keduanya sama-sama berpakaian serba putih, terkecuali songkok Syekh Batim yang terdapat blok merah pada bagian atasnya. Sesampainya di dekat jasad Kakek, kedua pipi hingga janggut Syekh semakin dibasahi air mata. Mulutnya terus bergetar sambil kedua tangan ia buka lebar-lebar.
”Laa-illa-ha-ilallah*… Saudaraku!”
”Hu-hu-hu-hu…”
Keduanya terus melangkah dengan pandangan tak lepas dari wajah Kakek—sehingga tak sempat memandangi kami—lalu bersimpuh di ujung sofa. Saat kedua tangan keriput Syekh mulai menyentuh wajah Kakek, Polisi Laki-laki segera mencegat kedua pundaknya hingga urung bersimpuh lama.
”Kenapa?” Tanya Syekh Batim dengan wajah memerah dan matanya masih basah.
”Maaf, Syekh. Lokasi ini sudah menjadi tempat kejadian perkara. Sebisa mungkin kami tak menggeser apa pun supaya memudahkan pemeriksaan.”
”Saya hanya ingin memberi penghormatan terakhir kepada saudara iman saya.”
Aku segera mendekati Syekh Batim setelah beberapa kali lengan Alea menyikut punggungku. Kedua jemariku perlahan menggenggam pundaknya hingga sorot mata berpindah menyaksikan kehadiranku.
”Guru. Kami sengaja memanggil polisi karena tidak ada yang berani memasuki ruangan ini. Mereka berusaha mencari tahu penyebab kematian Kakek. Sebab faktor alamiah atau ada hal lain yang kita semua tidak tahu,” terangku dengan suara pelan hingga membuat semua terdiam.
”Iya,” jawab Syekh Batim dengan suara sedikit serak. Kedua kakiku perlahan melangkah mundur, seraya digantikan Bu Polisi yang mulai melangkah maju dan mendekati Syekh.
”Maaf, Syekh. Bolehkah saya bertanya beberapa hal tentang bapak Kopje?”
Syekh Batim mengangguk kecil sembari mengusap kedua mata dengan lengan bajunya. Tanpa aba-aba, ia melangkah gontai mendekati balkon apartemen. Bu Polisi dan istri Syekh berjalan beriringan menyusul lelaki berusia 70 tahunan itu. Mereka segera bercakap intens hingga suaranya tak terdengar sedikitpun ke dalam ruangan.
Sesaat setelah pintu masjid terbuka, beberapa jemaah mulai berbondong keluar dan meninggalkan bangunan serba krem itu. Ada yang berjalan kaki menuju trotoar, ada pula yang mendatangi mobilnya di tempat parkir sebelah masjid. Ruang megah Masjid Ar-Royyaan menyisakan dua manusia yang usianya tak terpaut jauh, Kakek alias Kopje dan Syekh Batim, pemimpin jemaah atau sering disebut mufti. Keduanya sama-sama mengenakan gamis berwarna cerah bersama peci rajut membungkus rambut mereka yang memutih. Kakek masih duduk bersimpuh dengan wajah tertunduk, sebelum Syekh menegur dan mengajaknya berdiri.
”Berarti saya tidak dosa, kan, Syekh?”
”Dosa apa?”
”Dosa membuat wasiat yang menyusahkan orang lain.”
”Menyusahkan seperti apa dulu? Selagi tidak bertentangan dengan hukum Allah-Rasul dan mampu dikerjakan, maka harus dilakukan.”
”Jika sebaliknya?”
”Hukumnya batal, atau tidak wajib.”
Kakek hanya mengangguk, ekspresinya mulai berubah hingga tak segusar sebelumnya. Syekh Batim masih mengamati lelaki itu seolah menebak kalimat apa yang akan terucap. Kakek masih terus diam hingga kata pamit dan salam tersahut, bersamaan dengan langkah kakinya melintasi pintu utama. Syekh ikut menjawab salam itu seraya menekan beberapa tombol saklar hingga menyisakan lampu teras masih menyala.
Tanganku terus mengusap permukaan buku kecil yang kutemukan dalam laci tepat di bawah pigura foto Kakek. Buku tipis seukuran telapak tangan dewasa itu berwarna merah pekat. Pada sisi sampulnya terdapat tiga elemen bertinta emas, yakni sebuah logo negara serta tulisan dalam tiga bahasa, yakni ”Republik Kosovo” dan ”paspor”. Tak luput pula kuambil selembar kertas dari dalam laci, rupanya sebuah bukti cetak pemesanan tiket penerbangan dari Priština menuju Beograd, dengan keberangkatan pada 15 November 2023 pukul sembilan pagi.
”Esok lusa?” Tanya Alea seraya ikut memungut kertas itu dari tanganku.
”Sepertinya Kakek sudah menghubungi pihak kedutaan Indonesia di Beograd,” jawabku.
Suara mobil ambulans perlahan terdengar dari kejauhan, dan suaranya semakin nyaring setelah Bu Polisi, Syekh Batim, dan istrinya kembali masuk ruangan untuk menghampiri kami. Pak Polisi sempat mendapat bisikan singkat Bu Polisi sebelum ia mengumumkan sesuatu, dan tak lama muncul empat polisi lain memasuki ruangan sambil membawa tandu.
”Sesuai kesepakatan bersama pihak keluarga yang diwakili Syekh Batim. Jenazah akan kami evakuasi menuju Rumah Sakit Umum untuk diperiksa lebih lanjut.”
Aku dan Alea hanya mengangguk pelan, disusul keempat polisi tadi saling memindahkan jasad kaku Kakek menggunakan tandu, dan menutupinya dengan selimut berwarna putih. Selepas kami meninggalkan kamar itu, Pak Polisi sempat membentangkan beberapa potong garis polisi hingga menutupi akses pintu, lalu diakhiri dengan beberapa mobil mengiringi ambulans seraya meninggalkan kompleks apartemen.
Dedaunan kuning terus berguguran dari belasan pohon sepanjang jalan protokol. Terpaan angin ikut mengarak guguran itu ke segala penjuru. Sebagian lagi terbang memasuki kompleks pemakaman umum di sisi kiri jalan. Di sana berdiri belasan laki-laki saling mengitari sebuah pusara yang telah ditimbun tanah basah. Aku ikut berdiri di dekat balok nisan warna putih, yang pada sisi kanannya tertancap sebuah tiang kayu dengan diikat sehelai bendera merah putih seukuran foto 8R. Nisan berbahan marmer itu terukir sebuah nama: (Kopje) Marikus Djajaningrat, beserta angka tahun di bawahnya, 1943-2023. Di tengah keheningan para hadirin yang masih menunduk, Syekh Batim mulai menegakkan kepala dan memandangi sekitar.
”Usai sudah tugas kami mengebumikan saudara Kopje, seorang pembela agama yang taat. Ia beruntung bisa wafat dalam keadaan baik, disemayamkan dengan cara terbaik, meski wasiatnya belum mampu diwujudkan. Anggap saja bendera kecil ini sebagai bentuk penghormatan terakhir dari kami. Semoga ia menghadap Tuhan dengan sebaik-baik amalan, Aamiin,” ujarnya sekaligus menutup prosesi pemakaman, disusul setiap orang saling meletakkan bunga beraneka warna di atas makam, termasuk aku. Angin bertiup semakin kencang, seraya mengibarkan bendera merah putihnya dengan sempurna.
Beberapa minggu setelahnya…
Pagi itu udara dingin seolah membeku, sebab salju menghujani langit Priština sejak malam. Praktis saat matahari terbit, hampir seluruh penjuru tertutup es, termasuk makam Kopje, tampak tersisa tiang kayu dengan bendera merah putih berkibar perlahan.
Ardisha untuk Kompas
Tak banyak yang keluar rumah di tengah suhu minus puluhan derajat itu, kecuali seorang perempuan blonde paruh baya bersama putranya yang usianya belasan tahun. Mereka berjalan keluar dari supermarket dengan mengenakan jaket tebal berbulu domba, celana jin, serta sepatu botnya. Masing-masing tangan mereka sibuk menggendong beberapa tas kertas ukuran besar. Seraya membuka bagasi mobil, mata sang anak tertuju pada kompleks pemakaman seberangnya yang diselimuti es. Segera ia mencolek pinggang ibunya dengan lengan kanan, sementara tangan kirinya menunjuk ke arah makam Kakek.
”Lihat!”
”Ada apa, Nak?”
”Ada bendera Monako.”