Setiap Hari Ia Melihat Penculik Anaknya
Seno Gumira Ajidarma · 9 November 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Jika anakmu diculik,
apa yang akan dikau lakukan,
dalam hidup yang fana?
Setiap hari ia melihat penculik anaknya. Langit masih seperti dua puluh delapan tahun lalu, tetapi bumi sudah banyak berubah.
”Terlalu banyak,” pikirnya, ”terlalu banyak yang berubah ...”
Namun, ia merasa lebih baik tidak memikirkannya.
Baginya yang terbaik adalah anaknya—yang bermata cemerlang, berpikir tajam, dan bersemangat meluap bagai tiada akan ada yang dapat menghalanginya.
Itulah yang terbaik baginya. Selalu terbaik.
Bahwa ia telah melahirkannya, dengan begitu susah, dengan begitu payah. Bahwa ia menyusuinya dengan penuh kasih, dan cinta yang selalu lebih, sampai tiada ruang dalam hatinya yang tiada dibanjiri cinta dan kasih.
Bahwa ia telah merawat dan tumbuh bersamanya dalam dunia. Mata yang berkilat ketika menatap dirinya. Celoteh dan tawa yang akan selalu terngiang selamanya. Membuatnya bahagia. Bagai tiada lain yang akan bisa membuatnya lebih bahagia. Selamanya. Bahkan, lebih dari selamanya jika keadaan memungkinkannya—dan mengapakah ia tidak harus membalasnya?
Cinta untuk anaknya. Kasih untuk anaknya.
Tiada lain selain anaknya.
Adakah sesuatu yang lain bisa menggantikannya? Tidak uang tidak kemewahan. Tidak rumah gedung tidak intan berlian. Tidak laut tidak hutan tidak gunung.
Dukacita tiada tergantikan?
Bayangan hitam dari balik kelam telah muncul di depan pintu rumahnya yang reyot. Jika dikehendaki ketukan terpelan pun sudah bisa membuat pintu itu jatuh berdebam. Namun di malam buta ia mendengar langkah mengendap-endap yang culas itu sebelumnya, dan pintu terbuka sebelum ketukan pertama.
Wajahnya kosong saja menatap tamu tanpa janji pertemuan. Tamu yang tertatap menjadi jengah. Seolah mata pada wajah kosong itu berkata, ”Kamu mau apa,” tanpa nada bertanya. Ia hampir menutup pintu kembali. Sosok itu berbicara.
”Maaf Ibu, ini ada titipan dari Bapak ...”
Ia tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud Bapak. Ia juga tidak ingin tahu apakah kiranya titipan itu.
Sosok itu, bentuk tubuhnya, roman mukanya, potongan rambutnya, sudah menjelaskan dirinya dari mana, siapa yang mengutus, dan apa maksud kedatangannya.
Semuanya begitu jelas. Namun ia tidak ingin tahu dan memang tidak pernah ingin tahu. Tanpa memandangnya ia menutup pintu.
Tamu tanpa perjanjian itu masih berdiri di balik pintu sambil membawa titipan dari yang disebut Bapak.
”Mohon diterima titipan ini Ibu, Bapak sangat mengharapkan agar diterima.”
Telinganya mendengar tetapi ia tidak mendengar apa pun.
Pagi hari, saat membuka pintu, terlihat ransel hijau di atas tanah. Di antara pot-pot tanaman hias yang dirawat sekadarnya, seperti tidak berniat menghias apa pun. Para tetangga yang tinggal di rumah-rumah petak, menampakkan wajah mereka yang bertanya-tanya.
Tamu tanpa perjanjian itu meninggalkannya di sana sepanjang malam yang membuat ransel itu berembun. Tergeletak begitu saja bagaikan sesuatu yang sudah semestinyalah tergeletak.
Kata para tetangga, tamu tanpa perjanjian itu sempat berdiri lama, cukup lama, jika bukan lama sekali. Busananya serba hitam, seperti satpam hotel atau pengawal menteri. Seperti seragam hitam mana pun, kapan pun, di mana pun, tanpa kejelasan mengapa harus hitam.…
Setiap hari ia melihat penculik anaknya. Para tetangga di rumah-rumah petak tidak tahu siapakah perempuan itu. Dua puluh delapan tahun yang lalu rumah-rumah petak itu belum ada. Sebuah gedung yang hangus dibakar para penjarah berdiri di sana sebelum dihancurkan sama sekali. Seperti menghapus sejarah.
Tanpa saling mengenal, semula orang berdatangan membangun lapak-lapak pemulung, dan setelah pernah digusur dalam beberapa tahun muncul orang-orang lain lagi, kembali membangun lapak-lapak yang sama.
Setelah dua puluh delapan tahun, tiada lagi lapak-lapak yang menampung sampah bangunan, berganti rumah-rumah petak yang penghuninya datang dari mana saja, dengan kemiskinan yang masih sama.
Bapak sungguh-sungguh mengharapkan agar titipan ini diterima, sebagai pengganti kerugian selama dua puluh delapan tahun.
Dalam kelam malam, dengan latar deru kereta listrik yang lewat, mereka mendengar kata-kata tamu tanpa perjanjian di depan pintu tertutup itu.
”Bapak sungguh-sungguh mengharapkan agar titipan ini diterima, sebagai pengganti kerugian selama dua puluh delapan tahun. Jumlahnya sudah dilipatgandakan sampai lebih dari cukup. Kerugian dua puluh delapan tahun mendapat ganti kerugian dua ribu delapan ratus tahun. Jadi, bukan semoga ya Ibu, bukan semoga, tetapi memang lebih dari cukup. Sebaiknya diterima. Jangan tidak. Seperti semua yang lain Ibu, mereka juga sudah mau menerima. Kalau Ibu tidak bersedia, tapi sebaiknya bersedia, saya tidak dapat bertanggung jawab Ibu. Ya, saya tidak dapat lagi bertangggung jawab atas keselamatan Ibu. Begitulah pesan Bapak, Bu!”
Semalam telinganya juga mendengar segenap kata-kata itu, tetapi ia tidak mendengarnya.
Apalah yang harus dikatakannya?
Rumah-rumah petak berdinding tripleks dan beratap asbes hasil memulung itu bergetar-getar ketika kereta-listrik lewat.
Setiap hari ia melihat penculik anaknya. Setiap kali melihat penculik anaknya itu suatu rongga bagaikan mengembang membentuk kekosongan dalam dadanya. Kekosongan yang begitu besar, bagai menenggelamkan dirinya ke dalam suatu lubang, yang memberi perasaan terisap begitu dahsyat. Bagai perasaan duka yang sebenarnya.
Di dalam kereta listrik menuju entah ke mana, walau akan kembali ke tempat yang sama, dua orang yang memang bertugas mengikutinya mengamati dengan hati-hati.
Mereka tidak saling bicara.
”Jangan sembarangan kalau ngobrol di luar,” kata komandan mereka, ”dari dulu intel itu tidak pernah tambah pinter, terlalu mudah dipergoki, sekarang ini direkam pula. Salah sedikit viral sejuta kali.”
Keduanya sangat berhati-hati. Namun, tiada berdaya menahan diri untuk tidak memikirkan sesuatu tentang ibu yang anaknya diculik itu.
”Seperti ibuku,” pikir yang satu. Ia perhatikan busananya. Perempuan lanjut usia itu tidak tampak terlalu lanjut sebetulnya. Mengenakan rok terusan, bersepatu kusam, dan tas kulitnya tanpa merek. Rambutnya yang keperak-perakan dipotong pendek, mengenakan bando, tidak seperti mengenakan rias apa pun.
”Apa pekerjaannya,” pikir yang lain. Pekerjaan apa yang masih dilakukan perempuan berusia selanjut itu. Dalam pengamatan, pengintaian, dan penyadapan, telepon genggamnya hanya bekerja untuk pembelian secara daring. Kadang makanan, kadang lem jebakan tikus, kadang deterjen, kadang obat-obatan.
Suara desingan kereta seperti jeritan terpendam. Para penumpang membaca apa pun yang bisa dibaca dari telepon genggam. Perempuan itu mengeluarkan buku.
Kedua orang yang ditugaskan mengikuti perempuan itu saling berpandangan. Buku apa yang dibacanya? Di dalam kereta listrik kamera pengawas belum dapat memperlihatkan sampul bukunya. Seolah perempuan itu pun tahu bagaimana menghindarkannya. Padahal, melalui judul buku yang tertera pada sampul, barangkali dapat diketahui apa ideologinya!
Seperti bersepakat, dengan sebisa mungkin tidak menarik perhatian siapa pun, kedua petugas intelijen yang berbusana Uniqlo itu berpindah tempat. Dengan menyelip-nyelip di antara para penumpang lain, akhirnya kedua petugas itu berhasil mendekat.
Satu berdiri di dekat pintu keluar dan mencoba melihat isi buku dari belakang, yang tentu tidak mungkin bisa membacanya. Satunya lagi mendapat tempat duduk yang kosong, berseberangan dengan ibu yang anaknya diculik itu, berusaha membaca judul buku yang tertera pada sampul. Siapa tahu pembacaannya bisa mengungkap misteri yang selama ini menyelubungi perempuan tua yang mengenakan rok, berbando, bersepatu kusam, dan tidak terdapat jam tangan pada salah satu pergelangan tangannya.
Dua komandan satu angkatan, yang berkawan semenjak masa kanak-kanak, berbincang dalam acara reuni di gedung pertemuan markas besar.
Jadi kau tak kasih tahu kedua anak baru itu, bahwa mantan komandan kita menculik anak ibu itu dua puluh delapan tahun yang lalu?
”Mencurigakan. Satu-satunya yang tidak pernah sekali pun ikut Kamisan[i]. Jangan-jangan perempuan itu dalangnya.”
”Jadi, kau tak kasih tahu kedua anak baru itu, bahwa mantan komandan kita menculik anak ibu itu dua puluh delapan tahun yang lalu?”
”Tidak perlu, aku tidak mau mereka bekerja dengan bias, sementara informasi apa pun berguna untuk temuan-temuan penting tak terduga.”
”Begitu pendapatmu?”
”Itu metode intelijen paling elementer, kan? Jangan meninggalkan informasi sampai yang sekecil-kecilnya.”
”Jadi, apakah kedua anak itu sudah tahu isi kepalanya?”
”Sulit.”
”Kenapa sulit?”
”Judul bukunya sulit dibaca.”
”Kok bisa? Tinggal memotret lantas dibesarkan toh?”
”Memang bisa!”
”Lantas?”
”Aksaranya tidak bisa dibaca ...”
”Kurang fokus?”
”Fokus sekali, malah sudah diblat.”
”Apa itu diblat?”
”Masa’ lupa, kita tempel kertas transparan di atas gambar bagus, terus kita ikuti garis tepi gambar itu dengan pensil, supaya dikira bisa menggambar bagus.”
”Oh, tipu-tipu masa kecil, ada di hapemu? Coba lihat.”
Maka terlihatlah di layar telepon genggam.
”Busyèt, judul sepanjang itu?”
”Iya, bukunya memang horizontal.”
”Bukan judul barangkali.”
”Barangkali, tetapi hanya bisa dipastikan setelah dapat dibaca.”
”Kan bisa nanya arkeolog?”
”Di tempat kita juga ada arkeolog, spesialis epigrafi malah.”
”Apa katanya?”
”Memang tidak bisa dibaca, tapi para arkeolog tahu belaka apa fungsinya.”
”Apa itu?”
”Mantra kutukan.”
Keluar dari stasiun, di antara banyak warga kota yang bergegas menemui ojol penjemputnya masing-masing, perempuan itu berjalan di bawah papan neon raksasa yang memperlihatkan penculik anaknya.
Keremangan tampak berkuasa di rumah-rumah petak tempat dirinya tinggal. Kucing-kucing tanpa pemilik berkeliaran di sana-sini.
”Pulang Nèk?” sapa seorang tetangga ketika melangkah.
Ia tersenyum saja tanpa merasa perlu menjawab.
Di depan rumahnya yang penuh tanaman hias dengan keindahan semenjana, masih tergeletak ransel hijau yang berisi ganti kerugian selama dua puluh delapan tahun, sebesar ganti kerugian dua ribu delapan ratus tahun.
Tidak seorang pun tetangganya tahu ia pernah punya seorang anak yang hilang diculik. Ia sendiri hanya tahu, setiap hari, di mana pun, kini terlihat penculik anaknya.
Barangkali ia tidak akan selamat lagi setelah menerima ancaman tamu tanpa perjanjian. Namun, ia tidak terlalu peduli. Setelah dua puluh delapan tahun, akhirnya ia mampu merapal mantra kutukan itu, yang telah menjadi rahasia selama 1339 tahun.…
Jakarta-Kendari, 8-21 Oktober 2025.