Sore Ketika Angin Laut Utara Memanggil
Annisa Moezha · 9 Mei 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Muzayyin adalah satu dari sedikit pemuda yang tersisa di kampung pesisir ini. Ia dikenal dengan suara azannya yang merdu serta kepiawaiannya dalam melantunkan puji-pujian yang menggema dari menara masjid.
Ia bukan sekadar muazin; ia adalah penjaga waktu—pengingat bahwa kehidupan terus berjalan di tengah sunyi dan riuhnya laut utara dalam mengarak kesepian bagi penduduk kampung pesisir. Suaranya menjadi kehangatan sekaligus pengisi kekosongan jiwa-jiwa yang dilanda sepi.
Tak hanya sebagai panggilan untuk shalat, suara azannya juga menjadi penyejuk hati bagi mereka yang tengah dirundung kerinduan akan sanak saudara di negeri seberang.
Muzayyin tidak tumbuh begitu saja menjadi permata di desa pesisir yang sebagian ditumbuhi ladang bakau itu. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ketika remaja seusianya merantau ke negeri-negeri seberang untuk menjadi nelayan atau pekerja kapal, Muzayyin memilih jalan yang berbeda. Ia pergi ke pesantren di daerah Cirebon.
Selama bertahun-tahun, ia belajar ilmu agama dan menjadi abdi dalem yang dikenal karena ketawaduannya. Tak ada satu pun yang meragukan keikhlasan Muzayyin dalam melayani kiainya di kota wali tersebut. Ia hanya pulang ketika rindu akan ibu bapaknya begitu besar.
Hingga suatu waktu, ia merasa tanah kelahiran telah menanti pengabdiannya. Muzayyin pun pulang.
Panggilan hati membawanya kembali ke kampung nelayan kecil ini. Di antara semua pemuda yang merantau untuk mencari penghidupan di negeri seberang, Muzayyin memilih untuk tinggal di kampung, menjalani hidup yang tenang dan sederhana. Ia merajut kembali satu-satu keping kehidupan sebagai nelayan pinggiran.
Dahulu, kampung pesisir ini hanyalah area kumuh dengan penduduk yang hidup dari bertani garam dan menjadi nelayan harian. Namun, tren pergi berlayar ke negeri seberang dengan penghasilan besar lambat laun mengubah kampung tersebut.
Kini, banyak rumah mewah berlantai dua atau tiga berdiri tegak di kampung pesisir ini. Yang tinggal hanyalah anak-anak dan orang tua yang menunggu kiriman uang untuk membangun rumah dan membeli tanah, hasil dari sanak saudara yang berlayar berhari-hari di lautan, berjibaku dengan nasib dan kemiskinan yang menderu. Meski begitu, ijazah dan toga tetap tak diminati meskipun rumah-rumah megah semakin banyak berdiri.
Para pemuda kampung lebih memilih hidup merantau, bekerja di laut atau negeri yang asing. Mereka hanya pulang sesekali, dengan jangka waktu yang tak menentu, membawa uang untuk membangun rumah, menikahi gadis-gadis dan memperanak kemudian kembali berlayar. Hanya kiriman uang yang dinanti keluarga di rumah, sementara sisanya hadir dalam bentuk cerita-cerita kehampaan dan kesepian.
Di antara semua kekacauan ini, Muzayyin adalah pengecualian. Ia memilih untuk tetap tinggal. Ia menjaga kampung dengan suara azannya yang khas, menjadi penyangga di antara kekosongan yang perlahan merambah pesisir itu.
Hidup di kampung yang erat dengan laut, membuat Muzayyin harus menggantikan Rahmat, ayahnya, yang mulai menua, untuk pergi menjala ikan di tengah laut. Sebagai nelayan tua, Rahmat tak lagi sekuat dulu; tubuhnya semakin rapuh, tangannya tak lagi lihai menebar jala. Maka, Muzayyinlah yang kini mengisi tugas itu.
Setiap pagi, Muzayyin membawa perahu kecilnya menuju laut, mengarungi ombak, menebar jala, dan menunggu ikan-ikan datang. Namun, ia memiliki tanggung jawab lain yang tak pernah ia abaikan. Sebelum senja menghadang, ia selalu pulang. Seolah ada alarm yang tak terlihat, Muzayyin bergegas ke masjid untuk mengumandangkan azan dan memenangkan hati seluruh warga kampung pesisir.
Musim berganti musim, laut terus bergelombang, tapi tak ada yang mampu menggantikan posisi Muzayyin sebagai muazin kampung. Semua orang tahu, tanpa suara azannya, kampung ini seolah kehilangan jiwanya. Bahkan, angin laut yang dingin terasa lebih menusuk jika suaranya yang merdu tak berkumandang.
Suatu sore, angin musim dingin bertiup lebih kencang dari biasanya. Ibunya sedang memasak di dapur, menyiapkan makanan dan menunggu Muzayyin datang.
Biasanya, menjelang Maghrib, Muzayyin sudah ada di rumah. Ia selalu tepat waktu, sering kali tiba lebih awal, duduk di serambi masjid untuk mempersiapkan diri. Namun, sore itu berbeda. Ketika waktu Maghrib semakin dekat, tak ada tanda-tanda kepulangan Muzayyin. Angin laut bertiup lebih dingin, membawa keresahan di hati orang tuanya.
"Mungkin Muzayyin sedang dalam perjalanan atau langsung menuju masjid tanpa singgah di rumah. Atau mungkin ia tertahan di laut sebentar karena angin yang kencang sore ini," ujar Rahmat, menenangkan istrinya yang gelisah.
Ia menyambar sarung dan senter, lalu melesat pergi ke dermaga. Ada kecemasan di hatinya. Muzayyin selalu menjaga waktu, bahkan ketika angin musim dingin bertiup kencang, ia selalu pulang sebelum Maghrib untuk menunaikan tugas azannya. Tapi hari itu, masjid kampung sunyi. Tak ada panggilan yang biasanya terdengar dari suara Muzayyin.
Rahmat berjalan cepat ke dermaga. Angin laut kian kencang, menghantam wajahnya dengan rasa asin yang menusuk. Di dermaga, ia hanya melihat kesunyian, tak ada siapa pun. Suara deburan ombak terdengar menghempas keras, seakan melantunkan nyanyian laut yang tak pernah henti. Ia tak melihat perahu Muzayyin tertambat. Perasaannya tak enak.
"Muzayyin," suaranya bergema ke laut utara, berharap anaknya tiba-tiba muncul dari balik gelap. Namun, tak ada sahutan, hanya suara angin dan ombak. Rahmat makin khawatir.
Rahmat segera berlari kembali ke kampung, mengumpulkan para tetangga untuk mencari Muzayyin. Dalam sekejap, kabar hilangnya sang muazin tersebar ke seluruh kampung. Warga berbondong-bondong ke dermaga, membawa senter dan obor, menyisir pantai, dan mencari jejak Muzayyin di sepanjang pesisir. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaannya.
Kecemasan semakin memuncak di beranda rumah Rahmat. Sang ibu tak kuasa menahan tangis. Segala duka tumpah. Keesokan harinya, pencarian terus dilakukan. Rahmat dan istrinya terus memanggil-manggil nama anak mereka di tepi pantai.
Setelah hampir dua puluh empat jam berlalu, sore menjelang Maghrib, ketika angin laut utara memanggil dan tanda-tanda keberadaan Muzayyin tak kunjung ditemukan. Orang tuanya sepakat, bahwa Muzayyin telah mengarungi lautan dan kembali kepada-Nya.
Maghrib itu, suara muazin lain berkumandang di langit pesisir yang temaram. Selepas mengumandangkan azan, getaran suaranya menyampaikan kabar duka.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," kedukaan pecah dalam keheningan senja. Kabar kematian Muzayyin menyebar di antara desiran angin laut utara yang semakin dingin, membawa berita bahwa sang muazin kebanggaan kampung pesisir telah berpulang.
Dan sore itu, dengan suara azan yang tak lagi sama, ketika angin laut utara memanggil, kampung pesisir berduka.
Tiga bulan setelahnya, tatkala duka di tubuh Rahmat dan istrinya mulai melebur bersama hari-hari kemiskinan sebagai warga pesisir, sepucuk surat datang dari negeri seberang.
“Maaf karena pergi begitu saja. Pada akhirnya, pemuda terakhir ini terbawa arus jua.” Begitu bunyi kalimat terakhir surat yang ditulis Muzayyin dari lautan seberang di negeri asing sana.