Suara dari Jalanan
Nadya Nurul Azkiya · 24 Oktober 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Langit Jakarta siang itu berat, seakan ikut menanggung resah ribuan manusia yang tumpah ruah di depan gedung tinggi bercat putih gading: kantor pemerintahan pusat. Suara toa, yel-yel mahasiswa, dentuman drum tong bekas, dan teriakan pedagang kaki lima bercampur menjadi satu orkestra yang tidak biasa.
Di tengah kerumunan itu, Arif, seorang mahasiswa semester lima Fakultas Ilmu Sosial, berdiri tegak dengan keringat membasahi pelipisnya. Spanduk panjang yang digenggam erat di tangannya bertuliskan:
”Turunkan Harga Sembako! Rakyat Kecil Terimpit!”
Baginya, demonstrasi hari itu bukan sekadar aksi turun ke jalan yang sering dianggap sebagian orang sebagai ”rutinitas” mahasiswa. Hari itu, wajah seseorang yang ia kenal betul ikut menempel di balik setiap huruf di spanduk itu—wajah seorang nenek penjual sayur di ujung gang kosannya, yang sehari-hari ia sapa ”Mbah Marni”.
# I. Nenek Penjual Sayur
Sudah hampir setahun Arif mengenal Mbah Marni. Tiap pagi, sebelum berangkat kuliah, ia sering mampir ke lapak sayur yang digelar sederhana di atas tikar plastik lusuh. Ada terong, cabai rawit, kangkung, bawang merah, dan beberapa ikat bayam segar.
”Pagi, Mbah!” sapa Arif suatu kali sambil memilih dua ikat kangkung.
”Pagi, Le. Lagi kuliah jam berapa?” tanya Mbah Marni dengan senyum tipisnya. Keriput di wajahnya seolah ikut tersenyum.
”Jam sembilan, Mbah. Tapi kangkungnya buat besok juga masih bisa, kan?” ”Bisa, Le. Mbah pilihkan yang bagus.”
Meski sederhana, lapak itu seperti punya daya tarik tersendiri. Tak hanya bagi Arif, tapi juga ibu-ibu sekitar, tukang ojek, hingga mahasiswa lain yang ngekos di dekat situ. Namun, sejak harga-harga sembako melambung, dagangan Mbah Marni makin sepi.
Arif beberapa kali mendengar keluhannya.
”Sekilo cabai rawit, Le, dulu Mbah bisa jual delapan belas ribu. Sekarang belinya saja sudah hampir tiga puluh ribu. Kalau Mbah naikin harga, pembeli kabur. Kalau enggak dinaikin, ya Mbah rugi. Rasanya sudah serba salah.”
Arif hanya bisa mengangguk, meski di dadanya ada bara kecil yang menyala. Bara itu, semakin hari semakin membesar.
Ayouna untuk Kompas
II. Api yang Membesar
Beberapa minggu terakhir, berita tentang kenaikan harga sembako merajai media. Beras naik, gula naik, minyak goreng melonjak tak karuan. Kampus pun bergolak. Forum mahasiswa di mana-mana membicarakan hal sama.
”Ini bukan sekadar masalah angka di tabel ekonomi, Rif,” kata Damar, sahabat seperjuangannya, di sekretariat BEM. ”Ini soal perut orang banyak. Soal rakyat kecil yang tak bisa bersuara. Kalau bukan kita yang menyuarakan, siapa lagi?”
Arif menatap foto-foto di papan mading: gambar-gambar aksi masa lalu, mahasiswa berbaris melawan tembakan gas air mata, wajah-wajah penuh semangat.
Dan dalam benaknya, terbayang wajah Mbah Marni. Wajah keriput itu lebih kuat dari seribu foto heroik.
Ia pun mengangguk mantap. ”Kita harus turun, Mar. Besok.”
# III. Hari Demonstrasi
Kerumunan mahasiswa memadati jalanan. Spanduk, toa, dan orasi bersahutan. Polisi berbaris menjaga pagar berduri yang dipasang di depan gedung pemerintah.
”Turunkan harga! Turunkan harga!” suara ribuan orang menggema.
Arif maju ke depan, membawa megafon. Suaranya bergetar, namun tegas.
”Saudara-saudara! Kita semua tahu, rakyat kecil sedang menderita. Ibu-ibu di pasar bingung mau beli beras atau bayar listrik. Pedagang kecil gulung tikar. Petani menjerit karena biaya produksi melambung. Apakah kita mau diam?”
”Mau diam?” teriaknya sekali lagi. ”Tidak!!!” jawab massa dengan lantang.
Arif menutup matanya sejenak. Di balik kelopak, ia seolah melihat Mbah Marni duduk di lapaknya, memandangi sayur-sayur yang layu tak laku.
# IV. Suara Nenek di Tengah Aksi
Tiba-tiba, di antara riuh massa, Arif melihat sosok yang tak asing. Seorang nenek kecil dengan kerudung pudar, menggenggam kantong plastik berisi sayur seadanya.
”Mbah?” Arif hampir tak percaya.
Ya, itu benar Mbah Marni. Ia berjalan tertatih, mendekati barisan mahasiswa, meski polisi sudah mencoba menghalau.
”Le, Mbah ikut, ya?” katanya lirih.
Arif tertegun. ”Mbah, ini berbahaya. Nanti ada gas air mata, ada dorongan aparat.”
”Tapi Mbah juga rakyat, Le. Mbah juga ingin bersuara. Kalau harga terus begini, Mbah bisa apa? Dagangan sepi, cucu-cucu Mbah makan apa?”
Suara itu kecil, tapi menusuk jantung Arif lebih keras daripada teriakan ribuan mahasiswa.
Dengan hati-hati, ia meraih tangan Mbah Marni. ”Kalau begitu, mari, Mbah. Kita bersuara bersama.”
# V. Dentuman dan Gas Air Mata
Ketegangan pecah ketika sebagian mahasiswa berusaha mendekat ke pagar gedung. Aparat mulai berteriak, lalu sebuah dentuman keras terdengar. Gas air mata ditembakkan. Massa panik. Teriakan berubah jadi batuk, tangis, dan kepanikan.
Arif segera merunduk, melindungi Mbah Marni di balik spanduk. Ia menutup hidung dan mulut Mbah dengan kain basah seadanya.
”Tenang, Mbah! Pegang tangan saya erat-erat!” teriaknya di tengah kekacauan.
Mbah Marni, meski tubuhnya ringkih, tak melepas genggaman. Mata tuanya berair bukan hanya karena gas, tapi juga karena tekad.
Di tengah kabut gas, suara mahasiswa masih terdengar:
”Rakyat lapar! Pemerintah ke mana?”
# VI. Setelah Kabut Reda
Beberapa jam kemudian, aksi berhasil dipukul mundur. Banyak mahasiswa luka, beberapa diamankan aparat. Arif duduk di trotoar, wajahnya kusut, napasnya berat. Di sampingnya, Mbah Marni masih setia duduk, memegang erat tas plastik sayurnya yang kini sudah basah oleh air mata dan keringat.
”Le…” suara Mbah Marni lirih. ”Ya, Mbah?”
”Makasih, Le. Mbah enggak ngerti orasi-orasi itu, tapi Mbah ngerti rasa lapar. Mbah ngerti harga yang bikin orang kecil enggak bisa hidup. Tadi Mbah merasa suara Mbah enggak sia-sia. Meskipun kecil, tapi ada yang mendengar.”
Arif menunduk, matanya memerah. ”Mbah, justru suara Mbah yang paling penting. Suara kami hanya gema. Tapi suara Mbah—suara rakyat—itulah yang sejatinya harus didengar pemerintah.”
# VII. Harapan yang Tertinggal
Hari mulai gelap. Aksi memang bubar, tuntutan belum tentu langsung dipenuhi. Namun sesuatu berubah di hati Arif. Ia sadar, perjuangan bukan hanya sekali turun ke jalan.
Perjuangan adalah setiap langkah kecil menjaga suara rakyat agar tak padam.
Dan di sisi lain, Mbah Marni pulang dengan langkah pelan, namun ada cahaya kecil di matanya. Cahaya harapan bahwa mungkin, suatu hari, cucu-cucunya tak perlu lagi hidup di bawah bayang-bayang harga sembako yang mencekik.
# Epilog
Malam itu, di kamar kosnya yang pengap, Arif menuliskan sebuah catatan:
”Hari ini aku belajar, perjuangan bukan soal berani melawan aparat, bukan soal kerasnya suara di megafon. Perjuangan adalah ketika seorang nenek penjual sayur berani berjalan ke tengah lautan massa, membawa suara kecil yang lebih besar dari ribuan teriakan. Suara itu—suara rakyat—harus terus kami jaga, sampai benar-benar didengar."
Dan di luar sana, suara itu masih bergema, menunggu didengar oleh mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan.