PAGI itu, dalam perjalanannya menuju kapela St. Fransiskus, Romo Sintus tidak menemukan suasana yang sering terjadi seperti sebelumnya. Biasanya saat melewati kampung itu, semua pintu rumah yang berjejer di pinggir jalan telah dibuka. Asap-asap kecil dari setiap dapur terus mengepul di udara. Banyak orang, baik anak kecil maupun orang dewasa, selalu menegurnya dengan ramah. Selain itu, di pinggir jalan yang sedikit kecil tersebut, ia selalu menemukan banyak umat dari kampung L yang terus berbondong-bondong menuju kapela St. Fransiskus untuk mengikuti perayaan ekaristi kudus. Hal itu membuat hatinya merasa damai.
Namun, pagi itu suasana di kampung L telah berubah. Kampung yang dihuni oleh ratusan warga itu seperti telah mati. Napas-napas kecil yang selalu berembus telah terkubur. Diam dan tak bernyawa. Sepanjang perjalanan, Romo Sintus tidak mendengar suara anak kecil ataupun orang dewasa seperti minggu-minggu sebelumnya. Suara-suara itu seperti sedang ditelan kabut tebal yang datang dari hutan Poco Leok.
Dalam perjalanan menuju kapela St. Fransiskus, ia juga menemukan dua pos ronda yang letaknya di ujung dan di tengah kampung hangus terbakar. Sejak itu, banyak pertanyaan terus menari-nari dalam kepalanya. Apa yang terjadi dengan semua domba yang tak bersalah ini? Apakah mereka telah diterkam mati oleh anjing-anjing yang sangat buas dari kota itu? Romo Sintus terus menyimpan semua perkara itu dalam hati. Ia terus berharap warga kampung L sedang baik-baik saja.
Saat tiba di kapela St. Fransiskus, dengan cepat, ia memarkirkan sepeda motornya di garasi pastoran dan kemudian berlari menuju kapela. Ketika tiba di depan pintu kapela, lagi-lagi ia kembali menemukan keanehan yang sebelumnya belum pernah terjadi. Lagu “Veni Creator Spiritus” tidak menggema dari dalam kepala kecil itu. Suara-suara ratapan dari ibu-ibu di depan patung Yesus tidak ada lagi. Suara-suara kaum lelaki yang biasanya menggema di depan pintu kapela sebelum mengikuti perayaan ekaristi juga tidak ada lagi. Keadaan itu membuat Romo Sintus benar-benar yakin bahwa warga kampung L sedang dalam bahaya. Di dalam ruang sakristi, ia terus membisu. Matanya terus menatap lekat foto Romo Simon yang digantung dekat salib Yesus.
Karena rasa penasarannya semakin besar, beberapa menit kemudian ia berani membuka pintu kapela. Saat memasuki kapela, ia kaget ketika melihat lilin di altar telah menyala. Dengan ragu, ia berjalan menuju altar itu dan dengan pelan memanggil nama Om Tias yang beberapa minggu terakhir menggantikan Mama Agata sebagai koster di kapel St. Fransiskus. Beberapa bulan lalu, tugas Mama Agata terpaksa diganti, karena kondisinya setelah kematian Romo Simon semakin memburuk.
Ketika mata Romo Sintus menatap ke altar kudus itu, ia menemukan beberapa surat yang dilipat dan disimpan rapi di tempat itu. Lagi-lagi pertanyaan terus menari di kepalanya. Ada apa dengan kapela St. Fransiskus? Ada apa dengan Tuhan yang setiap hari mendengar ratapan para umatnya?
Dengan tenang, Romo Sintus membuka satu per satu surat yang disimpan di atas altar itu. Ia membukanya dengan sangat hati-hati, sebab ia takut surat-surat itu hanyalah sebuah jebakan baginya. Saat membaca isi surat itu, tubuh Romo Sintus serentak menjadi lemah. Ia kemudian membaca surat itu satu per satu dengan suara yang keras dan kedua matanya terus menatap salib Yesus.
Surat untuk Tuhan (1)
“Tuhan, pagi ini tak ada lagi suara menggema dari kapela kecil ini. Pagi ini kami tidak lagi mengikuti misa kudus di rumahmu. Sebab, suara yang sering Kau dengar selama ini telah mati. Suara-suara itu telah pergi dan meninggalkan engkau seorang diri di tempat ini. Tak ada lagi ratapan-ratapan kecil yang sering kau dengar sebagai ritual awal sebelum mengikuti perayaan ekaristi. Ratapan-ratapan itu telah pergi, Tuhan”.
Tubuh Romo Sintus semakin lemah. Kedua matanya terus mengalirkan air. Kemudian, dengan tenang ia kembali membacakan isi surat kedua.
Surat untuk Tuhan (2)
“Tuhan, tak ada lagi orang-orang pilihan yang kami banggakan selama ini. Mereka telah pergi meninggalkan dan melupakan kami. Di gedung parlemen, mereka hanya sibuk menari dan terus merayakan kemenangan mereka. Sebab, semua usaha mereka selama ini telah terwujud. Gaji mereka semakin naik. Saat kami mengirim surat tentang hutan Poco Leok, mereka hanya tertawa dan mereka selalu menjawab, “Dasar tolol! Proyek ini demi kemajuan Bangsa!” Kemajuan untuk siapa Tuhan? Bukankah hidup kami akan semakin menderita? Kami terpukul Tuhan dan terus bertanya-tanya, bukankah mereka wakil kami? Bukankah mereka orang pilihan kami? Bukankah mereka suara kami?”
Romo Sintus tidak lagi menahan suara tangisnya. Suara tangisan itu terus menggema di dalam kapela kecil itu. Ia menyadari bahwa sebagian wakil rakyat selama ini tidak menjalankan tugas mereka dengan baik. Dulu, sebelum mereka duduk di kursi parlemen, mereka selalu berjanji untuk menyuarakan suara-suara yang hampir dilupakan. Berbicara atas nama rakyat. Membela semua hak-hak rakyat.
Namun, akhir-akhir ini, sebagian wakil rakyat telah melupakan janji itu. Mereka hanya bahagia karena hidup mereka semakin terjamin dan bukan bahagia karena rakyat mereka menang melawan ketidakadilan. Mereka murka jika rakyatnya sendiri memberikan kritikan. Tentu, semua orang di kampung L menyadari hal itu. Mereka telah dilupakan oleh orang-orang pilihan mereka.
Surat untuk Tuhan (3)
“TUHAN, akhirnya cerita tentang Engkau, Hutan Poco Leok, Kampung L, dan Kapela St. Fransiskus telah berakhir. Kami harus pergi meninggalkan tanah tumpah darah kami. Kami harus mengubur semua kenangan di atas tanah ini. Kami harus melupakan semua cinta yang tumbuh di tempat ini. Kami harus memberi apa yang mereka mau. Kami harus mengakhiri semua pertemuan-pertemuan kecil yang sering Kau dengar di tempat ini. Jika kami tidak melakukannya, tentu jiwa dan raga kami akan mati. Kami telah kalah Tuhan! Kami kalah.”
Setelah membaca surat yang ketiga itu, Romo Sintus serentak membisu dan rasa marah terus meluap dalam hatinya. Ia terus berteriak di dalam kapela kecil itu.
“Dasar setan!!!”
“Iblisssss!!!”
“Pencuriiiiiiiii!!!”
Setelah itu, tanpa berpikir panjang, ia kemudian berlari menuju rumah Om Tias. Ia ingin mengetahui masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi. Saat tiba di halaman depan rumah Om Tias, ia kembali menemukan pintu rumah itu masih terkunci. Saat ia mengetuk pintu rumah itu, sama sekali tidak ada jawaban. Namun, setelah beberapa kali Romo Sintus mengetuk pintu itu dengan keras, akhirnya suara Om Tias terus menggema dari dalam rumah.
“Kami tidak lagi melarang proyek di hutan Poco Leok! Pergilah, perbuatlah sesuai dengan kehendak hati kalian!”
“Om Tias, ini aku, Romo Sintus!” teriak Romo Sintus dari halaman rumah.
Beberapa saat kemudian, dengan cepat Om Tias membuka pintu rumahnya.
“Sudah berakhir, Romo,” kata Om Tias dengan nada yang sangat kaku saat melihat Romo Sintus.
“Maksudnya apa, Om Tias? Apa yang sedang terjadi?” kata Romo Sintus sambil memeluk tubuh Om Tias yang semakin bergetar. Saat Romo Sintus sudah berada di dalam rumah, dengan cepat Mama Meri menutup pintu.
Om Tias tidak menjawab. Air matanya terus mengalir tak terkendali. Melihat hal itu, air mata Romo Sintus ikut mengalir. Ia sangat sedih melihat tubuh Om Tias dipenuhi luka. Mata kirinya sedikit membengkak. Kedua lututnya juga membengkak.
“Apa yang sedang terjadi, Om Tias?”
Om Tias tetap diam.
“Romo, kita tidak bisa menebus semua darah dan air mata selama ini,” kata Mama Meri, istri Om Tias, dengan pelan dari dalam kamar. Suaranya kaku. Sebab mereka masih trauma atas kejadian malam itu.
“Romo, semua cerita itu telah mati,” akhirnya Om Tias kembali bersuara.
Beberapa saat kemudian, ia berani menceritakan semua peristiwa malam itu. Malam itu, tepat pukul 09.30, menjadi mimpi buruk bagi semua warga di kampung L. Suasana damai di kampung L malam itu berubah menjadi neraka bagi mereka. Banyak orang berlari meninggalkan rumah mereka. Ibu-ibu hamil dan yang sedang menyusui anak-anak terpaksa dibawa ke kapela St. Fransiskus sebagai tempat persembunyian yang aman. Sementara, para warga lainnya berlari entah ke arah mana. Bagi mereka, keselamatan adalah hal yang paling penting.
Malam itu, puluhan orang yang memakai topeng itu terus membongkar semua isi rumah para warga kampung L. Semua orang yang tak sempat kabur dibawa ke halaman mbaru gendang. Tidak ada yang tersisa di dalam rumah. Terpaksa setiap orang harus mengikuti semua perintah itu, sebab puluhan senjata terus menodong kepala mereka. Orang-orang yang bertugas di pos ronda juga terus berteriak ketakutan, sebab puluhan orang yang mereka tidak kenal membakar dua pos ronda malam itu.
Mendengar itu, Om Tias dan beberapa kepala keluarga bersiap untuk melawan. Namun, rencana mereka gagal. Orang-orang yang bersenjata itu telah mengepung mereka, baik dari arah depan, belakang, maupun kiri dan kanan. Hal itu membuat mereka tak berdaya. Saat itu, Om Tias ingin membunuh beberapa orang yang ikut dalam rombongan itu, tetapi kedua tangannya tidak mampu bergerak. Di dalam kepalanya, terus memikirkan istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Dan akhirnya mereka kalah dan menyerahkan diri kepada rombongan itu.
Mereka terpaksa menerima semua siksaan dari rombongan yang bersenjata itu. Mereka dipukul dan disiksa tanpa ampun. Banyak warga yang terkapar di halaman mbaru gendang karena tidak mampu lagi menerima semua penyiksaan itu. Dan, dengan kesepakatan bersama, malam itu mereka harus menandatangani semua surat persetujuan pembukaan proyek di hutan Poco Leok. Mereka harus melakukannya meskipun hal itu sangat sulit bagi mereka. Akhirnya sejak itu, mereka siap menjadi orang asing di atas tanah kelahiran mereka sendiri.
Mendengar cerita itu, Romo Sintus diam, sementara suara tangisan Om Tias semakin menjadi-jadi. Luka bekas penyiksaan semalam kembali berdarah. Hal itu membuat Om Tias semakin menderita dan tak berdaya.
Setelah mendengarkan semua cerita itu, Romo Sintus menyadari bahwa hanya air mata dan ratapan-ratapan kecil mengiringi semua perjuangan selama ini. Ia menyadari perjuangan warga kampung L tidak bisa melindungi hutan Poco Leok, ibu kehidupan mereka. Mereka harus merelakan tubuh dari ibu kehidupan mereka dinodai oleh tangan-tangan yang rakus dan merasa tak bersalah itu. Mereka harus mengakhiri cerita tentang hutan Poco Leok dengan luka dan air mata.
Cebu-Philippines, Agustus 2025
Keterangan
“Veni Creator Spiritus”: sebuah lagu tradisional Katolik yang memohon kedatangan Roh Kudus untuk mengisi hati dan memberikan karunia kepada umat beriman.
mbaru gendang: nama rumah adat dari orang Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Catatan
Cerpen ini adalah lanjutan dari cerpen “Setelah Kematian Romo Simon” yang telah ditayangkan di Tempo pada 2 Agustus 2025.